Zizi adalah seorang gadis yang memiliki kekuatan supranatural karena darah para leluhurnya.
Bukan hanya menjadi pewaris pusaka sang leluhur, namun nyatanya takdir cinta Zizi juga mengikuti jejak para leluhurnya yang harus bertemu dengan mahluk yang berbeda.
Akankah Zizi bisa menjadi pewaris yang baik dari leluhurnya?
Dan akankah Zizi bisa benar-benar bersama sosok yang ia cintai meski mereka berbeda?
yuk ndongeng...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Amanat Yang Terabaikan
Zizi menyambar tongkat milik Oracle yang terlepas dari tangan Shilba Dolores.
Mata Zizi berkilat-kilat, ia menyeringai menakutkan, pedang di tangannya kini seolah menuntutnya untuk kembali membunuh.
Zizi mengangkat tinggi pedang itu, mengundang suara gemuruh di atas langit yang lebih besar.
Shane yang melesat masuk lagi ke istana menatap Zizi yang kini melayang seraya bersiap menebas Shilba Dolores yang ketakutan menempel di dinding.
"Nona..."
Shane memanggil Zizi.
Zizi mendengar suara Shane menoleh, tampak Zizi menyeringai mengerikan.
"Dia bukan Zizi lagi."
Lirih Shane.
Lori yang mengikuti Shane masuk ke istana Oracle dan melihat Zizi mengayunkan pedangnya lalu menebas Shilba Dolores dengan garang jadi menjerit begitu kepala Shilba Dolores menggelinding di lantai.
Belum cukup menebas kepala Shilba Dolores, tampak Zizi kemudian menghunus pedangnya ke dada Shilba Dolores di mana tubuh peri itu masih teronggok di depannya.
Seketika api dari pedang Jayapada itu membumbung, seolah melahap tubuh Shilba Dolores dengan nikmat.
Lori tak percaya jika Zizi adalah manusia.
Lori mundur beberapa langkah dan kemudian terhenti karena menabrak pintu istana.
Para peri yang bekerja di istana Oracle selama ini sudah berhamburan pergi, mereka bicara pada para peri penghuni desa yang kebingungan karena seperti ada bencana besar di dunia mereka.
"Dia manusia setengah monster... Gadis itu manusia setengah monster."
Heboh dunia peri karena cerita para pekerja istana Oracle.
"Siapa yang mengirimnya? Oracle atau Meri?"
Tanya mereka sambil berduyun-duyun menuju istana Oracle yang kini bangunannya sudah hampir runtuh.
Tampak mayat para raksasa yang bergelimpangan di luar pagar istana memenuhi jalan.
Mereka takjub sekaligus ngeri, memikirkan bagaimana bisa seseorang sendirian mengalahkan puluhan raksasa dan juga meruntuhkan istana bahkan membunuh Shilba Dolores.
Lori di dalam istana kini menatap Zizi dengan takut, Zizi menatapnya dengan mata yang masih berkilat-kilat.
"Nona Zizi, dia Lori, dia peri yang meminta tolong pada kita."
Kata Shane.
Zizi tapi seolah tak peduli, ia melangkah ke arah Lori dengan tangan memegang tongkat sakti milik Oracle dan juga yang satunya memegang pedang jayapada.
"Serahkan saja tongkatnya Nona, lalu kita pergi dari sini, kita pulang Nona."
Kata Shane lagi.
Zizi masih tak peduli, ia menyeringai pada Lori, seolah ia kini memilih Lori untuk menjadi korbannya lagi.
Dan begitu Zizi sudah berada di depan Lori lalu Zizi mengangkat pedangnya, tiba-tiba, sebuah cahaya kehijauan menyambar Zizi hingga terpental.
Aroma melati tercium begitu pekat.
Zizi yang terpental dan kini terjerembab di lantai terlihat memegangi dadanya. Shane tampak menghambur ke arah Zizi, dan merangkul Zizi yang kini matanya kembali seperti semula.
Cahaya kehijauan itu berubah menjadi seorang perempuan dengan sanggul yang dihias bunga melati.
"Jangan membunuh lagi, kamu akan seperti Balasanggeni, Zizi... cukup."
Kata Perempuan yang tak lain adalah nenek moyangnya, Nyi Retnoasih.
**---------**
Flashback,
Zia sedang bicara pada Aisyah di kamarnya ketika ia merasakan kehadiran energi yang sangat kuat di rumah orangtua Zion yang memang diwariskan pada Zion.
Aisyah yang mendengar Ali tak terluka dan bahkan sedang minum coklat panas terlihat langsung lega, apalagi saat Zia mengatakan jika Ali pasti akan segera pulang.
Ya, Aisyah memang tak bisa melihat Maria, tapi Aisyah sering sekali mendengar namanya disebut.
Meski Maria adalah sosok hantu, namun sejak dari hotel wisata milik Aisyah dan Zion yang ditutup, Zia dan Zizi selalu saja membicarakan soal hantu none Belanda itu.
