Nana bukan siapa-siapa — seorang gadis yatim piatu yang tumbuh besar di jalanan Surabaya, mencuri untuk bertahan hidup. Sampai suatu hari, hidupnya berubah ketika dia masuk ke dunia keluarga Sie, salah satu dinasti konglomerat paling berkuasa di Indonesia.
Di sana, dia bertemu Steven Sie — putra ketiga yang dibuang keluarganya sendiri, dingin dan penuh misteri. Semua orang bilang dia pengkhianat. Semua orang ingin dia hancur.
Tapi Nana tahu yang sebenarnya.
Ketika Steven dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar — dihancurkan di mata publik, dinyatakan bersalah atas kejahatan yang tidak pernah dia lakukan — hanya Nana yang berdiri melawannya. Sendirian. Tanpa bukti. Tanpa dukungan. Hanya dengan keyakinan bahwa cinta sejati layak diperjuangkan sampai mati.
Perjalanannya membawanya dari ruang sidang Jakarta hingga ke lorong-lorong gelap Singapura, dari pengkhianatan keluarga hingga pengorbanan yang tak terbayangkan. Di sepanjang jalan, ada Daniel Tjang — pengusaha paling berbahaya dan paling mempesona di Jakarta — yang diam-diam mempertaruhkan segalanya untuknya.
*Satu wanita. Dua pria. Dan satu pertanyaan yang mengubah segalanya:*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13
Nana akhirnya pergi ke gudang pelayaran lama dengan izin Tamara.
Izin itu datang lebih mudah daripada yang ia kira. Pagi itu, Tamara menyerahkan amplop cokelat kepada Nana sambil berkata, "Tuan Daniel meminta salinan daftar vendor yang sudah dibersihkan tim audit. Sopir akan mengantarmu. Jangan pergi ke tempat lain."
Stella langsung mengangkat kepala dari meja sarapan kecil. "Cici membiarkan Nana pergi menemui Daniel?"
"Aku membiarkan Nana mengantar dokumen," jawab Tamara tenang. "Bukan kabur ikut rombongan sirkus."
"Daniel lebih berbahaya dari sirkus."
"Karena itu sopir menunggu."
Nana menyimpan amplop itu dengan dua tangan. "Saya akan langsung pulang."
Stella menatapnya seperti ingin melarang, tapi akhirnya hanya merapikan kerah seragam Nana. "Kalau dia bicara terlalu manis, jangan percaya."
"Semua orang bilang begitu tentang dia."
"Karena benar."
Gudang pelayaran lama berada dekat area pelabuhan, jauh dari marmer Rumah Besar Sie. Udara di sana berbau solar, garam, kayu basah, dan kertas arsip yang terlalu lama disimpan. Truk-truk lewat dengan suara berat. Orang-orang membawa clipboard, berteriak soal nomor kontainer, lalu tertawa seolah hidup memang selalu harus dikejar.
Daniel berdiri di tengah semua itu dengan jas yang lengan bajunya sudah digulung.
Ia tampak lebih cocok daripada yang Nana duga.
"Nana Widjaja datang dengan dokumen," katanya begitu melihatnya. "Loki, catat hari ini. Muridku tidak kabur."
Loki yang berdiri di dekat meja lipat hanya menjawab, "Baik, Tuan."
Nana menyerahkan amplop. "Cici Tamara bilang saya harus langsung pulang."
"Tentu. Setelah pelajaran singkat."
"Saya tidak bilang setuju."
"Kau juga tidak langsung pergi."
Nana diam. Daniel tersenyum seperti menang.
Ia membawa Nana ke meja panjang di bawah atap seng. Di atasnya ada beberapa map, kalkulator, gelas kopi hitam, dan daftar nama vendor. Daniel meletakkan tiga koin seperti kemarin, tetapi kali ini di sampingnya ada stempel merah dan satu kontrak.
"Ingat warung kecil kita?" tanyanya.
"Cash, piutang, utang."
"Bagus. Hari ini kita lihat bagaimana orang memakai utang untuk membuat orang lain berlutut."
Nana belum sempat bertanya ketika seorang pria paruh baya dibawa masuk oleh dua staf Daniel. Bajunya rapi, tapi keringat di pelipisnya tidak berhenti. Ia mencoba tersenyum kepada Daniel.
"Pak Daniel, ini cuma salah paham."
"Semua pengkhianatan terdengar lebih sopan kalau disebut salah paham," jawab Daniel ringan.
Nana menatap Daniel.
Nada suaranya masih santai, tapi udara di sekitar meja berubah.
Daniel membuka salah satu map. "Perusahaanmu punya utang jatuh tempo minggu depan. Bank menolak perpanjangan. Dua kontainermu tertahan. Dan entah kebetulan atau tidak, akses gudang Sie bocor melalui kartu staf yang melewati subkontraktormu."
Pria itu pucat. "Saya tidak tahu soal kartu itu."
"Aku percaya."
Pria itu terlihat lega.
Daniel melanjutkan, "Aku percaya kau tidak cukup pintar untuk mengatur sendiri. Karena itu aku tidak menuntutmu sebagai otak. Aku hanya butuh tanda tanganmu sebagai saksi."
