Adalah Mia, seorang perempuan yang cintanya dibenturkan pada restu, adat, dan pemikiran yang tak pernah benar-benar memberi ruang baginya.
Ia berdiri di persimpangan antara bertahan demi pernikahan yang ia perjuangkan, atau berbalik arah .
Di tengah perjalanan itu, tekanan tak lagi datang dalam bentuk pertanyaan. Sang mertua menghadirkan pihak ketiga, seolah menjadi jawaban atas ambisi yang selama ini dibungkus atas nama tradisi dan kelanjutan garis keluarga.
Mia dipaksa memilih mempertahankan cinta yang kian terhimpit, atau melepaskan semuanya sebelum ia benar-benar kehilangan dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seroja 86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PPM 23
Menjelang siang, ponsel Mia kembali bergetar. Nama Johan muncul di layar.
Ia berhenti mengetik, menatap layar beberapa detik, lalu mengangkat panggilan itu bukan karena ingin bicara, tapi karena ingin menutup satu pintu dengan jelas.
“Mia, kita perlu bicara. Jangan seperti ini kamu di mana?. ”
Suara Johan terdengar gelisah, terburu-buru.
Mia menjawab tenang, nyaris tanpa nada.
“Aku di mana bukan urusanmu. Dan tidak ada yang perlu kita bicarakan sekarang. Aku belum siap ketemu kamu.”
Di seberang sana, Johan terdiam sesaat sebelum suaranya melemah.
“Mia… aku minta maaf. Aku tahu aku salah. Tolong beri aku kesempatan aku khawatir kamu tahu enggak?."”
Mia tersenyum tipis, dingin. “Khawatir? Kesempatan yang kamu maksud itu kesempatan untuk apa, Jo?,Kesempatan mengulangi kesalahan? Atau kesempatan memperbaiki diri? Kamu harus jelas. Jangan ambigu!.”
Di seberang sana, napas Johan terdengar tak beraturan.
“Mia…”
“Apa?! Waktu kamu berduaan sama Mey di Bandung, kamu khawatir nggak sama aku? Ada rasa bersalah nggak waktu itu?” potong Mia, suaranya tetap datar tapi menghantam.
“Mia…”
“Stop jangan banyak drama. Aku belum mau ketemu kamu.”
Mia menutup panggilan. Ponselnya ia letakkan perlahan di meja.
Tangannya tidak gemetar lagi. Kali ini bukan emosi yang bicara tapi kendali.
Setelah panggilan ditutup sepihak, Johan mengusap wajahnya kasar. Dadanya sesak baru kali ini ia benar-benar merasakan takut bukan takut ketahuan, tapi takut kehilangan. Nafsu sesaat yang ia anggap menyenangkan kini menjelma ancaman nyata Mia bisa pergi, dan mungkin tidak menoleh lagi Wanita yang selama ini menerimanya tanpa banyak tanya, yang setia tanpa syarat, kini menarik diri dengan cara paling menyakitkan tenang.
Ponselnya kembali bergetar nama Mey muncul di layar. Johan mengangkatnya tanpa berpikir, tapi emosi yang menumpuk tumpah begitu saja.
“Kamu bisa nggak jangan ganggu aku dulu? Aku stres, tahu nggak?!” bentaknya dengan suara tinggi. Ia langsung menekan tombol akhiri. Ruangan mendadak sunyi. Beberapa kepala menoleh ke arahnya rekan kerja yang terkejut. Johan terdiam.
Baru saat itu ia sadar ia sedang di kantor, ia kehilangan kendali.
Di seberang sana, Mey termangu. Ia menatap layar ponselnya yang gelap, tak percaya. Selama ini Johan selalu lembut, selalu menenangkan. Ia membuka mulut hendak berkata,
“Sayang, kamu kenapa?” namun kata-kata itu terhenti, tak pernah sampai. Untuk pertama kalinya, Mey merasakan sesuatu yang dingin menyelinap di dadanya ia bukan lagi pelarian yang menyenangkan. Ia hanya sisa masalah yang ingin Johan singkirkan.
Johan pulang lebih cepat sore itu. Ia membuka pintu rumah dengan gerakan pelan, seolah berharap ada suara yang menyambut. Tidak ada. Rumah itu terlalu sunyi. Tidak ada aroma kopi yang biasa diseduh Mia setiap sore, tidak ada suara panci dari dapur, tidak ada langkah kecil yang menandai kehadirannya. Hanya televisi yang menyala tanpa benar-benar ditonton, mengisi ruang dengan suara asing yang terasa dingin.
Ia meletakkan tas di sofa dan duduk lama, menatap kosong ke arah dapur. Baru sekarang Johan menyadari selama ini rumah itu hangat bukan karena dinding atau perabotnya, tapi karena Mia. Karena rutinitas kecil yang ia anggap biasa secangkir kopi, sapaan sederhana, kehadiran yang konsisten.
Kini semua itu lenyap, meninggalkan ruang yang tak bisa diisi apa pun.
