Andi, seorang akuntan kuper yang hidupnya lurus seperti tabel Excel, panik ketika menerima undangan reuni SMA. Masalahnya: dulu dia selalu jadi bahan ejekan karena jomblo kronis. Tak mau terlihat memprihatinkan di depan teman-teman lamanya, Andi nekat menyewa seorang pacar profesional bernama Nayla—cantik, cerdas, dan terlalu mahal untuk dompetnya.
Namun Nayla punya syarat gila: “Kalau kamu jatuh cinta sama gue, dendanya satu milyar.”
Awalnya Andi yakin aman—dia terlalu canggung untuk jatuh cinta.
Tapi setelah pura-pura pacaran, makan bareng, dan menghadapi masa lalu yang muncul kembali di reuni… Andi mulai menyadari sesuatu: dia sedang terjebak.
Antara cinta pura-pura, kontrak tak wajar, dan perasaan yang benar-benar tumbuh.
Dan setiap degup jantungnya… makin mendekatkannya ke denda satu milyar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuhan Tolong
Andi merosot ke kursi, wajah tenggelam di antara kedua tangannya. “Tompel..hidup gue penuh dengan masalah, dua jadwal bentrok' dua dunia, dua cewek, dan dua ancaman."
Dio mengangkat tangan seperti guru spiritual palsu di YouTube. “Tarik napas lu pelan pelan, rasakan panas mengalir di perut kantong beras lu."
Andi nyengir masam, menghela napas persis kodok ngorek.
“Nah begitu, lalu buang napas lu, rasakan udara mengembang diudara dan sekarang, buka aplikasi Cinta Rental 24 Jam katakan ke Nayla kalau—”
Ting! Notifikasi keempat
Nayla (Cinta Rental 24 Jam):
Kak Andi, besok jam 10 ya? Jangan telat. Kalau telat lebih dari 30 menit, kakak kena penalty 600 ribu. 😊
Ia memekik kecil. “Astaga… bukan hanya hati gue, dompet gue juga diancam mati mendadak! 600 ribu bisa beli tiga karung beras."
Dio menyeringai seolah tahu masalahnya “Tenang, Ndik. Itu belum seberapa—kalau lu telat 1 jam, bisa jadi penaltinya sama dengan hutang lu di warung mpo 'Mumun” toko kelontong depan kantor.
Ting!
Satu notif masuk lagi badai yang nggak kenal lelah.
Mama ❤️:
Mama sudah pesanin rendang sama Sofiah. Mama mau lihat kalian duduk berduaan. Mama sudah siapin background foto buat upload ke grup keluarga—bunga mawar merah doang, biar terasa ‘serius’
Andi menatap layar pucat “Kasus Pelanggaran Jodoh Mama bisa ' di bawa ke pengadilan," Hari Minggu tepat pukul 10 pagi gue harus menghadap pacar sewaan sama dengan undangan mama di Bandung. Dan gue wajib pulang."
Dio mengulum senyum' Lalu masalahnya apa ? "
"Lu udah baca kan, gue kena denda kalau telat jumpa dengan Nayla dan yang kedua kena sumpah Malin Kundang jika membantah Mama”
Dio menyilangkan tangan mengangguk-angguk buruk…“Gue udah punya solusinya.”
Andi menatap penuh harapan matanya berbinar kecil—lampu emergency 10% daya "Serius lu ? '
Laki laki berbadan tegap itu menepuk pundaknya tiga kali membuatnya hampir terjajar ke belakang. “Lu tinggal… pecah dua. kayak amuba. Selesai.”
Andi melempar stapler di atas meja—tuing ! Untung kena bantal “Bangs*t, gue serius! Gue bukan mainan lego yang bisa disusun ulang!”
Dio mengangkat jempol bangga. “Gue juga serius. Percayalah, teknologi belum sejauh itu, tapi… kita bisa bikin strategi lu bikin laporan pajak yang ‘pas’—semuanya rapi, tapi ada rahasia di baliknya.”
