Peringatan! Novel coming of age.
Terinspirasi dari kisah nyata.
Kehidupan remaja tidak hanya di isi masa-masa manis, tetapi juga pahit. Di sini kita akan mengulik sisi berandal dari kehidupan anak SMA. Cerita ini mengangkat tema tentang kenakalan remaja.
Raffi Hannes merupakan remaja yang populer tampan, supel dan punya segudang prestasi. Seperti remaja pada umumnya, Raffi penasaran akan banyak hal. Dia merupakan anak baik-baik yang lambat laun berubah karena rasa penasarannya itu.
Dari mulai ketidaksengajaan mengkonsumsi obat terlarang, membully, hingga pergaulan bebas. Semuanya pernah dilakukan Raffi karena berada di lingkaran pertemanan yang super toxic. Apakah Raffi mampu mengendalikan diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auraliv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 - Terciduk
...༻☆༺...
"Aaaarkhh!!" Elsa langsung berteriak ketika melihat sesuatu di gudang. Dia reflek memeluk erat Raffi.
"Ya ampun, itu cuman tikus." Raffi menanggapi dengan santai. Perhatiannya tertuju ke arah sekumpulan tikus yang ada di gudang. Hewan-hewan kecil tersebut terlihat sibuk mengerumuni sesuatu di atas lemari.
"Iya gue tahu. Tapi itu banyak banget!" keluh Elsa. Dia lagi-lagi bersembunyi dari balik punggung Raffi.
"Terus suara tadi berasal dari mana dong?" Raffi berpikir sambil mengerutkan dahi.
"Kayaknya setan beneran deh. Kita pergi aja yuk!" Elsa mendesak.
"Tunggu, ada yang aneh. Biar gue periksa dulu." Raffi melepas tangan Elsa. Lalu melangkah pelan masuk ke dalam gudang. Dia berniat memeriksa sesuatu di sana. Akibat pergerakan Raffi, tikus-tikus yang ada di lemari otomatis berlarian untuk bersembunyi.
Kala Raffi semakin mendekat, dua sosok yang bersembunyi dibalik dinding sontak merasa gugup. Mereka tidak lain adalah Gamal dan Zara.
Orang yang paling takut ketahuan adalah Zara. Keadaannya sedang terlihat acak-acakan. Mulai dari rambut yang berantakan, sampai kancing baju yang masih terbuka.
Zara mencoba menyematkan kancing bajunya, tetapi dilarang bergerak oleh Gamal. Tidak tanggung-tanggung, cowok itu juga membekap mulut Zara agar tidak berisik.
Derap langkah kaki Raffi tambah dekat. Sebelum dia sempat memergoki, Gamal memilih keluar lebih dulu.
"Duaaar!" Gamal bertingkah seakan sengaja mengerjai Raffi.
"Gila! Hampir copot jantung gue!" Raffi spontan memegangi dadanya. Dia terperanjat kaget karena ulah Gamal. Sementara temannya itu malah tertawa terbahak-bahak.
"Dasar setan lo!" Raffi mendorong kepala Gamal dengan perasaan kesal.
Elsa yang berdiri di depan pintu, ikut-ikutan merasa kaget. Dia masuk ke dalam gudang dan langsung memukuli Gamal.
Sementara Zara masih mematung di tempat persembunyian. Cewek itu segera memperbaiki bajunya, serta tidak lupa untuk merapikan rambut. Kedok Zara tidak ketahuan oleh Raffi dan Elsa.
"Ngapain lo sendirian di gudang?" timpal Raffi.
"Gue ngerokok aja," sahut Gamal sembari merangkul Raffi dan Elsa sekaligus. Dia sengaja mengarahkan mereka untuk keluar dari gudang.
"Gila! Ngerokok bareng tikus?" tanggap Raffi. Namun Gamal hanya terkekeh geli.
"Terus suara cewek yang manggil lo tadi siapa dong?" tanya Elsa. Dia sukses membuat Gamal berhenti tergelak.
"Emang ada suara cewek ya? Gue nggak tahu tuh. Dari tadi gue sendirian di sana," jelas Gamal. Mencoba memberitahu dengan tenang.
Raffi menautkan kedua alisnya. Kemudian perlahan melepas rangkulan Gamal. Dia bukan cowok yang mudah dibodohi. Apalagi oleh seseorang yang memiliki otak sepantaran Gamal.
Terlintas dalam benak Raffi mengenai keanehan Gamal. Belum lagi bau rokok yang sama sekali tidak tercium saat di gudang. Semua hal itu menjelaskan bahwa Gamal berbohong.
Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Raffi berbalik arah kembali ke gudang. Gamal sontak dirundung perasaan cemas. Hanya Elsa yang masih tidak mengerti keadaan. Cewek itu mengusap tengkuknya tanpa alasan.
"Raf! Lo kenapa balik lagi?!" cecar Gamal. Dia berbalik menghadap ke arah Raffi berada. Masih terdiam di posisi awal.
