NovelToon NovelToon
Ngumbara Cinta

Ngumbara Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda / Cintapertama
Popularitas:30.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nafi'

Semua yang terjadi dalam kehidupan ini tidak pernah luput dari pengalaman masa lalu. Angin bertiup dan musim pun berganti, Andhra telah mencari jati diri yang entah dimana akan dia temui.

Kehidupan suram di masa lalu membuat hatinya dipenuhi oleh dendam.

Ozan yang selalu menemani, juga ada
keluarga yang selalu memberi, adik tiri yang berselimut mendung derita. Andhra mendapatkan semuanya bukan tanpa alasan.


Hingga masanya cinta masa lalu hadir dan membuat hidup Andhra berwarna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafi', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 28 Jangan Melihat

"Kau!"

Ucapan seseorang mampu mendongakkan kepala Andhra.

"Kauuu..!"

"Kalau jodoh memang tidak kemana? Upsss .....

Aku harus segera kabur dari tempat ini. Mulut ember ini, kenapa selalu saja merepotkan aku. Rossi malah keluar lagi.

"Hai.... Mau kemana kamu?" 

Aku ... Aku terlanjur bicara tadi, semoga pendengaran dia rusak.

Rossi balik badan dengan senyum penuh tipu,harus terlihat tenang, meski tangan gemetar. Ayolah Rossi. Kamu bisa. Tapi bagaimana jika dia mendengar? Semoga tidak, semoga tidak.Berdoa agar kalimatnya barusan tidak didengar Andhra.

Semoga dia tidak mengenaliku.

"Hai tuan, tidakkah kau lihat aku membawa makanan ini." Mengangkat kresek di tangannya. Bibirnya terus mengulas senyum penuh kelicikan.

"Ya sudah taruh aja sini." Menunjuk meja di hadapannya.

Yes! Dia tidak mengenaliku. Ah tapi kenapa rasanya perih ya? Apa aku tidak berharga baginya, sehingga dia tidak mau mengingatku.

"Kenapa belum juga pergi?" Mendapati gadis itu masih diam di sana.

Kau tega Kang, hati ingin tetap di sini, namun dia tidak peduli. Lagian, wanita memang tidak pantas terlihat berharap bukan?

Ada ide!clinggg

"Duwitnya mana?" Menodongkan tangan kanannya. Andhra mencari dompetnya, tetapi tidak ada uang cash di sana. Andhra mengambil dompet di meja dan membukanya. Tak ada lembaran uang satu pun di sana.

"Pakai kartu bisa kan!" Mengacungkan kartu di pegangnya. Rossi menghela nafas berat. Susah juga jika nanti harus balik lagi ke sini untuk hanya mengantar kartu saja. Tapi jika tidak, itukan makanan yang di buatnya susah payah, masak dia harus rugi seh. Tak apalah dia bolak balik toh dia bisa minta tambahan uang bensin.

"Kenapa senyum senyum sendiri." Andhra menautkan kedua alisnya melihat tingkah Rossi yang memegang kartu sambil senyum senyum tak jelas.

"Nggak ada apa apa! aku gesek ini dulu." Keluar lagi tanpa peduli dengan Andhra yang menjawab atau tidak.

Rossi melewati kantor yang mulai agak sepi bergidik ngeri sendiri. Hingga sampai di lobi, hanya ada resepsionis di sana. Itupun sudah berkemas hendak pulang.

Buru buru Rossi menggesek kartu yang di berikan oleh Andhra guna pembayaran makanan yang Andhra pesan.

Dia punya kartu, pasti kaya! Tapi kenapa saat itu malah naik bis? Apakah dia menyamar jadi kaum biasa? 

"Lho gadis yang tadi kemana, bos?" Ozan telah kembali dengan dua piring dan sendok.

"Kenapa!"

Cuek saja sambil memandangi laptopnya.

"Aku belum bayar!" Jelas Ozan.

"Sudah aku kasih kartu tadi."

"Yang bener?"

Ozan mengambil dompetnya dan memeriksa kartu yang di gunakan untuk keperluan Andhra.

"Aku tidak semiskin itu!" Tahu kemana arah pikiran Ozan.

"Tumben banget kamu percaya sama cewek?" Selidik Ozan. Tidak biasanya Andhra menyerahkan kartunya sendiri, biasanya dia akan meminta Ozan yang melakukan itu.

"Karena dia beda."

Ozan tersedak air ludahnya sendiri.

