NovelToon NovelToon
Cinta Tak Butuh Tes IQ

Cinta Tak Butuh Tes IQ

Status: tamat
Genre:Teen School/College / Persahabatan / Romantis / Murid Genius / Cintapertama / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:59
Nilai: 5
Nama Author: Rita Sri Rosita

Aira Wibisono, Baru Kehilangan Seluruh Keluarganya, Kisah tragisnya di mulai saat Kakaknya Arya meninggal karena kecelakaan, Ayahnya sangat terpukul dengan kepergian Arya, Arya merupaka ke banggan keluarga, Arya baik, pintar, dan tampan, Arya kuliah di FK UGM Orang tua Aira menaruh harapan yang besar kepada Arya, Cinta mereka sangat besar kepada Arya, Semenjak kepergian Arya Ayahnya Aira jadi sakit sakitan dan tak lama Ayah Aira meniggal, Setelah itu Ibu Aira mulai defresi dan meninggal satu tahun kemudian. Akhirnya Aira memutuskan tinggal di rumah Tante Mala sahabat ibunya, Tante Mala mempunyai anak Laki-laki bernama Damar, dia populer di sekolah, pintar, tampan mirip dengan kakaknya Aira di sana lah kisah Aira di mulai...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Itu Bukan Bingung itu Pamer

Damar menatap layar laptop dengan dahi berkerut.

“Aneh.”

Yoan yang lagi tiduran di kasur langsung bangun.

“Apanya?”

“Aku diterima lagi.”

Dinan menoleh dari ponselnya. “Lagi?”

Damar mengangguk pelan. “Iya.”

Yoan duduk. “Sebentar. Ulangi pelan-pelan.”

“Aku… diterima lagi.”

“DI MANA?” Dinan mulai curiga.

“UI.”

Yoan menepuk kasur. “Oke. Terus?”

“ITB.”

Yoan menoleh ke Dinan. “Masih aman.”

“UGM.”

Dinan menjatuhkan ponsel. “DAMAR!”

“Apa?”

“KAMU ITU BUKAN BINGUNG,” Yoan menunjuk wajah Damar, “KAMU PAMER.”

Damar mengernyit. “Aku serius. Aku bingung milih.”

“BINGUNG KARENA KEBANYAKAN OPSI,” Dinan menambahkan, “ITU FLEXING”

Damar menghela napas. “Kalian nggak ngerti.”

Yoan mendekat. “Coba jelasin.”

“UI itu strategis. ITB akademiknya kuat. UGM lingkungannya nyaman.”

Dinan menutup telinga. “BERHENTI.”

“Kenapa?”

“AKU BARU DITERIMA SATU,” Yoan ikut protes. “ITU PUN CADANGAN.”

Damar melirik. “Oh.”

“OH APA?!” Yoan hampir meledak.

Dinan menyilangkan tangan. “Kamu tau nggak rasanya ditanya ‘diterima di mana?’ terus jawab ‘masih nunggu’?”

Damar terdiam. “…maaf.”

Yoan mendesah. “Terus kamu milih mana?”

Damar berpikir. “Aku masih pertimbangkan.”

“Pertimbangkan apalagi?!” Dinan teriak. “Pilih satu, sisanya kasih ke rakyat!”

“Aku pengen yang paling tepat.”

Yoan menatapnya lama. “Kamu sadar nggak ini bikin iri satu angkatan?”

“Harusnya bangga.”

“KAMI BANGGA,” Dinan menunjuk dadanya, “TAPI JUGA DENGKI.”

Mereka bertiga terdiam.

Beberapa Hari Kemudian....

*** Galau Internasional***

Yoan melempar tas ke sofa. “Gue capek.”

Dinan mengangguk setuju. “Capek mental.”

Damar duduk di depan laptop, wajahnya serius seperti mau menyelesaikan krisis global.

“Ini… makin ribet.”

Yoan menoleh curiga. “Ribet kenapa?”

Damar menghela napas panjang. “Beasiswaku tembus.”

Dinan refleks berdiri. “YANG MANA?”

“Tokyo.”

Sunyi.

“Universitas Tokyo?” tanya Yoan pelan.

“Iya.”

Tiga detik hening.

Lalu ...

“ANJ—” Yoan menahan diri. “LANJUT.”

“KAIST juga nerima.”

Dinan menjatuhkan botol minum. “KOREA SELATAN?!”

“Dan NTU Singapura.”

Yoan menatap kosong ke tembok. “Gue salah lahir.”

Dinan menunjuk Damar gemetar. “KAMU ITU BUKAN GALAU.”

“Aku galau,” bantah Damar serius.

“PAMER INTERNASIONAL,” Yoan berteriak.

“INI BUKAN MASALAH HIDUP, INI KATALOG PRESTASI.”

