CEO GILA, begitu julukannya. Karena usianya yang 27 tahun dan belum menikah tapi super duper galak garang, suka memaki sembarang dengan kata-kata toxic nyelekit.
Namanya Andre Wiguna Dharma, seorang CEO Perusahaan Keramik Asia Tile.
Kehidupan yang menurutnya penuh kepalsuan jauh dari cinta tulus, membuatnya tidak percaya pada cinta. Ditambah lagi dia pernah mencinta seorang gadis di usia 17 tahun, tapi ternyata kandas sebelum kapal berlayar. Membuatnya hanya menganggap cinta seperti permainan.
Hingga suatu ketika, ia bertemu kembali dengan cinta pertamanya yang ternyata telah menikah. Dan ternyata suami Naysila adalah seorang office boy di perusahaan besarnya.
Akankah permainan cintanya berhasil kali ini?
Atau... Andre harus gigit jari karena Naysila lebih memilih Rendra sebagai cinta sejatinya?
Ataukah Tuhan akan memberinya jalan agar Naysila menjadi Takdirnya di masa depan?
Mari kita ikuti kisah Sang CEO GILA : Mencintai Istri
🙏🙏🙏Mohon dukungannya, please🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AMY DOANK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 (Masalah Dan Masalah Daniel)
Malam yang merayap tak menghalangi Andre mampir ke bar coffe shop tempatnya biasa nongkrong.
Sejam diinfus di RS juga tidak membuatnya kapok untuk minum segelas cocktail beralkohol demi menetralisir otaknya yang dipenuhi beban.
Bertambah lagi satu beban hidupnya. Mengurus serta membiayai seorang anak perempuan hamil karena ulah adiknya.
Brak.
Saking kesalnya, Andre sampai lupa kalau ia ada di bar.
Meskipun ini adalah hari kerja, ternyata banyak pengunjung yang rata-rata para eksekutif muda seperti dirinya.
Dunia mungkin mulai oleng hingga sebagian orang, seolah wajib datang ke bar meski hanya untuk segelas minuman.
"Mas..., lama tak jumpa!"
Seorang perempuan muda cantik berpakaian minimalis menghampiri Andre.
"Minta minuman sana, nanti aku yang bayar!" kata Andre membuat bola mata sang perempuan berbinar terang.
"Sekalian cek out?" tawarnya lagi.
Andre menggeleng, menolak ajakan sang gadis malam.
Gadis itu membawa segelas wine, lalu duduk disamping Andre dengan gestur tubuh memancing lirikan sang CEO.
"Asli, aku kangen Mas Andre!" bisiknya lirih.
"Aku sedang tak ingin kencan! Dan pergilah, sebelum aku berubah menjadi macan!"
Perempuan itu seperti telah tahu tabiat sang CEO GILA. Ia hanya mencebik, beringsut-ingsut pelan namun jemari mencoba merayu ke arah pangkal paha Andre. Seperti sengaja menggoda dengan sentuhannya.
Andre tak menggubris.
"Kau memangnya butuh uang berapa?"
"Aku bukan mau uangmu saja, Mas! Tapi..., mau dirimu!"
"Ck ck ck...! Sudah kukatakan, aku tidak akan pernah tidur dua kali dengan orang yang sama!"
"Tidak usah bayar. Minggu ini aku steril dan tak suka main dengan sembarang orang. Mas pasti khawatir aku suka ambil job sembarang, khan?"
Andre hanya mendengus.
"Pergilah! Aku hanya butuh ketenangan!" semprot Andre dengan suara beratnya dan sorot mata tajam.
....
Andre kesal. Ia tak bisa menenangkan diri dengan santai.
Dengan wajah tampannya yang kaku, ia lalu bangkit setelah menenggak habis minuman mahalnya.
Seorang waitress datang dengan bill ditangan. Lalu waitress itu mengucapkan terima kasih setelah Andre membayar sekaligus memberinya uang tip.
Treeet... treeet... treeet
Daniel calling
Adiknya menelpon.
"Apa?"
...[Kami belum kakak kasih makan! Minimal tinggalkan kami uang untuk biaya hidup. Maharani sedang mengandung anakku, Kak!]...
"Bisakah kau bertanggung jawab atas dirimu sendiri? Minimal bekerjalah untuk menafkahi istrimu itu!"
...[Kak! Aku ini tanggung jawabmu! Cuma kamu saudaraku! Masa' aku harus minta-minta sama orang, jadi gembel mengemis di jalan?]...
