“Mereka menikah bukan karena cinta, tapi karena hitungan. Namun, siapa sangka... justru hitungan Jawa itulah yang akhirnya menulis takdir mereka.
Radya Cokrodinoto, pewaris tunggal keluarga bangsawan modern yang masih memegang teguh adat Jawa, dipaksa menikah dengan Raras Inten, seorang penjual jamu pegel keliling yang sederhana, hanya karena hitungan weton.
Eyangnya percaya, hanya perempuan dengan weton seperti Raras yang bisa menetralkan nasib sial dan “tolak bala” besar yang akan menimpa Radya.
Bagaimana nasib Raras di pernikahan paksa ini? sementara Radya sudah punya kekasih yang teramat ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang dimulai
Aroma kopi hitam pekat dan parfum mahal berbaur di udara apartemen Radya yang minimalis, sebuah kombinasi yang biasanya menenangkan bagi Ayunda.
Tapi tidak malam ini. Malam ini, aroma itu terasa menyesakkan, seolah meracuni setiap tarikan napasnya. Ia duduk di sofa kulit berwarna gading, menyilangkan kakinya yang jenjang dengan gerakan anggun yang terlatih, tetapi matanya yang tajam tak lepas dari sosok Radya yang mondar-mandir di depan jendela raksasa.
“Jadi, kamu benar-benar melakukannya?” tanya Ayunda, suaranya terkontrol, nyaris tanpa emosi. Sebuah topeng yang sempurna untuk menutupi badai di dalam dirinya.
Radya berhenti, mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tampak lelah. Lingkaran hitam di bawah matanya terlihat jelas di bawah pencahayaan temaram.
“Aku nggak punya pilihan, Yun. Kamu tahu Eyang seperti apa.”
“Pilihan selalu ada, Radya,” balas Ayunda, nadanya sedikit menajam.
“Pilihanmu adalah menolak omong kosong kuno itu dan tetap bersamaku. Tapi kamu memilih untuk… menikahi seorang penjual jamu.” Ia mengucapkan kata ‘penjual jamu’ seolah itu adalah sebuah penyakit menjijikkan.
“Ini bukan pernikahan!” sentak Radya, akhirnya menatap Ayunda.
“Ini transaksi. Sebuah ritual bodoh untuk menenangkan orang tua. Kamu pikir aku mau? Aku merasa jijik setiap kali mengingatnya!”
“Oh, ya?” Ayunda mengangkat alis.
“Lalu kenapa kamu tidak tinggal di rumah dan ‘menjalani peranmu’? Kenapa kamu lari ke sini, ke apartemenmu?”
“Karena aku nggak sudi berbagi atap dengannya!” suara Radya meninggi.
“Dia itu cuma… jimat berjalan. Sebuah alat. Eyang membayarnya, dan setelah semua ini selesai, dia akan dibuang. Selesai. Nggak ada artinya apa-apa.”
Ayunda bangkit, berjalan anggun mendekati Radya. Jemarinya yang lentik menyentuh lengan kemeja Radya yang tergulung.
“Aku tahu kamu tertekan, Sayang. Aku hanya khawatir. Perempuan seperti itu… mereka licik. Mereka melihat kesempatan dan akan melakukan apa pun untuk mendapatkannya. Kamu yakin dia tidak punya niat lain?”
Radya tertawa sinis, meskipun tidak ada humor di dalamnya.
“Niat lain? Ayunda, please. Kamu lihat sendiri dia, kan? Dengan baju kumal dan lusuhnya, sandal jepitnya. Dia bahkan nggak tahu cara memegang garpu dengan benar. Dia cuma gadis desa putus asa yang butuh uang untuk ibunya. Percayalah, satu-satunya hal yang ada di otaknya adalah lima miliar itu. Bukan aku, bukan keluarga Cokrodinoto.”
Ayunda menatap dalam-dalam ke mata Radya, mencari celah, mencari keraguan.
“Aku hanya ingin memastikan. Aku tidak mau kehilanganmu hanya karena sebuah ramalan weton konyol.”
“Kamu nggak akan kehilanganku,” desis Radya, menarik Ayunda ke dalam pelukannya.
“Ini semua hanya sandiwara. Setelah Eyang puas, semuanya akan kembali normal. Hanya kita berdua. Aku janji.”
Ayunda membalas pelukan itu, menyandarkan kepalanya di dada bidang Radya. Ia memejamkan mata, tetapi pikirannya bekerja lebih cepat dari kilat.
'Gadis desa putus asa, hmm... Aku akan mengawasi mu, batin Ayunda. Ia tidak percaya. Tidak ada yang sesederhana itu di dunia ini. Setiap orang punya agenda. Dan ia akan mencari tahu apa agenda Raras Inten.
***
Sehari kemudian, di kantornya yang menghadap ke jantung kota Jakarta, Ayunda tidak sedang menganalisis data pasar saham atau meninjau proposal bisnis.
Layar laptopnya yang lebar menampilkan serangkaian informasi yang baru saja dikirim oleh seorang detektif swasta yang ia sewa. Laporan itu singkat, tetapi isinya membuat darah Ayunda berdesir.
Data pribadi Raras Inten. Foto rumah kontrakannya yang sempit di gang becek. Riwayat sekolahnya yang biasa-biasa saja. Semuanya cocok dengan deskripsi Radya, gadis miskin dari pinggiran.
