Ini Kisah Essa dan Alex, adik dari Sera dan Darren di novel Godaan Cinta Ibu Susu
~~
Tidak Pernah Menyangka, diusia matangnya Alex, akan menikahi gadis kecil yang selalu membuatnya kesal siapa lagi jika bukan adik ipar bosnya. Karena satu insiden memaksa mereka untuk menikah.
Vanessa tidak mau menikah diusia muda apalagi dengan laki-laki menyebalkan seperti Alex, tapi karena satu insiden memaksanya untuk menerima lamaran itu.
BAGAIMANA KISAH MEREKA YANG TIDAK PERNAH AKUR? AKANKAH BENIH-BENIH CINTA TUMBUH DIANTARANYA?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reynard Elvano
"Essa, kamu dari mana saja?" tanya Eva seolah menginterogasi. Essa berjalan lemas memasuki kelas.
"Kalian tanya aku dari mana? Sudah tahu aku keliling-keliling menghindari kak Vano. Aku takut dia akan terus mencariku, apa dia tahu aku di kelas ini?" tanyanya dengan cemas.
"Jika tidak tahu pun dia akan mencari tahu.," seru Micha membuat bibir Essa mencebik. Dia khawatir lelaki itu akan terus mencarinya.
Sementara di tempat lain Vano sudah mendapat informasi tentang Essa. Hanya dengan mengerahkan anak buahnya.
"Jadi, dia di kelas 11 IPS," ucap Vano, bibirnya tersungging tipis sambil menaruh selembar formulir yang terdapat foto Essa. Entah, dari mana Vano bisa mendapatkan lembaran itu, yang pastinya pria itu tidak hanya ingin menghukum gadis yang bernama Essa, tapi ada hal lain yang juga tidak ia mengerti.
"Apa kau akan menghukumnya? Mempermalukannya di tempat umum seperti gadis kemarin? Ayolah Van, jangan terlalu kejam. Sudah banyak adik kelas yang menderita karenamu." Sang teman, mengkritiknya. Karena memang kelakuan Vano sudah di luar batas.
"Siapa bilang? Kali ini aku tidak akan melakukannya seperti itu. Gadis itu membuatku tertarik, kenapa aku baru tahu ada gadis seimut itu di sekolah kita." Tatapnya memberikan senyuman tipis kepada temannya.
Sang teman yang tadi bersantai langsung bangkit dari sofa, duduk dengan tegak menghadap Vano, yang memainkan pulpen di atas meja.
"Jangan bilang kau, akan memacarinya. Seperti gadis-gadis sebelumnya."
Ya, benar.
Selain, mempunyai kekuasaan karena sang ayah, Vano juga terkenal playboy. Dia akan memacari siswa yang cantik di sekolahnya, dengan tuntutan mereka harus menerimanya tidak ada penolakan.
Namun, tidak tahu dengan Essa. Apa Vano bisa menaklukkan gadis itu?
Bel pertanda pulang sudah berbunyi, semua siswa serempak berhamburan keluar kelas. Seketika suasana lapangan yang kosong kini dipenuhi para siswa, yang saling bergurau menceritakan hal indah tadi di dalam kelas.
Essa, berjalan gontai dengan raut wajah yang masam. Ujiannya akan segera tiba tapi setiap kali ulangan harian nilainya selalu saja buruk, jika begitu bagaimana dia bisa lulus. Tatapannya terus tertuju pada lembaran kertas yang ada ditangannya.
"B+, tidak begitu buruk," ucap Eva kemudian. Ketiga sahabat dengan nilai rata-rata yang buruk.
"Sulit sekali mendapatkan A+, jika begini bagaimana hasil ujian nanti." Micha melenguh.
Akhir-akhir ini dia tidak pandai belajar karena kegiatannya bersama sugar Daddy, bukannya mengajarkan pelajaran fisika tetapi malah mengajarkan bagaimana lihainya di atas ranjang.
Oh, Tuhan sungguh otaknya dipenuhi bayangan m3sum. Lantas bagaimana dengan Eva? Gadis itu tidak terlalu mencemaskan, dia tidak mengeluh tentang nilai yang penting dia lulus ujian itu saja. Tapi mungkin mereka harus belajar lebih giat lagi karena ujian akhir bukan main-main.
"Essa?"
"Hmm."
"Apa kau punya kenalan? Mungkin saja, kakak iparmu jago dalam pelajaran ini setara dia itu seorang pengusaha. Dia pasti jago dalam setiap hal termasuk fisika."
"Lalu? Bilang saja jika kalian ingin kak Darren, mengajari kalian."
"Nah, itu maksudku." Micha tersenyum.
"Kalian pikir dia bukan orang sibuk, bagaimana bisa dia ada waktu. Sudahlah lebih baik sekarang kita harus giat belajar," ujar Essa yang terus melangkah maju tanpa melihat siapa di depan.
Tubuhnya seketika mentok, pria tinggi di depannya sudah menghalangi jalannya. Essa, yang sedari tadi memasang wajah kusam kini melotot melihat kakak kelas killer yang menunggunya.
"Oh tidak," gumam mereka bertiga.
"Essa tamatlah riwayatmu," bisik Micha.
Eva dan Micha saling pandang. Mereka mundur perlahan menjauh dari Essa, bukan tidak sekawan tetapi mendapat intruksi dari teman-teman Vano untuk segera pergi.
Essa, terlalu gugup sampai tidak sadar jika kedua temannya sudah tidak ada. Matanya masih terpaku menatap pria tinggi dengan paras tampan bagaikan seorang bule di depannya.
