NovelToon NovelToon
Fitnah Dibalik Gaun Pengantin

Fitnah Dibalik Gaun Pengantin

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Anak Genius / Mafia
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Naomi Clarisse tak pernah iri pada kehidupan sang kakak. Meski selalu dibandingkan dan diperlakukan tidak adil, ia memilih bekerja keras demi keluarganya.
Namun hidupnya berubah dalam semalam ketika Alicia Grace, kakaknya sendiri, menjebaknya di kamar hotel bersama Nathaniel Wijaya, pewaris keluarga mafia yang dikenal dingin dan tak mengenal ampun.
Sebuah fitnah menghancurkan nama baik Naomi. Di saat Alicia menghilang bersama pria pilihannya, Nathaniel yang dipenuhi amarah memaksa Naomi menggantikan posisi sang kakak di altar pernikahan.
Pernikahan itu adalah hukuman bagi Nathaniel.
Dan mimpi buruk bagi Naomi.
Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, Naomi harus memilih: terus menjadi korban, atau melawan demi mengungkap dalang di balik fitnah yang telah merenggut hidupnya.

Tunggu kelanjutannya hanya di Novel Toon atau Manga Toon.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suara Yang Tak didengar

Pagi itu, suasana di Harapan Bangsa International School tampak seperti biasanya. Mobil-mobil mewah berjejer rapi di depan gerbang sekolah. Para siswa berseragam putih abu-abu berjalan memasuki area sekolah sambil bercanda dengan teman-teman mereka. Beberapa guru berdiri di depan lobi menyambut para murid yang datang.

Sebuah mobil hitam berhenti di depan gerbang. Leon turun tanpa banyak bicara. Tas ranselnya hanya disampirkan di satu bahu, sementara kedua tangannya langsung masuk ke saku celana.

"Leon!"

Seorang teman menghampirinya sambil tersenyum. "Nanti jam istirahat main basket, ya?"

Leon mengangguk singkat. "Lihat nanti."

Tanpa menunggu balasan, ia berjalan menuju gedung kelas. Di balik wajah dinginnya, tak ada seorang pun yang tahu pikirannya sesekali masih teringat pada bekal makan siang kemarin.

"Ck..." Leon langsung menggeleng pelan. "Aku ini kenapa, sih?"

Ia mempercepat langkahnya, seolah ingin mengusir pikiran yang terus mengganggunya.

Jam pelajaran berlangsung seperti biasanya. Suara guru yang menjelaskan materi masih terdengar memenuhi ruang kelas, sesekali diselingi suara spidol yang bergesekan dengan papan tulis. Leon duduk di bangku paling belakang dekat jendela. Tatapannya sesekali mengarah ke luar kelas, memperhatikan pepohonan yang bergoyang pelan tertiup angin.

Singkat cerita pelajaran sudah usai tanpa sadar bel istirahat berbunyi.

Teng...

Teng...

Teng...

Semua murid berhamburan keluar sementara

Leon baru saja keluar ketika telinganya menangkap suara seseorang menangis dari arah lorong belakang.

"Heh!"

"Kalau disuruh jawab, jawab!"

Leon menoleh sekilas. Di sudut koridor tampak tiga siswa kelas sebelas mengelilingi seorang anak laki-laki bertubuh kecil.

Seragam remaja itu kusut. Tas sekolahnya sudah terjatuh ke lantai. Salah satu siswa yang bertubuh paling besar mendorong bahunya cukup keras.

Bruk!

Tubuh remaja itu membentur dinding.

"Ampun..."

"Aku nggak sengaja...."

"Bohong!"

Plak!

Sebuah buku dilempar mengenai kepala anak itu. Beberapa siswa yang lewat hanya melirik sekilas.

Tak ada yang berani mendekat. Leon menghela napas pelan. "Nggak ada kerjaan...."

Ia berniat berjalan pergi. Namun langkahnya mendadak berhenti.

Remaja itu berbisik lirih dengan suara bergetar. "Tolong...."

Entah mengapa. Satu kata itu membuat dada Leon terasa sesak. Bayangan dirinya beberapa tahun lalu muncul begitu saja. Saat pertama kali masuk sekolah. Ia juga pernah berdiri sendirian, tak ada yang membela ataupun menolongnya.

"Ck...." Ia berbalik.

"Lepaskan dia."

Suara datarnya membuat ketiga siswa itu menoleh bersamaan. Salah satu dari mereka menyeringai.

"Wah..."

"Tuan Muda Wijaya mau jadi pahlawan?"

