Menceritakan soal pemuda bernama Lucien yang dulu dikenal sebagai Ash van Astoria, pangeran keempat yang dibuang karena dianggap gagal. Tidak punya sihir, dihina keluarganya sendiri, lalu dijatuhkan ke jurang demi menjaga "harga diri" kerajaan.
Tapi bukannya mati, ia justru dipilih oleh konstelasi kuno, Ophiuchus.
Sejak saat itu, hidupnya berubah.
Lucien mendapatkan kekuatan langka, kemampuan untuk memanggil dan mewarisi kekuatan dari para rasi bintang. Namun setiap konstelasi hanya akan memberikan kekuatannya kepada orang yang mereka akui.
Ditemani Chiron dari Konstelasi Centaurus, Lucien memulai perjalanan untuk menjadi lebih kuat, menaklukkan ujian para bintang, dan membuktikan kalau "sampah" yang dibuang kerajaan… bisa bersinar paling terang.
Dan ini baru permulaan.
Karena suatu hari nanti, 88 konstelasi akan menjadi kekuatannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluar Dari Jurang
Butuh beberapa saat sebelum Luc akhirnya berhasil menarik dirinya naik ke atas tepian jurang.
Tangannya mencengkeram rumput liar yang tumbuh di pinggir tebing, sementara lututnya menekan tanah yang masih basah akibat hujan. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, ia menyeret tubuhnya menjauh dari bibir jurang sebelum akhirnya menjatuhkan diri telentang di atas rerumputan.
Napasnya terdengar berat. Dada Luc naik turun cukup cepat, bukan hanya karena kelelahan, tetapi juga karena perasaan lega yang perlahan memenuhi dirinya.
Ia memandangi langit yang luas. Awan putih bergerak perlahan diterpa angin, sementara sinar matahari menyentuh wajahnya dengan hangat.
Luc mengangkat satu tangannya ke atas, seolah ingin memastikan bahwa semua ini benar-benar nyata.
"Haft~" embusnya pelan.
Beberapa detik kemudian, sudut bibirnya mulai terangkat. Sampai akhirnya ia tiba-tiba bangkit berdiri.
"Akhirnya aku bisa bebas!!!" teriak Luc sambil mengangkat kedua tangannya ke udara. Wajahnya dipenuhi kegembiraan yang sulit disembunyikan. "Aku keluar dari jurang sialan itu! Aku masih hidup!"
Ia berputar menghadap ke arah hutan, lalu kembali menatap langit dengan mata berbinar.
"Aku bisa lihat matahari lagi!" serunya penuh rasa syukur. "Aku bebas, dasar jurang sialan!"
Di belakangnya, Lea yang baru saja berhasil memanjat naik langsung tersentak kaget mendengar teriakan itu.
"Apa sih?!" protes Lea sambil refleks menoleh ke arah Luc.
Namun karena perhatiannya teralihkan, pijakan kakinya sedikit meleset. Tubuhnya langsung kehilangan keseimbangan.
"E-Eh?" serunya panik.
Lea melambaikan kedua tangannya dengan wajah pucat saat tubuhnya miring ke arah jurang. "T-Tunggu! Tunggu bentar!" teriaknya dengan suara gemetar.
Luc yang masih berdiri dengan kedua tangan terangkat langsung membeku.
"Eh...?"
Matanya membelalak saat menyadari apa yang sedang terjadi.
"WOI?!"
Tanpa berpikir panjang, Luc langsung menjatuhkan dirinya ke tanah dan meraih tangan Lea yang terulur ke arahnya.
Brak!
Tubuh Luc terseret beberapa senti di atas tanah yang licin.
"Aduh!" ringisnya sambil menggertakkan gigi. "Jangan lepas!"
"Memangnya aku mau mati sampe lepasin tanganmu?!" balas Lea dengan suara hampir menangis.
Luc mengerahkan seluruh tenaganya untuk menarik Lea ke atas.
Setelah beberapa detik yang terasa sangat lama, akhirnya tubuh Lea berhasil terangkat dari bibir jurang.
Bruk!
Lea terjatuh tepat di atas Luc.
"Ugh..." keluh Luc dengan napas tertahan.
Sementara itu, Lea masih memejamkan matanya erat-erat sambil mencengkeram baju Luc dengan kedua tangan.
