NovelToon NovelToon
Suami Menikah Lagi di Hari Kematianku

Suami Menikah Lagi di Hari Kematianku

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Penyesalan Suami / Cinta Lansia / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:23.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nilam

Sari Wulandari bangun di dalam kain kafan, lalu mendengar suaminya menikahi cinta lama di hari yang sama. Setelah puluhan tahun menjadi istri, ibu, dan penopang keluarga, ia memilih menggugat cerai dan membangun ulang hidupnya dari kios kecil serta kebun yang hampir direbut orang. Saat anak perempuannya juga terjebak pernikahan beracun, Sari belajar melawan dengan bukti, bukan air mata. Di tengah luka lama, Arman Pradipta datang membawa perlindungan, rahasia, dan cinta yang tak pernah ia duga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 019

Bu Marni menunggu Nadia di ruang tamu dengan stoples jamu di atas meja.

Rumah itu tidak besar, tetapi penuh aturan yang tidak tertulis. Sandal harus menghadap keluar. Gorden tidak boleh dibuka terlalu lebar. Televisi menyala hanya pada jam tertentu. Dan sejak Nadia menikah dengan Dimas, rahimnya seolah menjadi milik bersama yang boleh dibicarakan di antara teh manis dan kerupuk.

Nadia masuk setelah magrib. Ia sudah mencuci muka di rumah sakit agar tidak terlihat terlalu lelah. Tapi Bu Marni tetap memandangnya dari ujung jilbab sampai sepatu.

“Dari kios ibumu?”

Nadia melepas sepatu. “Iya, Bu.”

“Lama sekali.”

“Saya makan sebentar dengan Mama.”

Bu Marni tertawa tipis. “Sejak kapan makan dengan ibu kandung lebih penting daripada pulang ke rumah suami?”

Dimas duduk di kursi dekat jendela, ponsel di tangan. Ia tidak menatap Nadia.

Nadia menggantung tas. “Saya sudah bilang pulang setelah magrib.”

“Kamu dulu tidak begini,” kata Bu Marni. “Dulu halus. Nurut. Sekarang jawab terus.”

“Saya menjawab karena Ibu bertanya.”

Dimas akhirnya mengangkat kepala. “Nad.”

Satu kata. Teguran kecil. Biasanya cukup untuk membuat Nadia diam.

Malam ini tidak.

Bu Marni membuka stoples. Bau pahit langsung memenuhi ruangan.

“Minum ini sebelum tidur. Jangan dibuang lagi.”

Nadia menatap bubuk cokelat kehitaman itu. “Saya tidak akan minum jamu yang tidak jelas isinya.”

“Tidak jelas?” Bu Marni menepuk meja. “Ini dari orang pintar langganan keluarga. Banyak yang berhasil hamil.”

“Saya dokter, Bu. Saya tidak bisa minum sesuatu tanpa komposisi.”

“Ilmu dokter tidak bisa menjawab semua. Buktinya kamu belum hamil.”

Dada Nadia terasa sesak, tetapi ia tetap berdiri tegak. “Saya dan Dimas belum pernah periksa bersama.”

Bu Marni langsung menoleh ke anaknya. “Untuk apa Dimas diperiksa?”

“Karena kehamilan melibatkan dua orang.”

“Kamu mau bilang anakku kurang laki-laki?”

Dimas berdiri. “Nadia, jaga bicaramu.”

“Aku menjaga bicaraku. Kalian yang tidak menjaga harga diriku.”

Ruangan hening.

Bu Marni seperti tidak percaya mendengar kalimat itu dari menantu yang selama ini menunduk. “Kamu sudah diajari ibumu, ya?”

“Mama tidak mengajari saya membenci siapa pun.”

“Tapi dia mengajari kamu melawan suami.”

“Tidak. Mama mengajari saya menyimpan bukti dan menjaga diri.”

Wajah Dimas berubah. “Bukti apa?”

Nadia tidak menjawab.

Bu Marni menyipit. “Oh, jadi sekarang kamu mengancam?”

“Saya tidak mengancam. Saya menetapkan batas.”

Kata batas terdengar asing di rumah itu. Seperti benda baru yang dilempar ke lantai.

Dimas mendekat. Suaranya lebih rendah. “Kita bicara di kamar.”

“Bicara di sini saja.”

“Aku bilang di kamar.”

Nadia menatapnya. “Kalau kamu ingin membahas tubuhku, pekerjaan, dan ibumu, kita bisa bicara di sini karena dari tadi semuanya juga dibahas di sini.”

