Hidup sungguh tak pernah berpihak kepadanya,
Sejak kecil nyawanya sudah terancam, dia harus menjadi saksi kecelakaan yang merenggut nyawa ibunya.
Menjadi yang tertuduh dan dianggap paling bertanggung jawab atas kematian satu satunya orang yang paling menyayanginya setelah sang ibu yakni sang tuan besar yang sebenarnya adalah juga kakeknya hingga akhirnya ia di buang dan ia terpaksa harus bertahan hidup di jalanan menjadi seorang kurir narkoba sejak usia belia demi hanya untuk bisa bertahan hidup.
Gabriella Calista,
mampukan ia menyelamatkan nyawanya ketika meski setelah 15 tahun berlalu, nyawanya masih di inginkan.....
dan apakah ia akan mau menerima cinta yang di tawarkan padanya oleh seseorang yang ternyata dia adalah pewaris sah darah seseorang yang telah membuatnya hidupnya hancur dan sengsara....
ikuti karya baru aku.....
" BIEL..... "
SELAMAT MEMBACA DAN SEMOGA SUKA, LOVE YOU😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khitara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27 rapuhnya Shahnaz
" Erea....
keluarkan mobil " ucap Shahnaz kepada sang assistan.
Dan tanpa banyak bertanya Erea menuruti perintah sang majikan.
Erea segera melangkah cepat keluar dari kamar menuju lantai bawah.
Di sana ia kembali melangkah cepat menuju garasi mobil.
Erea mengeluarkan mobil yang biasa di pakai oleh Shahnaz dari garasi.
Tak lama Shahnaz nampak keluar dari rumah dan langsung masuk ke dalam mobil.
" jika kau lelah, keluarlah Erea...aku akan menyetir sendiri mobil ini " ucap Shahnaz
" tidak nyonya....
saya akan menemani nyonya, kemana kita nyonya ?! "
" ketempat biasa " jawab Shahnaz dan sukses membuat Erea sejenak terhenyak.
Tempat biasa yang di ucapkan Shahnaz bukanlah tempat biasa bagi sebagian besar orang karena tempat itu adalah sebuah pemakaman.
pemakaman di mana mendiang suaminya terdahulu di kuburkan.
Dan tempatnya lumayan jauh dari tempat mereka tinggal saat ini.
Apalagi ini sudah malam,
Pukul sepuluh malam....
Dada Erea berdesir sebelum akhirnya ia mulai melajukan mobil yang ia kendarai keluar dari area rumah besar Lee.
Mobil Erea melaju menyusuri jalan raya yang masih nampak ramai oleh pengendara lain.
Selama perjalanan Shahnaz hanya diam dan melempar pandangannya ke arah luar jendela mobil.
Erea pun tak berani bertanya apapun atau sekedar berbasa basi dengan sosok yang nampak duduk tenang di belakang sana.
setelah perjalanan Lumayan lama,
akhirnya mereka sampai,
sebuah makam yang sebenarnya adalah makam umum namun karena mungkin keluarga pemilik makam yang bukan orang sembarangan.
Maka Makam itu nampak terawat dan terlihat rapi juga bersih.
Shahnaz turun dari mobil,
" tunggu aku di sini Erea...." ucap Shahnaz
" nyonya....
ini sudah malam " Erea mengingatkan karena jujur ia merasa khawatir dengan sosok sang majikan itu.
Erea tahu,
Saat ini....Shahnaz tengah menghadapi masalah yang cukup rumit.
pengiriman barangnya dari gudang yang akhir akhir ini kerap kali gagal dan tentu itu berimbas pada rupiah yang mengalir ke dalam rekeningnya,
Dan belum lagi permasalahan dengan para pemegang saham yang terus mendesaknya dan menanyakan tentang keberadaan Ricard Lee.
mendengar ucapan Erea,
Shahnaz tersenyum kecut,
" ini hanya malam Erea....
aku bahkan pernah menghadapi yang lebih gelap dari malam " jawab Shahnaz dan kemudian ia melanjutkan turun dari mobil dan segera melangkah ke arah pemakaman.
Shahnaz terus melangkah masuk ke area pemakaman tanpa rasa takut sedikitpun.
sementara Erea menatapnya dengan tatapan yang bergidik.
Ini adalah makam.....
