(Perhatian! Cerita ini mengandung beberapa adegan kekerasan dan dewasa! Mohon bijak untuk membaca)
Alexander Wijaya, seorang pria berdarah dingin dan kejam. Tidak pernah tertarik dengan wanita manapun bahkan yang cantik dan sexy sekalipun. Yang ada di dalam pikirannya hanya ada balas dendam..
Namun siapa yang mengira, saat dirinya menculik seorang gadis bernama Anna Elizabeth Pratama, anak dari musuh besarnya. Gairah di dalam tubuhnya tiba-tiba muncul saat berada di dekat gadis itu. Padahal selama ini wanita manapun tidak pernah bisa membuatnya bergairah.
Lalu bagaimanakah dengan balas dendamnya??
Apakah dia akan menyerah dan bertekuk lutut pada gadis itu??
Atau dia akan tetap bersikeras membalaskan dendamnya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Maria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisi lain Alex
Anna membuka matanya perlahan, menatap ke sekitar ruangan. Dimana ini?
Anna mengusap matanya agar dapat melihat dengan jelas.
Ternyata dia masih berada di dalam kamar yang ada di ruang kerja Alex.
Anna menatap jam yang ada di dinding. Waktu menunjukkan pukul 8 malam. Ternyata dia sudah tertidur cukup lama. Anna mencoba bangkit untuk berdiri, kepalanya terasa pusing. Anna merasa sangat lemas, seharian ini dia belum makan apapun, bahkan minum air pun tidak. Tenggorokannya terasa sangat kering.
Pria itu sudah mengurungnya disini cukup lama.
Apakah dia tidak akan membuka pintu ini?
Anna tau perbuatannya tadi siang pasti membuat pria itu marah besar padanya.
Terdengar suara seseorang dari luar sedang membuka kunci pintu. Anna menatap waspada pada pintu itu. Apakah pria kejam itu datang?
Pintu pun terbuka. Seorang pria masuk dan menatap Anna yang sedang berdiri di depan pintu.
"Selamat malam Nona. Aku di tugaskan oleh Tuan Alex untuk menjemput Nona pulang" ujar pria itu.
Anna sedikit bernafas lega, karena bukan pria kejam itu yang datang. Ternyata pria itu tidak mengurungnya disini semalaman.
Anna menganggukkan kepalanya. Lalu berjalan keluar bersama pria penjaga suruhan Alex.
Setelah sampai di parkiran. Penjaga itu membukakan pintu belakang mobil untuk Anna. Anna hanya menurut dan masuk dalam diam.
Selama perjalanan Anna hanya melamun dan melihat keluar jendela. Saat lampu merah, Anna tidak sengaja melihat seorang anak perempuan yang sedang membeli es krim bersama ibu dan ayahnya. Mereka terlihat sangat bahagia, anak itu sangat di cintai oleh kedua orang tuannya. Saat anak itu tidak sengaja terjatuh dan menangis, kedua orang tuannya terlihat panik dan menenangkan anak itu agar berhenti menangis. Dan akhirnya anak itu berhenti menangis dan kembali tersenyum.
Tak terasa air mata jatuh di pipinya. Lagi-lagi dia membandingkan kehidupan anak itu dengan kehidupannya. Anna tersenyum miris mengingat kembali masa kecilnya. Kedua orang tuannya sangat egois, selalu memikirkan urusannya sendiri. Sejak kecil dia tidak pernah merasakan kasih sayang dan perhatian dari orang tuannya.
Dan sampai saat ini pun begitu..
Anna menjadi korban akibat keegoisan ayahnya.
Hidupnya jadi seperti ini sekarang. Anna tidak bisa merasakan kebebasan lagi dalam hidupnya. Apakah selamanya hidupnya akan seperti ini? lirih Anna dalam hatinya.
Tidak terasa mobil sudah sampai di halaman rumah milik Alex. Penjaga itu memberhentikan mobilnya di depan pintu masuk. Anna turun dari dalam mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah.