Bu Marni berdiri cepat. “Kurang ajar.”

Dimas menarik tangan Nadia. Tidak keras, tetapi cukup membuatnya tersentak.

Nadia menatap tangan itu. “Lepas.”

Dimas tidak langsung melepas.

“Dimas.”

Baru setelah itu ia melepas. Wajahnya merah. “Aku suamimu.”

“Aku tahu. Tapi aku bukan barang.”

Bu Marni memegang dadanya. “Ya Allah, lihat mulutnya. Perempuan zaman sekarang diberi pendidikan tinggi malah lupa adab.”

Nadia mengambil stoples jamu dari meja dan memotret label plastik tanpa nama itu.

“Apa yang kamu lakukan?” Bu Marni merebut stoples.

“Saya akan tanya ke apoteker. Kalau aman, kita bahas lagi. Kalau tidak, jangan pernah paksa saya meminumnya.”

“Kamu mempermalukan keluarga.”

“Yang mempermalukan keluarga adalah memaksa orang minum ramuan tanpa tahu isinya.”

Dimas mendekat dan menurunkan suara. “Nad, Ibu cuma ingin membantu. Kamu tahu sendiri tekanan dari keluarga besar. Setiap Lebaran mereka tanya terus. Aku juga malu.”

Nadia menatap suaminya. “Kamu malu karena belum punya anak, atau malu karena tidak berani bilang kepada mereka bahwa pertanyaan itu menyakiti istrimu?”

Dimas membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Bu Marni menunjuk Nadia. “Jangan putar balik. Perempuan yang baik itu membantu suaminya menjaga muka.”

“Saya sudah menjaga muka kalian terlalu lama,” jawab Nadia. “Di arisan, di acara keluarga, di depan tetangga. Setiap kali Ibu bilang saya terlalu sibuk sampai rahim saya dingin, saya diam. Setiap kali Dimas tertawa kecil seolah itu bercanda, saya diam. Malam ini saya tidak mau diam.”

“Kamu merasa paling benar karena punya gelar dokter?”

“Tidak. Saya merasa berhak atas tubuh saya sendiri.”

Dimas meremas rambutnya dengan frustrasi. “Nadia, cukup.”

“Belum cukup.” Nadia mengeluarkan amplop cokelat dari tas. Ia tidak membuka isinya. Hanya meletakkannya di atas meja. “Ini hasil pemeriksaanku. Semua normal. Kalau kalian ingin menuduh, baca dulu. Setelah itu Dimas ikut periksa.”

Dimas menatap amplop seperti benda berbahaya.

Bu Marni mencibir. “Hasil dokter bisa salah.”

“Kalau begitu kita ke dokter lain. Tapi tetap berdua.”

“Aku tidak mau,” kata Dimas cepat.

Nadia menoleh pelan. “Kenapa?”

Dimas menghindari tatapannya. “Karena tidak perlu.”

“Kalau tidak ada yang ditakuti, kenapa tidak perlu?”

Bu Marni berdiri di depan Dimas seperti tameng. “Anakku sehat. Kamu saja yang terlalu banyak kerja, terlalu banyak pikiran, terlalu sering pergi ke ibumu.”

Nadia tiba-tiba merasa lelah. Bukan lelah tubuh, tetapi lelah menjadi satu-satunya orang yang harus masuk akal di ruangan yang menolak fakta.

Ia mengambil tas.

Dimas panik. “Kamu mau ke mana?”

“Kamar. Aku mandi. Besok aku masuk kerja.”

“Aku belum selesai bicara.”

“Aku sudah.”

Nadia berjalan ke kamar. Ia mengunci pintu dari dalam. Dimas mengetuk beberapa kali, lalu berhenti setelah Bu Marni memanggilnya. Dari balik pintu, Nadia mendengar suara mereka berbisik. Potongan kalimat masuk melalui celah.

“Ibunya itu racun.”

“Jangan sampai dia makin sering ke sana.”

“Pegang ATM-nya.”

Suara Dimas terdengar lebih pelan. “Jangan sekarang, Bu. Dia lagi sensitif.”

Bu Marni menjawab tajam. “Justru sekarang. Kalau uangnya masih dia pegang, dia makin merasa bisa pergi. Kamu suaminya. Jangan cuma diam.”

“Aku capek ribut.”

“Kalau kamu capek, biar Ibu yang atur.”

Nadia berdiri diam.

ATM.

Ia membuka dompet. Kartu debitnya masih ada. Tetapi ketika ia membuka aplikasi bank, ia baru sadar ada dua transfer keluar dari rekening bersama minggu lalu. Jumlahnya tidak besar, tetapi penerimanya bukan toko kebutuhan rumah. Nama penerima: Marni Handayani.

