Perang besar antar tiga benua mengubah segalanya. Ribuan nyawa melayang, jutaan orang kehilangan tempat tinggal.
Penculikan dan penindasan hampir terjadi di setiap sudut, tidak ada kata aman lagi.
Di dunia yang kacau inilah seorang anak kecil yang memiliki tubuh surgawi lahir namun sayang Ia tidak bisa berkultivasi.
Sampai akhirnya Ia bisa berkultivasi dan mengubah takdirnya sendiri dengan caranya.
Dimulai dari membantu sesama sampai membangun sebuah desa yang aman bagi para pengungsi yang tidak memiliki tempat lagi dan tidak tahu harus kemana.
Desa Ye, begitulah nama yang diberikan para pengungsi, mengikuti namanya, Ye Chen.
Ye Chen tersenyum kecil.
"Gawat! cepat menghindar!" teriak salah satu tetua, namun terlambat.
Ye Chen telah bergerak, cepat sekali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I Can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Ye Chen
Ye Chen mencabut pedang hitamnya, melesat menyerang ketua perampok yang ada di depannya dengan cepat. Serangan ganda mengarah ke kaki kiri dan pundak yang terbuka.
Sama-sama berada di tahap Bumi menengah membuat pertarungan ini nampak seimbang, tapi salah jika berpikir demikian. Ye Chen saat ini bahkan sanggup menghabisi lawan yang berada di tingkat langit awal, meskipun menggunakan seluruh kemampuannya.
Sebelumnya, Xiao Yun yang sudah selesai memulihkan diri dan berganti pakaian keluar dari tempatnya disekap.
Ye Chen kemudian memintanya mengurus para tawanan, memberikan banyak pil penyembuh dan pil penawar racun.
Awalnya Xiao Yun menolak, Ia ingin ikut menghabisi ketua perampok itu dengan tangannya sendiri tapi setelah Ye Chen berjanji tidak akan membunuh dan akan menyerahkan padanya, akhirnya Xiao Yun setuju.
Sembuhkan dulu para kultivator, minta mereka membantu kedua saudara Sun. Xiao Yun masih ingat pesan Ye Chen sebelum pergi.
Karena para tawanan ini dikelompokkan di ruang terpisah, dengan mudah Xiao Yun dapat mengobati tawanan kultivator terlebih dahulu.
"Terima kasih nona Xiao." Kata salah satu tawanan kultivator yang mengenali Xiao Yun sebagai teman seperjalannya.
"Jangan berterima kasih padaku, kalau bukan tuan mudaku yang datang, akupun tak akan bisa keluar dari sini," balas Xiao Yun. "Ini ambillah dan tolong bantu teman-temanku menghabisi para perampok ini." Lanjut Xiao Yun.
Ruangan demi ruangan di datangi Xiao Yun, dan sebagai seorang alkemis tentu saja Ia dengan mudah mengobati mereka semua.
Ia juga tidak mau membuang waktu, Ia ingin cepat-cepat membantu Ye Chen, paling tidak Ia harus memastikan ketua perampok itu tidak terbunuh.
Xiao Yun tau persis siapa Ye Chen, biarpun Ia bilang tidak akan membunuhnya, tetap saja ketua itu akan setengah mati di tangannya.
Memang betul Ye Chen pasti akan menepati janjinya tapi perfume kedua tangan atau kedua kakinya sudah tidak ada, harus aku sendiri yang melakukan semua itu, pikir Xiao Yun.
Ketua perampok menangkis dengan pedangnya, Ye Chen lalu mengubah arah serangannya, menusuk leher.
Ketua perampok melompat mundur.
"Kau boleh juga anak muda." Katanya cukup terkejut dengan gerakan perubahan serangan Ye Chen.
Ye Chen hanya diam, tidak menanggapi perkataan ketua perampok. Ia kemudian menganalisa situasi saat ini.
Ruangan tempat mereka tidak terlalu besar, jadi agak sulit menggunakan tehnik pedang dengan jangkauan luas, dtambah lagi dengan banyaknya tawanan di ruangan lain.
Resiko menggunakan kekuatan penuh cukup besar, seluruh tempat ini bisa runtuh.
Berpikir sejenak, Ye Chen memutuskan menggunakan gaya tarung bebasnya, mengandalkan pemahaman gerakan jurus saja.
"Langkah Angin Pertama..."
Ye Chen melesat lagi, pedang hitam terhunus langsung menusuk lurus ke dada lawan. Tangan kiri bersiap mengeluarkan tapak jiwa yang dilapisi formasi untuk mengunci gerakan lawan.
Ketua perampok tidak diam saja, mengandalkan perisai tubuhnya, Ia menangkis tusukan pedang Ye Chen.
Trank..
