JUARA 1 LOMBA NOVELTOON "YANG MUDA YANG BERCINTA"
Demi bisa menghindari akhir cerita tragis, Tara - yang kini jiwanya merasuki tubuh antagonis gemuk Elona Locke dalam webtoon "Cerita Hati" - memutuskan untuk mengakhiri pertunangan dengan Louis Vandyke dan pergi dari ibu kota.
Tara alias Elona memilih tinggal di wilayah kekuasaan keluarganya, Kota Armelin. Demi mencegah kebangkrutan Locke, gadis itu memanfaatkan seluruh pengetahuan yang ia miliki dari berbagai buku di dunia modern. Tara mengetahui, bahwa ia bisa mengalihfungsikan lahan bekas galian tambang di kota tersebut, menjadi pertanian tanaman kedelai!
Apakah Tara berhasil membangkitkan keterpurukan Kota Armelin berkat usaha dan kecerdasannya? Lalu, mungkinkah ia menemukan cinta yang baru bagi tokoh Elona Locke setelahnya?
Original writing by @author_ryby
Covert art by @fuheechi_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Permainan
"Ada apa, Nona?"
Sang juru masak rupanya melihat Elona sedang terbatuk-batuk dan menutup hidungnya dengan tangan kiri. Di tangan kanannya, terdapat sebuah gelas berisi cairan putih yang belum sempat diminumnya.
Elona hanya diam saja ketika ditanya. Gadis itu penasaran kenapa minuman di tangannya itu begitu bau, sampai ia tidak sanggup mendekati mulut gelasnya.
Tapi ia tidak menyerah. Ia menjepit hidungnya dengan tangan kiri, guna menutupi kedua lubangnya. Lalu tangan kanannya meminumkan susu kedelai dalam gelas tersebut ke mulutnya. Terlihat seperti orang yang sedang minum jamu jadinya.
"Loh... rasanya baik-baik saja seperti susu kedelai yang biasa... kenapa bau, ya?"
Elona berkata sambil mengecap-ngecap bibirnya, berusaha merasai susu yang ia buat dengan seksama.
Elona pun memandangi si juru masak yang sedari tadi berdiri di sebelahnya. Gadis itu menyodorkan gelasnya.
"Paman tahu, kenapa ini bisa bau?"
Sang juru masak pun meraih gelas tersebut, lalu mendekatkan mulut gelas ke hidungnya. Sesaat kemudian, kepalanya bergerak menjauh seraya menyipitkan sebelah mata, seperti sedang menghindari sesuatu.
Lalu si juru masak mengedarkan pandangan ke arah bahan-bahan dan peralatan yang nona mudanya pakai untuk membuat cairan outih tersebut.
"Nona, sepertinya Anda lupa melakukan sesuatu." katanya. Elona menatapnya dengan bingung.
"Eh, apa?"
Si juru masak mengambil sejumput kacang kedelai yang belum diolah dari atas meja.
"Nona tidak mengupas kulitnya, ya?"
"Eh? Harus dikupas ya?"
Sang juru masak pun tergelak, "Tentu saja! Kami pun para juru masak harus mengupas kulit kacang kedelai ini dulu sebelum dimasukkan ke dalam sup. Kulitnya itu yang membuat jadi bau!"
Elona mengambil sebiji kedelai dengan tangannya dan menatapnya, "Tapi, bagaimana mengupas kulit ini? Kan keras?"
Si juru masak mengambil sebuah mangkuk besar bersih dan memasukkan kacang kedelai yang belum diolah ke dalamnya. Lalu, ia mengisi mangkuk tersebut dengan air, sampai kacang-kacang itu terendam.
"Harus direndam seperti ini dulu, Nona. Nanti kacangnya akan membengkak dan kulitnya pecah. Saat itu, Nona bisa membersihkan kulitnya hanya dengan tangan seperti ini," ucap si juru masak menunjukkan caranya.
"Oh..." Elona mengangguk-angguk paham. "lalu berapa lama harus direndam begitu?"
"Seharian penuh, Nona!"
"Eehhh...?!"
*****
Keesokan harinya.
"Kamu mau kemana?"
Art bertanya pada Elona yang sudah bersiap-siap untuk pulang di pertengahan hari seperti sebelumnya. Bila Elona pulang tengah hari, itu berarti lelaki itu akan kehilangan kesempatan untuk bersamanya selama seharian. Dan Art tidak suka dengan hal itu.
Gadis itu menoleh seraya menyampirkan tas kain ke pundaknya.
"Mau pulang." jawab Elona singkat.
