NovelToon NovelToon
Cewe Cegil Vs CEO Dingin

Cewe Cegil Vs CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Nalara amora

"Apa gunanya menjadi istri CEO kalau hatinya saja sedingin es kutub?"

Hidup Aratala Arasunya Grita tak pernah mudah. Sejak kecil di panti asuhan hingga berjuang demi biaya kuliah semester dua, Aratala sudah kenyang dengan kerasnya hidup. Namun, sebuah insiden sepeda listrik mempertemukannya dengan seorang wanita elegan—yang secara mengejutkan memintanya menjadi istri anaknya.

Elio Lerian Raymond, CEO muda yang dingin dan ceplas-ceplos, bukanlah pria yang mudah ditaklukkan. Awalnya Aratala menolak, namun angka fantastis yang ditawarkan mampu membungkam egonya.
Lagipula, ini cuma kontrak, pikir Aratala.
Namun, bagaimana jika pernikahan atas dasar kontrak dan kebutuhan biaya panti ini justru membawanya ke dalam pusaran perasaan yang tidak pernah ia rencanakan? Apalagi saat sang CEO mulai menunjukkan sisi posesifnya yang tak terduga.

Selamat datang di kehidupan penuh drama antara Cewe Cegil vs CEO dingin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

potret

Makan malam yang berlangsung meriah sekaligus penuh dinamika itu akhirnya selesai. Satu per satu anggota keluarga besar beranjak dari kursi mereka, memindahkan obrolan dan agenda santai ke ruangan ballroom privat yang telah disiapkan khusus di restoran yang sama. Ruangan luas berbalut interior elegan itu menyediakan sofa-sofa empuk, meja kopi mewah, serta sudut yang nyaman untuk sekadar berbincang hangat atau beristirahat melepas penat setelah perjalanan.

Aratala, yang akhirnya bisa bernapas lega karena terbebas dari jeratan pangkuan Rio—setelah bocah itu beralih digendong oleh ayahnya—berjalan berdampingan dengan Elio memasuki ruangan tersebut. Namun, kelegaan Aratala tidak bertahan lama. Begitu mereka tiba di dalam, cengkeraman tangan Elio di pinggangnya langsung mengerat kembali dengan posesif, menuntun gadis itu menjauh dari kerumunan keluarga besar dan membawanya ke sudut ruangan yang agak sepi, jauh dari jangkauan pandangan usil Tante Maya maupun Maria.

"Jangan terlalu akrab dengan anak kecil tadi," bisik Elio rendah tepat di samping telinga Aratala, suaranya terdengar dingin dan berat, menyimpan sisa-sisa cemburu mutlak yang belum mereda.

Aratala memutar bola matanya malas, menepis pelan tangan Elio dari pinggangnya dengan gerakan anggun namun sinis. "Bahkan sama anak kecil pun bapa cemburu? berobat gih sana," balas Aratala berbisik tajam, melayangkan tatapan mengejek penuh kemenangan sebelum melangkah pergi untuk bergabung dengan Maria yang melambaikan tangan memanggilnya.

🌴🌴🌴

Di tengah riuhnya canda tawa dan kehangatan yang terpancar dari keluarga besar Elio—di mana Maria dan beberapa kerabat lain tampak asyik berbincang dalam lingkaran kecil—langkah Aratala mendadak melambat. Ia memilih berdiri agak di tepi ruangan, membiarkan punggungnya bersandar pelan pada dinding berbalut panel kayu klasik.

Netranya menatap lurus ke depan, memperhatikan bagaimana Maria memeluk keponakan-keponakan lain dengan penuh kasih sayang, serta bagaimana tawa lepas tercipta tanpa beban di antara mereka. Suasana itu begitu utuh. Begitu hangat dan terang.

Sebuah kontras yang telak jika dibandingkan dengan isi kepala dan lembaran masa lalu Aratala yang kelam.

Bagi Aratala, kehangatan keluarga adalah sesuatu yang asing, sebuah kemewahan yang sudah dirampas semesta sejak usianya baru menginjak tujuh tahun—ketika kecelakaan maut merenggut kedua orang tuanya sekaligus, meninggalkannya seorang diri sebagai anak sebatang kara di dunia ini. Demi bisa bertahan hidup di tengah kerasnya kenyataan, hari-harinya kemudian dihabiskan di dalam dinginnya tembok panti asuhan.

Hidup Aratala sejak kecil adalah tentang kesunyian yang panjang. Tidak ada pelukan hangat saat ia menangis, tidak ada belaian lembut di puncak kepala, dan tidak ada tempat untuk bermanja-manja. Satu-satunya hal yang ia pelajari dan kuasai dengan sempurna untuk bertahan hidup di lingkungan sosialnya dulu hanyalah satu: bagaimana cara tersenyum.

