Erlyn tidak pernah memilih untuk jatuh cinta pada kakak tirinya.
Saat ibunya menikah lagi dan membawanya pindah dari Pulau Belitung ke rumah kolonial tua di Surabaya, Erlyn bertemu Yu Chisen — pewaris keluarga Yu yang dingin, tampan, dan tidak banyak bicara. Dia pelukis. Dia lebih tua dua tahun. Dan mulai hari itu, mereka tinggal satu atap sebagai "kakak-adik."
Tapi Chisen bukan kakak yang biasa. Dia diam-diam melindunginya dari gosip sekolah, mengajarinya bahasa Inggris setiap malam, dan memasak untuknya saat tidak ada orang. Di balik pintu loteng yang selalu terkunci, dia menyimpan ratusan lukisan — semuanya adalah wajah Erlyn.
Saat ibunya meninggal, Chisen menjadi satu-satunya tempatnya bersandar. Saat ayahnya masuk penjara, Erlyn menjadi satu-satunya alasannya bertahan. Perasaan yang seharusnya tidak ada perlahan tumbuh di antara mereka — terlalu dalam untuk diabaikan, terlalu terlarang untuk diakui.
Pada malam badai itu, Erlyn memakai sepatu kristal pemberian Chisen dan mengetuk pintu kamarnya.
Dia yang duluan jatuh cinta. Dan dia yang duluan melangkah.
Empat tahun kemudian, badai datang lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 30
Cermin
Dan jaga hatimu.
Kalimat Jessica seperti tertinggal di telinga Erlyn bahkan setelah mobil yang membawanya pergi menghilang dari gerbang sekolah.
Angie berdiri di sampingnya, lebih diam daripada biasa. Itu sendiri sudah cukup menunjukkan bahwa perpisahan tadi bukan hal kecil. Mereka berdua masih memegang hadiah masing-masing, Angie dengan buku catatan ungu, Erlyn dengan map plastik yang terasa lebih berat daripada isinya.
"Dia menyebalkan," kata Angie akhirnya.
Erlyn menoleh. "Jessica?"
"Iya. Pergi begitu saja setelah membuat kita terbiasa punya dia."
Erlyn tersenyum tipis. "Kamu akan chat dia tiap hari."
"Tentu. Aku harus memastikan Jakarta tidak merusaknya."
Mereka tertawa pelan. Tetapi saat Erlyn masuk mobil keluarga, tawanya tertinggal di kursi sekolah. Di perjalanan pulang, ia membuka map dari Jessica lagi. Sticky note di halaman depan masih di sana.
Kalau ada yang membuatmu merasa kecil, cari orang yang membuatmu ingat ukuranmu yang sebenarnya.
Erlyn membaca kalimat itu berulang-ulang.
Siapa orang itu?
Mama, tentu. Angie. Jessica, meski sekarang akan berada di Jakarta. Kevin kadang membuatnya merasa didengar. Tetapi ketika pertanyaan itu datang tanpa diminta, nama pertama yang muncul justru Chisen.
Chisen yang berdiri di gerbang sekolah.
Chisen yang menelepon pihak sekolah.
Chisen yang menaruh roti cokelat di mobil.
Chisen yang bilang kamu orang rumah.
Erlyn menutup map terlalu cepat.
Di rumah, Chisen sedang duduk di ruang tengah dengan laptop terbuka. Ini jarang terjadi. Biasanya ia memilih loteng atau ruang belajar. Di layar laptopnya ada beberapa gambar kecil, mungkin foto karya atau portofolio, tetapi begitu Erlyn masuk, ia menutup layar setengah.
Gerakan kecil itu menusuk lebih cepat daripada yang Erlyn mau akui.
"Pulang cepat," katanya.
"Jessica pergi hari ini."
"Yang ke Jakarta?"
"Iya."
Chisen mengangguk. "Kamu sedih?"
Pertanyaan yang sama seperti di meja makan, tetapi hari ini rasanya berbeda.
"Sedikit."
"Mau susu hangat?"
Erlyn menatapnya.
Chisen sudah berdiri sebelum ia menjawab, seolah tawaran itu bukan pertanyaan sungguhan. Ia berjalan ke dapur. Erlyn mengikuti setelah ragu sebentar, meletakkan map di meja.
"Koh selalu begitu?"
Chisen membuka kulkas. "Begitu apa?"
"Kalau aku sedih, Koh langsung kasih makanan atau minuman."
"Lebih berguna daripada ceramah."
"Koh pernah coba ceramah?"
"Tidak perlu. Kamu tidak mendengarkan."
Erlyn duduk di kursi dapur, memperhatikan Chisen memanaskan susu. Gerakannya efisien, tenang, seperti semua hal yang ia lakukan. Tetapi hari ini, setelah Jessica pergi, setelah kalimat jaga hatimu, semua perhatian kecil Chisen terlihat lebih terang dari biasanya.
Terlalu terang.
Ponselnya bergetar.
Kevin: Jessica sudah berangkat? Angie bilang kamu sedih. Kalau butuh buku baru atau roti cokelat, bilang.
Erlyn tersenyum kecil. Kevin baik. Pesannya hangat, ringan, tidak menuntut. Ia mengetik:
Sudah. Terima kasih. Aku baik-baik saja.