Andi berdiri lemas, memegang dinding kubikel. “Gue harus kasih tau Nayla. Gue harus bilang sama Mama. Gue harus jelasin…”
Sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya…
TING!
Notifikasi wa datang dari admin Cinta Rental 24 Jam
Admin Cinta Rental 24 Jam:
Halo Kak Andi, kami hanya ingin memastikan: kehadiran besok wajib untuk finalisasi kontrak kerja sama. Terima kasih. [tanda centang hijau]
Untuk kesekian kalinya ia terpaku kena lem super.
Dio terkesiap. “Wajib? Ndik… kata ‘wajib’ itu bersayap horor, seumpama ‘pemeriksaan pajak mendadak’.”
Andi menunduk pasrah menghantam pelan—pelan meja dengan dahinya, “Sial. Sial banget. Sial paling sial seumur hidup gue —bahkan lebih sial dari komputer hang saat menyimpan file laporan pajak.”
Dio mendekat, berbisik halus, “Ndik… lu cuma punya dua pilihan.“Pertama… lu ikut saran gue.”
“Dan yang kedua?”
“Lu ngilang dari muka bumi sampe hari Senin. Bisa jadi burung merpati, atau batu di pinggir jalan.”
Andi memejamkan matanya perih. “Mungkin… jadi beruang Kutub lebih masuk akal. Setidaknya ada es mendinginkan kepala gue.”
Dio menggaruk dagu seolah-olah berpikir keras. “Atau jadi angin bisa hilang berhembus.
Andi mengangkat kepala, alisnya membentuk tanda tanya. “Gue manusia, Di! Manusia yang ada NIK, NPWP, dan hutang hp!”
“Ya makanya lu ribet!”
Andi terdiam hening, kantor pajak seperti kuburan
Ting
Notifikasi Nayla masuk lagi—lebih lembut, tapi mematikan
Nayla
Kak Andi, maaf ya kalau chat-nya banyak. Gue cuma mau pastiin kakak nyaman. Besok gue bawain kopi favorit kakak—pahit banget."
Andi tertegun. Hatinya mencelos“Kok… dia tau kopi favorit gue?”
“Nah… itu justru bikin lebih serem! Dari mana dia tau? Profil lu nggak ada data kopi! Hanya ada data ‘jumlah pajak yang dibayar’ dan ‘jumlah maaf yang gue berikan ke lu’!”
“Lu yakin Nayla bukan cenayang? Atau detektif pajak menyamar?”
Dio menggeleng dramatis rambutnya berayun. “Bukan. Dia profesional, seprofesional lu bikin laporan.
Pria berwajah lembut itu menatap hapenya kelat, romannya murung—"Gimana kalo… gue jujur ke Nayla? kalo gue harus pulang ketemu Mama?"
Dio mengeplak meja kuat “Jangan! Itu bahaya! Cewek sewaan paling sensi sama klien PHP!”
“PHP apa?”
“Lu udah buat janji ma dia, bego! lu udah boking, "
Andi memijat hidungnya, “Trus gue bilang apa?”
“Gampang, lu tinggal bilang—”
Ting!
Notifikasi Mama masuk lagi, hujan es turun ke atas bara api.
Mama ❤️:
Mama sudah kirim alamat dukun pengobatan batin kalau kamu masih ragu. Jodoh itu gak boleh ditolak. Ingat itu. Kalau nggak datang besok, Mama akan upload foto bayi kamu make popok ke grup keluarga.
Andi hampir pingsan— kaki nya melemah. menyentuh meja, matanya merah seperti mau menangis
Dio akhirnya menghela napas panjang—timbul rasa kasihan didadanya, “Ndik… gue rasa… ini bukan cuma reuni. Ini awal dari bencana nasional, bisa masuk berita ‘Akuntan Suci Hati Terjebak Dua Dunia: Jodoh Mama vs Pacar Sewaan’.”
Andi merosot duduk, menatap langit-langit kantor pajak krem polos " Tuhan tolong, "