Nadia memotret layar.

Tangannya mulai gemetar lagi, namun kali ini bukan karena takut. Ada marah yang tumbuh pelan, dingin, dan jelas.

Ia membuka riwayat pesan lama. Ada beberapa permintaan kecil dari Dimas yang dulu tidak ia curigai. Transfer untuk servis motor. Transfer untuk beli obat Bu Marni. Transfer untuk bayar iuran keluarga. Semuanya memakai nada yang sama: nanti kuganti, Nad. Tidak satu pun pernah diganti.

Nadia memotret satu per satu. Ia merasa bodoh, lalu marah karena merasa bodoh. Selama ini ia mengira mengalah adalah cara menjaga rumah. Ternyata rumah itu memakai diamnya seperti dompet tanpa kunci.

Di luar kamar, Bu Marni tertawa kecil setelah menerima telepon entah dari siapa. Nadia mendengar namanya disebut, lalu kata ibu kandung dan susah diatur. Ia ingin membuka pintu dan menantang mereka, tetapi pesan Sari teringat: jangan ribut kalau belum aman. Jadi ia menahan napas, menyimpan ponsel, lalu memeriksa kunci lemari.

Ia mengirim pesan ke Sari.

Ma, ternyata rekening bersama dipakai transfer ke Bu Marni tanpa bilang aku.

Balasan Sari datang cepat.

Screenshot semua. Jangan ribut malam ini. Simpan dokumen pentingmu. Besok setelah dinas, datang ke kontrakan.

Nadia mengetik.

Aku takut.

Sari membalas:

Takut boleh. Sendiri jangan.

Nadia duduk di tepi tempat tidur. Di luar, Dimas masih berbicara dengan ibunya. Ia menatap lemari tempat ia menyimpan ijazah, surat nikah, perhiasan pemberian Sari, dan beberapa barang seserahan.

Ia bangkit untuk memeriksa, satu laci demi satu laci, tanpa suara sama sekali.

Kotak perhiasan kecil di laci paling bawah masih ada.

Tapi isinya kosong.

Nadia menatap kotak itu lama sekali.

Lalu ia mengambil ponsel, menyalakan kamera, dan mulai merekam.

1
ronarona rahma
.😭
Risna Wati
perempuan juga punya jalan sendiri mantap 👍👍💪
Risna Wati
mantap bu sari sekarang nambah lagi dukungan nya
Risna Wati
kyk gitu lh kalo membuang berlian yang berharga dapat nya lagi batu koral biasa tidak ada harganya 🤭🙏
Risna Wati
dua wanita yang tangguh dan hebat 💪💪💪👍😍
Lesmana
mnt duit sono sama bpk elu , cumi😡😡 bpk elu kan kepala keluarga , jgn cm bs kawin lg , tp gak bs nyokong anak
Lesmana
gak tau malu lu , raka😡😡😡 br ngelak eh ternyt lngsng buka kartu mnt duit sama ibu elu sndr yg elu abaikan😡😡
Lesmana
durhaka emang nih 2 anak laki nya sari😭😭😭
Lesmana
sari sptnya gak mau dipanggil mama sama raka nih , maunya dipanggil ibu 🤭🤭
Lesmana
aih aih..raka ternyt udah berkeluarga toh , udah pny anak pula.. tp msh aja mnt support sama ibu nya eh yg didukung kawin lg malah ayahnya ??
malu2in aja lu , raka🤣🤣🤣
Lesmana
nadia manggil sari ibu , raka manggil mama , bayu manggil sari apa yah ??
kog bs beda2 yah ??
Lesmana
bukannya pabrik entah pabrik yg mana , awalnya dibangun sama orgtuanya sari yah ?? cm yg jalanin hendra.. tp kog skrng 2 pabriknya pny kel hendra ??🙄🙄
Risna Wati
mantap karma di bayar kontan 👍🤭
Risna Wati
mantap dan tegas 👍👍🙏💪
Risna Wati
keren dan lelah bersamaan 🤭
awesome moment
hasil dri kesongongan
awesome moment
😄😄😄udh habis baru nyadar
awesome moment
cinta arman menjaga bgts. cm di dunai halukah?
Sayekti 0519
bahasanya cerdas ,,aku baca aku belajar.
Inong Suzanna
ceritanya hampir mirip sama sya,cuma sy g punya harta,itu aj msh di pantau sama bini mantanku 🙈😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!