DUREN SAWIT (duda keren sarang duwit)
Menceritakan seorang duda yang mati-matian mengejar cinta seorang remaja delapan belas tahun yang bernama Rianti. Gadis sederhana yang wajahnya begitu mirip dengan mendiang sang istri.
Hayu kepoin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adisty Rere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu langganan
Ardi dengan cepat berada di atas Rianti. Secara brutal ia menyambar bibir itu tanpa mengindahkan penolakan. Semakin kuat penolakan dari Rianti semakin besar juga keinginannya untuk melepaskan hasrat yang sudah menggebu-gebu. Beberapa kali Rianti mencoba mendorong Ardi. Namun Ardi tak peduli, ia malah mengunci kedua tangan Rianti dengan satu tangan dan tangan yang lain menopang berat tubuhnya.
Mendapat perlakuan yang mendadak dan cenderung memaksa itu membuat Rianti ketakutan dan tak sadar menitikkan air mata.
Ardi yang melihat air mata Rianti merasa bersalah dan menghentikan kegiatan gilanya. Dengan napas yang masih memburu, ia rebahkan tubuhnya di samping Rianti dan menatap langit-langit kamar. Sedangkan Rianti yang terlihat ketakutan, menyeka air matanya yang terlanjur mengalir. Perasaan takut, cemas, sedih, marah dan waswas bercampur aduk jadi satu.
Hampir satu jam sudah mereka membisu, hanyut dengan pikiran masing-masing, dan napas Ardi yang semula memburu kini sudah terdengar teratur. Rianti mengubah posisinya yang semula berbaring kini menjadi duduk. Ia memandang wajah suaminya yang terlihat sedang tidur.
"Mas maafin aku yah ... aku tidak bermaksud untuk menolakmu. Aku hanya belum siap, dan serangan mendadak darimu barusan membuatku jadi semakin takut. Aku pun belum terlalu yakin dengan perasaanku. Apakah aku sudah mencintaimu atau belum? Tapi yang jelas, ketika aku bersamamu aku merasa nyaman. Aku akan berusaha memenuhi kewajibanku ketika di ranjang, tapi paling tidak, biarkan aku belajar terlebih dahulu," ucap Rianti lirih.
Ardi yang ternyata tidak tertidur langsung membuka mata dan menarik Rianti ke dalam pelukannya.
"Sebenarnya aku yang harus minta maaf, aku kehilangan akal setiap bersamamu. Apa kau tau, susahnya menahan nafsu selama 6 tahun terakhir. Namun di saat bersamamu, pertahananku runtuh total dan aku tidak bisa mengendalikan diri. Masalah ranjang, itu tidak bisa di pelajari, Sayang. Itu adalah naluri, dan nalurilah yang akan membimbingmu," jawab Ardi.
Kini Rianti merasa nyaman dan lega setelah mendengar penuturan suaminya itu. Ia peluk erat dada bidang itu dan mencium aroma tubuh Ardi.
Mendapat sentuhan dari Rianti mendadak Ardi menelan saliva miliknya karena hasrat kembali meronta minta di salurkan.
"Sayang, kamu percaya kan kalau aku itu orangnya tahan iman," ucap Ardi yang memandang hangat pada Rianti.
Rianti terdiam tidak tau maksud kata-kata suaminya itu.
"Buktinya aku sanggup bertahan hingga sekarang. Tapi masalahnya ketika bersamamu sekarang iminku yang tidak kuat," imbuh Ardi lagi sambil melihat ke bawah tepat di tengah-tengah antara kedua pahanya.
Rianti yang mulai paham maksud perkataan itu langsung melepaskan pelukannya akan tetapi Ardi kembali menarik tangan Rianti sehingga ia kembali ke dalam dekapan Ardi.
"Bisakah kita melakukannya? Aku janji akan melakukannya dengan sangat perlahan," rayu Ardi.
"Tapi kata Shinta rasanya pasti sakit dan terasa tubuh terbelah dua," ucap Rianti ngeri seolah merasakan sakit di tubuhnya.