Ya, Aratala hanya tahu bahwa ia harus terus tersenyum, memasang topeng bahagia di hadapan siapa pun, agar dunia luar mengira ia baik-baik saja dan tidak menaruh curiga pada kerapuhan di dalam hatinya.

Senyum manis dan tawanya yang tadi ia tunjukkan kepada Rio bukanlah sepenuhnya kepalsuan, melainkan sisa-sisa nurani lembut yang masih ia miliki. Namun di balik senyum itu, ada rasa nyeri yang tiba-tiba mencubit ulu hatinya.

Tanpa Aratala sadari, sepasang mata tajam dari sudut lain ruangan terus mengawasinya. Elio, yang berdiri tidak jauh dari tempatnya berbincang dengan sang paman, menangkap perubahan drastis pada raut wajah istrinya. Senyum sinis atau tatapan menantang yang biasa Aratala pasang kini lenyap, digantikan oleh tatapan kosong nan sendu yang menyiratkan luka masa lalu yang begitu dalam—luka yang berhasil dikunci rapat-rapat di balik pertahanan diri gadis itu.

Dari jarak beberapa meter, Elio tidak menyia-nyiakan kesempatan saat melihat sisi rapuh Aratala terekspos begitu saja. Tangan kokohnya bergerak cepat merogoh saku jas, mengeluarkan ponsel pintar berteknologi tinggi miliknya. Tanpa bersuara, lensa kamera itu ia arahkan lurus ke arah Aratala yang tengah melamun menatap kosong ke lantai.

Cekrek.

Satu foto berhasil diambil secara diam-diam. Di layar ponsel, foto tersebut hanya memperlihatkan siluet tubuh samping Aratala, gaun mewah yang membalut tubuhnya, serta rambut bergelombangnya yang tergerai indah—tanpa mengekspos wajah cantiknya secara penuh. Sebuah keputusan sengaja agar publik tidak langsung mengenali identitas asli sang istri, namun cukup memberikan sinyal yang mematikan.

Elio menarik sudut bibirnya, menyunggingkan senyuman mipin penuh kepuasan.

Antonia, paman Elio yang berdiri tepat di sebelah pemuda itu, sempat melirik sekilas ke arah layar ponsel keponakannya. Melihat apa yang baru saja dilakukan Elio, Antonia hanya bisa tersenyum simpul sambil menggeleng-gelengkan kepala pelan.

"Hmm, dasar anak muda..." gumam Antonia pelan dengan nada menggoda, mafhum dengan tabiat posesif keponakannya itu.

Alih-alih menanggapi komentar sang paman, Elio mengabaikannya begitu saja. Jemari ibu jarinya dengan lincah bergerak membuka aplikasi Instagram di ponselnya. Pria itu sudah bertekad bulat untuk mengunggah foto tersebut.

Langkah ini harus ia ambil. Unggahan pertamanya tempo hari tidak cukup membuat para wanita gila hormat dan kolega sosialita di luar sana berhenti mendekati atau mengiriminya pesan tebar pesona. Mereka pikir Elio hanya sedang bermain-main. Maka, foto siluet Aratala malam ini akan menjadi deklarasi publik yang jauh lebih telak—sebuah peringatan keras berbalut kepemilikan mutlak bahwa benteng pertahanan Elio sudah tertutup rapat dan ia tidak lagi tersedia untuk siapa pun.

Jemari Elio mengetuk layar ponselnya sekali lagi sebelum akhirnya ia mengunci layar dan memasukkannya kembali ke dalam saku jas. Caption singkat yang ia sematkan di bawah foto siluet Aratala—"my wife 🤍"—terbukti menciptakan kehebohan instan di dunia maya.

Belum ada lima menit sejak tombol unggah ditekan, notifikasi di ponsel Elio sudah membabi buta. Angka tanda suka melonjak drastis hingga menembus ratusan ribu, sementara kolom komentar langsung disesaki oleh ribuan tanggapan dari para pengikutnya, kolega bisnis, hingga para wanita yang selama ini kerap mengejarnya.

“CAKEP BANGET ISTRINYA OM ELIOOO 😭❤️,” tulis akun suciiii_w dengan huruf kapital, mewakili keterkejutan banyak orang.

“KOK BISA DAPET CEWE SECANTIK INIII 😵‍💫,” timpal akun dindaaaluv_.

