Rayya Assyura tidak pernah menyangka, ketika menerima laporan tentang karyawan terbaik yang direkomendasikan langsung dari cabang luar negeri adalah Devan Yudistira. Pria yang paling ia benci sejak masa remaja. ketika menginjakkan kaki di rumahnya sebagai anak tukang kebun.
Rayya masih mengingat jelas bagaimana papanya begitu menyukai kepribadian Devan, cerdas, santun, pekerja keras, hingga tanpa ragu menyekolahkannya di SMA elit yang sama dengannya. Lebih dari itu, sang papa bahkan meminta Devan menjaga Rayya di sekolah.
kehidupan rayya sempat tenang ketika mendapati devan mendapat beasiswa kuliah di oxford university.
namun kharisma devan sekarang membuat rayya dipaksa berpikir ulang.
apakah kebencian masih dipertahankan atau takdir justru mempermainkan mereka berdua. bagaimana kisah selanjutnya? mari kita saksikan..
tommy diterima
Rayya memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang. Ia tidak suka perasaan yang bergejolak tanpa alasan jelas. Sejak tadi, pikirannya terlalu sering tertarik pada satu nama, Devan dan itu membuatnya gelisah.
Tidak, batinnya menegaskan. Ini cuma rasa bersalah.
Rasa bersalah karena belum sempat mengucapkan terima kasih dengan layak. Karena Devan sudah membantunya lebih dari sekadar kewajiban. Tidak lebih dari itu. Rayya meyakinkan dirinya bahwa apa pun yang bergetar di dadanya hanyalah emosi sesaat akibat kondisi lelah dan kejadian yang menegangkan.
Lagipula, Tommy ada di sisinya.
Rayya menoleh. Tommy duduk tak jauh, memperhatikannya dengan raut penuh perhatian. Sejak kejadian di jalur pendakian, Tommy tidak benar-benar meninggalkannya. Ia mungkin kelelahan, mungkin tidak sekuat Devan secara fisik, tapi Rayya tidak bisa menutup mata bahwa Tommy sudah berusaha, bahkan memaksakan diri, demi dirinya.
Rayya memanggilnya pelan.
“Tom.”
Tommy segera mendekat.
“Kamu kenapa? Kakinya masih sakit?”
“Masih,” jawab Rayya jujur.
“Tapi bukan itu.”
Tommy duduk di sampingnya, wajahnya serius. Rayya menatap laut sejenak sebelum akhirnya berbicara.
“Kamu serius sama aku?” tanyanya tiba-tiba, tanpa basa-basi.
Tommy terdiam sejenak, lalu menatap Rayya dengan penuh keyakinan.
“Aku nggak akan ke sini kalau aku nggak serius, Ray.”
Rayya mengangguk kecil.
“Tadi… di atas. Kamu tetap berusaha nolong aku, meski kamu kelelahan.”
“Aku tahu aku nggak sekuat orang lain,” Tommy tersenyum tipis, ada nada rendah hati di sana.
“Tapi kalau soal kamu, aku akan tetap mencoba. Apa pun caranya.”
Jawaban itu terdengar tulus. Namun entah mengapa, di dada Rayya muncul keraguan kecil, bukan karena Tommy berbohong, melainkan karena janji saja terasa belum cukup. Ada jarak halus antara kata-kata dan pembuktian yang ia harapkan.
Rayya menatap Tommy lekat-lekat.
“Kalau begitu… buktikan.”
Tommy mengernyit.
“Buktikan bagaimana?”
“Dengan sikap,” jawab Rayya pelan namun tegas.
“Bukan cuma janji. Aku mau lihat kamu benar-benar bisa berdiri di samping aku, di kondisi apa pun.”
Tommy tersenyum, kali ini lebih mantap.
“Aku akan buktiin, Ray. Aku nggak mau kehilangan kamu lagi.”
Rayya membalas senyum itu, meski hatinya belum sepenuhnya tenang. Ia ingin percaya, ingin meyakinkan dirinya bahwa pilihan ini tepat.
Namun jauh di sudut pikirannya, ada satu bayangan yang belum sepenuhnya menghilang sosok Devan yang tanpa banyak kata, memilih bertindak Dan Rayya tahu, pertarungan di hatinya baru saja dimulai.
Tommy berdiri agak menjauh dari keramaian, pandangannya sesekali tertuju pada Rayya yang duduk di kursi geladak dengan kaki terbalut perban. Kata-kata Rayya terus terngiang di kepalanya, buktikan. Ia tahu, janji saja tidak cukup. Ia harus melakukan sesuatu yang nyata, sesuatu yang menunjukkan bahwa perasaannya bukan main-main.
Ia sempat terpikir mengajak Rayya snorkeling, membuat kenangan manis berdua. Namun ide itu langsung ia tepis. Kondisi kaki Rayya tidak memungkinkan. Ia tidak boleh egois.
Beberapa detik kemudian, tatapan Tommy tertuju pada panggung kecil di ujung dek, tempat sebuah band akustik mengalunkan lagu-lagu santai. Lampu temaram, suasana hangat, angin laut yang lembut, seolah semuanya mendukung satu keputusan besar.
Tommy menarik napas dalam-dalam.
Ini saatnya.
