Di usia lima puluh, Maya diceraikan karena dianggap mandul dan dijual oleh anaknya sendiri demi ambisi. Saat hidupnya hancur, ia justru mengetahui dirinya hamil dan dinikahi Raka Wijaya, CEO dingin dari keluarga terpandang. Namun pernikahan itu menyeret Maya ke pusaran warisan, rahasia kelahiran, mantan suami yang kembali, anak yang penuh penyesalan, dan wanita licik yang ingin merebut segalanya. Ketika ingatan, cinta, dan nyawanya dipertaruhkan, Maya harus memilih: tetap menjadi korban, atau merebut kembali hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 34
Maya tidak ingat bagaimana ia kembali ke apartemen.
Ia hanya ingat tangan Raka di punggungnya, suara Bima yang memanggil pengacara, dan wajah Hendra yang penuh penyesalan saat pintu ruang pertemuan tertutup. Setelah itu semuanya bergerak seperti mimpi buruk yang terlalu tenang.
Di ruang kerja, Raka membaca dokumen Hendra bersama tim hukum.
Maya duduk di sofa. Ia memegang segelas air hangat yang belum diminum. Tangannya tidak lagi gemetar, tapi itu bukan tanda ia baik-baik saja. Justru tubuhnya seperti terlalu lelah untuk bereaksi.
Pengacara Raka, Pak Adrian, menjelaskan dengan hati-hati.
"Secara prinsip, Bu Maya menikah dengan Pak Raka berdasarkan dokumen resmi bahwa suami pertama telah meninggal. Tidak ada unsur kesengajaan. Pernikahan dengan Pak Raka tetap memiliki dasar kuat, apalagi tercatat secara resmi. Tapi jika status kematian Pak Hendra dibatalkan, pihak yang ingin menyerang bisa memakai celah untuk memperdebatkan keabsahan pernikahan."
Maya menatapnya.
"Memperdebatkan berarti?"
Pak Adrian ragu.
Raka menjawab, "Mereka akan menuduh kamu menikah lagi saat masih punya suami."
Maya memejamkan mata.
"Saya tidak tahu dia hidup."
"Kami tahu," kata Pak Adrian cepat. "Hukum juga mempertimbangkan niat dan dokumen yang berlaku saat pernikahan terjadi."
"Tapi publik tidak peduli hukum."
Ruangan sunyi.
Maya sudah belajar itu. Publik hanya butuh cerita. Perempuan tua hamil. Cleaning service menikah dengan CEO. Calon anak Surya Dharma. Sekarang mungkin masih istri pria lain.
Cerita yang terlalu menarik untuk tidak dihancurkan orang.
Raka berkata, "Berita ini belum keluar."
Ponsel Bima berbunyi.
Ia melihat layar, wajahnya berubah.
"Pak."
Raka menoleh.
Bima menyerahkan tablet.
Di layar, sebuah akun gosip baru mengunggah video pendek dari ruang pertemuan. Suara Hendra terdengar jelas:
`Jika akta kematianku dibatalkan mundur, pernikahan kita dulu dianggap tidak pernah berakhir secara hukum.`
Judulnya:
`Skandal Baru Istri Raka Wijaya: Suami Pertama Hidup, Pernikahan CEO Terancam Tidak Sah?`
Maya menatap layar itu.
Tidak ada air mata.
Raka mengambil tablet, lalu meletakkannya terbalik di meja.
"Bima, lacak perekam. Adrian, siapkan pernyataan hukum. Tidak ada yang menyebut Maya sebelum aku setujui."
"Baik, Pak."
Pak Adrian dan Bima keluar cepat.
Tinggal Raka dan Maya di ruang kerja.
Maya akhirnya minum seteguk air. Rasanya hambar.
"Mas Raka."
"Jangan."
"Saya belum mengatakan apa-apa."
"Aku tahu apa yang akan kamu katakan."
Maya menatapnya.
"Kamu akan bilang kalau pernikahan ini menyulitkanku. Bahwa kamu bisa pergi dulu sampai urusan jelas. Bahwa aku tidak perlu menanggung malu."
Maya diam.
Raka berjalan mendekat.
"Jangan katakan."
"Tapi itu benar."
"Tidak."
"Mas Raka, saham perusahaan Mas bisa terganggu. Keluarga Mas akan diseret. Mama bisa malu. Anak ini..."
"Anak ini anakku."
Maya menahan napas.
"Dan kamu istriku."
"Kalau hukum memperdebatkan—"
"Hukum akan kuhadapi."
"Kalau publik menghina?"
"Mereka sudah."
"Kalau ternyata..."
Raka menunduk hingga matanya sejajar dengan Maya.
"Maya, dengarkan aku. Aku tidak menikahimu karena dokumenmu bersih dari masalah. Aku menikahimu karena kamu mengandung anakku dan karena aku memilih bertanggung jawab. Setelah itu, aku tetap di sini karena aku memilih kamu."
Maya menatapnya. Matanya mulai panas.
"Mas sudah mulai pandai bicara."
"Karena kamu terus memberiku ujian."
Ia tertawa kecil, tapi air matanya jatuh.
Raka mengusapnya.
"Kita selesaikan satu per satu."
"Bagaimana dengan Hendra?"
