REVISI BERJALAN
Jika memang ini takdir yang dipilihkan Tuhan untukku, maka aku menerimanya dengan ikhlas.
Sejak kecil aku sudah terbiasa sendiri, bahkan disaat aku kesepian aku hanya bisa berdoa padamu.
Kini engkau hadirkan ujian baru dalam hidupku, ujian yang bahkan aku tak memintanya, tapi jika memang ini terbaik untukku, maka aku ikhlas.
Tuhan, ijinkan aku bahagia meskipun itu tidak mungkin terjadi. Ijinkan aku untuk bisa bernafas lebih lama lagi, agar aku bisa membagiakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CAPER
Setelah sampai, beberapa siswa segera berjalan beriringan menuju tempat camp. Jarak bus dengan lokasi itu cukup dekat, yaitu dengan waktu sekitar lima belas menit saja.
Mereka berjalan beriringan dengan rapi. Sesekali beberapa mahasiswa ataupun mahasiswi mengabadikan moment itu dengan berfoto ria. Ada juga yang merekam aktivitasnya dengan camera video.
Tak sengaja saat Zara membenarkan tali sepatunya, De yang berada dibelakangnya hampir menabrak tubuh Zara kembali. De terlalu asyik dengan ponselnya sehingga tidak melihat jalan di depannya.
“Sorry,” ucap De kala itu.
Sungguh hal yang tidak biasa telah dilakukan oleh De. Biasanya dia jarang meminta maaf tetapi entah angin darimana yang membuat De bersikap berbeda.
Zara pun menoleh lalu melihat ke arah atas.
“No problem.”
De bahkan mengulurkan tangannya untuk membantu Zara berdiri. Zara pun meraih tangan De. Dengan kedua mata yang masih saling menatap satu sama lain, Zara tak lupa mengucapkan terimakasih padanya dan melepaskan tautan tangan mereka.
“Thanks.”
“Your welcome.”
“Oh ya, kenalkan aku De.”
“Zara ...”
De manggut-manggut lalu mengajak Zara untuk berjalan bersama. Meskipun merasa tidak asing, tetapi Zara dan De masih berdiam dalam pemikirannya sendiri. Sampai ahirnya tepukan tangan dari Rini mengagetkan keduanya.
“Hei ...”
“Ya ampun ... ngagetin aja sih,” ucap Zara sambil mengelus dada.
Kadang-kadang Rini suka muncul di waktu yang tidak tepat, persis seperti saat ini. Sebenarnya De memang sengaja mengikuti agenda camping kali ini hanya untuk mendekati Zara. Beberapa hari tidak bertemu dengannya membuatnya gelisah.
Sejak pertemuan terahir dengannya di mall saat itu, entah kenapa De mulai tertarik pada Zara. Dari semua mahasiswi di kampusnya hanya Zaralah yang berbeda. Tentunya hanya Zara yang tidak pernah mengelu-elukan namanya dan malah terkesan cuek dan masa bodoh dengannya.
Rini yang baru saja menyadari keberadaan De disamping Zara menjadi terkejut.
Ommo ...
Rini menyikut lengan Zara.
“Awww... sakit ...” jerit Zara.
“Astoge nih anak ya...” batin Rini.
Sayangnya Zara tidak tau maksud dari kode yang diberikan Rini padanya. Maksud hati ingin mencari informasi tentang keberadaan De disamping Zara, tetapi malah membuat De ilfil kepadanya.
“Apa yang sakit Zara?”
“Eh ga ada apa-apa kok, santai aja ... tadi ada nyamuk gigit,” kilahnya.
“Owh ...”
Rini yang gemes karena tidak dianggap, maka ia pun memperkenalkan dirinya pada De.
“Hei aku Rini, sahabat Zara ...” ucap Rini sambil mengulurkan tangannya ke arah De, tetapi sama sekali tidak disambut olehnya.
“Hai, aku De ...”
“Astaga ... nih cowok minta digeprek apa ya, orang tangan gue juga bersih eh kagak disambut,” omelnya dalam hati.
“Ya dah yuk jalan lagi, keburu ditinggal anak-anak yang lain,” seru Zara.
“Ayo ...”
Rini pun mengalungkan tangannya ke leher Zara sembari berjalan bersama. Sedangkan De mengekor di belakang mereka.
Tiba-tiba saja De dikejutkan oleh salah satu teman satu angkatannya. Ia juga mengajak De untuk pergi terlebih dahulu karena para panitia dan asdos ada meeting mendadak. Dengan tidak enak hati ia pun permisi pada Zara.