Rasanya hantu Maria jelas sudah menjadi bagian dari keluarga Zia juga.
Hantu itu seperti pengasuh Zizi, yang setia menemani dari Zizi masih balita hingga kini Zizi mulai beranjak dewasa.
Jadi bagi Aisyah, apa yang diberitakan hantu Maria pada Zia, rasanya Aisyah percaya saja, ia tak meragukan cerita Maria sama sekali.
"Maria, siapa yang datang?"
Tanya Zia pada Maria yang berdiri di dekatnya di dalam kamar Aisyah.
"Aroma melati, sepertinya Nenek anda Nyonya."
Kata Maria.
Zia kemudian lamat-lamat akhirnya mencium aroma melati juga.
Ah ya, kamu benar. Kata Zia.
Zia kemudian pamit sebentar pada Aisyah, lalu bergegas keluar kamar untuk mencari keberadaan Nenek moyangnya yang jauh-jauh berkunjung.
"Nenek Retnoasih."
Panggil Zia begitu melihat perempuan dengan sanggul berhias melati yang kini berdiri mengambang di dekat pintu kamar Zia yang letaknya tak jauh dari kamar Aisyah.
Nyi Retnoasih menengok ke arah Zia.
Tampak perempuan itu wajahnya masam, tak ada senyum terkembang seperti biasa.
"Aku sudah memintamu menjaga anakmu, tapi kau malah membiarkan dia berurusan dengan mahluk-mahluk jahat."
Kata Nyi Retnoasih.
"Nek... Apa maksudmu?"
Zia mengerutkan kening.
"Pedang itu akan semakin haus membunuh dan membuat energi Balasanggeni semakin besar di pedang itu. Kau tahu betapa dia sudah melumuri pedang itu dengan banyak sekali darah dan mengisinya dengan energi jahat yang luar biasa besar. Sudah kukatakan bahwa aku memilih bersemayam di dalam pedang itu agar energi Jayapada bisa seimbang, bersembunyi pada anakmu agar tak sampai jatuh ke tangan mahluk jahat lainnya!!"
Nyi Retnoasih terlihat murka.
"Zia, anak cucu keturunanku, aku mempercayaimu tapi kau malah mengabaikannya!!"
Nyi Retnoasih menatap tajam Zia yang tubuhnya tergetar.
"Kau tahu jika Kakek moyangmu juga mati oleh pedang itu saat berusaha menguasainya?!!!"
Nyi Retnoasih suaranya melengking, seolah merasuk ke setiap sudut otak kepala Zia.
Zia bersimpuh di lantai.
"Tak semua manusia kuat memegang pedang itu, bahkan sekelas pertapa Aji Manggala, tangannya bahkan terbakar hingga akhirnya ia mati karena energi jahat pada pedang itu menuntut nyawanya pula."
Nyi Retnoasih seolah mengingat lukanya.
Luka atas kematian suaminya.
Zia tertunduk, menyadari kesalahannya karena terbawa emosi.
Ya ia terlalu emosi melihat Zion yang begitu syok dan merasa bersalah, ia juga merasa begitu cemas melihat Aisyah yang seperti tak mampu berhenti menangisi Ali.
Belum lagi Zia juga takut Ali akan kenapa-kenapa sementara ia tahu bahwa ada jalan untuk menyelamatkannya.
Rasanya seperti makan buah simalakama, bingung Zia harus bagaimana.
"Maafkan saya Nenek... Maafkan saya."
Zia terlihat begitu menyesal.
"Aku akan segera mengajak Zizi menemui Eyang di Gunung Merapi, pedang itu harus segera dibersihkan agar tak sampai energinya merasuk pada anakmu juga."
Zia tubuhnya semakin bergetar hebat, Maria yang melihat Zia bersimpuh di lantai menjadi iba.
"Aku akan menjemput anakmu, kau tak usah ikut campur dulu untuk urusan Zizi sampai semua selesai."
Zia demi mendengar itu laksana tersambar petir.
Seorang Ibu tak boleh mengurus anaknya, sungguh ini terlalu menyakitkan.
Zia menangis menatap Nyi Retnoasih.
"Ini untuk kebaikan Zizi, jika dibiarkan ia bisa seperti Balasanggeni, atau bahkan berubah seperti Pamannya, Jaka Lengleng, menjadi siluman tamak yang jahat."
Kata Nyi Retnoasih sambil menghilang dan hanya meninggalkan aroma melati di sekitar Zia.
Maria melayang menghampiri Zia dan memeluk perempuan malang itu.
"Zizi akan baik-baik saja Nyonya, saya yakin hatinya yang baik mewarisi anda, dia pasti bisa melawan energi sejahat apapun yang ingin menguasai tubuhnya."
**-----------**
aku sdh berapa kali ngulang baca, dari "Zia" sampe " putri vampir terkhir"...
kapan lanjutannya, thor?.
sehat selalu yaa..
di dinding. buat tempat para jin
Foto aku simpen album saja