Anna berpapasan dengan Lidya yang hendak berjalan keluar.
Lidya memasang senyuman palsunya pada Anna.
"Nona baru pulang?" tanya Lidya berbasa-basi.
"Iya" jawab Anna singkat.
Lidya menatap ke arah luar. Dia tidak melihat mobil Alex disana. Apakah Alex tidak pulang bersama gadis ini? tanyanya dalam hati.
"Nona pulang bersama siapa?" tanyanya.
"Bersama penjaga" jawab Anna singkat.
"Aku akan ke kamar" ujar Anna lalu melangkah menaiki tangga meninggalkan Lidya yang menatapnya dengan kesal.
'Gadis ini sudah berlagak seolah-olah dia Tuan rumah disini' kesal Lidya dalam hati.
'Kemana Tuan Alex? Kenapa dia belum pulang?' cemas Lidya dalam hatinya.
-
Anna memasuki kamarnya dan duduk di atas tempat tidur dengan lemas. Dia sangat lapar..
Tiba-tiba Anna mencium aroma yang sangat familiar di hidungnya.
Anna menatap kearah meja di dekat sofa. Ada bungkusan yang disimpan disana. Anna berjalan kearah sofa dan membuka bungkusan yang ada di atas meja itu.
Bukankah ini Lasagna??
Anna membuka bungkusan itu dan melihat ada sepiring Lasagna yang masih panas disana. Siapa yang memberikan makanan ini untuknya? Apakah Lidya?
Anna tidak memperdulikan siapa yang memberikan makanan ini. Yang terpenting saat ini adalah dia sangat lapar dan kebetulan ada makanan kesukaannya disini. Anna tidak boleh menyia-nyiakan nya.
Lalu Anna pun memakan makanan itu dengan lahap..
-
Hari sudah menunjukkan pukul 11 malam. Lidya berjalan kesana kemari dengan gusar. Mengapa Alex belum pulang juga? Lidya merasa sangat cemas, dia tidak bisa tidur karena Tuan nya itu belum kembali.
Terdengar suara mobil dari luar rumah. Lidya dengan cepat berjalan kearah jendela dan melihat mobil Alex masuk ke halaman rumah.
Lidya menghembuskan nafasnya lega. Akhirnya Tuan nya telah kembali.
Lidya menunggu Alex masuk di depan pintu. Tidak lama pintu terbuka dengan keras. Lidya yang kaget sontak mundur beberapa langkah. Alex masuk ke dalam rumah dengan keadaan yang sangat berantakan, dia hanya mengenakkan kemeja putihnya dengan kancing atas yang terbuka.
Alex memegang kepalanya yang terasa sakit. Hari ini dia sudah minum terlalu banyak. Sakit kepala akut nya kembali kambuh saat Alex menyetir tadi.
Alex berjalan gontai memasuki rumah. Langkahnya sudah tidak seimbang dan matanya sedikit kabur.
Lidya terlihat kaget melihat penampilan Alex yang sangat berantakan. Dengan cepat Lidya menyentuh tubuh Alex yang hampir terjatuh saat berjalan. Bau alkohol tercium kuat dari tubuhnya.
"Tuan!! Tuan baik-baik saja??" tanya Lidya cemas.
Lidya mencoba membopong tubuh Alex. Namun dengan cepat Alex menepis tangan Lidya.
"Jangan sentuh aku!!!" ujar Alex tajam.
Alex kembali melangkah sambil memegang kepalanya. Lidya menahan air matanya atas penolakan Alex. Kenapa setelah sekian lama mereka hidup di atap rumah yang sama, Alex tidak pernah sekalipun memandangnya.. Menatapnya sebentar saja Alex terlihat sangat enggan.
Lidya memegang dadanya yang terasa sesak dan sakit. Seketika dia tidak mampu menopang tubuhnya.
Lidya terjatuh ke lantai sambil menangis tersedu..
