NovelToon NovelToon
Second Wife

Second Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / CEO / Janda / Selingkuh / Aliansi Pernikahan / Ibu Mertua Kejam
Popularitas:314
Nilai: 5
Nama Author: yulia puspitaningrum

Pernikahan yang bahagia selalu menjadi dambaan bagi setiap wanita didunia ini, namun terkadang takdir tidak berjalan sesuai apa yang kita harapkan.

Begitupun dengan apa yang dialami Alyssa, wanita cantik berusia 26 tahun itu harus menerima kenyataan pahit. Bahwa pernikahan yang selalu ia jaga hancur oleh penghianatan sang suami.

Rasa kecewa dan sakit yang ia rasakan membuat ia trauma dan berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menjadi duri dalam rumah tangga orang lain. ia menutup dirinya rapat rapat namun semua itu tidak lantas mengubah prasangka buruk orang orang karena statusnya sebagai seorang janda.

Namun bagaimana jadinya jika takdir memintanya untuk menjadi istri kedua... akankah ia menolaknya mengingat janjinya. atau ia akan menerimanya karena keadaan yang begitu memaksa dirinya...
lalu sanggupkah ia menjalani kehidupannya.

penasaran intip kisahnya disini jangan lupa berikan kritik dan saran yang membangun...
terimakasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yulia puspitaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Merasa bersalah.

Lorong rumah sakit kembali sunyi setelah Alyssa berlalu. Langkahnya semakin menjauh, meninggalkan Brayen seorang diri di kursi rodanya.

Ia tidak segera beranjak. Roda itu masih berada di posisi yang sama, namun pikirannya kacau. Kalimat Alyssa terus terngiang, memantul di kepalanya tanpa henti seolah olah tengah menghakimi dirinya.

“Kalau menikah dengan Anda adalah harga yang harus saya bayar demi melihat ibu saya tersenyum lagi…”

Brayen memejamkan mata, mencoba menepis bayangan wajah Alyssa yang menahan tangis.

Namun semakin ia berusaha melupakan, semakin jelas sosok itu hadir dan membuat dadanya terasa sesak.

“Kenapa rasanya seperti… aku sudah melampaui batas,” gumamnya lirih.

Tiba-tiba terdengar teriakan seorang perawat memanggil nama Alyssa. Suaranya panik.

“Alyssa! Mbak Alyssa!”

Alyssa yang belum terlalu jauh langsung membalikkan tubuh. Wajahnya menegang saat melihat perawat itu berlari ke arahnya.

 Mereka berbicara singkat, lalu berlari melewati Brayen begitu saja dan menuju pintu ICU tempat ibunya dirawat.

“Ada apa ini…” lirih Brayen mengerutkan dahinya dalam.

Dengan jantung berdegup tidak karuan, ia melajukan kursi rodanya mengikuti mereka. Namun saat baru tiba di depan ICU, Alyssa sudah ditahan oleh suster dihadapannya.

“Minggir, Sus! Saya harus melihat ibu saya!” teriak Alyssa histeris. Air matanya mengalir deras ketika ia mencoba memaksa masuk.

“Tidak bisa, Mbak,” ujar suster itu tegas namun lembut.

“Dokter sedang berusaha menyelamatkan ibu Mbak. Kalau Mbak masuk sekarang, konsentrasi dokter akan terganggu. Nyawa ibu Mbak bisa terancam. Tolong mengerti…”

“Benar, Nak,” suara Lita terdengar sambil memeluk bahu Alyssa.

“Biarkan dokter bekerja dulu.”

Berbeda dengan ibunya, Brayen justru hanya diam mematung ditempatnya, hatinya sedikit tidak nyaman melihat wanita yang sebelumnya ia tuduh penuh muslihat kini tengah menangis dengan begitu menyedihkan.

Rasa bersalah tumbuh dan memenuhi seluruh hatinya. Ia ingin mendekat mengatakan sesuatu untuk menenangkan wanita itu namun tubuhnya terasa kelu.

“Apa yang sebenarnya terjadi, Tante?” tanya Alyssa dengan suara gemetar.

“Tadi ibu masih baik-baik saja… Tapi kenapa menjadi seperti ini?"

“Tante juga tidak tahu, Nak,” jawab Lita sambil mengusap rambut Alyssa dengan penuh kasih.

Semenjak bertemu dengan Alyssa ia sudah menyukai wanita itu dan ketika ia melihatnya seperti ini entah mengapa hati Lita ikut merasa sedih.

“Tiba-tiba alarm berbunyi, dokter berdatangan, dan kami langsung diminta keluar.”

Tangis Alyssa pecah. Rasa takut langsung membayanginya, ia khawatir terjadi sesuatu pada ibunya.

Sesuatu yang mungkin akan merebut sang ibu darinya, ia tidak ingin itu terjadi dan ia tidak bisa membayangkan bagaimana ia hidup jika sang ibu pergi meninggalkan dirinya.

Satu jam terasa seperti seumur hidup, Alyssa menunggu dengan gelisah.

Jantungnya berdegup dengan kencang sementara matanya tidak luput dari pintu Icu yang masih tertutup dengan rapat.