"Pulang?"
"Iya, aku sedang melakukan percobaan, hehe. Mau ikut?" tanya Elona sumringah.
"Ke rumahmu?"
"Iya! Ayo!" Elona menarik tangan Art, mengajaknya masuk ke dalam kereta kuda yang juga ditumpangi oleh gadis itu.
Lelaki itu terkejut, karena itu berarti ini pertama kalinya ia akan mengunjungi rumah Elona secara resmi, bukan mengendap-endap masuk ke kamarnya di malam hari seperti yang dilakukannya belakangan ini.
"Percobaan apa yang kamu buat?" tanya Art begitu mereka berdua berada di dalam kabin.
"Hehe, nanti kamu akan tahu. Kamu akan jadi orang pertama yang meminumnya, setelah aku!" jawab Elona tersenyum.
"Minum?" Art malah jadi semakin bingung.
Perjalanan dari lahan garapan sampai ke kediaman Locke di Armelin tidaklah memakan waktu lama. Elona dan Art pun tiba di halaman depan mansion Locke. Begitu pintu terbuka, sang kepala pelayan Wilson dan beberapa pelayan lainnya menyambut.
"Selamat datang, Nona. Anda sudah selesai dengan pekerjaan anda?"
"Sudah, Paman! Oh iya, ini temanku namanya Art." Elona memperkenalkan lelaki yang berdiri di sampingnya. Matanya tertuju pada kain penutup kepala yang dipakai oleh Art.
"Sudah tidak panas, kan? Buka saja kain penutup itu!"
"Eh?!"
Dengan cepat, Elona menarik kain penutup rambut yang Art kenakan, memperlihatkan rambut emas di kepalanya. Elona mengira selama ini kalau temannya itu mengenakan kain penutup supaya rambutnya terhindar dari panas matahari.
Seketika itu juga, seluruh pelayan yang ada di sana menahan nafas saking kagetnya, termasuk si kepala pelayan.
"Anda..."
"Perkenalkan, Paman, ini temanku Art. Dia tinggal di desa Rudiyart!" sahut Elona. Art pun menganggukkan kepala.
Tapi Wilson tidak bergeming sedikitpun. "Dari desa...?"
"Ah, aku ganti baju dulu di kamar. Art, kamu tunggu sini ya, sebentar lagi aku kembali!"
Elona pun pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua, ditemani dengan beberapa pelayan di belakangnya.
*****
Art pun tertinggal sendiri di lobi bawah. Begitu majikannya telah naik ke kamar, Wilson beserta pelayan-pelayan yang masih ada di sana segera menundukkan kepalanya.
"Salam hormat! Tuan muda Arthur Eckart!!" ucap Wilson dengan nada takut, lalu pelayan-pelayan lainnya mengikuti.
"Salam hormat, Tuan Eckart!"
"Eh?" Art alias si Arthur Eckart menatap para pelayan itu, "Kalian mengenaliku?"
"Tentu saja! Siapa yang tidak mengenali anda, calon duke di masa depan!" Wilson berkata, masih sambil menunduk, sebelum akhirnya Art menyuruhnya untuk berdiri tegak kembali.
"Err, nona majikanmu itu tidak mengenaliku, kau tahu?"
"Maafkan saya, Tuan! Sebagai pengganti mendiang kedua orangtuanya, saya seharusnya bisa lebih memperingatkan Nona supaya bersikap sopan, tidak seperti tadi-"
"Jangan! Tidak usah! Biarkan saja dia bertindak sesukanya padaku." Art menyela perkataan Wilson dengan cepat.
"Tetapi, Tuan Arthur-"
"Sudah, tidak apa-apa. Jangan beritahukan padanya tentangku. Rahasiakan semuanya. Dia tidak akan mau dibantu kalau tahu siapa aku sebenarnya. Nanti dia bisa kepikiran dan stress."
Wilson tertegun mendengar perkataan putra bangsawan di hadapannya. Seperti apa kata majikannya Stefan, jangan pernah membuat nona mudanya itu stress karena kebiasaan gangguan makan berlebihnya bisa kembali lagi nanti.
"Kalau begitu, biar kuantar Anda ke dapur terlebih dahulu sebelum Nona datang, supaya para pelayan dan juru masak yang bekerja di sana bisa segera memahami situasinya." usul Wilson. Kemudian ia memanggil seorang pelayan di dekatnya.
"Nanti kalau Nona sudah turun, bawa dia langsung ke dapur. Katakan kalau temannya sudah berada di sana." ucap Wilson. Pelayan itu pun mengangguk.