Damar mengusap wajah. “Aku nggak tau harus ke mana.”

Dinan tertawa tanpa humor. “Coba gue. Aku tau."

“Kemana?”

“KE MANA AJA ASAL BUKAN DI SINI NGOMONGIN ITU.”

Yoan menepuk bahu Damar. “Lu sadar nggak, satu kelas bisa iri.”

“Aku cuma mikir masa depan.”

“MASA DEPAN LU TERLALU CERAH,” Dinan menimpali.

Damar terdiam. “Aku juga mikirin… Aira.”

Yoan dan Dinan langsung hening.

“Ah,” Yoan mengangguk pelan. “Akhirnya masalah manusiawi.”

“Kalau kamu ke Jepang, Korea, Singapura… jaraknya jauh.”

Damar menatap layar. “Iya.”

Dinan menyeringai. “Tapi prestisenya dekat.”

Yoan menjitak kepala Dinan. “Fokus.”

Damar menutup laptop.

“Aku nggak mau nyakitin dia.”

Yoan menghela napas. “Terus kenapa masih galau?

“Karena aku tau,” ujar Damar pelan,

“kalau aku pergi… hidup Aira bakal berubah.”

Dinan mendengus. “Sama kayak hidup kita setiap kali denger prestasi lu.”

Yoan menunjuk Damar. “Keputusan lu satu, tapi efeknya ke banyak orang.”

Damar mengangguk.

Dan untuk pertama kalinya galau Damar bukan soal kampus.

Tapi soal seseorang.

*** Alasan Paling Nggak Masuk Akal Sedunia***

Yoan baru sadar ada yang janggal ketika melihat map cokelat tebal di meja Damar.

“Lu ngapain?”

Damar masih fokus nyusun berkas. “Ngurus dokumen.”

“Dokumen apa?”

“Visa.”

Sunyi.

“Visa ke mana?” tanya Dinan pelan. Terlalu pelan untuk sesuatu yang berbahaya.

“Jepang.”

Yoan berdiri. “HAH?”

Dinan mendekat. “Sebentar. Bukannya lu masih galau?”

“Aku galau sambil jalan,” jawab Damar santai.

Yoan merampas satu map. “Universitas Tokyo?”

“Iya.”

“LU UDAH NGURUSIN SEMUA?!” Yoan hampir teriak.

Damar mengangguk. “Beasiswa full-nya paling jelas.”

Dinan memegangi kepala. “Gue belum sembuh dari NTU, KAIST, sekarang INI.”

Yoan menunjuk Damar. “KENAPA TOKYO?!”

Damar berhenti menulis. Berpikir sebentar.

“…karena anime.”

Hening.

Sangat hening.

“Apa?” Dinan memastikan.

“Aku suka anime,” ulang Damar tenang. “Dan risetnya bagus.”

Yoan menutup wajah. “AKU MATI.”

“Lu keterima universitas kelas dunia,” Dinan mendesis,

“DAN ALASAN PERTAMA LU ANIME?!”

“Jujur.”

“JUJUR NGACO!” Yoan menepuk meja. “Gue kira lu bakal jawab ‘akademik’, ‘penelitian’, atau ‘masa depan’!”

Damar menatap mereka. “Itu alasan kedua.”

“TERUS YANG PERTAMA?!”

“Anime.”

Dinan berjalan mondar-mandir. “Gue iri tapi juga pengen nabok.”

Damar melanjutkan sambil merapikan berkas.

“Dan beasiswanya full. Aku nggak mau mamah mikirin biaya.”

Yoan terdiam.

Dinan berhenti berjalan.

Damar menunduk sedikit. “Dia udah ngurus aku dari kecil. Aku nggak mau jadi beban.”

Suasana berubah.

Yoan menghela napas. “Lu emang nyebelin.”

“Tapi niat lu bener,” sambung Dinan pelan.

Damar menutup map.

“Aku pergi bukan buat kabur,” katanya.

“Aku cuma mau jadi cukup… sebelum balik.”

Yoan menepuk bahu Damar. “Kalau Aira udah tau?”

Damar diam.

“…belum.”

Dinan mengangkat alis. “Lu takut?”

“Iya.”

Yoan nyengir pahit. “Pinter sedunia, takut sama patah hati”

Damar tersenyum tipis.

“Makanya aku ke Jepang.”

“APA HUBUNGANNYA?” Dinan meledak lagi.

Yoan tertawa. “Udah. Biarkan.”

Dia menatap Damar serius. “Tapi satu hal.”

“Apa?”

“Jangan sampai dia tau dari orang lain.”

Damar mengangguk.

Karena dia tau yang paling berat bukan visa, bukan kampus luar negeri.

Tapi satu nama yang belum siap ia tinggalkan Aira.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!