Judul lama : Diagnosis: Falling For You
dr. Narendra Adiwijaya, Sp.B adalah putra tunggal dari keluarga konglomerat, Narendra dipersiapkan sejak kecil untuk menjadi penerus Adiwijaya Healthcare Group. Tuntutan tinggi tersebut membentuk Narendra menjadi pria kaku, dominan, dingin.
dr. Nayla Kartikasari, Sp.A adalah anak pertama dari pasangan Arga Dewantara dan Citra Kirana, memiliki seorang adik bernama Bintang. Nayla memiliki sifat yang hangat, ekspresif, namun bermental baja menjadikannya dokter yang disukai oleh anak anak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naila fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecan Pertama
Pukul dua siang, sebuah pesan singkat dari nomor tidak dikenal masuk ke ponsel Nayla.
Ke ruangan saya di Lantai 5 sekarang. Ada hal penting mengenai Bangsal Anak yang harus dibahas. dr. Narendra, Sp.B.
Nayla menatap layar ponselnya dengan gusar. Kalimatnya begitu singkat, dingin, dan bernada perintah mutlak—khas seorang Narendra. Meskipun enggan, kakinya tetap melangkah menuju lift menuju lantai lima, area eksklusif tempat ruangan para dokter spesialis senior dan direksi berada.
Nayla mengetuk pintu kayu jati bertuliskan nama Narendra dengan ragu. Setelah mendengar gumaman berat dari dalam yang mengizinkannya masuk, Nayla membuka pintu dan melangkah ke dalam ruangan yang luas, beraroma woody maskulin, dan ditata dengan selera quiet luxury yang kental.
Narendra sedang duduk di balik meja kerja marmer hitamnya. Pria itu fokus menatap layar iPad tanpa mengenakan jas putihnya, hanya kemeja biru muda yang lengannya digulung hingga siku, mengekspos lengan bawahnya yang kokoh dan berurat.
Narendra menggeser sebuah dokumen fisik ke ujung meja, lalu menatap Nayla datar. "Duduk, Dokter Nayla."
Nayla melangkah maju, melirik sekilas dokumen bertajuk 'Evaluasi Alokasi Dana Departemen Pediatri Q3' yang tergeletak di sana. Jantungnya berdesir kesal. Kemarin sore, ia baru saja mendapat memo resmi dari bagian administrasi bahwa proyek renovasi halaman bermain terapeutik di bangsal anak resmi dipangkas hingga lima puluh persen. Semua itu terjadi atas rekomendasi langsung dari meja dr. Narendra selaku perwakilan jajaran direksi medis. Alasan tertulisnya: efisiensi anggaran demi pengadaan robotic surgery terbaru untuk ruang operasi utama.
Nayla duduk di kursi kulit di hadapan pria itu, menegakkan punggungnya dengan sisa-sisa kekesalan yang coba ia tahan profesional. "Ada apa ya, Dokter Narendra? Jika ini soal pemotongan anggaran taman bermain di bangsal anak kemarin, saya tetap pada pendirian saya bahwa—"
"Ini bukan soal rumah sakit," Narendra memotong kalimat Nayla dengan tenang. Ia meletakkan iPad-nya, lalu menopangkan dagu di atas kedua tangannya yang saling bertautan, menatap Nayla lekat-lekat dengan sepasang mata elangnya. "Ini soal makan malam tadi malam. Dan soal kelancaran bisnis katering digital ibu Anda."
Nayla mengerutkan kening. "Maksud Anda?"
Narendra mencondongkan tubuhnya ke depan, memangkas jarak di antara mereka hingga Nayla bisa melihat dengan jelas kerlingan tajam di mata pria itu. "Orang tua kita sangat serius dengan ide perjodohan ini, Nayla. Dan saya tahu, perempuan mandiri dan idealis seperti Anda pasti sangat membenci konsep diatur seperti ini, bukan?"
Nayla mendengus pelan, merasa tertantang. "Kalau Anda sudah tahu, baguslah. Jadi kita bisa sepakat untuk memberi tahu orang tua kita bahwa kita tidak cocok. Saya tidak punya waktu untuk drama perjodohan, apalagi dengan dokter bedah yang... kaku seperti Anda."
Bukannya marah karena disebut kaku, sudut bibir Narendra justru terangkat, membentuk sebuah seringai tipis yang luar biasa tampan sekaligus mengintimidasi.
"Sayangnya, pembatalan sepihak tidak semudah itu, Dokter Anak yang terhormat," ujar Narendra, suaranya merendah, memberi penekanan pada setiap kata. "Kontrak Adiwijaya Group dengan bisnis katering keluarga Anda bernilai puluhan miliar. Ayah saya tipe pria yang sangat menghargai ikatan kekeluargaan dalam bisnis. Jika kita menolak mentah-mentah sekarang, itu akan menyinggung egonya. Anda mau mengambil risiko merusak kontrak terbesar dalam sejarah bisnis ibu Anda?"
Nayla tertegun. Ia menelan ludah yang mendadak terasa getir. Narendra benar. Ayah pria ini adalah penguasa bisnis medis yang tidak terbiasa ditolak. Nayla tidak mungkin mengorbankan kerja keras Mama Citra dan Papa Arga demi egonya sendiri.