Setelah De pergi menjauh, Rini mulai bertanya-tanya pada Zara sejak kapan ia mulai dekat dengan De. Ia pun memberondongnya dengan puluhan pertanyaan yang hanya ditanggapi santai olehnya.
"Zaraaaa ... ih loe gak asik deh, orang ditanyain macam-macam jawabnya cuma hm doang!"
"Ya mau jawab apalagi, emang gitu kok."
Lagi pula Zara sama sekali tidak tertarik pada De. Ia lebih fokus pada kesehatannya ketimbang masalah percintaan.
Rini yang dongkol karena tidak menemukan jawaban yang pasti dari semua pertanyaannya ahirnya memilih bungkam dan berjanji untuk mencari tau sendiri di lain hari.
Matanya pun mengamati keadaan disekitarnya, ternyata banyak view yang bagus. Seketika ia pun ingin mengabadikannya, tentunya lewat bantuan Zara.
“Zara ... Zara ... lihat pemandangan disana bagus sekali,” ucap Rini kegirangan.
"Hmm ..."
“Potoin gue dong!
Zara menoleh, “Iya, iya nona cantik!”
Ia pun meraih ponsel Rini yang ia ulurkan padanya. Di seberang sana, dengan anggunnya Rini melenggak lenggok sambil berpose. Untungnya mereka sudah dekat dengan lokasi base camp. Jadi Zara mau membantu Rini untuk mengambil fotonya.
Cekrek
Cekrek
Cekrek
“Sudah ya, udah banyak kok!”
“Eh, masa iya? coba liat!" serunya.
Rini pun mengamati hasil jepretan kamera bidikan Zara. Terlihat jelas hasilnya sangat bagus. Ia pun menawari Zara agar mau diambil fotonya juga, tetapi Zara menolak dengan halus.
"Makasih sayangku, aku gak usah, kamu aja!”
Samar-samar dari arah base camp, terdengar suara pengumuman yang memanggil semua peserta camp untuk segera berkumpul.
“Pengumuman!!!"
"Seluruh peserta camping angkatan D1 dan D2 segera berkumpul!” seru ketua panitia.
Setelah pengumuman selesai, terlihat banyak para peserta camping yang sudah berkumpul. Sebelum acara dimulai semuanya diberi arahan sekali lagi sekaligus untuk menentukan dimana letak masing-masing tenda.
Untuk tenda putri berada di dekat dengan tenda guru dan panitia. Sedangkan tenda putra ada di sebelah kanan.
Lokasi tenda putra dekat dengan sungai. Hal itu untuk memudahkan para mahasiswa yang sering buang air kecil. Sedangkan kenapa tenda mahasiswi berada ditengah, karena hal itu sebagai bentuk perlindungan dari para panitia disana.
Mereka mengantisipasi agar mahasiswi terasa aman dan nyaman ketika berada di tengah-tengah penjagaan. Lagi pula ini adalah hutan, tidak tau bagaimana keadaanya jika sudah berubah menjadi malam hari.
.
.
.
...⚜⚜⚜...
...Mansion Lily...
"Bagaimana perjalanan Zara?"
"Nona Zara sampai di tempat camp dengan selamat nyonya besar."
"Bagus, awasi saja dari kejauhan, jangan sampai ia curiga akan keberadaan kita."
"Oh ya nyonya, salah satu pengawal melihat keberadaan tuan Louis Abraham juga ikut dalam acara tersebut."
"Oh ya? berita bagus. Kalau begitu tunggulah bonus akan ditransfer dua kali untukmu dan juga biaya kuliah adikmu!"
"Terimakasih nyonya besar."
"Hmm."
.
.
.
...⚜⚜⚜...
...Kediaman Alfonso...
"Brian ...."
"Iya nek, ada apa?"
"Duduklah disini, nenek mau bicara."
"Iya!"
Ia pun mulai duduk di sebelah neneknya sembari kedua tangannya dipegang sang nenek. Mata tua itu memandangi cucu laki-lakinya yang jarang sekali bisa menetap di Indonesia.
Beruntung, kemarin saat ayahnya Brian memberi tau kalau ia sudah lulus kuliah dan sedang mencari kerja, di perusahaan miliknya sedang membutuhkan salah seorang karyawan baru.
Tercetuslah ide untuk memberikannya pada Brian. Lagi pula saat ini ia sedang mencari pekerjaan di sela-sela masa liburannya. Neneknya berharap suatu saat nanti keluarga besarnya bisa kembali ke tanah air dan hidup bersama di rumah besarnya.
Terlihat sekali kalau rumah itu terlihat sepi, meskipun ada banyak pelayan dan pekerja dirumah itu. Sejak Brian hadir, setidaknya sudah memberikan warna tersendiri di rumah itu.