Tak lama, Art dan Wilson berjalan menyusuri koridor dengan hamparan karpet merah menuju ke dapur.
"Tuan muda, saya setuju saja dengan permainan anda ini, selama Nona Elona bahagia. Tapi kalau nanti sampai ketahuan, terlebih lagi dari mulut orang lain, dia pasti akan sangat kecewa."
Wilson berkata dengan nada khawatir. Baginya, nona majikannya itu sudah seperti putrinya sendiri. Ia tidak akan sampai hati melihat putrinya itu menangis karena merasa dipermainkan oleh orang yang paling dia percaya.
Art menghela nafas. Matanya memandang lurus ke depan. "Tenang saja, akan kuusahakan semuanya tetap rahasia, sampai waktunya tiba. Di saat itu terjadi, aku yang akan memberitahukan semuanya langsung padanya."
*****
"Art, rupanya kamu sudah di sini! Eh, kemana para pelayan yang lain?"
Elona tiba di dapur dengan tatapan mata kebingungan, karena biasanya seluruh juru masak dan pelayan ada di dapur saat ini untuk menyiapkan makan malam. Tapi nyatanya tak seorangpun ada di sana sekarang.
"Oh, tadi mereka sudah selesai menyiapkan makan malam, katanya mereka semua akan beristirahat sejenak." jawab Art.
"Ooh..." Elona menganggukkan kepalanya. Tentunya lelaki itu sudah sedikit berbohong pada Elona.
Para pelayan dan juru masak memang sedang beristirahat, tapi itu karena diminta oleh Wilson setelah pria tua itu memperkenalkan Arthur Eckart pada mereka. Daripada semuanya menjadi canggung dan tidak bisa bekerja karena keberadaan seorang bangsawan tinggi di dalam dapur, lebih baik para juru masak itu segera menyelesaikan pekerjaannya dan pergi dari sana.
"Ya sudah." Elona mengambil mangkuk besar berisi rendaman kacang kedelai yang sudah membengkak dari sudut ruangan, dan meletakkannya di atas meja.
"Ini... kacang kedelai?" Art bertanya, seraya mengambil sejumput. Kacang-kacang kedelai itu telah membesar dan kulitnya telah pecah.
"Iya. Bantu aku mengupas kulitnya. Yang bersih ya, kalau tidak nanti minumannya jadi bau." kata Elona.
Art alias si putra duke Arthur Eckart, yang seumur-umur belum pernah menginjakkan kakinya di dapur untuk membuat makanan, sekarang harus mengupas kacang kedelai dari kulitnya.
Ini gila... yah, apapun lah, demi Elona.
Mereka berdua pun tenggelam dalam kesibukannya mengupas kulit kacang kedelai. Tak lama kemudian, seluruh kacang sudah bersih.
"Lalu... tinggal mengulang yang kulakukan kemarin. Hmm..."
Elona berusaha mengingat langkah-langkah yang dilakukannya sebelumnya. Pertama merebus semua kacang tersebut supaya empuk. Lalu menggilingnya sampai jadi bubur. Kemudian menyaringnya dengan kain. Dan dimasak lagi untuk ditambahkan garam dan gula, tak lupa pula membuang buihnya. Terakhir, memasukkan cairan putih tersebut ke dalam dua gelas.
"Jadi...!" Elona setengah berteriak sambil tersenyum senang. Ia mencoba membaui minuman tersebut dengan hidungnya. Tidak lagi bau seperti sebelumnya.
"Ini apa?" Art bertanya sambil menatap bingung pada gelas berisi cairan putih di hadapannya.
"Susu kedelai!"
"Susu... kedelai? Yang kamu bilang di lahan tempo hari itu?" Art mengingat kejadian tersebut dan ia pun saat itu juga bingung saat Elona berkata tentang susu kedelai. Namun saat ini, benda itu sudah berada di hadapannya.
"Iya, yang itu!" jawab Elona. Ia pun mengipasi susu-susu tersebut supaya cepat bisa diminum.
"Ini, minumlah. Enak!" Elona menyodorkan gelas perunggu itu pada Art.
Lelaki itu menatap ragu cairan putih di hadapannya. Perlahan, ia menempelkan bibirnya ke mulut gelas dan mencoba meminumnya sambil menutup mata, mengantisipasi barangkali rasanya tidak sesuai ekspetasinya.
"Bagaimana, enak kan?!" tanya Elona tidak sabar begitu melihat pemuda di hadapannya itu mencoba susu buatannya.
"...!!" Art membelalakkan matanya setelah meminum satu sesapan.
*****