Author kembali dengan cerita lebih menantang,ingat ya dilarang meniru karya hasil buatan asli author. Up setiap hari dijam yang sama😍
Bagaimana jadinya jika kamu terjebak di dalam kisah tragis yang kamu tulis sendiri?
Anna, seorang penulis novel, mendadak terseret masuk ke dalam naskah terbarunya yang berjudul Transmigrasi: Menjadi Istri Tiga Pangeran Kejam. Ia terbangun dalam wujud tokoh utama wanita—seorang istri yang diabaikan, dianggap buruk rupa, dan dibenci oleh tiga pangeran berdarah dingin.
Mengetahui plot mengerikan yang menanti di depan mata, Anna harus memutar otak. Bisakah sang penulis menjinakkan tiga pangeran kejam ciptaannya, atau justru ia akan mati di tangan karakter yang ia buat sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamparan Kebenaran dan Retaknya Persaudaraan
"Lebih baik diam saja. Apa yang dikatakan orang itu ada benarnya..." ucap salah satu dari mereka dengan nada gemetar setelah kepergianku, membuat yang lainnya terdiam kaku.
Aku tidak lagi memedulikan mereka. Pikiranku telah sepenuhnya tertuju pada perjalanan yang tersisa. Entah bagaimana kondisi Mo Jiu sekarang, semoga saja dia masih bisa bertahan dan tabib mampu menjaga stabilitas nyawanya. Doa-doa kecil terus kupanjatkan di sepanjang jalan yang kian menanjak dan dingin.
Sementara itu, di kediaman Jianwu, situasi justru kian memburuk. Keadaan Mo Jiu menurun drastis; pria tangguh itu kini terbaring tak berdaya, bahkan beberapa kali memuntahkan darah segar yang membuat suasana kamar menjadi mencekam. Hou Juntian dengan sigap memerintahkan tabib untuk segera memberikan tindakan darurat.
"Kakak Pertama, bertahanlah. Ning'er sedang mempertaruhkan nyawanya mencari penawar untukmu," bisik Juntian, suaranya sarat akan harapan yang rapuh.
Di tengah ketegangan tersebut, Shen Changge melangkah masuk dengan santai, seolah tidak terjadi apa pun yang genting. "Sandi, bagaimana keadaan Kakak Pertama? Lalu, ke mana Tang Anning? Kenapa aku tidak melihatnya sejak pagi tadi?" tanyanya dengan nada yang acuh tak acuh.
Shen Changge benar-benar tidak tahu bahwa di luar sana, Tang Anning sedang berpacu melawan maut demi menyelamatkan nyawa saudaranya.
"Kau bodoh, atau memang berpura-pura tidak tahu?" sahut Hou Juntian dengan suara dingin yang sedingin es. "Tang Anning pergi mencari penawar untuk Kakak Pertama."
Juntian tidak pernah bersikap sedingin ini kepada Shen Changge sebelumnya. Namun, kemarahan yang ia pendam selama ini akhirnya meledak.
Shen Changge mendengus sinis, wajahnya menunjukkan ketidaksukaan yang nyata. "Pergi? Dia meninggalkan kita di saat Kakak Pertama sedang sekarat? Benar-benar istri yang tidak tahu diri!"
Plak!!
Sebuah tamparan keras mendarat tepat di wajah Shen Changge, membuat kepalanya tersentak ke samping. Suara tamparan itu begitu nyaring, memecah ketegangan di dalam ruangan. Hou Juntian berdiri dengan napas memburu, matanya menatap tajam ke arah Shen Changge dengan kebencian yang tidak bisa ia tutupi lagi.
"Jaga bicaramu, Changge!" desis Juntian dengan nada mengancam. "Dia pergi bertaruh nyawa sementara kau di sini hanya tahu menuntut dan meremehkannya. Jika kau berani menghinanya sekali lagi, jangan salahkan aku jika aku lupa bahwa kita bersaudara!"
Suasana di kamar itu menjadi sangat dingin. Shen Changge memegang pipinya yang mulai membiru, menatap Juntian dengan tatapan tidak percaya.
Kepercayaan yang selama ini merekatkan ikatan persaudaraan mereka kini tampak retak, dipicu oleh ketidaktahuan dan ego yang dibenturkan dengan pengorbanan yang tidak terlihat oleh mata mereka.
Di balik dinding kamar itu, nasib kediaman Jianwu kini seolah berada di ujung tanduk, menunggu kepulangan seorang wanita yang sedang berjuang sendirian di puncak gunung salju.
Shen Changge mengusap sudut bibirnya yang berdarah dengan kasar, matanya membelalak tak percaya. "Kenapa kau memukulku? Bukankah benar Tang Anning pergi meninggalkan kita saat kita sedang dalam kesulitan?" tanyanya, suaranya meninggi, mencoba mempertahankan harga dirinya meski berada di bawah tekanan amarah Juntian.
Suara teriakan itu rupanya terdengar oleh Mo Jiu yang meski dalam keadaan sekarat, ia berusaha bangkit.
"Asal kau tahu, Shen Changge," suara Mo Jiu yang lirih namun menusuk memotong protesan tersebut. "Tang Anning pergi mempertaruhkan nyawanya demi mencari penawar untukku. Kau yang bermulut sampah tidak layak sedikit pun menghina wanita yang sedang berjuang demi kesetiaan kami."
Kemarahan Hou Juntian yang meluap-luap menjadi pukulan mutlak bagi Shen Changge. Ia tak pernah menyangka bahwa sikapnya yang angkuh justru membawanya ke titik terendah dalam hubungan persaudaraan mereka.
"Pengawal!" seru Juntian tanpa memalingkan wajahnya dari Changge.
"Ya, Tuan Jenderal," jawab pengawal yang muncul dengan sigap.