Ia melangkah ke arah panggung dan menghampiri MC. Dengan senyum sopan dan suara yang sedikit ditahan gugup, ia meminta izin meminjam mikrofon. MC tampak terkejut, namun mengangguk dengan antusias. Musik pun dipelankan, sorot lampu mengarah pada Tommy.
Beberapa orang mulai menoleh. Suasana menjadi hening.
“Maaf, saya mengganggu sebentar,” ucap Tommy, suaranya terdengar jelas di seluruh dek.
“Saya cuma ingin mengatakan sesuatu yang sudah lama saya simpan.”
Rayya menegakkan tubuhnya. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia tidak menyangka apa yang akan terjadi.
Tommy mengedarkan pandangan, lalu matanya berhenti tepat pada Rayya.
“Rayya,” lanjutnya, kali ini lebih lembut namun penuh keyakinan.
“Aku tahu aku pernah melakukan kesalahan besar di masa lalu. Kesalahan yang mungkin tidak bisa sepenuhnya diperbaiki. Tapi satu hal yang tidak pernah berubah… perasaanku ke kamu.”
Beberapa orang mulai berbisik. Mama Mariana menutup mulutnya dengan tangan, matanya berkaca-kaca. Pak Surya memperhatikan dengan wajah serius namun penuh perhatian.
“Aku mungkin bukan orang yang paling sempurna,” kata Tommy jujur,
“tapi aku ingin belajar jadi pria yang pantas berdiri di samping kamu. Aku ingin ada di setiap langkah hidup kamu, saat kamu kuat, dan saat kamu jatuh.”
Tommy menelan ludah, lalu tersenyum kecil.
“Rayya Assyura, maukah kamu jadi kekasihku? Kali ini, dengan niat yang paling serius.”
Sesaat hening.
Lalu sorak-sorai pecah. Tepuk tangan menggema. Beberapa orang bersiul, yang lain berseru menyemangati.
“Terima, bu Rayya!”
“Ayo, bilang iya!”
Rayya merasa dadanya penuh. Matanya menghangat. Ia tidak pernah membayangkan Tommy akan melakukan sesuatu seberani ini, di depan semua orang, termasuk orang tuanya, Wilona, dan… Devan.
Saat Tommy turun dari panggung dan berjalan ke arahnya, Rayya tanpa sengaja menoleh ke sisi lain dek.
Tatapan itu bertemu.
Devan berdiri agak jauh, tubuhnya tegak, wajahnya tenang, terlalu tenang. Namun di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang tidak bisa Rayya jelaskan. Sorot matanya redup, seolah menahan sesuatu yang tidak ingin ia perlihatkan.
Hanya sesaat.
Namun cukup untuk menimbulkan keraguan di hati Rayya.
"Kenapa aku ragu?" batinnya gelisah.
"Ini Tommy. Pria yang datang jauh-jauh demi aku. Pria yang berani menyatakan perasaannya di depan semua orang."
Rayya kembali menatap Tommy yang kini berdiri di hadapannya, menunggu jawaban dengan mata penuh harap.
Ia menarik napas panjang.
“Aku terima,” ucap Rayya akhirnya, suaranya mantap meski hatinya masih bergetar.
“Aku mau jadi kekasih kamu.”
Sorakan kembali membahana. Mama Mariana bangkit dan memeluk Rayya dengan mata berkaca-kaca. Pak Surya tersenyum lebar, menepuk bahu Tommy dengan bangga. Band kembali memainkan lagu yang lebih ceria.
Tommy tersenyum lebar, jelas lega dan bahagia. Ia menggenggam tangan Rayya dengan hati-hati, seolah takut menyakitinya.
Namun tidak semua orang ikut bersuka cita.
Wilona menyunggingkan senyum tipis yang sarat makna. Tatapannya tajam, penuh penilaian.
“Kita lihat saja nanti,” gumamnya pelan, hampir tak terdengar, namun jelas menyimpan niat yang tidak baik.
Sementara itu, Devan tetap berdiri di tempatnya.
Ia tidak ikut bertepuk tangan. Tidak juga menunjukkan reaksi berlebihan. Dari luar, ia tampak biasa saja, profesional, tenang, tak terpengaruh.
Namun di dalam dadanya, ada rasa yang asing dan menyakitkan.
Ia tidak tahu sejak kapan rasa itu muncul. Ia bahkan tidak pernah berniat memilikinya. Selama ini ia yakin, hidupnya hanya tentang tanggung jawab, pekerjaan, dan masa depan yang dibangun dengan disiplin.
Percintaan orang lain seharusnya tidak berarti apa-apa baginya.
Namun saat melihat Rayya tersenyum di samping Tommy, resmi menjadi milik pria lain, ada sesuatu yang terasa runtuh perlahan. Bukan cemburu yang meledak-ledak. Bukan amarah.
Melainkan rasa kehilangan yang sunyi.
Devan mengalihkan pandangannya ke laut yang mulai gelap, membiarkan angin malam menerpa wajahnya. Ia mengepalkan tangan perlahan, lalu mengendurkannya kembali.
"Ini bukan urusanku," katanya pada diri sendiri.
"Rayya bahagia. Itu yang penting."
Namun meski logikanya berkata demikian, hatinya tidak sepenuhnya setuju.