Raffi tidak menjawab apapun dan bergegas membuka pintu gudang. Ternyata benar dugaannya, Gamal tidak sendirian di gudang. Raffi berhasil memergoki Zara sudah keluar dari balik dinding.
Mata Zara membulat sempurna. Apalagi cowok yang memergokinya adalah Raffi. Dia merasakan malu bukan kepalang.
"Gue bisa jelasin." Gamal berjalan mendekati Raffi.
"Ada apa sih? Kenapa kalian tiba-tiba serius banget?" Elsa yang penasaran ikut melangkah kembali ke gudang. Kini dia bisa menyaksikan kehadiran Zara di sana.
"Semuanya udah jelas kali, Mal." Mata Raffi mendelik ke arah Gamal.
"Ayolah, Raf. Lo kan juga cowok, harusnya lo ngerti apa yang gue rasain. Kadang hal begituan nggak bisa ditahan kan? Apalagi kalau udah nyoba sekali." Gamal menyenggol Raffi dengan sikunya. Bersikap seolah apa yang sedang dibicarakannya adalah hal biasa.
"Tapi nggak di sekolah juga kali! Kurang ajar emang lo ya!" Raffi mengarahkan jari telunjuknya ke wajah Gamal. Zara yang mendengar, hanya menundukkan kepala.
"Plis deh, Raf. Ini masalah gue, oke? Kalau lo nggak mau terlibat, mending nggak usah ikut campur. Lagian gue dan Zara ngelakuinnya karena sama-sama suka kok. Benerkan, Ra?" Gamal menoleh ke arah Zara. Menuntut cewek itu mengiyakan pernyataannya.
Zara mendongakkan kepala. Dia mencoba berpikir sebentar. Sebab sempat terlintas dalam benaknya untuk mengatakan semua perlakuan Gamal. Akan tetapi Zara membutuhkan jasa Gamal agar bisa terus bersekolah. Sebagai salah satu murid yang pintar, Zara paham betul pentingnya sekolah untuk masa depan.
"Beneran, Ra? Lo nggak dipaksa Gamal kan? Soalnya gue sama Raffi denger teriakan lo kayak ketakutan gitu." Elsa kali ini angkat suara. Sebagai seorang perempuan dia merasa cemas atas hal yang menimpa Zara.
"Enak aja gue maksa!" Gamal tak terima dirinya dipojokkan.
"Enggak kok... gue sama Gamal emang sama-sama suka." Zara memutuskan berbohong.
"Tuh kan. Kalian denger kan?" Gamal menatap Raffi dan Elsa secara bergantian. Dia tentu merasa menang.
"Oke kalau gitu. Tapi gue mau bilang, kelakuan kalian tetap salah dimata gue. Bisa-bisanya ngelakuin hal begituan di sekolah. Kalau Bu Lestari tahu, gimana coba?" Raffi berusaha memberitahu secara baik-baik.
Gamal menarik sudut bibirnya ke atas. Dia melirik Raffi yang masih belum berhenti bersikap sok suci. Jujur saja, sisi itu adalah hal yang paling dibenci Gamal dari seorang Raffi. Makanya dia selalu berupaya mengajak Raffi untuk melanggar aturan. Gamal ingin membuat Raffi termakan omongan sendiri.
'Lihat aja, Raf. Suatu hari nanti, lo sama Elsa yang bakalan ngelakuin hal begituan di gudang. Dan gue?... Gue bakalan jadi orang yang berjasa buat ngelindungin elo.' Gamal berucap dari dalam hati.
"Wejangannya udah selesai? Kalau udah, ayo kita kembali ke kelas masing-masing." Gamal menepuk pundak Raffi. Dia kembali merangkul temannya itu.
Raffi berdecak kesal. Dia mengikuti ajakan Gamal. Apalagi saat bel masuk kelas sudah menggema. Hal serupa juga dilakukan Elsa dan Zara. Dua cewek itu melenggang bersama menuju kelas. Hanya saja mereka berjalan beriringan. Elsa tidak mau dianggap berteman dengan Zara.
Gamal dan Raffi menyusuri koridor bersama. Seperti biasa, kemunculan mereka selalu berhasil menarik perhatian. Terutama untuk para kaum hawa.
"Raf, malam minggu lo sibuk nggak?" Gamal bertanya sambil menyelaraskan langkahnya dengan Raffi.
"Iya, gue mau belajar!" sahut Raffi ketus.
"Idih! Sok-sokan masih marah. Ya udah, gue nggak bakal lakuin hal kayak gitu lagi deh di sekolah." Gamal memasang mimik wajah meyakinkan. "Tapi... kalau gue nanti lihat elo yang ngelakuin itu di sekolah, maka gue hapus janji gue itu," lanjutnya. Menyebabkan Raffi sontak menyalangkan mata.
"Itu nggak bakalan pernah terjadi!" tegas Raffi. Kemudian beranjak lebih dahulu. Sementara Gamal memilih berdiam di tempat. Ia mengukir senyuman di parasnya.