DERYNE MIKAELSON si duyung cantik yang sudah lama tinggal di lautan, harus kembali ke daratan karena telah menolong seorang anak kecil. Sosok Ryn yang menyenangkan membuat gadis kecil itu memohon pada Ayahnya, untuk menjadikan Ryn sebagai pengasuhnya.
LUCAS, Ayah dari Suri yang dengan terpaksa mengijinkan gadis asing untuk tinggal di rumahnya. Banyak sekali perbedaan dari suasana rumah itu ketika Ryn mulai tinggal disana. Satu persatu rahasia terbongkar! Apakah sebenarnya hubungan Lucas dan Suri, benarkah mereka hanya Ayah dan anak biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nessa Cimolin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
YES!! I'am Mermaid - Ep. 28
"Hei, sudah aku bilang jangan mende-"
Tap!
Lucas memepet Ryn sampai punggung gadis itu menabrak ke dinding, kedua tangan Lucas menghadang sisi kanan dan kiri gadis itu, membuat Ryn tak bisa berkutik dan hanya diam di tempat.
"Kat..." Gumam Ryn lirih, melanjutkan kalimatnya yang terpotong.
Ryn melengos ketika pandangan matanya tak sengaja bertemu dengan tatapan mata Lucas, keringat dingin mulai muncul di kulit tubuh Ryn, gadis itu merasa sesak dengan posisi Lucas yang terlalu dekat dengannya.
"Darimana?"
"Mmm...." Ryn melirik kesana kemari, kedua tangan gadis itu terangkat menyentuh lengan Lucas, berharap ia berhasil menurunkan kedua tangan yang sedang menghadangnya. "Pertama-tama tolong turunkan ini dulu...."
Eh! Kok susah? - Ryn.
Lucas tak bergeming, ia tetap mengunci Ryn dengan kedua tangannya. Pria itu memperhatikan Ryn dari ujung kaki hingga ujung kepala, sebenarnya habis dari mana gadis ini? Lucas yakin betul bahwa rambut Ryn sedikit basah.
"Jawab pertanyaan ku, kenapa kau pergi malam-malam? Dan darimana kau sebenarnya?"
"Itu... Aku" Ryn menggaruk pipi kirinya, siapapun bisa melihat bahwa gadis itu sedang mencari alasan agar bisa lolos.
Sial - Ryn.
"......"
"Oke, baik!" Ryn menatap mata Lucas. "Aku tak punya alasan, aku hanya pergi mencari udara segar"
"Di malam hari?"
Ryn merengut. "Tentu saja, karena dari pagi dan sore aku hanya berada di dalam rumah ini saja"
"Lalu..." Lucas meraih kerah kaos yang dikenakan oleh Ryn. "Kaos siapa ini?"
"Oh ini...." Pelan tapi pasti, Ryn mencoba melepaskan tangan Lucas yang menyentuh kaos nya. "Ini kaos temanku, ya memang kami baru kenal tapi karena pakaianku basah, aku jadi meminjam pakaiannya"
Harap-harap cemas, Ryn berharap kali ini Lucas juga akan melepaskannya sama seperti masalah yang di kolam renang beberapa hari yang lalu. Gadis itu memejamkan kedua matanya sambil terus berdoa.
"Sudah kan?! Aku pergi ya? Aku harus segera beristirahat"
Tanpa perlawanan, Lucas memberikan Ryn jalan. Buru-buru gadis cantik itu berlari sejauh mungkin dari Lucas, ia menaiki anak tangga untuk menuju kamar Suri. Sedangkan Lucas, masih memilih untuk berdiam diri di ruang tamu itu.
Pria itu menjatuhkan dirinya pada sofa yang empuk, matanya jauh menerawang memikirkan sesuatu. Rasanya ia melihat kaos yang sama dua kali di hari ini, Lucas mengusap dagunya, hanya Tuhan dan dia saja yang tau apa yang sedang ia pikirkan.
"Apa mereka ada kaitannya?" Gumam Lucas seorang diri. "Apa mungkin ini rencana mereka?"
________________________________________
Klotak!
Klotak!
Klotak!
Suara berisik dari High heels merah memenuhi sebuah lorong berlantai putih, lorong yang amat bersih dan nyaman, tempat dimana orang-orang pergi untuk memeriksa kesehatan ataupun berobat.
Wendy menenteng tas jinjingnya dengan begitu anggun, wanita itu duduk di kursi tunggu berdekatan dengan wanita-wanita lain yang sedang mengantri. Entah mengapa? Gara-gara Gabriel waktu itu, Wendy jadi kepikiran mengenai dirinya yang hamil.
Kedua tangan Wendy mengeluarkan beberapa alat tes kehamilan dari dalam tasnya, alat itu sudah dibungkus rapi dengan plastik, matanya terpejam mengingat saat ia membeli barang itu.
👉 5 HARI YANG LALU (Setelah kejadian Ryn bertemu Gabriel) 👈
Wendy sedang membeli beberapa bahan makanan di minimarket yang lumayan jauh dari apartemennya. Wanita itu melewati sebuah rak dimana ada testpack yang di pajang disana. Ragu, tapi akhirnya ia membelinya satu, saat itu Wendy membeli dengan harga yang paling murah.