Wajah Raka mengeras sedikit.
"Dia akan bekerja sama dengan pengacara. Kalau niatnya memang melindungimu, dia harus membuktikan."
"Dia ayah Dimas."
"Aku tahu."
"Dimas pasti..."
"Dimas bukan prioritasmu hari ini."
Maya hampir membantah, tapi berhenti.
Raka benar.
Sore itu, Hendra datang kembali, kali ini melalui jalur resmi dengan pengacaranya. Pertemuan dilakukan di kantor hukum, bukan apartemen. Maya ikut karena ia ingin mendengar langsung.
Hendra membawa dokumen perlindungan saksi, catatan perubahan identitas, dan surat permohonan pemulihan status hukum. Ia juga membawa foto-foto lama Dimas yang ternyata ia simpan dari jauh.
Maya melihat foto Dimas kecil sedang masuk SD.
"Kamu melihatnya?"
Hendra menunduk. "Dari jauh. Tidak sering. Aku tidak boleh muncul."
"Tapi kamu bisa melihat."
"Ya."
"Saya tidak bisa melihatmu."
Hendra menutup mata.
"Maaf."
Kata itu terlalu kecil untuk dua puluh lima tahun.
Maya tidak mengambil foto itu.
"Aku tidak bisa memaafkanmu hari ini."
"Aku tidak meminta hari ini."
Raka duduk di samping Maya, diam, tapi tangannya berada di sandaran kursi belakangnya. Tidak menyentuh, namun cukup dekat.
Hendra menatap Raka.
"Saya akan menandatangani pernyataan bahwa Maya menikah dengan Anda dalam keadaan sah berdasarkan dokumen kematian saya yang berlaku. Saya juga tidak akan menggugat pernikahan itu."
Raka menatapnya dingin.
"Itu memang harus."
"Saya tahu."
Maya menatap Hendra.
"Kenapa kamu tidak ingin merebut?"
Hendra tersenyum pahit. "Karena aku sudah kehilangan hak itu saat membiarkanmu menguburku sendirian."
Ruangan sunyi.
Maya menunduk.
Itu jawaban pertama dari Hendra yang tidak membuatnya marah.
Namun sebelum pernyataan resmi sempat dirilis, Sabrina bergerak lebih cepat.
Malamnya, ia muncul dalam acara makan malam kecil bersama beberapa partner bisnis dan sengaja memakai cincin tipis di jari manis. Foto itu tersebar. Ia berdiri di samping Raka dalam foto lama yang dipotong dari acara bertahun-tahun lalu, lalu akun gosip menulis:
`Sebelum skandal Maya, Raka dan Sabrina disebut sudah lama dipersiapkan keluarga. Akankah Raka kembali pada pilihan yang lebih pantas?`
Maya melihat foto itu karena Sari mengirim dengan panik sebelum Bima sempat memblokir.
Di foto, Sabrina tersenyum cantik.
Cincin di jarinya berkilau.
Maya menatap jari manisnya sendiri yang kosong.
Raka belum pernah memberinya cincin.
Ia tahu itu kekanak-kanakan untuk dipikirkan di tengah masalah hukum, Hendra, dan tes DNA. Tapi luka kecil kadang datang dari tempat paling sederhana.
Raka masuk kamar dan melihat wajahnya.
"Apa yang kamu lihat?"
Maya mengunci layar.
"Tidak apa-apa."
Raka berhenti.
Kalimat itu selalu berarti ada apa-apa.
Ia mengulurkan tangan.
"Ponsel."
Maya menggeleng.
"Saya lelah. Saya ingin tidur."
Untuk pertama kalinya sejak menikah, Maya berbaring membelakangi Raka tanpa meminta ia tinggal.
Raka berdiri di sisi ranjang, menatap punggungnya.
Ia tahu ada sesuatu yang baru saja retak.
Dan di tempat lain, Sabrina menatap foto cincin di jarinya.
Cincin itu bukan dari Raka.
Tapi publik tidak perlu tahu.
Pagi berikutnya, foto itu sudah berada di beberapa akun gosip. Narasinya sederhana dan kejam: Raka Wijaya sebenarnya masih mencintai Sabrina, sementara Maya hanya perempuan tua yang memaksa masuk karena hamil.
Maya membaca komentar pertama, kedua, lalu berhenti di komentar ketiga.
`Anaknya saja malu punya ibu seperti itu.`
Ia mematikan layar.
Raka mengambil ponsel itu dari tangannya. "Jangan baca."
"Kalau aku tidak baca, apakah kalimatnya tidak ada?"
Raka tidak bisa menjawab cepat.
Maya tersenyum tipis, bukan karena lucu, melainkan karena lelah. "Dulu saat orang memanggilku mandul, miskin, pembantu, aku masih bisa pulang dan menutup pintu. Sekarang pintunya ikut dibuka orang."
Raka meletakkan ponsel di meja. "Aku akan tuntut akun-akun itu."
"Tuntut. Tapi jangan hanya karena namamu ikut kotor."
Raka menatapnya.
Maya mengangkat wajah. "Tuntut karena aku istrimu. Biar semua orang tahu alasannya."
jangan lama² UP nya,penasaran dengan cerita nya👍👍👍