Krek...

Bunyi pintu yang dibuka dengan perlahan bagai cahaya baru untuk Alyssa.

Dokter keluar dengan wajah lelah dan menghampiri dirinya.

“Bagaimana keadaan ibu saya, Dok?” tanya Alyssa terburu-buru.

“Syukurlah, beliau berhasil melewati masa kritis. Namun kondisinya masih belum stabil, jadi untuk saat ini beliau belum bisa dijenguk.”

Alyssa terduduk lemas di kursi tunggu. Tangis syukur keluar bersamaan dengan helaan napas panjang.

“Terima kasih, ya Allah… terima kasih…” lirihnya membuat dokter dihadapannya tersenyum, tak lama dokter itu pun pergi meninggalkan Alyssa dengan kelegaan dihatinya.

"Ibuku baik baik saja Tante, beliau baik baik saja." ucap Alyssa kepada Lita dengan mata berbinar binar.

"iya nak, Tante tau... dia pasti tidak akan meninggalkan anak seperti kamu." ucap Lita tersenyum tulus.

"bstt... Best... " desis Bela mengalihkan perhatian Brayen, adiknya itu memberi kode agar ia menghampirinya.

Awalnya Brayen tidak mempedulikan itu namun Adiknya tidak menyerah, ia terus memanggilnya hingga Brayen merasa jengah. Mau tidak mau ia tetap menjalankan kursi rodanya menghampiri adiknya itu.

"Ada apa bela?" tanya Brayen Malas.

"Berikan ini pada kak Alyssa!" perintahnya menyerahkan kantung kresek yang Brayen tidak tau apa isinya.

"Apa ini, kenapa tidak kamu berikan sendiri?" tanya Brayen heran, tangannya terulur meraih kantung itu untuk melihat isinya.

"Bisa bisanya kamu membeli makanan saat orang tengah bersedih. Pantas saja kamu menghilang." kesal Brayen yang dijawab senyum kecil oleh adik perempuannya.

"Menangis tentu saja menghabiskan tenaga kak, apalagi Kak Alyssa belum makan sejak tadi pagi jadi cepat kakak serahkan makanan itu agar kak Alyssa bisa mengisi tenaganya kembali." perintah Bela seperti seorang bos yang harus dituruti kemauannya.

"Tidak mau... Kamu serahkan sendiri." saat Brayen ingin menyerahkan kantung itu kepada adiknya Bela malah berlari menjauhi dirinya.

"kakak tidak punya pilihan, aku mau pergi ke toilet." teriaknya sambil berlari.

Brayen menghela nafasnya, ditatapnya kantung di tangannya sesat sebelum akhirnya beralih menatap Alyssa yang kini tengah berbicara dengan Ibunya.

"haruskah aku memberikan ini padanya, apa yang harus aku katakan?" batin Brayen merasa bimbang.

Setelah terdiam untuk sejenak akhirnya ia memutuskan untuk menghampiri Alyssa dan menyerahkan kantung ditangannya kepadanya.

"Ambilah."

"Apa ini kak?" tanya Alyssa heran. Begitupun dengan Lita, wanita paruh baya itu menatap anaknya penuh tanya seolah olah meminta penjelasan dari sang anak.

"huh... Ambil saja apa susahnya." kesal Brayen yang sudah merasa lelah karena Alyssa tidak kunjung mengambil apa yang ia berikan.

Alyssa yang dibentak seperti itu oleh Brayen pun terkejut namun tak urung ia tetap menerima apa yang laki laki itu berikan.

"Bisakah kamu sedikit lebih lembut kepada Alyssa. Kasihan dia sedang bersedih saat ini." nasehat ibunya membuat Brayen terdiam, ia kembali merasa bersalah pada Alyssa.

Namun untuk meminta maaf entah mengapa lidahnya kaku dan tenggorokannya terasa kering.

"Tidak apa Tante, terimakasih kakak sudah memberikan aku makanan." ucap Alyssa setelah melihat apa isi dalam kantung yang Brayen berikan kepada dirinya.

"sebenarnya itu bukan."

"Oh jadi kamu membelikan Alyssa makanan, kenapa cuma satu. Mana untuk mama?" potong Lita menatap Anaknya tajam. Brayen yang tidak sempat menjelaskan jika makanan itu bukan darinya pun merasa bingung ia ingin membuka mulutnya namun ibunya sudah lebih dulu berkata.

"Tidak masalah, mama bisa membeli makanan sendiri. Sekalian mama juga mau membelikan Alyssa minum, kasihan dia masak kamu juga tidak membelikan dia minuman sih." Gerutu Lita sebelum akhirnya berlalu pergi meninggalkan mereka. Kini hanya ada Brayen dan Alyssa ditempat itu.

Hening...

Tidak ada yang membuka obrolan diantara mereka. Alyssa masih enggan membuka makanan yang Brayen berikan, sementara Brayen...

Laki laki itu terlihat canggung beberapa kali ia melirik Alyssa seolah olah ingin mengajak wanita itu berbicara namun egonya masih tinggi dan ia tidak tau harus memulainya dari mana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!