Suara pedang beradu, ketua menghalau pedang dari bawah dan mengangkat kaki kanan menendang perut Ye Chen. Sayangnya gerakan ini sudah terbaca, Ye Chen yang sejak tadi sudah menyiapkan tapaknya menghantam pinggang kiri.
Ketua perampok yang yakin dengan perisai tubuhnya membiarkan tapak Ye Chen mengenainya tanpa keraguan.
Ia tak pernah menyangka keputusannya ini adalah kesalahan yang sangat fatal.
Traak...
Perisai tubuh ketua Song retak tanpa Ia sadari, dan inilah yang Ye Chen tunggu.
Dengan cepat Ye Chen berputar kebelakang lawannya, mengalihkan perhatiannya dengan sebuah tendangan dan memukul pundak ketua perampok dengan tapak.
Traak...
Suara retakan terdengar lagi dari perisai tubuh ketua perampok.
Serangan susulan dari Ye Chen membuat banyak retakan di perisai di tubuh ketua perampok.
Terakhir, Ye Chen membuat gerakan membabat dengan pedangnya menghancurkan perisai tubuh.
"Tapak Jiwa..."
Serangan tapak dengan telak menghantam perut ketua perampok. Dalam pertarungan, Ye Chen tidak pernah membuang kesempatan yang ada, begitu melihat maka Ia akan memanfaatkannya dengan baik.
Ketua perampok terlempar, jatuh dekat pembaringan tempatnya bermain dengan tawanan wanita sebelumnya, dari mulutnya terlihat darah mengalir.
"Apa yang terjad, kenapa lukaku tidak sembuh? tidak mungkinkan dia menggunakan racun...?" gumam ketua perampok yang merasa luka di perutnya tidak membaik setelah menelan pil penyembuh.
Seringai tipis terlihat di mulut Ye Chen yang berjalan mendekati ketua perampok.
Ketua perampok mulai merasa takut.
"Ja... jangan... jangan mendekat." Ucap ketua perampok ketakutan.
Tidak sengaja Ia melirik wanita yang berbaring tak berdaya ditempat tidur. Senyum licik muncul di wajahnya.
Ia menarik wanita ini dan menjadikannya sandera mengancam Ye Chen.
"Jangan mendekat! atau kubunuh wanita ini." Katanya.
Ye Chen berhenti, diam memandang ketua perampok.
Dalam pikirannya, ketua perampok ini mengira Ye Chen peduli pada sandera di tangannya dan akan melepasnya. Tapi sayangnya pikiran dia ini salah, jika Ia tau apa yang Ye Chen rencanakan, pasti Ia akan bersujud mohon ampun.
"Apa sebaiknya aku belah saja yah manusia di depanku ini, tapi nona Xiao pasti akan marah," ucap Ye Chen dalam hati. "hehe... kalo cuma satu tangan atau kaki, nona Xiao pasti tidak akan marah." Lanjutnya dalam hati.
Ye Chen lalu melanjutkan langkahnya. Dalam pikirannya, I akan memotong tangan kanan ketua perampok dan nanti jika nona Xiao marah, tinggal bilang saja terlalu lelah dan makan waktu kalo tidak membuatnya cacat.
Melihat Ye Chen melangkah lagi dengan tersenyum, ketua perampok menjadi panik.
"Aku tidak main-main, aku akan membunuhnya kalau mendekat lagi." Pedang yang menempel di leher wanita ditekannya lebih dalam hingga mengeluarkan darah.
Ye Chen tidak perduli, buat apa perduli, wanita itu tidak dibunuh juga akan mati sendiri, pikirnya.
Ia bergerak cepat kesamping membabat leher ketua perampok, baru setengah jalan, Ye Chen mengubah arah serangan ke kaki kiri.
Karena panik melihat Ye Chen yang tidak perduli, ketua perampok mendorong sanderanya ke arah Ye Chen, berniat menghentikan gerakannya. Sandera ini menubruk Ye Chen dan karena ini maka serangan yang dilancarkan Ye Chen barusan tertahan.
Ye Chen tak pernah menyangka ketua perampok akan mendorong sandera itu langsung kepadanya. Bukan tidak bisa memprediksi gerakan ini tapi ini kali pertama Ye Chen menghadapi siasat licik lawannya.
Hewan buas yang Ye Chen lawan sebelumnya untuk latihan tentu saja tidak ada yang bersikap selicik ini.
Sesaat Ye Chen tidak tau harus berbuat apa pada sandera yang Ia pegang. Meskipun Ia tidak perduli tapi tetap saja nyawa manusia di tangannya ini tidak bisa hilangkan begitu saja.
Jleeb...