"Bawa Tuan Muda Shen ke aula leluhur sekarang juga! Paksa dia berlutut di sana selama tiga hari tiga malam. Jangan beri dia makan atau minum sebelum dia benar-benar merenungkan betapa busuknya perilaku dan pikiran yang ia miliki," perintah Juntian dengan suara dingin yang mutlak.
Keputusan Hou Juntian kali ini dirasa sudah sangat tepat. Bahkan Mo Jiu, dengan wajahnya yang masih sepucat mayat, tertatih-tatih mendekati Changge.
"Shen Changge, selama ini Anning mencintai kita tanpa peduli bahwa nyawanya menjadi taruhan. Dia tetap bertahan meski kita mengabaikannya di malam pernikahan, bahkan setelah kau menyakiti hatinya berkali-kali dengan membawa wanita lain ke rumah ini," ujar Mo Jiu dengan nada penuh penyesalan yang mendalam.
Mo Jiu menatap tajam ke arah Changge, menegaskan pendiriannya meski napasnya tersengal-sengal. "Kami berdua berharap kau segera menyadari kesalahanmu dan menyesal. Namun, jika kau merasa masih tidak bisa menghargai ketulusannya, maka ceraikanlah Tang Anning. Biarkan dia bebas dari pria yang tidak tahu cara menghargai permata di depan matanya sendiri."
Ruangan itu mendadak sunyi. Shen Changge terpaku, kata-kata mereka menghantam nuraninya lebih keras daripada tamparan Juntian tadi. Untuk pertama kalinya, benih keraguan mulai tumbuh di hati pria itu; apakah selama ini ia benar-benar telah membuang sosok yang paling tulus mencintainya?
Sementara itu, jauh di puncak gunung salju yang dingin, Tang Anning masih berjuang sendirian, tidak tahu bahwa di rumah, sebuah badai penyesalan sedang mulai menghancurkan hati orang-orang yang selama ini menyia-nyiakannya.
Di istana, suasana berubah drastis saat Putra Mahkota menerima laporan dari pengawal pribadinya yang bertugas memantau pergerakan Tang Anning. Sang Putra Mahkota terperangah, jemarinya mencengkeram erat sandaran kursi kerajaannya hingga buku jarinya memutih setelah mendengar bahwa Anning nekat pergi ke Gunung Salju.
"Apa yang kau katakan benar?" tanyanya dengan nada tidak percaya. "Tang Anning... dia lebih memilih membahayakan nyawanya sendiri daripada kehilangan suaminya?"
Putra Mahkota benar-benar tidak menyangka bahwa sahabat masa kecilnya itu, yang selama ini ia tahu memiliki kehidupan rumah tangga yang dingin, kini justru rela mempertaruhkan segalanya demi memperjuangkan suami yang sedang sekarat karena racun.
Ada rasa sakit yang tersembunyi di balik keterkejutannya, sebuah pengakuan bahwa Anning ternyata memiliki kedalaman perasaan yang selama ini tidak pernah ia perhitungkan.
"Hamba berkata benar, Yang Mulia," jawab pengawal itu dengan kepala tertunduk. "Selain itu, Pangeran Shen Changge justru membawa selirnya kembali ke kediaman Jianwu di saat-saat kritis ini."
Mendengar hal itu, api kemarahan seolah tersulut di mata sang Putra Mahkota. Sifat Shen Changge yang tidak peka dan sembrono benar-benar melampaui batas toleransinya.
"Siapkan kereta! Kita pergi ke kediaman Jianwu, sekarang juga!" titah Putra Mahkota dengan suara yang penuh wibawa namun menyimpan ancaman tersirat.
"Baik, Yang Mulia!"
Tak lama berselang, iring-iringan Putra Mahkota tiba di depan gerbang kediaman Jianwu. Penjaga gerbang yang melihat bendera kebesaran istana seketika panik dan segera melapor kepada Hou Juntian.
Di dalam kediaman, berita kedatangan mendadak Putra Mahkota membuat suasana yang sudah tegang menjadi semakin mencekam. Hou Juntian, yang baru saja selesai menghukum Shen Changge, kini harus menghadapi tamu agung yang kedatangannya tidak lain adalah untuk menuntut keadilan bagi Tang Anning yang sedang berjuang mati-matian di puncak gunung sana.
Apakah kedatangan ini akan menjadi penyelamat bagi Anning, atau justru akan membawa konflik baru ke dalam kediaman yang sudah retak ini?
Terimakasih yang sudah spam like.
author punya give away buat kalian sebagai pembaca setia.
author akan masukin nama kalian sebagai karakter didalam novel author.
bagaimana? jika kalian setuju like komen author atau balas komen author "Setuju".
pastinya seru nama kalian jadi karakter dinovel author🥰🥰
ditunggu ya😍
Terima kasih sudah membaca Transmigrasi: Menjadi Istri Tiga Pangeran Dingin. Semoga kalian menikmati setiap bab yang Author tulis.
Jika kalian menyukai cerita ini, jangan lupa beri dukungan dengan like, komentar, dan vote agar Author semakin semangat melanjutkan kisah Tang Anning dan para tokohnya. 💖
Mohon maaf ya kalau untuk saat ini Author hanya bisa update 2 bab per hari. Bukan karena tidak ingin update lebih banyak, tetapi karena Author menulis cerita ini terlebih dahulu di buku tulis, lalu menyalinnya satu per satu ke aplikasi. Jadi prosesnya memang membutuhkan waktu.
Terima kasih atas kesabaran, dukungan, dan semangat yang selalu kalian berikan. Semoga kita bisa terus menikmati perjalanan cerita ini bersama. 🤗✨
Salam manis,
Author Diah Nation29 🌸