Leon menatap mereka tanpa ekspresi. "Aku bilang lepaskan."

"Bukan urusanmu."

"Mulai sekarang jadi urusanku." Kalimat itu membuat suasana mendadak hening.

Siswa bertubuh besar tertawa mengejek. "Kalau nggak mau?"

Leon melangkah mendekat. "Jangan paksa aku mengulang."

Belum sempat siapa pun bereaksi...

Brak!

Siswa itu justru lebih dulu mendorong bahu Leon.

"Apa yang mau kau lakukan?"

Leon hanya menatapnya datar tapi detik berikutnya, remaja yang sejak tadi dibully kembali didorong hingga terjatuh.

Bruk!

Keningnya membentur sudut bangku. Darah tipis mulai mengalir. Leon langsung mengepalkan tangan.

"Cukup."

"Kalau tidak?"

Bug!

Sebuah pukulan mendarat tepat di pipi Leon.

Suasana koridor berubah ricuh. Leon yang sejak tadi berusaha menahan diri akhirnya membalas.

Bug!

Pukulannya mengenai wajah siswa itu hingga tubuhnya terhuyung.

"Heh! Berani-beraninya!"

Dua siswa lain langsung ikut menyerang. Dalam hitungan detik perkelahian tak terhindarkan.

"Berhenti!"

Suara guru olahraga menggema memenuhi koridor. Semua siswa langsung membubar beberapa guru berlari menghampiri.

"Pisahkan mereka!"

Leon melepaskan kerah lawannya. Napasnya memburu. Sudut bibirnya sedikit robek. Sementara siswa yang tadi membully kini memegangi bibirnya yang berdarah.

Guru langsung membawa mereka ke ruang BK koridor kembali sunyi. Namun bisik-bisik para siswa mulai terdengar.

"Itu Leon lagi...."

"Katanya dia mukul anak kelas sebelas."

"Berani banget."

Tak seorang pun mengetahui bagaimana perkelahian itu sebenarnya dimulai. Yang mereka lihat hanya satu. Leon berkelahi.

☘️☘️☘️☘️

Sementara itu...Di sebuah gedung perkantoran megah di pusat kota Nathan sedang memimpin rapat bersama jajaran direksi presentasi baru saja dimulai ketika ponselnya bergetar.

Layar menunjukkan nomor dari sekolah Leon.

Nathan mengernyit. Biasanya pihak sekolah tidak pernah menghubunginya saat jam kerja.

"Permisi sebentar."

Ia keluar dari ruang rapat. "Ya."

Suara perempuan terdengar dari seberang. "Selamat siang, Pak Nathan. Saya Wakil Kepala Sekolah Harapan Bangsa."

Nathan langsung memasang wajah serius. "Ada apa?"

"Kami ingin menyampaikan bahwa hari ini Leon terlibat perkelahian."

Rahang Nathan langsung mengeras. "...Apa?"

"Seorang siswa mengalami luka di bagian bibir akibat pukulan Leon."

Nathan memejamkan mata beberapa detik. "Bawa ke rumah sakit kalau perlu."

"Sudah kami tangani, Pak. Kami berharap besok Bapak dapat hadir ke sekolah."

Nathan menarik napas panjang. "Baik."

Telepon berakhir. Beberapa saat ia hanya berdiri memandang jendela gedung tinggi itu. Wajahnya berubah dingin.

"Sampai kapan anak itu akan terus membuat masalah...."

☘️☘️☘️☘️☘️

Sore hari... Mobil Nathan melaju jauh lebih cepat dari biasanya sepanjang perjalanan tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya begitu mobil berhenti di halaman mansion, ia langsung turun tanpa menunggu pelayan membuka pintu.

Langkahnya panjang. Wajahnya dipenuhi kemarahan yang sejak siang ditahannya. Para pelayan yang melihatnya langsung saling berpandangan.

Mereka tahu. Tuan muda sedang marah Nathan membuka pintu utama.

Brak!

Suara pintu yang terbuka keras membuat seluruh penghuni rumah menoleh Alan menghentikan bacaannya. Rieke mengangkat wajah. Naomi yang baru keluar dari dapur ikut terdiam.

"Nathan?"

Namun Nathan sama sekali tidak menjawab. Dengan suara berat yang menggema ke seluruh ruangan, ia memanggil satu nama.

"LEON!"

Suasana mansion mendadak membeku. Beberapa detik kemudian. Terdengar suara langkah kaki dari lantai dua. Leon muncul di ujung tangga.