-
Anna membalikkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri sambil memejamkan matanya mencoba untuk tidur. Namun nihil, usahanya tidak berhasil. Anna tidak bisa tidur sejak tadi.
Anna bangun dari tidurnya dan duduk bersandar di atas tempat tidur. Anna menatap kosong langit-langit di kamar.
Tiba-tiba suara benda pecah terdengar dari luar kamarnya..
PRANG!!
Seketika Anna tersadar dari lamunannya.
Suara apa itu? pikirnya.
Anna bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan kearah pintu. Anna membuka perlahan pintu kamarnya dan mencoba melihat apa yang terjadi.
"Argghhh!!!"
Terdengar rintihan seseorang dari luar yang membuat Anna sedikit panik. Siapa itu?
Anna kembali melangkah ke luar kamarnya untuk mencari sumber suara itu.
Anna membelalakkan matanya menatap seseorang yang sedang tersungkur sambil memegang kepalanya menahan sakit. Banyak pecahan vas bunga di sekelilingnya.
Anna mencoba mendekat dan melihat siapa pria itu..
Tunggu bukankah itu Alex? Ada apa dengannya?
Anna sedikit ragu untuk menghampiri Alex. Namun dia tidak tega melihatnya yang tak berdaya menahan sakit.
Anna mendekati Alex dan menyentuh bahu pria itu.
"Ka.. Kau kenapa?" ujar Anna sedikit takut.
Alex tidak merespon pertanyaan Anna. Dia hanya merintih kesakitan sambil memegang kepalanya.
Anna mencium bau yang menyengat dari tubuh Alex. Apakah pria ini sedang mabuk? pikir Anna.
"Arghh!!" rintih Alex kesakitan.
Anna yang tidak tega mencoba memapah tubuh Alex di bahunya.
Anna menahan tubuh Alex yang berat di bahunya dan mencoba membuka pintu ruang pribadi Alex. Namun sayang, pintu itu masih terkunci. Anna tidak tau dimana pria itu menyimpan kuncinya.
Anna yang keberatan menopang tubuh Alex akhirnya memilih membawa Alex ke dalam kamarnya dengan berat hati. Bagaimanapun juga Anna pernah berhutang nyawa pada pria ini saat dengan tidak sengaja menghirup aroma bunga beracun waktu itu..
Pria kejam ini menolongnya.
Anna membuka pintu kamarnya, dan dengan susah payah menidurkan tubuh Alex di atas tempat tidur.
"Huh... Pria ini berat sekali" ucap Anna sambil mengatur nafasnya.
Anna mengelap keringat di wajahnya lalu menatap Alex yang masih merintih dengan mata terpejam.
Ada apa dengan pria ini?
Seketika Anna merasa iba padanya.
Tanpa ragu Anna menyentuh kepala Alex dan mengusapnya perlahan. Wajah Alex yang kesakitan perlahan terlihat sedikit tenang.
Anna menatap tangan Alex yang terluka terkena pecahan vas bunga tadi. Dengan segera Anna membersihkannya dan mengobati luka Alex.
Setelah selesai membersihkan luka Alex. Anna menatap Alex yang sudah tertidur lelap.
Anna menyusun kembali perban dan plester yang di bawanya tadi.
Saat Anna hendak berdiri, tiba-tiba tangan Alex menahan tangannya.
"Jangan.. Jangan pergi..." bisik Alex resah dalam tidurnya.
Anna menatap wajah Alex yang terlihat ketakutan dalam tidurnya. Tiba-tiba setetes air mata jatuh dari sudut mata Alex yang masih tertidur.
Apakah pria ini menangis???
Bersambung...
Halo..
Support terus cerita ini ya, dengan kasih like dan komen yang banyak 🤗
Jangan lupa rekomendasikan cerita ini sama temen-temen yang lain juga ya 🤭
Terimakasih ❤️
sudah mulai ada tanda2 bahaya
betul2 menjijikkan 😡😡😡
💪💪💪