Tetapi kemudian, ada satu bagian yang membuat Ayunda menegakkan punggungnya. Sebuah lampiran berisi jejak digital. Raras Inten tidak punya media sosial yang aktif.
Profilnya nyaris kosong. Tapi detektif itu berhasil melacak beberapa artikel lepas dan tulisan blog yang dipublikasikan di bawah nama pena ‘Aruna Senja’. Topiknya beragam, mulai dari kritik sosial ringan hingga analisis psikologi karakter dalam sastra klasik.
Ayunda mengklik salah satu tautan. Sebuah esai tentang dualisme kekuasaan dan pengorbanan dalam epos Mahabharata.
Ia mulai membaca. Awalnya dengan sikap meremehkan, tetapi seiring paragraf bergulir, ekspresinya berubah. Kalimatnya tajam, analisisnya dalam, pilihan katanya cerdas dan menusuk. Ini bukan tulisan seorang penjual jamu. Ini adalah tulisan seorang pemikir, seorang strategis yang mampu melihat pola tersembunyi di balik narasi besar. Seseorang yang memahami kekuasaan, ambisi, dan kelemahan manusia.
“Sialan,” desis Ayunda pelan. Tangannya terkepal di atas meja mahoni yang dingin.
Semuanya menjadi jelas sekarang. Kepolosan itu. Jawaban-jawaban cerdas yang Raras lontarkan di paviliun tempo hari. Itu bukan keberanian putus asa, itu adalah arogansi yang terselubung. Raras Inten bukan korban, dia adalah pemain. Seorang oportunis cerdas yang bersembunyi di balik citra gadis miskin untuk menyusup ke dalam keluarga Cokrodinoto.
Kecemburuan yang tadinya membakar kini berubah menjadi sesuatu yang lebih dingin dan lebih berbahaya, ambisi. Ini bukan lagi sekadar perebutan seorang pria. Ini adalah perang. Perang untuk posisi, untuk kekuasaan, untuk status Nyonya Cokrodinoto yang seharusnya menjadi miliknya. Dan Ayunda tidak pernah kalah dalam perang.
Ia meraih ponselnya, jarinya dengan cepat menekan sebuah nomor di daftar kontak cepat.
Sambungan telepon berdering dua kali sebelum diangkat.
“Halo?” suara ceria seorang wanita terdengar di seberang.
“Maya? Ini aku, Ayunda.”
“Astaga, Ayunda! Tumben banget telepon jam segini. Kirain lagi sibuk ngitungin duitnya Radya,” canda suara itu. Maya, sahabat sosialitanya, terkenal dengan dua hal, koleksi tas Hermes-nya dan jaringannya yang luas ke dunia ‘lain’.
“Aku butuh bantuanmu, May,” kata Ayunda, nadanya datar, tanpa basa-basi.
Maya langsung menangkap perubahan suasana.
“Wow, oke. Terdengar serius. Ada apa? Proyek baru gagal? Atau… ada drama sama si Pangeran Es Cokrodinoto?”
Ayunda menarik napas panjang, menatap pantulan wajahnya yang dingin di layar laptop yang gelap.
“Lebih rumit dari itu. Kamu pernah cerita soal… ‘konsultan spiritual’ yang biasa kamu datangi, kan?”
Hening sejenak di seberang sana. Lalu, tawa kecil Maya terdengar.
“Oh… yang itu. Tentu saja aku ingat. Yang mana yang kamu butuhin? Yang buat penglaris butik? Yang buat pagar gaib rumah? Atau… yang buat ‘jaga suami’?”
“Yang terakhir,” jawab Ayunda tanpa ragu.
“Aku butuh yang paling kuat. Yang paling manjur.”
Maya berdeham, nada bicaranya berubah menjadi lebih serius, nyaris berbisik. “Yun, aku nggak pernah lihat kamu kayak gini. Kamu itu kan tim ‘semua harus logis dan terukur’. Sejak kapan kamu main ginian?”
“Logika nggak ada gunanya kalau lawanmu main curang pakai cara yang nggak kelihatan, May,” desis Ayunda. Matanya menyipit, menatap sebuah foto Radya yang terpajang di mejanya.
“Aku cuma mau mengambil kembali apa yang seharusnya jadi milikku.”
“Mengambil kembali atau… merebut paksa?” goda Maya, tapi ada nada peringatan dalam suaranya.
“Apa bedanya?” balas Ayunda dingin.
“Aku butuh Radya kembali padaku, hanya milikku. Secepatnya.”
Terdengar helaan napas panjang dari Maya.
“Oke. Aku ada satu nama. Tapi ini bukan dukun biasa yang cuma bisa pasang susuk atau pelet ringan, Yun. Orang ini… kerjanya ‘bersih’, tapi bayarannya bukan cuma uang. Dan sekali kamu masuk ke jalannya, nggak ada kata putar balik. Kamu yakin?”
Ayunda tidak menjawab. Ia hanya menatap foto Radya, lalu beralih ke esai tulisan Raras di layarnya. Wajahnya mengeras menjadi topeng tekad yang kejam.
“Maya,” panggilnya lagi, suaranya kini serendah bisikan maut.
“Tanyakan pada orangmu itu.”
“Tanya apa?”
“Apa dia bisa membuat seorang pria bukan hanya kembali… tapi juga melupakan sepenuhnya alasan kenapa dia pernah pergi?”