"Lakukanlah kalau kau punya otak!"
...[Kak! Maharani perutnya sakit!]...
"Ck. Kau khan suaminya!... Kau sama sekali tak pegang uang? ATM-ku kosong? Bukannya minggu lalu masih ada uang lima jutaan lagi?"
...[Habis semua. Kalau gak percaya, lihat sendiri! Beneran kosong, Kak!]...
Andre mematikan ponselnya.
Jarum pendek jam tangan Alexandre Cristienya menunjukkan ke angka satu lewat.
Ia membawa kendaraannya menuju rumah lama mereka yang kini ditempati Daniel dan istri.
Sebelum memasuki kompleks perumahan, Andre lebih dulu membelikan sebungkus nasi goreng, mie goreng serta seloyang martabak keju untuk diberikan pada Maharani.
Melihat wajah istrinya Daniel yang masih begitu muda, selalu membuat Andre luluh dan iba.
Gadis belia enam belas tahun sudah jadi mangsa adiknya, begitu geram rasa hati Andre.
"Nih!"
"Apa itu, Kak?"
"Kamu sudah makan, Rani?"
Yang ditanya Andre hanya menggeleng pelan.
"Mana suami goblok-mu itu? Barusan dia telepon bilang kalau kalian belum makan!"
"Kak Daniel pergi keluar, Kak!"
"Ya Tuhaaan!!! Anak itu ternyata menelponku dari luar? Sejak kapan dia pergi?"
"Sejak jam sembilan. Katanya mau cari pinjaman sama temannya, Kak!"
Maharani polos sekali.
Bisa-bisanya si Daniel membohongi istri yang baru dinikahinya pagi tadi.
Andre benar-benar emosi jiwa.
"Jadi kamu dari jam sembilan sendirian?" tanya Andre, menurunkan tensi suaranya yang tadi tinggi.
Tatapan Maharani membuat Andre melunak.
"Makanlah dulu! Setelah itu pergi tidur. Jangan bukakan pintu kamar kalau suamimu pulang. Mengerti?"
"Iya, Kak!"
Andre cukup senang, Maharani tak selemah perkiraannya. Perempuan muda itu tidak menunjukkan kesedihan dengan air mata. Dia tampak tegar. Bahkan seolah ini bukanlah masalah besar baginya. Padahal Daniel jelas-jelas membuat masalah dengan meninggalkannya sendirian di rumah. Dalam kondisi hamil muda pula.
Akhirnya Andre memutuskan tidur di rumah Papanya, karena kasihan pada Maharani.
"Kalau ada perlu, ketuk saja pintu kamarku!" titah Andre sebelum masuk kamar yang letaknya disebelah kamar Daniel.
"Iya. Makasih, Kak!"
Andre menutup pintu. Dengan kepala masih pusing dan tubuh agak berat, ia rebahan di atas ranjang tidur lamanya.
Banyak kenangan masa muda yang sebenarnya tak ingin ia ingat lagi.
Rumah ini selalu mengingatkannya pada kelakuan bejad mamanya Daniel. Sehingga seringkali ia ingin menjual kalau saja bocah itu tidak melarang.
Daniel inginkan rumah itu tetap ada. Justru perasaan Daniel jauh berbeda dengan perasaan sang Kakak.
Daniel masih sangat muda, sehingga kurang faham dalam menjalani kehidupan. Seharusnya ada seseorang yang lebih dewasa yang membimbingnya. Sayangnya, Andre justru tak punya kharisma dimata Daniel.
Sejak kecil ia terbiasa disuapi sang Mama. Dicekoki kata-kata kebencian pada sang Kakak tiri yang dianggapnya sebagai saingan.
Sehingga sampai saat ini yang ada di otak Daniel hanyalah sumpah serapah untuk Andre Wiguna, yang telah membuatnya menjadi seperti ini sampai menjadi anak yatim piatu yang hidup sebatang kara.
Daniel lupa dan tak sadar kalau selama ini Andre-lah yang membiayai kebutuhan hidupnya hingga ia bisa dengan santui meminta-minta uang.
Andre bekerja keras memikirkan supaya perusahaan sang Papa tidak sampai bangkrut dan hancur. Semua untuk hidup kedepannya bersama Daniel yang secara tidak langsung, Andre pedulikan juga.
Bukan seperti Daniel, yang tak tahu menahu dan tak ambil pusing. Kerjanya hanyalah membuat masalah dan masalah.
...BERSAMBUNG...