Johan menyandarkan kepala ke sandaran sofa, memejamkan mata. ia benar-benar sendirian dengan penyesalannya. Tidak ada Mia yang menunggu, tidak ada kesempatan untuk berpura-pura baik-baik saja. Yang tersisa hanya satu kesadaran pahit kehilangan itu bukan terjadi saat Mia pergi, tapi saat ia memilih mengkhianati kehangatan yang sudah ia miliki.
Malam turun tanpa aba-aba. Johan duduk di ruang tamu dengan lampu setengah redup, televisi mati, ponsel di tangan. Jam dinding berdetak terlalu keras. Ia mencoba berbaring, memejamkan mata, lalu bangkit lagi.
Berkali-lagi ranjang terasa asing tanpa tubuh Mia di sisinya. Tidak ada suara napas, tidak ada gerakan kecil yang biasanya membuatnya terlelap. Yang ada hanya bayangan punggung Mia yang membelakangi, tatapannya yang dingin, kata-kata yang belum sempat ia tarik kembali.
Lewat tengah malam, Johan duduk di tepi ranjang, menatap layar ponsel yang gelap.
Ia mengetik, menghapus, mengetik lagi. “Maaf.” Terlalu pendek. “Aku salah.” Terlalu mudah. Ia meletakkan ponsel, mengusap wajah, napasnya berat. Insomnia menjeratnya seperti hukuman yang pantas tidak tidur, tidak tenang, tidak ada pelarian. Rumah itu tak lagi memeluk ia hanya memantulkan kesalahan.
Pagi datang dengan mata sembap dan kepala berat. Johan menyiapkan kopi sendiri pahit, terlalu pekat. Ia menatap jam, lalu ponsel. Akhirnya ia enekan tombol panggil nada sambung berbunyi lama, lalu berhenti. Tidak diangkat. Ia mencoba lagi tetap sama. Sunyi di ujung sana terasa lebih kejam daripada amarah.
Johan menatap layar, berharap Mia menelfonnya atau setidaknya mengirim pesan tapi nihil. Dan dalam diam itu Johan mengerti ia tidak sedang diabaikan. Ia sedang diberi jarak jarak yang memaksanya menghadapi konsekuensi, tanpa bisa menyela, tanpa bisa mengendalikan.
Sorenya, Johan kembali menghubungi Mia. Suaranya pecah oleh gelisah.
“Mia kamu di mana? Jangan buat aku gila, Mia.”
Di ujung sana, suara Mia tenang, nyaris datar. “Aku di rumah orang tuaku. Kenapa?”
Johan menghela napas, seolah menemukan pijakan.
“Oke. Besok aku jemput setelah pulang kantor.”
Hening sepersekian detik, lalu Mia menjawab tajam tanpa meninggi.
“Yang mengizinkan kamu siapa? Kamu pikir setelah semua itu aku langsung memaafkan kamu?”
Johan terdiam. Kata-kata itu jatuh satu per satu, menampar tanpa sentuhan. Untuk pertama kalinya, ia sadar kendali bukan lagi miliknya. Mia tidak berlari, tidak berteriak ia berdiri di tempatnya, menetapkan batas. Dan batas itu, lebih menyakitkan daripada amarah.
Pagi itu Mia bangun lebih ringan dari malam-malam sebelumnya. Bukan karena lukanya sembuh, melainkan karena ia tidak harus berpura-pura kuat di hadapan orang yang melukainya. Ia membantu Umi di dapur. Abah memperhatikannya dari kejauhan diam, tapi penuh hitung-hitungan sebagai seorang ayah.
Mia tahu, cepat atau lambat Abah akan bicara. Ia hanya berharap, bukan dengan amarah.
Sementara itu, di rumah kosongnya, Johan duduk di tepi ranjang yang dingin. Ponselnya berkali-kali menyala tanpa balasan. Ia menatap foto pernikahan di dinding, lalu memalingkan wajah. , rasa takutnya bukan kehilangan rumah tangga, tapi kehilangan Mia sebagai manusia yang memilih pergi. Ia sadar, permintaan maaf saja tidak cukup. Ia harus menghadapi konsekuensi dan itu berarti menghadapi Abah.
Malam itu Abah memanggil Mia bicara empat mata. Suasana kamar terasa sunyi, hanya suara kipas angin yang berputar pelan. Abah menatap Mia lama, seolah menimbang kata-kata yang akan keluar.
“Mi, Abah sudah tahu semuanya dari Umi,” ucapnya akhirnya.
“Kamu juga harus introspeksi. Cari tahu, kenapa suamimu sampai berbuat seperti itu. Pergimu dari rumah sebenarnya sudah salah… tapi ya sudahlah.”
Mia menunduk suaranya bergetar saat menjawab,
“Karena aku nggak tahan, Bah. Aku sudah introspeksi tapi aku tidak tahu dimana letak kurang dan salahnya Bah. ”
Air matanya jatuh, kali ini tanpa suara.