"Betulkah itu? Andhra, tidak biasanya elu seperti ini. Memuji wanita, adakah sesuatu yang terjadi? sesuatu yang aku lewatkan!"

*Ini sungguh luar biasa, Andhra langsung percaya kepada seorang perempuan untuk pertama kalinya. Keajaiban apa ini oh Tuhan.*

Andhra menepikan laptopnya. Tangannya terulur meminta piring dari Ozan.

"Thanks."

"Andhra...!"

"Ya...katakanlah!"

"Siapa gadis itu?"

"Yang mana?" Pura pura tidak paham.

"Hai, dia yang baru saja keluar dari ruangan ini. Memang siapa lagi? Atau kau mau si ulet bulu waktu itu."

Mata Andhra langsung menatap tajam ke Ozan.

"Dia gadis yang aku temui di bis waktu itu."  Menuang gudek ke piringnya.

"Benarkah! Ozan begitu antusias. "Jadi, dia calon kakak iparku."

Sontak Andhra menatap tajam kembali.

"Iya ya..tapi dia lumayan cantik seh."

Cerocos Ozan.

Andhra masih bergeming fokus pada makanannya. Doyan apa rakus, satu porsi lenyap seketika. Andhra memakannya tanpa nasi.

Tak berapa lama ponselnya Ozan berdering. Dengan segera Ozan mengangkatnya.

"Arini tadi menelpon, dia memintaku agar segera pulang." Dengan bimbang mengatakan itu. Memasukkan kembali hp ke sakunya.

"Pulanglah!" Andhra jadi ingat dengan kondisi ibu Rena dulu yang sering terlihat lelah saat hamil.

"Maafkan aku, seharusnya aku menyelesaikan semua ini. Karna...!"

"Pulanglah!" Tegas Andhra sambil menyuapkan makanan ke mulutnya lagi.

"Mobilnya!

"Bawa saja, aku akan menginap di kantor ini."

Tentu saja, kantor ini sudah di lengkapi dengan kamar pribadi yang lengkap dengan segala kebutuhannya. Bagi Andhra kantor ini merupakan rumah kedua untuknya.

"Selamat malam, tuan!"

"Hemmh!"

Setelah Ozan pergi, Andhra meletakkan sendoknya. Ada banyak perasaan yang dia tahan sendirian. Kesuksesan ini tidak juga membuatnya merasa damai seperti dulu saat mempunyai orang tua lengkap. Kebahagiaan di waktu kecil yang telah di renggut darinya. Sampai kini masih membekas, menjadi duri yang bisa menusuknya kapan saja.

*Mama apakah kau bahagia di sana. Lihatlah aku, hidup tanpa arah.* Menyugar rambutnya berulang kali. Mencoba menghilangkan rasa sesak di dadanya.

Rossi yang baru saja selesai menggesek kartu pemberian Andhra, berpamitan dengan Ijah dan sepupunya. Dia naik lagi ke ruang dimana Andhra berada.

"Kau pulanglah dulu, aku akan segera pulang juga setelah ini." Izin Rossi kepada Ijah.

"Baiklah, kau nanti hati hati ya pulangnya." Ijah memperingati.

"Iya!"

Jawab Rossi singkat. Ijah  mengkontrak rumah di kota ini. Dan ketika hari libur akan pulang ke kampung. Sedangkan Rossi yang datang ke kota ini untuk mencari pekerjaan, tinggal di kos kosan. Tapi sebelum mendapat pekerjaan, dia membantu  paman dan sepupunya.

Kantor semakin terlihat gelap. Beberapa penerangan sudah padam. Hanya ada satu dua karyawan yang lembur. Satpam pun sudah berganti.

Rossi terus melangkahkan kakinya. Sampailah di ruangan presdir. Pintunya sedikit terbuka. Rossi mulai mengetuk, terdengar sahutan agar dia segera masuk.

"Kang Andi, kau kenapa?"

Andra sudah tersungkur di lantai sambil memegangi dadanya.

"Kang, Andi, Bapak, Kau kenapa?"

Di saat seperti ini otaknya masih saja memikirkan panggilan yang baik untuk presdir itu hadehhhh.

"To..long!" Menunjuk  tas di meja kerjanya.  Rossi segera berdiri dan mengambilnya.

"Obat!"

Rossi yang paham langsung menggeledah tas itu. Menemukan satu botol obat, lalu menyerahkannya kepada Andhra.