Essa, menelan ludah. Netranya bergerak ke kiri dan kanan mencari celah untuk kabur. Sebenarnya jalanan masih luas, tetapi kakinya seolah membeku di tempat itu saja yang sulit bergerak ke sisi lain.
"Kita bertemu lagi cantik," ucap Vano. Essa hanya nyengir.
"Hai, kak apa kabar?"
Konyol, dia menanyakan kabar padahal baru bertemu beberapa jam yang lalu. Essa, bergerak pelan ke sisi kiri niat ingin kabur tapi langkahnya terlanjur disadari oleh Vano. Tangan Vano mencengkram kuat pundaknya membuat tubuh Essa membeku.
"Kak soal tadi aku minta maaf, aku benar-benar tidak sengaja. Begini saja ... aku akan melakukan apapun bila perlu meminta maaf di hadapan teman-teman di sekolah aku akan lakukan. Tapi tolong jangan hukum aku."
Essa menangkupkan kedua tangannya sebagai permohonan. Matanya terpejam penuh ketakutan, justru tingkah ya itu membuat Vano semakin tertarik. Wajahnya semakin terlihat imut dan menggemaskan.
"Kak aku mohon, kak lepaskan aku izinkan aku pulang." Mohonnya lagi.
Vano tersenyum, tanpa sadar ia memberikan celah untuk Essa biar bisa pergi melewatinya. Tentu saja tingkahnya itu membuat teman-temannya heran. Seorang Vano baru kali ini berbaik hati yang melepas tawanannya.
"Kali ini aku akan melepaskanmu. Tapi besok, jangan harap tidak akan bertemu denganku."
Mata Essa terbelalak seketika, jantungnya berdegup dengan sangat kencang. Tubuhnya seakan gemetar mengingat ancaman kakak kelasnya. Tetapi Essa, tidak peduli biarlah dengan hari esok, yang penting sekarang dia bisa pergi.
Essa seketika berlari meninggalkan sekolah. Teman-teman Vano hanya menggeleng. Mereka saling menatap heran, jika pada gadis lain Vano akan melakukan hal yang lebih kejam.
Nafas Essa tersengal-sengal. Sambil menahan kedua lututnya nafasnya masih terengah-engah.
"Akhirnya aku bisa lepas darinya tapi bagaimana dengan esok. Rasanya aku ingin pindah sekolah," gumamnya lalu berdiri tegak sambil sesekali mengatur nafasnya, Essa hendak pergi menuju halte tapi tiba-tiba tangannya diraih ke belakang.
"Eh, Om!"
Sedetik matanya membola, ia menatap Alex di depannya. Kapan Alex, datang ke sekolahnya, membuat moodnya buruk saja. Walau dalam hati ia senang karena Alex, menjemputnya tanpa diminta.
"Aku sudah menunggumu dari tadi, ayo cepat pulang."
"Eh, tunggu!" Essa, melepas genggaman Alex.
"Ngapain Om datang kesini? Aku sedang marah ya, Om aku tidak mau pulang bersama Om."
"Di saat suruh jemput gak pernah datang, tapi sekarang tahu-tahu datang sendiri. Aneh!" Essa terus menggerutu. Matanya mendelik dan berpaling ke sembarang arah, dengan posisi tangan bersedekap di bawah dada.
"Ati Ecca!" teriak seorang bocah. Essa mengenal sangat suara itu, suara Lio keponakan kecilnya tapi bagaimana bisa dia ada di sini.
Sedetik Essa menoleh, matanya melotot menatap bocah kecil yang muncul di balik kaca mobil. Lio, datang bersama Alex, untuk menjemputnya atau hal lain.
"Lio!"
"Aku datang karena Lio ingin pergi bersamamu. Kakakmu tidak menghubungimu?"
Essa, langsung merogoh ponselnya. Terdapat banyak sekali panggilan dari kakaknya dan ada beberapa chat darinya juga jika Essa harus menemani Lio bermain. Lio ingin ke satu tempat wahana bermain, karena sang kakak sedang hamil besar jadi memintanya menemani Lio bersama Alex.
Jadi dia ke sini karena Lio, bukan keinginannya. Menyebalkan sekali, batinnya kesal.
Essa bergegas masuk ke dalam mobil, sementara Lio dipindahkan Alex ke car seat. Bocah itu duduk di belakang sendirian. Sementara Essa duduk di samping Alex.
"Di depan ada pom bensin, ganti pakaianlah di sana."
"Tapi aku tidak membawa pakaian ganti," balas Essa ketus.
Alex, tidak banyak bicara yang langsung memberikan satu paper bag padanya. Di dalamnya berisi pakaian ganti, Alex, pun berpakaian santai, seolah mereka akan menikmati hari yang panjang.
Essa melirik Alex, dengan sorot mata yang tajam. Pria itu berani membuka lemarinya. "Om mengambil sendiri di lemariku? Itu lancang."
"lancangan mana dengan kamu yang mengambil makanan di meja tanpa seizin ku. Kamu menolak ditawari tapi mencurinya."
Essa langsung diam. Dari mana Alex tahu, padahal ia mengendap masuk ke dalam. Ternyata saat keluar dari apartemen Alex, melihat Essa berlari sambil memasukkan kotak bekalnya. Pria itupun tersenyum melihat tingkah istri kecilnya.
thour buat essa kuat gak mudah di tindas ma pelakor, buat jd essa wanita kuat.