“MY TYPE BANGET PASANGAN INI 😍✨,” puji akun icha.auliaa.

Berbagai komentar kagum, rasa patah hati dari para penggemar rahasianya, hingga rasa penasaran massal berhamburan di sana. Mereka sibuk menebak-nebak siapa sosok wanita bergaun putih dengan balutan cardigan dan jepit rambut mutiara yang berhasil meluluhkan hati sang pengusaha dingin.

Di tempatnya berdiri, Elio melirik sekilas ke arah Aratala yang masih larut dalam lamunannya sendiri, tidak tahu sama sekali bahwa wujud anggunnya malam ini telah resmi dipamerkan ke seluruh penjuru dunia maya sebagai mutlak milik seorang Elio Lerian Raymond. Sudut bibir Elio terangkat dalam senyuman tipis penuh kemenangan. Biarlah dunia luar bergemuruh dan berspekulasi sepuas mereka; toh pada akhirnya, wanita itu tetap berada dalam kurungan kuasanya.

Langkah kaki Aratala yang berniat kembali bergabung dengan kerabat lain terhenti saat ia melihat Elio berjalan mendekatinya dengan sorot mata yang intens. Baru saja Aratala berniat melangkah menghampiri sang suami, sebuah bencana kecil seketika terjadi.

Plip!

Pijakan sepatu hak tinggi yang ia kenakan tiba-tiba bergeser di atas lantai marmer yang licin. Aratala kehilangan keseimbangan, tubuhnya sontak oleh ke belakang. Refleks, gadis itu memejamkan mata rapat-rapat, bersiap merasakan sakitnya benturan keras dengan lantai.

Di saat yang sama, Elio yang melihat kejadian itu dari jarak beberapa meter langsung membelalakkan mata. Tanpa memedulikan harga diri atau tatapan orang lain, pria itu langsung berlari kencang menerobos jarak di antara mereka.

Namun, gerakan Elio masih satu detik lebih lambat.

Sebelum tubuh Aratala menyentuh lantai atau sempat diraih oleh tangan Elio, sepasang lengan yang lebih sigap sudah lebih dulu melingkar erat di pinggang ramping gadis itu, menahan jatuhnya dengan tangkas.

Aratala perlahan membuka matanya. Alih-alih dada bidang Elio yang ia temui, ia justru mendapati wajah seorang pria asing tersenyum miring tepat di hadapannya.

"Hati-hati, Aratala... Ipar cantik," bisik pria itu dengan suara rendah yang terdengar geli.

Erik—anak pertama dari Tante Maya, sepupu Elio yang selama ini dikenal paling usil dan bermulut manis—kini tengah mendekap tubuh Aratala dalam jarak yang sangat dekat.

Suasana di sudut ruangan itu seketika berubah membeku dan menegang dalam satu detik.

Langkah lari Elio terhenti mendadak. Pria itu berdiri kaku dengan napas memburu, sementara rahangnya mengeras begitu hebat hingga urat-urat di lehernya menonjol keluar. Sepasang mata Elio menggelap, menatap tajam penuh murka ke arah tangan Erik yang masih melingkar lancang di pinggang istrinya. Ketegangan yang pekat langsung melingkupi udara, membuat siapa pun di sekitar mereka tidak berani mengambil napas barang sedetik pun.

🌴🌴🌴

Jangan lupa like 😉🙏🏻

1
partini
elio kata"mu itu weleh
Nalara amora: tenang kaaa😭🙏
total 1 replies
partini
masih juga nyalahin orang lain situ tuh yg sarappp pak elio,, jangan lah unboxing kaya gitu trauma loh bukanya suka malah benci
Nalara amora: kaaaaaaa😭😭
total 1 replies
partini
good story
Nalara amora: ahhhhhh makasihh kaaa😄🤭🤭
total 1 replies
partini
busettt agresif sakleeee angel ini pura ' nih ceo ga mau di kokop 🤭
aduh mau di apain si cegil jangan kokop pula biar liur najis angel ilang
ko bisa sih Thor angel bebas masuk apa ga ada bodyguard satpam gitu
Nalara amora: tebak hayoo kaa🤭🤭
total 1 replies
partini
ya elah di tuduh menggoda dasar CEO 1/2 ons ,,noh si angel datang jadikan pelampiasan emosi mu dasar CEO murahan
partini: esmosi aku thor🤭🤭 ,cegil ga boleh bersentuhan ma laki" lain eh dianya mah bebas grepek"😂
total 2 replies
Nalara amora
bagus bgt nih cerita nya, rekomendasi buat yg pengen baca yg manis manis plus ada tom and jary nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!