Terlihat dengan jelas Andhra menahan rasa sakit. Butiran keringat sebesar biji jagung membasahi wajahnya.

"Kamu sakit ya!" Rossi memegang bahu Andhra, memapahnya untuk duduk di sofa.

Andhra memegang lengan Rossi, bersamaan itu ada sebuah rasa yang membuat jantung Rossi berdetak kencang. Dia begitu dekat dengan orang yang dia sebut Andi. Bahkan deru nafasnya terdengar jelas di telinga Rossi.

"Jangan tinggalkan aku, aku selalu sendirian." Suaranya lirih hampir tidak terdengar, terasa begitu menyedihkan.

Berulang ulang Andhra mengucapkan kata yang sama. Matanya mulai terpejam dan setelahnya sudah tidak terdengar lagi suaranya.

" Kang Andi, eh Tuan apa anda baik baik saja." Nafasnya sudah mulai normal kembali. Dia melepaskannya tangannya yang melilit di pergelangan Rossi.

"Maaf, aku menyakitimu!"

Ada warna merah yang tertinggal di pergelangan Rossi.

"Apakah ini sakit?" Tangan Andhra terulur untuk memeriksanya.

"Tidak, pak eh tuan."

"Panggil Andhra saja!" Ucap Andhra singkat.

"Kamu sakit apa?" Rossi memandang sendu ke arah Andhra. Yang di tanya hanya tersenyum. Membuka telapak tangannya yang terluka obat itu telah remuk bersama wadahnya.

*Kenapa aku bisa menahan rasa sakit ini ketika bersama, dia. Apa yang di miliki gadis ini.*

Menatap lekat gadis di hadapannya. Ada perasaan damai saat melihat wajah imutnya.

"Jangan melihat nanti terpikat."

Ganti Andhra beralih ke piring di meja tapi masih melirik gadis di sebelahnya.

"Jangan melirik nanti tertarik."

Andhra hanya bisa mendesah karena kata kata Rossi.

Kancil ini

To be Continued...

Happy reading jangan lupa tinggalkan jejak oke. Love you all

1
Keyboard Harapan
keren
Keyboard Harapan
semangat kakak
💖⃟🌹Ʃеᷟʀͥᴎᷤᴀᷤ🌹💖
wadduh...
ozan dilema donk,mw nolong yg mana dulu...
💖⃟🌹Ʃеᷟʀͥᴎᷤᴀᷤ🌹💖
kapan Anggun palsu dapat karmanya
R.F
semangat synk
R.F
bru up lg
R.F
semangat kak
💖⃟🌹Ʃеᷟʀͥᴎᷤᴀᷤ🌹💖
anggun bukannya si hasna ya,yg udah operasi plastik?
aq agak amnesia😊😊😊
💖⃟🌹Ʃеᷟʀͥᴎᷤᴀᷤ🌹💖
waddduuhh...ceroboh nya Ryoki
Nafi' thook: huum. ...nggak ngerti apa kalau selama ini dia diawasi
total 1 replies
𝓓𝓮𝓪
next salam my husband is master devil
𝓓𝓮𝓪
salam ceo kejam pilihan papa
💖⃟🌹Ʃеᷟʀͥᴎᷤᴀᷤ🌹💖
aq tahu apa yg Alan n cewek itu lakukan....
abis malam jumatan khan
💖⃟🌹Ʃеᷟʀͥᴎᷤᴀᷤ🌹💖: hahahhahahaaha
total 2 replies
Yukity
semangat 🆙😍
Yukity
Hai Thor mampir nih..
Salam dari
SI OYEN PACARKU BUKAN MANUSIA
IG: Saya_Muchu
semangat update thor
Hum@yRa Nasution
aku mampir kak...

🙏🙏🙏

salam dari jodohku Cinta Pertamaku 🙏🙏 by. Sri Ghina Fithri
Nafi' thook: terima kasih, Kak
total 1 replies
💖⃟🌹Ʃеᷟʀͥᴎᷤᴀᷤ🌹💖
semoga pernikahan Andhra n Rossi lancar ya...
Nafi' thook: amiin, terima kasih 😊
total 2 replies
💖⃟🌹Ʃеᷟʀͥᴎᷤᴀᷤ🌹💖
lanjuuuuuttt
Lee
Semangat lanjut up lgi ka othor..
💖⃟🌹Ʃеᷟʀͥᴎᷤᴀᷤ🌹💖
siapa????
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!