Riyanti Aryani adalah seorang gadis dari keluarga berada. Ia terpaksa jauh dari keluarganya lantaran ingin memenuhi cita-citanya. Sebelum tinggal di Surabaya, Riyanti atau lebih akrab dipanggil Riri itu sebelumnya kuliah di salah satu universitas di Malang. Setelah lulus, Riri diterima kerja di Surabaya. Ia ngekos di salah satu tempat kos yang cukup elit. Sebenarnya orang tuanya bisa saja membeliksnnya rumah di Surabaya, namun mereka khawatir Riri akan semakin betah di sana dan akan lupa pulang ke Lombok. Namun siapa sangka Riri bertemu dengan jodohnya di sana.
Sultan Ahmed Alfahrezi, anak sulung dari pasangan Windi dan Javier. Kegabutannya menjadi seorang driver ojek membuat dirinya akhirnya bertemu dengan jodohnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Abang ojek
Riri dan Fira ngekos di tempat yang sama dan kamar yang sama. Dengan harga kost-an 1,2juta per bulan dan fasilitas yang cukup lengkap itu sudah sangat worth. Apa lagi bisa ditempati dua orang. Jadi lebih meringankan mereka. Meski sebenarnya Riri mampu untuk membayarnya sendiri. Namun ia ingin berjuang dari bawah dan menabung sebanyak-banyaknya agar orang tuanya tidak meremehkannya.
Riri baru saja keluar dari kantornya bersama Fira. Biasanya mereka pulang berdua naik motor milik Fira. Riri selalu memberikan uang bensin kepada Fira sebagai bentuk timbal baliknya. Riri tidak diperbolehkan oleh orang tuanya mengendarai motor sendiri karena saat SMA ia pernah mengalami kecelakaan. Riri sendiri sempat trauma. Jadi ia selalu bonceng kepada orang lain.
"Ri, maaf ya kali aku pulang belakangan. Aku janjian sama ayangku."
"Oh tidak. Jadi aku pulang sendiri ini, Fir?"
"Iya, hehe.... mumpung ayangku bisa keluar, Ri."
"Ish, kok nggak bilang dari tadi? Tahu gitu kan aku pesan ojek online."
"Ya, maaf. Lain kali nggak aku ulangi. Janji deh." Fira mengangkat dua jarinya.
"Ya sudah, hati-hati. Jangan malam-malam pulangnya."
"Siap, buk. Nanti aku belikan seblak pulangnya, oke?"
"Wah oke banget itu."
"Ya sudah, da da... "
Riri pun melambaikan tangannya.
Tadinya Riri mau memesan ojek online. Namun saat ua berjalan sekitar 50 meter dari kantornya, ia melihat ojek online yang sedang duduk santai sambil memainkan handphone-nya. Abang ojek tersebut masih mengenakan masker dan kacamata hitamnya. Jaket dan helmnya ia taruh di atas motornya.
"Bang, narik?"
Ia mendongak dan tanpa sadar memperhatikan Riri dari atas sampai bawah. Untungnya Riri tidak dapat melihat tatapannya itu. Kalau tidak, bisa kenal omel dia.
"Hallo, bang! Narik nggak?"
"Eh iya, narik mbak. mau ke mana?"
"Ke jalan XX kost-an Kenanga."
"Siap, mbak. Ini silahkan dipakai helmnya."
Setelah memberikan helem penumpang kepada Riri, abang ojek memakai jaket dan helmnya sendiri.
Riri sempat tertegun melihat abang ojek satu ini. Meski ia memakai masker dan kacamata, namun Riri dapat memastikan orangnya cukup tampan dan berkulut kuning bersih. postur tubuhnya pun tinggi dan motor yang dipakai cukup bagus.
"Silahkan naik, mbak."
Riri pun naik ke atas motor dengan berbonceng menghadap ke depan. Riri memang selalu memakai celana bahan saat bekerja untuk memudahkannya dalam bergerak. Meski begitu Riri tetap memakai jilbab walaupun belum syar'i.
Lagi-lagi Riri tertegun mencium aroma wangi dari tubuh abang ojek tersebut. Tidak pernah ua temui anang ojek yang sepertinya.
"Hem... ini seperti parfum mahal. Kalau abang ojeknya kayak gini, betah penumpangnya." Batinnya.
Riri yang terkenal humble dan mudah bergaul memang biasanya selalu mengajak ngobrol orang meskipun itu orang baru.
"Sudah lama ngojeknya, bang?" Tanya Riri dengan suara yang cukup kencang.
"Baru satu tahun, mbak."
"Memang kerjanya cuma ngojek apa, ada pekerjaan lain?"
"Serabutan juga bisa, mbak."
"Wah hebat dong."
Ciiit....
Tiba-tiba ia ngerem mendadak. Dan tubuh Riri pun menempel ke punggungnya.
