Zakia tak pernah membayangkan hidupnya bisa berubah total karena fitnah yang ia dapatkan. Di usia yang masih muda yakni 22 tahun, Zakia terpaksa melewati jalan hidupnya dengan cara bekerja tanpa kenal lelah, semua itu ia lakukan demi membantu keluarganya. Bahkan, keinginannya untuk melanjutkan kuliah terpaksa ia urungkan demi membantu keluarga untuk mencicil motor.
Zakia selalu menatap langit dan berharap bisa mendapatkan setitik kebahagiaan di sela-sela kesengsaraan yang ia Terima. Namun siapa sangka, harapan kecil itu terpaksa runtuh dalam satu hari. Sebuah fitnah yang tidak pernah ia bayangkan menghancurkan nama baiknya, mulut manusia lebih cepat menyebarkan fitnah dari pada fakta, hal itu membuat hidup penuh dengan penenakan.
Akhirnya, demi menyelamatkan kehormatan kedua mempelai keluarga, Zakia dan pria itu terpaksa menjalan pernikahan. Akankah mereka akan menjadi pasangan yang penuh cinta? Atau hanya menjadi pasangan suami istri di atas kertas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oceanluv_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Sepanjang perjalanan menuju rumah baru mereka, Zakia tak ada berkata apa-apa, ia hanya diam, menghela nafas dan memperhatikan jalan. Sesekali ia tersenyum saat membuka ponsel karena sang ibu mengirimkan pesan berupa foto dirinya ketika sedang berdiri.
Tak hanya Zakia, Daren pun sama, ia juga ikut diam, fokus menyetir, ingin berbicara dengan Zakia juga tidak tahu ingin membahas apa, tapi jujur kecanggungan ini sedikit mengganggu kepala Daren.
"Rumah bang Daren masih jauh ya?"
"Euh? Ha? Ada sekitar satu jam setengah gitu Zak," jawab Daren. Zakia ber oh ria, sedari tadi Zakia memang merasa perjalanan mereka cukup jauh, ternyata memang memakan waktu.
"Lo ngantuk? Tidur aja gapapa, entar kalau udah sampe gue bangunin," tawar Daren. Zakia menggeleng sopan, dia memang lumayan sering menguap tapi matanya tidak bisa tertidur.
Saat ini lampu merah, Zakia melihat di jalanan begitu banyak berjualan jajanan, seketika perutnya lapar, ingin membeli tapi takut ngomong sama Daren, alhasil Zakia menyenderkan tubuhnya lemas lalu memegang perutnya.
"Makan tahu walik keknya enak nih," gumam Zakia.
Daren bukan tidak memperhatikan apa yang dilakukan Zakia, tapi dia juga kepalang segan untuk berbicara dengan wanita itu, biarpun Zakia adalah istrinya tapi hubungan mereka belum sedekat itu kan?
"Lo laper?"
"Ha? Eum dikit sih."
Daren mengangguk, dia mulai menepikan mobilnya dan begitu selesai, tanpa banyak bicara pria itu langsung turun, meninggalkan Zakia dalam kebingungan.
"Dia ke mana ya?" monolognya. Diam, bertanya setelah itu menghilang. Begitu cepat pergerakan pria yang telah menjadi suaminya itu.
Zakia tidak tau saja kalau Daren sedang berjalan menuju stan tahu walik, dia juga lapar makanya turun untuk membeli makanan.
"Duh, bajunya ini, kayaknya baru nikah ya Nak?" Seorang ibu-ibu penjual cilok di samping stan tahu walik memperhatukan Daren.
Daren tersenyum canggung, memang di antara semua pembeli di sini sangat terlihat kalau baju Daren lain sendiri. "Iya buk," jawabnya.
"Pengantin cewenya mana? Istrinya?" tanya si ibu lagi.
"Ada bu di dalem, agak susah turun dia soalnya make heels, makanya saya aja yang turun," jelasnya. Daren kemudian membayar tahu walik tersebut dan ingin pergi, namun pergerakannya terhenti saat si ibu tadi memanggil dirinya.
"Nak, aduh ngeliat kamu pakai baju pengantin gini jadi keinget sama anak ibu yang udah jauh, ini tolong dikasi ke mbaknya ya, mas nya juga ikut makan, mudah-mudahan rumah tangga kalian adem terus ya, diberkahi terus sama yang maha kuasa, ini mas guanteng puoll mbaknya apa lagi, pasti cakep," puji si ibu.
Daren sempat terdiam sebentar, tangannya diambil si ibu dan sedikit memaksa Daren untuk menerima pemberiannya.
"Eh ini harganya berapa bu? Biar saya bayar aja," kata Daren tak enak.
Si ibu memukul lengan Daren pelan lalu tersenyum, "Udah ga usah dibayar, ambil aja, anggap aja hadiah ibu untuk hari pernikahan kalian, dihabisin ya," tuturnya lembut.