Ekspresinya tetap datar. Nathan menatap putranya tajam.

"Turun."

Leon menurut tanpa sepatah kata pun begitu berdiri di hadapan ayahnya Nathan langsung melemparkan sebuah map ke atas meja.

Brak!

"Jelaskan!"

Leon melirik isi map itu sekilas Surat laporan dari sekolah Nathan mengepalkan rahangnya.

"Kau berkelahi lagi! Apa kau memang tidak pernah bisa membuatku tenang?"

Leon tetap diam tapi tidak dengan melihat putranya membisu, emosi Nathan semakin memuncak.

"Aku bicara!"

"Kenapa kau memukul temanmu?"

Leon masih tidak menjawab tangannya perlahan mengepal di balik saku celana.

Nathan melangkah semakin dekat. "Kau benar-benar mengecewakanku."

Ucapan itu membuat Naomi yang sejak tadi berdiri di dekat ruang makan perlahan menundukkan kepala.

Pemandangan di hadapannya terasa begitu familiar dulu setiap Alicia menangis. Mamanya juga langsung memarahinya seperti ini.

tanpa bertanya ataupun mendengar apalagi

memberinya kesempatan menjelaskan. Jemarinya perlahan mengepal. Ia menarik napas panjang. Lalu melangkah maju satu langkah.

"Maaf, Tuan...."

Nathan menoleh tajam. "Apa?"

Naomi menatap Nathan dengan tenang, meski jantungnya berdegup jauh lebih cepat dari biasanya. "Sebelum Tuan menghukumnya..."

Ia berhenti sejenak. "Bolehkah... kita mendengar penjelasan Leon terlebih dahulu?"

Nathan membeku. Seluruh pelayan ikut menahan napas. Tak seorang pun menyangka. Perempuan yang baru beberapa hari tinggal di mansion itu berani menghentikan kemarahan Nathan Wijaya.

Bersambung...

1
Nar Sih
brati ada penyusup msuk suruhan alicia ,
Nar Sih
mungkin kah satpam tersebut suruhan alicia ,untuk memata,,i naomi hnya kak ayu yg tau
guest1053527528
siapa yg mata2 Thor dan semoga Naomi segara dapat orangx
Nar Sih
semagat nathan dan naomi💪
Nar Sih
semagat 💪 nathan ,cpt selesai kan mslh mu dgn si adrian biar semua nya tenang
Nar Sih
semagat naomi💪
Nar Sih
cerita lah pada nathan ,naomi tentang ancaman alicia mingkin suami mu bisa membantu mslh ini
mama
apa aq bilang nathan itu CEO terbodoh🤣..ada musuh di dlm perusahaan aj gk tau🤭..setelah bangkrut baru dah tau si nathan klu musuh ny ad dideket ny🤣
Nar Sih
hti,,nathan musuh di dekat mu ,waspadalah
Nar Sih
siap kak semoga lolos di 20 bab💪
Ayumarhumah: Aamiin Kak ....🤲🤲🤲🤲
total 1 replies
Nar Sih
satu mslh tentang msa lalu natan dan alicia sgra terungkap
Mita Paramita
bahasa Naomi manggil Nathan tuan terlalu baku jadi kesan ny kayak majikan dan budaknya 🤣🤣🤣
Ayumarhumah: biarkan saja kak nanti ada saatnya berubah🤣🤣🤣
total 1 replies
Nar Sih
sip naomi sgra kirim poto kakak mu ke suami mu biar tau
Mita Paramita
ternyata Nathan duda beranak satu ya🤣🤣🤣
Mita Paramita
Alicia kakak laknat 🤣🤣🤣jebak adiknya sendiri
Nar Sih
semoga ini awal perubahan yg lebih baik dari suami mu naomi
Nar Sih
semoga dgn selesai dan terbongkar nya mslh leon yg ngk berslh ,bisa membuat hubungan ayah dan ank lebih baik lgi
mama
hmmm dasarnya kepala sekolah ny oon pisan,makany jgn asal nuduh duluu... cek lah CCTV-nya biar gk asal main hukum aj tu si nathan dan marah2 leon
Nar Sih
ahir nya kbnran terungkap ,dan bnr kan kata naomi ,leon gk slh ,natan yg kurang perhaitaan ke putra nya yg bikin leon diam
Oma Gavin
makanya nathan jadi ortu jangan arisan merasa dirimu selalu benar snak sendiri jadi korban sekarang rasakan leon sudah terlanjur membenci mu sampai kapanpun ingatan leon tetap ada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!