Beberapa saat berlalu sebelum Lea perlahan membuka matanya. "Aku masih hidup?" tanyanya pelan dengan suara tidak percaya.
"Iya," jawab Luc lemah sambil memandang ke atas. "Tapi kalau kamu nggak turun, kayaknya aku yang bakal mati."
Lea berkedip beberapa kali. Lalu ia menyadari posisi mereka. Tubuhnya berada tepat di atas Luc. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Mata ungu cerah Lea membelalak. Wajahnya langsung memerah.
"Kyaaah!" serunya sebelum buru-buru bangkit.
Dalam kepanikannya, sikunya tanpa sengaja menghantam perut Luc.
"Gah!" Luc langsung meringkuk sambil memegangi perutnya. "Kenapa kau menyikutku?!"
"Itu salahmu!" balas Lea dengan wajah merah padam.
"Apanya yang salah?!" protes Luc sambil menatapnya tidak percaya.
"Kamu teriak tiba-tiba!" jawab Lea kesal. "Aku jadi kaget!"
"Itu karena aku senang!" balas Luc membela diri.
"Ya jangan teriak kayak orang kesurupan!"
Luc hanya bisa meringis sambil mengusap perutnya.
Setelah rasa sakitnya sedikit mereda, ia kembali menoleh ke arah jurang yang menganga di belakang mereka.
Ekspresinya perlahan berubah. Tidak lagi dipenuhi kepanikan atau keluhan seperti biasanya. Hanya ada rasa lega.
Jurang itu telah merenggut segalanya darinya. Ia dibuang ke sana untuk mati. Ia bertemu Chiron di tempat itu. Belajar bertarung. Menjalani ujian para konstelasi. Bahkan bertemu Lea.
Begitu banyak hal yang terjadi dalam waktu yang terasa singkat.
Luc kembali mendongak menatap langit. "Akhirnya," gumamnya pelan sambil tersenyum kecil, "aku benar-benar keluar dari sana."
Lea yang masih duduk di sampingnya ikut memandang langit.
Angin sejuk menyapu rambut silvernya yang masih sedikit basah.
Ekspresi kesalnya perlahan melunak. "Ya," sahut Lea sambil tersenyum tipis. "Akhirnya kita berhasil keluar."
Luc mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya merebahkan diri kembali di atas rumput. Namun beberapa detik kemudian, ia kembali duduk tegak.
"Ngomong-ngomong..." ujarnya sambil menoleh ke arah Lea. "Kita akan kemana sekarang?"
Lea menunjuk ke arah barat. "Kalau kita berjalan sekitar setengah hari ke arah sana, kita akan sampai ke desa perbatasan milik manusia."
Luc kembali mendongak ke langit sambil memikirkan berbagai macam hal. Desa manusia. Makanan yang layak. Kasur yang empuk. Mandi air hangat. Semua hal yang dulu terasa biasa saja kini terdengar seperti surga.
Mata Luc perlahan berbinar. "Lea," panggilnya dengan wajah serius.
"Apa?"
"Di desa nanti..."
Lea memiringkan kepalanya.
"Aku mau makan sampai Kenyang."
Keheningan berlangsung selama beberapa detik.
Lalu Lea tertawa kecil. "Kirain mau ngomong sesuatu yang penting."
"Itu penting!" protes Luc sambil berdiri. "Aku udah makan jamur mentah berhari-hari! Aku mau roti! Mau daging! Mau sup! Mau makanan normal!"
Lea tersenyum sambil ikut berdiri. "Kalau begitu ayo jalan," ujarnya sambil menepuk-nepuk pakaiannya. "Kalau berangkat sekarang, kita bisa sampai sebelum malam."
Luc langsung menoleh ke arahnya. "Ayo!"
Untuk pertama kalinya sejak dibuang ke jurang, langkah mereka tidak lagi menuju kegelapan yang tidak diketahui.
Di hadapan mereka terbentang jalan menuju dunia luar. Menuju desa perbatasan. Menuju kehidupan baru yang belum mereka ketahui. Dan meskipun perjalanan itu pasti tidak akan mudah, Luc melangkah maju dengan senyum lebar di wajahnya.
Karena kali ini, ia tahu ke mana harus pergi. Dan ia tidak perlu berjalan sendirian