Sebuah pedang menusuk tubuh sandera, Ye Chen yang tidak memperkirakan gerakan ini tertusuk bagian ujung pedang. Darah dari lukanya mengalir.
Ye Chen hanya melihat saja darahnya mengalir, tak ada ekspresi kaget atau kesakitan, Ia hanya memikirkan kelicikan manusia di depannya.
"Langkah kedua..."
"Tuan muda...! "
Sraaat...
Saat Ye Chen melesat cepat, Ia mendengar suara memanggil menahannya, Xiao Yun, Ia mengenali suara ini.
Arah serangan dan kekuatan tebasannya Ia kurangi, mengarah langsung ke perut sampai dada ketua perampok. Meninggalkan luka goresan yang tidak dalam. Padahal tadinya Ia hendak membabat lengan kiri ketua perampok.
"jangan dibunuh dulu, aku mau menanyakan sesuatu." Kata Ye Chen lalu menotok titik akupunktur ketua perampok agar Ia tidak sampai membunuh diri.
"Pergilah kumpulkan semua tawanan, kita keluar."
Xiao Yun hanya menggangguk dan pergi, sesuai permintaan Ye Chen.
Kedua saudara Sun juga telah selesai dengan anggota sekte darah, tidak ada korban jiwa diantara mereka. Hal ini bisa terjadi karena mereka bergerak dalam tim, saling membantu dan memiliki rasa setia kawan yang tinggi.
Anggota kelompok sekte darah ada yang masih hidup, tidak sesuai dengan perintah Ye Chen sebelumnya yang meminta semua anggota sekte harus dibunuh.
Ye Chen bisa memaklumi ini dan tidak mempersalahkannya, alasannya Ia ingin mengorek beberapa keterangan dari anggota sekte yang tersisa. Tapi Ia mengingatkan agar lain kali jangan memberi ampun lagi, orang-orang seperti ini tidak pantas mendapat pengampunan.
"Aku bangga teradap kalian semua yang bertempur tanpa ada korban jiwa, beginilah seharusanya pasukan desa Ye." Ucap Ye Chen di depan semua kelompoknya.
"Tuan muda, semua tawanan sudah berkumpul, totalnya lebih duaratus orang," Kata Xiao Yun. "Apa rencana anda dengan mereka?"
Ye Chen menemui para tawanan dan mengajak mereka semua bergabung menjadi pendukuk desa Ye. Mereka ini adalah pengungsi, tidak mempunyai tujuan lain.
Mendengar ajakan Ye Chen tentu saja mereka semua setuju tanpa menimbang lagi, tidak ada pengungsi yang tidak mengenal desa Ye. Mereka awalnya juga berniat mencari perlindungan di sana tapi batal karena tersesat arah.
Dengan penuh sukacita, semua tawanan ini menerima tawaran Ye Chen, bahkan pimpinan desa sendiri yang menolong mereka.
"Terima kasih tuan muda...!!" Ucap mereka semua sambil berlutut mengepalkan tangan di depan dada.
"Bangunlah, untuk sementara kita cari tempat berlindung. Aku masih ada urusan, ambil semua yang bisa di ambil di tempat ini." Kata Ye Chen, kemudian memanggil anggota sekte yang menjadi tawanan kedua saudara Sun.
Karena belum di suruh bubar, calon penduduk desa Ye masih setia berkumpul. Mereka juga penasaran apa yang Ye Chen inginkan dari anggota sekte ini.
Lima orang anggota sekte menjadi tawanan, di antaranya adalah ketua mereka.
Anggota yang di hadapi Sun Yi sudah tewas ditangannya.
"Aku ingin kalian jujur, katakan siapa kalian sebenarnya dan apa yang akan kalian lakukan dengan orang-orang yang kalian tahan." Tanya Ye Chen.
"Kami anggota sekte Racun Darah, kami melakukan apapun yang kami suka, tidak ada urusannya denganmu." Yang menjawab adalah salah satu anggota sekte.
"Dimana markas utama kalian? tidak mungkinkan tempat buruk ini adalah markas utama." Tanya Ye Chen lagi. Tempat ini lebih mirip persinggahan saja menurut Ye Chen, penjagaan di sini sangat lemah menurutnya.
"Mau bunuh, bunuh saja. Kau tak akan mendapat informasi apapun dari kami."
"Anggota sekte kami tersebar di semua benua, tunggu saja pembalasan dari kami."
"Patriark kami pasti akan menghancurkan desa Ye mu itu."
Satu persatu anggota sekte Racun Darah mengeluarkan suaranya dengan berani bahkan meminta mati.
Ye Chen bangkit dari duduknya dan menghampiri mereka dengan senyum khasnya.
"Oh jadi kalian mau mati? baiklah..." Kata Ye Chen mengeluarkan pedang hitamnya.