Sesampainya dirumah, Wendy menyimpan testpack itu di dalam kamar mandinya untuk digunakan keesokan pagi, sesuai dengan aturan yang tertulis. Tibalah waktu untuk menggunakan alat itu, dengan hati berdebar Wendy menunggu hasilnya, setelah beberapa detik muncul lah dua garis, dengan satu garis yang masih terlihat pudar.
"Kalau pudar begini, tidak hamil kan?" Gumam Wendy lirih.
Merasa ragu, di pagi berikutnya Wendy kembali terus ke minimarket itu dan membeli beberapa merek, namun hasilnya tetap sama saja, dua garis dengan satu garis yang berwarna pudar. Sampai, suatu ketika ia kembali dan membeli testpack dengan harga yang cukup mahal.
"Maaf nona, semua alat tes itu akurat! Apa kau masih ingin membeli yang ini?" Tanya seorang penjaga kasir wanita, ia merasa kasihan karena setiap hari melihat Wendy membeli alat tersebut.
"Akurat?" Wendy lantas mengeluarkan testpack yang ia coba kemarin. "Apa kau bisa memberitahuku apa artinya dua garis ini? Kenapa yang satu samar?"
"Ah! Ini... Mungkin saja karena usia kandunganmu masih sangat muda" jawab si penjaga kasir lalu tersenyum. "Aku juga belum menikah, jadi aku kurang memahami hal seperti ini"
"Begitu ya?!" Wendy memasukan alat tes itu lagi. "Kalau begitu, aku tidak jadi beli ini. Maaf ya?"
"Saranku, datanglah ke rumah sakit dan periksakan dirimu, hasil pemeriksaan dokter akan jauh lebih baik daripada hanya menggunakan alat tes"
Wendy tersenyum, ia membungkuk dan berterima kasih atas saran dari penjaga kasir. "Terima kasih, aku akan segera ke dokter"
••••
"Haahhh...." Kedua mata Wendy kembali terbuka, ia menghela nafas panjang mengingat kejadian kemarin yang sangat aneh baginya.
Bagaimana jika aku benar hamil? - Wendy.
"Wendy Saltzman" panggil seorang perawat dari dalam ruangan itu.
Dengan tubuh yang sedikit gemetar, Wendy berdiri dari duduknya, ia berjalan mendekati pintu masuk ruangan dokter kandungan. Wanita itu benar-benar takut, takut akan hasilnya. Apakah benar yang ia lakukan sekarang? Begitu pikir Wendy.
"Masuklah nona..." Ujar seorang pria mempersilahkan.
"Eh! Tu-tunggu, apa anda dokter kandungannya?" Tanya Wendy malu-malu.
Kenapa dokternya seorang pria? - Wendy.
"Iya, apa ada masalah?" Tanya pria itu ramah. "Silahkan berbaring, biar saya periksa"
Wendy membaca sebuah nama di name tag kemeja dokter pria itu. Memang benar dia memiliki gelar spesialis kandungan, wanita itu tidak menyangka jika seorang pria juga bisa menjadi dokter kandungan.
Adam Nicholas... - Wendy.
"Apa aku perlu membuka bajuku?" Wendy terlihat enggan untuk di periksa pria berstatus dokter tersebut. "Sejujurnya aku sangat malu"
"Tidak nona, aku hanya memeriksa perutmu saja" jawabnya ramah dan penuh wibawa. Memang begitulah jika ingin menjadi dokter kandungan, ia harus bisa menyeimbangi sikap ibu-ibu yang terkadang tak bisa dikendalikan.
Wendy berbaring, untungnya hari ini ia mengenakan kemeja dan rok span. Jadi dia hanya perlu membuka kemejanya saja untuk memperlihatkan bagian perutnya yang putih mulus. Kedua pipi Wendy bersemu merah, ia benar-benar sangat malu melakukan pemeriksaan ini.
Dengan hati-hati, Dokter itu meraba perut Wendy, sesekali ia terlihat menekannya membuat raut wajah Wendy meringis kesakitan. Lalu, dokter itu menyiapkan sebuah alat untuk melihat bagian dalam perut Wendy dari layar monitor.
"Aku akan melakukan USG, jadi kita bisa melihatnya bersama-sama" ucap sang Dokter.
Wendy mengangguk, ia menurut saja karena memang tidak tahu-menahu tentang masalah ini. "Baik Dokter...."
BERSAMBUNG!!!
Halo, terima kasih sudah membaca! Jangan lupa untuk tinggal kan Like, komentar, Vote dan Favorit ya?! Jangan lupa Follow Author. Terima kasih banyak!! ☺️🙏♥️
semangat, kuat sehat ya kak nesaaaa😍😍♥️♥️
semangat kak neess aku pasti selalu nunggu update mu,, 🌷🌷🌷🌷🌷😊😊😊🤗🤗🤗💝💝💝