"Astaghfirullah... " Ucap keduanya.
Riri memejamkan mata karena kadang masih trauma.
"Bang, bisa pelan nggak?" Tegurnya.
"Maaf, mbak. Tadi ada kucing kejar-kejaran itu."
Riri pun melihat ke arah yang ditunjuk. Dan benar saja yang abang ojek katakan.
"Maaf ya, mbak."
Riri menghela nafas panjang.
"Mbak, bisa munduran duduknya?"
Riri baru sadar kalau badannya nempel ke depan.
"Eh iya... "
Riri meraba dadanya sendiri.
Abang ojek pun melanjutkan perjalanan.
Sekitar 10 menit kemudian, mereka sampai di depan kost-an.
"Berapa, bang?"
Abang ojek pun menunjukkan tarifnya. Riri langsung membayarnya menggunakan aplikasi biru.
"Terima kasih, mbak."
"Sama-sama, bang."
Hampir saja Riri lupa untuk melepaskan helmnya, namun abang ojek mengingatkannya.
"Eh iya, maaf lupa."
Riri sudah berusaha membukanya, namun ternyata cukup sulit baginya. Akhirnya abang ojek turun kembali dari motor dan membantu Riri membuka helm tersebut. Mereka berdiri cukup dekat. Riri dapat mencium aroma parfum lebih jelas lagi. Dengan satu kali tekan dan tarik, helm tersebut terlepas. Riri masih mematung tanpa kata.
"Sudah, mbak."
"Ah iya, terima kasih."
"Oke, sama-sama. Permisi, mbak."
Abang ojek pun naik kembali ke motor lalu menarik gasnya.
"Tuh kan wanginya masih ketinggalan. Itu abang ojek parfumnya dibuat mandi kali ya." Riri cekikikan sendiri.
Ia masuk ke dalam gerbang lalu naik ke lantai dua. Kamarnya berada di lantai dua. Sesampainya di kamar, Riri langsung membuka pakaian dan jilbabnya lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu, ia duduk santai di tempat tidurnya.
Beberapa saat kemudian, Fira menelponnya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam, Ri. Eh seblaknya mau yang level berapa?"
"Level 5 boleh."
"Oke, terus mau beli es apa?"
"Boba last sugar."
"Oke, ditunggu ya, ini masih di mall soalnya. Hehe... "
"Astaghfirullah... kirain sudah di tempat seblak."
Fira pun menutup telponnya.
Sementara itu, abang ojek mampir ke rumah anak jalanan. Ia membawakan makanan dan minuman untuk anak-anak yang biasanya ada di rumah itu.
"Om Sultan datang... " Pekik salah satu anak yang bernama Doni.
"Ayo ayo ini om bawakan kalian makanan. "
"Wah, banyak sekali om."
"Iya, cepat panggil temanmu yang lain!"
"Iya om."
Melihat senyum mereja adalah kebahagiaan tersendiri baginya. Ternyata kebiasaan abinya dulu sekarang turun kepadanya. Menjadi driver ojek online hanya hobi untuknya. Untuk hasilnya biasanya ia pakai untuk membantu sesama driver lainnya yang membutuhkan. Sedangkan rumah anak jalanan ini, ia bangun beberapa tahun yang lalu khusus untuk menampung anak jalanan yang mungkin tidak ada tempat tinggal. Ia mempercayakan salah satu temannya untuk mengelolanya. Namanya Lukman, dia seorang sebatang kara. Usianya lebih muda 5 tahun dari Sultan.
"Bang, kamu nggak capek habis ngantor masih ngojek?" Tanya Lukman.
"Hem... hari ini aku ngantor cuma dua jam saja."
Doni datang bersama teman-teman nya yang lain.
"Ayo kalian bagikan itu satu-satu. Jangan berebut!" Ujar Lukman.
Sultan mengulum senyum melihat anak-anak itu sangat antusias saling berbagi makanan dan minuman.
"Mau ke mana, bang?"
"Mau shalat, sudah adzan isya' kan?"
"Oh iya."
Sultan pergi ke Mushalla yang tidak jauh dari rumah itu. Ia melaksanakan kewajibannya sebagai ummat islam.
Setelah selesai shalat, ia pamit pulang.
"Tumben masih jam segini udah mau pulang?"
"Huh... aku nggak mau bikin orang tuaku semakin meradang."
"Kalau mereka tahu kegiatanmu, mereka pasti tidak akan marah."
"Lain lagi. Ini soal menikah!"
"Hahaha.... tinggal nikah, bang. Pasti banyak cewek yang mau sama abang."
"Tapi aku yang nggak mau. Sudahlah, aku pulang dulu. Titip anak-anak ya."
"Iya, bang. Hati-hati."
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Bersambung....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
udah pada GK sabar