Ardi yang mendengar pernyataan polos istrinya itu menjadi tertawa geli. Di belainya rambut Rianti dan di ciumnya dengan lembut.
"Sayang ... kalau rasanya memang sakit seperti yang Shinta bilang, pasti tidak akan ada orang yang mau menikah, bahkan beberapa orang ada yang nekat berselingkuh demi ingin menikmati hubungan intim."
"Sakitnya hanya di awal saja, selebihnya kamu pasti akan menikmatinya, malah mungkin bisa ketagihan."
Rianti lagi-lagi terdiam mendengar penjelasan dari suaminya itu.
Ardi kembali menatap intens mata indah milik istrinya.
"Boleh ya?" tanya Ardi penuh harap, dan di respon anggukan ragu-ragu oleh Rianti.
Ardi yang mendapat persetujuan dari sang istri langsung memulai aksinya. Ia melakukannya dengan lembut, sesuai janjinya.
"Sayang ... aku benar-benar menginginkanmu, kau begitu cantik," bisik Ardi.
Rianti hanya tersenyum malu, sambil memukul pelan bahu suaminya tersebut.
Melihat wajah Rianti yang bersemu karena malu membuat api gairah di dadanya lebih membuncah hebat.
Namun, saat hendak mulai, terdengar getaran dari atas nakas.
"Mas ponselmu bergetar," ucap Rianti sambil menahan dada pria itu agar berhenti sejenak dari aktivitasnya.
"Biarin aja," jawab Ardi singkat dan kembali menggerayangi leher Rianti.
Drttt ...drttt ... drtt
"Tuh kan ada lagi. Angkat dulu Mas, siapa tau penting."
"Aaah sial!!! Siapa sih?"
Ardi beranjak dari posisinya, kembali melilitkan handuk di pinggang lalu menyambar ponsel yang ada di meja nakas.
"Sebentar ya. Ada clien ayah nelfon," ucap Ardi yang terlihat tidak senang karena aktivitasnya terganggu.
Rianti hanya mengangguk dan membalut tubuhnya dengan selimut. Sedangkan Ardi menuju ruang kerjanya di lantai atas.
"Ibuk ... Riri takut. Bagaimana ini?" ucap Rianti lirih. Ia sebenarnya masih ragu dengan keputusannya malam ini. Berharap Ardi tidak menjamahnya dulu sebelum fisik dan mentalnya siap. Tapi Rianti teringat lagi akan wajengan dari ibunya kalau menolak keinginan suami itu tidak boleh.
Setelah lima menit berlalu, Ardi kembali ke dalam kamar, dan membuka selimut yang menutupi tubuh mungil Rianti.
"Bagaimana sayang ... mau lanjut," tanya Ardi.
Pertanyaan Ardi hanya direspon anggukan ragu-ragu dari Rianti. Wajahnya semakin pucat namun Ardi seperti tak memperhatikan atau memungkin memilih mengabaikanya.
Ardi pun langsung melanjutkan aksinya.
"Rasanya ada yang mengalir Mas," ucap Rianti saat mengeluarkan pelepasan.
"Tidak apa-apa, keluarkan saja, jangan ditahan."
Ardi tersenyum memikirkan hasil pemanasannya yang sukses membuat Rianti terdengar terengah-engah seolah habis maraton.
Saat Ardi sudah siap dengan kuda-kudanya. Matanya membelalak melihat sesuatu.
"Sayang ... kamu!!!"
*****
Ardi menggeram di dalam kamar mandi. Beberapa kali ia memukul air di bak mandi.
"Aghh sial! Kenapa harus sekarang!" umpatnya dengan rahang yang mulai mengerat.
Sudah sejam ia di sana. Memandikan air dingin agar panas karena gejolak tak tersalurkan bisa hilang.
Sedangkan Rianti masih duduk termangu di kasur. Ada merasa kasihan pada Ardi namun lebih dominan ke rasa sukurnya karena Ia masih bisa selamat untuk seminggu kedepan.
"Terima kasih ya allah, terima kasih," ucapnya sembari tersenyum lega.
,Heran aku..Gitu aja udah luluh aja..