Bukan mall, tapi lihatlah sang majikan yang nampak tak takut sama sekali melangkah di sana.
Ok lah jika itu adalah siang hari seperti biasanya.
tapi ini malam.....
" ya Tuhan nyonya...." desis Erea dengan masih bergidik menatap sosok Shahnaz yang kini tak lagi terlihat bayangannya.
Di dalam area pemakaman,
Shahnaz nampak berdiri tegak dan terdiam di depan sebuah makam.
Sebuah makam yang nampak bersih dan rapi.
Lampu di kanan dan kiri makam itu menyala.
" apa kabar mas ..." desisnya pelan dengan netra yang masih menatap gundukan tanah di hadapannya.
" kau tahu,
sejak kepergianmu hingga hari ini aku benar benar hancur.....
andai saat itu kau turut membawaku bersamamu,
Aku tidak akan berada dalam posisi seperti ini,
Mereka semua jahat padaku mas....mereka semua menyalahkan aku dan menimpakan semua kesalahan padaku.
Hanya kamu yang mengerti aku mas,
Sebenarnya aku ingin segera bertemu denganmu,
Tapi.....
Aku masih ada urusan yang harus kuselesaikan lebih dulu.
aku ingin menunjukkan kepada keluargaku juga keluarga Lee jika aku bukan wanita rendahan seperti yang selalu mereka tuduhkan padaku.
Aku adalah jandamu yang terhormat hingga kedua orang tuaku menjadikan aku sebagai alat pelunasan hutang kepada mereka.
Dan keluarga Lee membawaku ke dalam keluarga mereka untuk mereka jadikan pajangan hanya karena aku seorang janda.
Tapi tak apa,
Sekarang...
Meski sebenarnya hidupku telah hancur, tapi setidaknya mereka tak lagi beranj merendahkan aku seperti dulu.
kurang sedikit lagi....
aku pasti akan datang padamu " desis Shahnaz dengan suara bergetar.
Shahnaz di masa lalu sebenarnya adalah sosok wanita lembut yang sangat cantik.
Tapi perlakuan keluarganya setelah ia menikah dengan suaminya terdahulu dan kemudian setelah kematian suaminya sangatlah buruk,
Ia di bawa pulang paksa ke keluarga Harvard.
Di sana semua orang justru menganggapnya sebagai sampah keluarga hingga ia di lempar sebagai alat pembayaran hutang ke keluarga Lee dengan alasan penebusan dosa karena ia yang telah memaksa menikah tanpa restu keluarga.
Perlakuan buruk ternyata tak selesai sampai di sana.
Meski memiliki segalanya, nyatanya di dalam keluarga Lee pun ia mendapat perlakuan yang hampir serupa.
Ia tak sebeharga itu karena ia hanya seorang janda.
Dan lambat laun, hal itu merubah Shahnaz menjadi sosok wanita keras yang penuh ambisi.
" nyonya....
sudah malam, ayo kita pulang " ucap Erea yang tiba tiba telah berada tak jauh dari tempat saat ini Shahnaz berdiri.
Shahnaz masih terdiam tak bergerak, matanya masih menatap lurus ke arah pusara sang suami.
🍀
pukul sebelas malam,
Biel melangkah cepat kearah ruang ganti, jam kerjanya habis saat ini.
Sudah waktunya ia pulang...hari ini ia sift siang, makanya ia pulang jam sebelas malam.
Malam ini ia ada pekerjaan,
Karenanya ia ingin cepat cepat keluar dari bar.
Usai mengganti pakaiannya Biel segera keluar dan langsung menuju pintu belakang.
" Bee..." panggil Jokey, Biel menoleh...
" ada apa ?! "
" motormu sudah kembali ?! "
" ckkk...belum " jawab Biel kesal ketika ia teringat Erick belum juga mengembalikan motornya.
Ada saja alasan laki laki itu untuk membuat motornya tak segera kembali padanya.
Entah apa alasan Erick hingga ia tak segera mengembalikan motornya kepadanya.
Bahkan tak jarang kini laki laki itu lebih sering datang ke bar hanya untuk menawarkan diri mengantarnya pulang.
Tapi jelas Biel menolaknya mentah mentah...ia tak mau berurusan dengan Erick apalagi ia tahu jika laki laki itu adalah seorang kepala polisi
" lalu kau mau pakai apa ?! "
" motor Samy " Jawa Biel