Ia mendorong kontrak.
"Tanda tangan bahwa stafmu dipakai pihak Victoria Wan, dan kau bersedia membuka semua catatan pengiriman tiga bulan terakhir."
"Kalau saya tanda tangan, perusahaan saya habis."
"Kalau tidak tanda tangan, perusahaanmu tetap habis. Bedanya, kau habis sendirian."
Nana merasakan perutnya mengeras.
Ini bukan pukulan. Bukan pisau. Tidak ada darah.
Tapi pria itu terlihat seperti sedang dicekik oleh angka-angka di atas kertas.
"Kau membeli utangnya?" tanya Nana sebelum sempat menahan diri.
Daniel menoleh, senang. "Nah. Pelajaran masuk."
Pria itu menatap Nana dengan marah, seolah ia yang membuka rahasia.
Daniel mengetuk kontrak. "Aku membeli sebagian. Cukup untuk membuat bank mendengar kalau aku bicara. Cukup untuk membuatnya memilih jalan yang paling sedikit menghancurkan orang."
"Itu terdengar seperti ancaman," kata Nana.
"Memang."
Jawaban itu terlalu jujur.
Nana menahan napas.
Daniel menatap pria itu lagi. "Tanda tangan, aku bantu bayarkan gaji pekerjamu bulan ini dan kau masih punya kesempatan menjual aset dengan harga manusiawi. Tolak, semua catatan ini tetap masuk ke tim legal Sie, dan orang-orang yang bekerja padamu pulang tanpa gaji."
Pria itu memegang pulpen dengan tangan gemetar.
"Kau kejam," bisiknya.
Daniel tersenyum, tapi matanya tidak ikut tersenyum. "Tidak. Aku efisien."
Pulpen bergerak.
Stempel merah turun.
Suara kecilnya membuat Nana teringat koin Daniel yang jatuh di meja kemarin.
Setelah pria itu dibawa keluar, gudang kembali bising. Truk lewat. Orang berteriak soal nomor kontainer. Dunia tidak berhenti hanya karena satu orang baru saja kehilangan sesuatu.
Nana menatap kontrak.
"Kau menyelamatkan pekerjanya atau menghancurkan perusahaannya?"
"Dua-duanya."
"Kau tidak merasa bersalah?"
Daniel mengambil gelas kopi, lalu menatap permukaannya yang hitam. "Bersalah itu mewah. Orang yang terlalu lama kalah biasanya memilih berguna dulu."
Loki yang sejak tadi diam menunduk sedikit.
Nana menangkap gerakan itu.
"Tjang Group pernah kalah?"
Senyum Daniel kembali, tapi kini seperti tirai yang ditarik terlalu cepat.
"Tjang Group pernah mati."
Kata itu tidak diucapkan keras. Justru karena pelan, Nana mendengarnya jelas di tengah suara gudang.
"Mati?"
"Satu laporan palsu. Beberapa tanda tangan. Satu tuduhan bahwa keluargaku menggelapkan dana proyek pelabuhan." Daniel meletakkan kopi. "Orang-orang yang dulu makan di meja kami tiba-tiba tidak mengenal nama Tjang. Bank menutup pintu. Mitra bisnis mengaku tertipu. Koran menulis kami serakah. Semua orang percaya karena lebih mudah percaya kertas daripada manusia."
Nana tidak bergerak.
Di wajah Daniel, tidak ada air mata. Tidak ada kemarahan meledak. Hanya senyum tipis yang jauh lebih menakutkan.
"Lalu?"
"Lalu aku belajar membaca kertas lebih cepat daripada mereka menulis kebohongan baru."
Angin dari pelabuhan mengangkat ujung map di meja.
Nana tiba-tiba mengerti sedikit alasan Steven memperingatkannya. Daniel memang membuka pintu. Tapi di balik pintu itu bukan hanya ilmu. Ada ruangan penuh abu yang belum dingin.
"Kenapa memberitahuku?" tanyanya.
Daniel menatapnya lama.
"Karena kau tahu rasanya dinilai dari baju, sandal, dan masa lalu yang tidak kau pilih."
Nana menggenggam ujung seragamnya.
"Dan karena suatu hari nanti," lanjut Daniel, suaranya kembali ringan, "kau harus memilih apakah angka dipakai untuk melindungi orang, atau untuk mengubur mereka."
Mobil dari Rumah Besar Sie sudah menunggu di luar pagar.
Nana melangkah pergi, tapi Daniel memanggilnya sekali lagi.
"Nana."
Ia menoleh.
Daniel mengangkat kontrak yang baru ditandatangani. "Jangan salah paham. Aku bukan orang baik."
Nana memandangnya.
"Lalu kenapa menolong Sie?"
Senyum Daniel kali ini tajam, hampir indah.
Di belakangnya, suara truk menggeram pelan, seperti gudang itu ikut menahan rahasia lama.
"Karena kadang membalas dendam dan melakukan hal benar bisa memakai jalan yang sama di dunia yang rusak ini, Nana."