"Ya ampun bu, makasih ya," kata Daren sambil menunduk. Tak lama kemudian ia langsung pergi menuju mobilnya. Si ibu penjual cilok itu tersenyum melihat kepergian Daren.
"Emang anaknya pergi ke mana buk?" tanya anak muda yang menjual tahu walik tadi.
Ibu itu tersenyum lalu menjawab, "Udah meninggal, kemaren lahiran cucu ga selamat sama anak ibu, ya mudah-mudahan mas nya tadi pernikahan bahagia terus," jawabnya. Ibu itu memperhatikan Daren sampai masuk ke mobil dan bahkan sampai mobil Daren pergi dari sana.
****
"Nih, makan dulu, perjalanan kita masih lumayan jauh, ini aja gapapa kan?"
Zakia terhenyak saat Daren datang dengan membawa makanan, ada tahu walik dan juga cilok. Tak munafik, melihat tahu walik yang dibawakan Daren membuat perutnya meronta-ronta minta diisi.
"Banyak banget," gumamnya pelan.
"Ha? Ah iya tadi gue niatnya beli tahu walik aja, tapi ibu-ibu di samping itu ngasi kita cilok."
"Alasannya simple sih, karena dia tau kita baru nikah dan keinget anaknya udah jauh makanya dia ngasi ini," jelas Daren.
Sebelum menjalankan mobil, Daren memakan satu potong tahu walik untuk mengganjal perutnya, dia juga lapar tapi kalau makan di cafe atau rumah makan mungkin terasa repot untuk mereka yang masih menggunakan baju pengantin, lebih baik makan ini dulu untuk mengganjal perut.
"Sss haahhh." Zakia mengibas-ngibaskan tangannya ke arah mulutnya, masih pakai baju pengantin, makan-makanan panas ditambah dengan sambal yang pedas, bayangkan bagaimana sumpeknya perasaan Zakia saat ini.
"Tadi ada beli minum ga?" tanya Zakia. Wajahnya sudah berkeringat, dengan cepat Zakia mengambil tisu di mobil Daren dan mengelap wajahnya, persetan dengan make up yang akan luntur, toh mereka sudah mengambil banyak foto.
"Ha? Ga ada, tapi di samping lo keknya ada air mineral," jawab Daren. Zakia menoleh ke samping, syukur karena apa yang dikatakan Daren benar adanya, tanpa pikir panjang Zakia langsung mengambil air tersebut dan meminumnya.
"Alhamdulillah enaknya," kata Zakia lega.
Daren melihat Zakia dan menggeleng lalu tersenyum. "Kalau ga nyaman, itu hijabnya dibuka aja pelan-pelan, acaranya juga udah selesai, lagian juga kak Hana milih baju ada-ada aja, sumpek gini kan jadinya," omel Daren menyalahkan sang kakak.
Daren langsung mengatur suhu AC agar Zakia bisa merasa lebih nyaman, sebenarnya baju Zakia tidak terlalu dibilangkan heboh, namun karena kondisi Zakia sedang makan pedas alhasil Daren risih sendiri melihatnya.
"Tapi ini gue yang milih sih," jawabnya pelan. Zakia meneliti baju pengantinnya, bagaimana dengan respon Daren? Dia diam, iya diam-diam canggung.
Daren berdehem sebentar dan fokus menyetir, begitu juga dengan Zakia yang fokus mengunyah makanannya.
"Masih lama ya?" tanya Zakia lagi.
"Dikit lagi," jawabnya singkat.
Sekitar 15 menit perjalanan, akhirnya Zakia dan Daren sampai di rumah baru mereka. Rumah sederhana dengan tanah yang lumayan luas, mata Zakia berbinar melihat tanah luas itu, sepertinya ada kesempatan untuk membuat kebun mini, itu juga kalau Daren mengizinkan.
Rumah Zakia termasuk rumah yang berdesain modern, dibaluti dengan warna coklat dan warna cream, memiliki halaman luas dan juga garasi untuk tempat mobil mereka. Rumah ini terlihat baru, halamannya berisi rumput-rumput kecil namun terlihat panas karena tidak ada pohon pelindung sedikitpun.
Mobil melaju masuk ke dalam dan berhenti tepat di depan pintu rumah mereka.
"Huuh akhirnya sampai," kata Daren. Ia melakukan peregangan sebentar, terasa pegal juga karena sudah menyetir apalagi selesai acara pernikahan mereka.
Sejenak Daren menoleh ke arah Zakia, Zakia yang sedari tadi melamun langsung menoleh membalas tatapan Daren, ia menaikkan dagunya seolah bertanya. Namun bukannya ada suara, Daren hanya menggeleng lalu turun dari mobil.
"Aneh bener ni anak," gumam Zakia dan ikut turun dari mobil.
Yeay akhirnya Daren sama Zakia udh punya rumah baruuu.