Chisen meletakkan gelas susu di depannya tepat saat ia mengirim pesan.
"Kevin?" tanyanya.
Erlyn mengangkat mata. "Koh lihat?"
"Namanya muncul."
"Dia cuma tanya Jessica."
"Aku tidak bilang apa-apa."
"Wajah Koh bilang."
Chisen diam sebentar. "Wajahku efisien."
Biasanya jawaban itu membuat Erlyn tertawa. Kali ini tidak. Ia menatap gelas susu, melihat uap tipis naik dan hilang.
"Koh masih tidak suka aku dekat dengan Kevin?"
Chisen tidak langsung menjawab.
Di dapur, suara kulkas berdengung pelan. Dari luar, wangi melati masuk lewat jendela kecil. Erlyn mendengar jantungnya sendiri, terlalu keras untuk pertanyaan yang seharusnya biasa.
"Aku tidak bilang begitu."
"Dulu Koh bilang jangan terlalu dekat."
"Itu berbeda."
"Berbeda bagaimana?"
Chisen mengambil gelas kosong, mencucinya, lalu meletakkannya terbalik di rak. Ia memberi jeda terlalu lama. Jeda yang selalu ia pakai ketika kalimat berikutnya harus dipilih dengan hati-hati.
"Dia suka kamu."
Erlyn membeku.
"Kevin?"
"Menurutmu siapa?"
"Koh tahu dari mana?"
"Terlihat."
"Koh bahkan jarang ketemu dia."
"Tidak perlu sering."
Erlyn menatapnya. "Kalau dia suka aku, kenapa?"
Chisen akhirnya menoleh.
Pertanyaan itu menggantung di antara mereka, lebih tajam daripada yang Erlyn rencanakan. Ia sendiri tidak tahu kenapa menanyakannya. Mungkin karena Jessica pergi. Mungkin karena Kevin baik. Mungkin karena Chisen selalu punya reaksi setiap kali nama Kevin muncul, tetapi menyebutnya perlindungan seolah cukup menjelaskan semuanya.
Chisen memandangnya lama.
"Kamu masih kecil."
Jawaban itu seharusnya aman.
Seharusnya.
Namun dada Erlyn justru terasa seperti ditarik.
"Aku cuma satu tahun lebih muda dari Kevin."
"Bukan itu maksudku."
"Lalu apa?"
Chisen tidak menjawab.
Erlyn tertawa kecil tanpa lucu. "Lihat? Koh menutup pintu lagi."
Ia turun dari kursi, meninggalkan susu yang belum habis. Chisen memanggil namanya sekali, "Erlyn," tetapi ia tidak berhenti. Jika ia berhenti, ia mungkin akan bertanya lebih banyak, dan ia tidak yakin siap mendengar jawaban apa pun.
Di kamar, map plastik dari Jessica masih terbuka di atas meja. Sticky note kecil itu terlihat dari sela halaman.
Jaga hatimu.
Erlyn menarik kursi, tetapi tidak duduk. Ia mengambil sticky note itu, lalu meletakkannya kembali. Di sebelah map, pembatas buku melati dari Kevin terselip di buku latihan. Di kotak pensil, kertas kecil tulisan Chisen masih tersimpan rapi: Kalau ada pesan anonim lagi, langsung beri tahu.
Tiga benda kecil.
Tiga orang berbeda.
Semuanya seperti menunjuk ke arah yang sama, ke sesuatu di dalam dirinya yang selama ini ia sebut bingung karena kata itu paling aman.
Ia teringat kartu Angie. King of Cups. Orang yang kelihatannya tenang, dingin, menyimpan semua perasaan dalam diam.
"Omong kosong," bisik Erlyn.
Namun suaranya sendiri tidak terdengar yakin.
Kalau semua itu cuma kebetulan, seharusnya dadanya tidak bereaksi setiap kali nama Chisen lewat di kepalanya.
Seharusnya napasnya tetap biasa saja.
Tetapi tidak begitu.
Tidak lagi.
Di kamar mandi, Erlyn menyalakan keran wastafel.
Air mengalir terlalu keras. Ia menunduk, membasuh wajah, lalu mematikan keran. Ketika mengangkat kepala, bayangannya di cermin tampak berbeda. Rambutnya sedikit basah di dekat pelipis. Matanya terlalu terang. Di belakangnya, kamar mandi putih bersih memantulkan semua hal yang berusaha ia rapikan.
Jangan terlalu dekat dengan cowok itu.
Dia suka kamu.
Kamu masih kecil.
Jaga hatimu.
Erlyn menatap dirinya sendiri lama-lama.
Selama ini, ia mengira Chisen melarang karena ia kakak. Karena ia protektif. Karena ia lebih tua, lebih dingin, lebih terbiasa mengatur hal-hal di sekitarnya.
Tetapi jika hanya itu, kenapa ia marah saat Kevin mengantar pulang?
Kenapa ia memotong izin jam lima menjadi jam empat?
Kenapa daun bawang bisa menjadi terlalu halus?
Erlyn menyentuh dada kirinya, tepat di tempat jantungnya berdetak terlalu cepat.
Untuk pertama kalinya, ia berpikir bahwa kalimat Chisen mungkin tidak sesederhana perlindungan seorang kakak.