"Lalu... apa mau Anda?" tanya Nayla, suaranya sedikit melemah, tanda ia mulai terdesak.
Narendra bersandar kembali ke kursinya, menatap Nayla dengan pandangan penuh kemenangan. Aura dominannya kini memenuhi ruangan. "Kita ikuti permainan mereka. Kita pura-pura mencoba dekat di depan mereka. Tapi di rumah sakit, kita tetap bersikap profesional seolah tidak terjadi apa-apa."
"Hanya itu?" Nayla memastikan.
Narendra mengetukkan jemarinya di atas meja marmer, senyum tipisnya tidak memudar. "Tentu saja. Tapi sebagai gantinya, karena saya yang memegang kendali atas skenario ini untuk melindungi bisnis keluarga Anda... Anda harus mematuhi beberapa aturan saya."
Nayla membelalakkan matanya. "Aturan apa?!"
"Pertama, kurangi nada ketus Anda jika berbicara dengan saya di rumah sakit. Kedua," Narendra menjeda kalimatnya, tatapannya turun ke bibir Nayla sejenak sebelum kembali mengunci matanya, "jangan pernah mencoba dekat-dekat atau menerima ajakan makan siang dari dokter spesialis lain selama skenario ini berjalan. Saya tidak suka barang yang sudah diberi label nama saya... disentuh oleh orang lain, bahkan jika itu hanya status formalitas."
Nayla meremang mendengar kata-kata posesif yang diucapkan dengan begitu tenang dan berwibawa oleh Narendra. Pria di depannya ini jelas bukan hanya ingin menyelesaikan masalah, tapi sedang sengaja menjebaknya ke dalam teritorinya.
"Anda... egois sekali," desis Nayla kesal.
Narendra hanya bangkit dari kursinya, berjalan memutari meja, lalu berhenti tepat di samping kursi Nayla. Ia sedikit membungkuk, membisikkan kata-kata yang membuat bulu kuduk Nayla berdiri di dekat telinganya. "Saya seorang dokter bedah, Nayla. Mengambil kendali penuh dan bersikap egois demi keselamatan hasil akhir adalah keahlian utama saya. Rapat selesai, silakan kembali ke bangsal Anda."
**
Hari Sabtu malam, sebuah mobil Mercedes-Benz Maybach hitam sudah terparkir rapi di depan gerbang rumah modern tropis milik keluarga Nayla di Jakarta Selatan. Bukan sopir pribadi yang turun, melainkan Narendra sendiri. Pria itu tampil luar biasa menawan dengan kemeja rajut hitam berkerah tinggi yang membungkus pas tubuh tegapnya, dipadukan dengan celana kain desainer berwarna senada.
Nayla turun menemui Narendra setelah berpamitan dengan Papa Arga dan Mama Citra yang melepasnya dengan senyum super lebar. Malam ini, Nayla memilih pakaian yang simpel namun elegan—blouse sutra berwarna krem dan celana kulot satin.
Narendra membukakan pintu mobil untuk Nayla tanpa ekspresi, namun matanya sempat menelusuri penampilan Nayla dari atas ke bawah. "Pilihan baju yang manis, Dokter Anak," gumam Narendra rendah sebelum memutari mobil dan masuk ke kursi kemudi.
Narendra membawa Nayla ke sebuah restoran fine dining Prancis tersembunyi di kawasan Menteng yang hanya menerima beberapa tamu dalam semalam. Suasananya sangat privat, intim, dan mewah.
"Jadi, ini tempat kencan pura-pura versi Tuan Muda Adiwijaya?" sindir Nayla pelan setelah pelayan selesai menyajikan hidangan pembuka dan meninggalkan mereka berdua.
Narendra menyesap anggur merahnya tenang, membiarkan cahaya lilin temaram menyoroti rahang tegasnya. "Saya tidak suka tempat yang bising, Nayla. Dan di sini, tidak akan ada mata-mata rumah sakit atau paparazi bisnis yang mengganggu konsentrasi saya."
"Konsentrasi untuk apa? Menatap saya seperti mau memotong usus buntu?" ketus Nayla, meski sebenarnya detak jantungnya menggila sejak tadi karena wangi parfum Narendra yang begitu pekat memenuhi indra penciumannya.
Seringai tipis yang mematikan kembali muncul di wajah Narendra. "Konsentrasi untuk memastikan Anda tidak melanggar aturan saya."
Makan malam mengalir dengan perdebatan kecil yang justru terasa hidup. Narendra yang biasanya irit bicara, entah kenapa selalu punya cara untuk memancing emosi ekspresif Nayla, dan diam-diam, pria bedah itu sangat menikmati setiap kerutan di dahi Nayla saat perempuan itu sedang protes.
Namun, ketenangan itu terusik saat hidangan utama disajikan. Dari arah pintu masuk restoran, serombongan pria muda berpenampilan necis masuk. Salah satu dari mereka tiba-tiba menghentikan langkahnya saat melihat ke arah meja mereka.
"Nayla? Kamu... Nayla Kartikasari, kan?"