Delapan tahun pernikahan membuat Naura rela mengorbankan segalanya demi keluarga. Ia melahirkan dua anak, meninggalkan kariernya, dan diam-diam membantu suaminya membangun kerajaan bisnis hingga menjadi konglomerat.
Namun setelah tubuh Naura berubah gemuk usai dua kali melahirkan, Erwin justru menganggapnya sebagai aib dan memilih wanita lain.
Diceraikan, dihina, bahkan dipisahkan dari anak-anaknya, Naura memilih bangkit daripada terus terpuruk. Ia kembali pada identitas yang selama ini disembunyikan sebagai pewaris keluarga kaya. Di saat yang sama, takdir mempertemukannya kembali dengan pria dari masa lalunya, yang membantunya mengubah hidup sekaligus mengembalikan tubuhnya menjadi sehat dan ideal.
Saat Erwin kehilangan semua yang dibanggakannya dan memohon agar Naura kembali, wanita itu hanya tersenyum dingin.
"Kau membuangku karena tubuhku gemuk setelah melahirkan kedua anakmu! Kini, kau akan kehilangan semua yang pernah kubangun untukmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab²²
Selesai menghadiri sidang, Naura tidak langsung pulang ke mansion keluarga Ardynata. Mobil yang ditumpanginya justru berbelok menuju sekolah Laura dan Lionel. Hari itu ia sengaja ingin menjemput kedua anaknya sendiri.
Begitu bel pulang berbunyi, dua sosok kecil itu berlari keluar gerbang.
"Mama!"
Laura langsung memeluk pinggang ibunya, disusul Lionel yang bergelayut di lengan satunya.
Naura tertawa pelan. "Pelan-pelan. Mama cuma punya dua tangan."
"Tapi kita berdua sama-sama kangen," protes Lionel dengan wajah polos.
"Berarti Mama harus punya empat tangan."
"Itu gurita, Ma," celetuk Laura polos hingga membuat Naura tertawa.
Naura mengusap kepala kedua anaknya bergantian. "Hari ini kita rayakan sedikit. Kalian dapat nilai bagus, dan hari ini juga berjalan dengan baik. Bagaimana kalau kita makan es krim?"
Mata Lionel langsung berbinar. "Beneran?"
Naura pura-pura berpikir sejenak. "Boleh... tapi dengan satu syarat."
"Apa, Ma?"
"Hanya satu scoop."
Lionel langsung mengembuskan napas panjang. "Om Alaska pasti yang kasih aturan itu."
Naura tersenyum geli. "Mama cuma belajar dari Om Alaska."
"Berarti Mama sudah ketularan," gerutu Lionel sambil menggeleng.
Laura menutup mulutnya, berusaha menahan tawa melihat wajah adiknya yang begitu kecewa.
"Ayo, masuk ke mobil."
Ketiganya berjalan menuju mobil sambil bergandengan tangan. Begitu pintu mobil dibuka, Laura dan Lionel langsung berhenti melangkah.
"Om Alaska!"
Alaska yang sejak tadi duduk di kursi pengemudi menoleh sambil tersenyum tipis.
"Halo, dua murid paling pintar."
Lionel langsung mengerucutkan bibir. "Om... Mama sekarang jahat."
Alaska mengangkat sebelah alisnya. "Memangnya kenapa?"
"Mama cuma bolehin makan es krim satu scoop."
Alaska menoleh sekilas ke arah Naura, lalu tersenyum kecil. "Bagus. Berarti Mamamu mulai jadi pasien yang patuh."
"Ih... Om sama Mama sekarang satu tim," protes Lionel.
Alaska mengangguk pelan. "Dan tugas Om sekarang bertambah. Bukan cuma menjaga kesehatan Mama kalian, tapi juga memastikan dua anak kecil ini tidak kebanyakan makan manis."
"Kalau nilai kami seratus terus, boleh tambah setengah scoop?" Laura tersenyum manis.
Alaska berpura-pura berpikir. "Itu... masih bisa dinegosiasikan."
"Yeay!" seru Laura dan Lionel kompak.
Tawa kecil memenuhi kabin mobil. Naura menoleh ke arah kedua anaknya yang kembali ceria, lalu tanpa sadar sudut bibir wanita itu ikut terangkat.
Di sampingnya, Alaska melirik sekilas ke arahnya sebelum menjalankan mobil. Melihat senyum Naura dan kedua anaknya seperti itu, ia merasa perjuangannya selama ini tidak sia-sia.
____
Sementara Erwin belum juga beranjak dari pengadilan, pengacaranya mendekat sambil membawa map.
"Pak Erwin."
"Hm?"
"Kita masih punya peluang."
Erwin menghela napas pelan. "Menurut Anda?"
"Masih ada sidang kesimpulan dan putusan. Selama belum diputus, semuanya masih mungkin."
Erwin mengangguk, tetapi pikirannya sama sekali tidak berada di sana. Diruang sidang tadi, satu kalimat guru sekolah terus terngiang di kepalanya.
"Sejak tinggal bersama Ibu Naura, kedua anak menjadi jauh lebih ceria."
Kata-kata itu terasa seperti tamparan untuknya, bukankah seharusnya anak-anak juga bisa merasa bahagia ketika tinggal bersamanya?
"Mas, kenapa tadi diam saja?" Di dalam mobil, Davina tak mampu lagi menyembunyikan emosinya.
Erwin tidak menjawab.
"Harusnya kita membantah semua tuduhan mereka." Davina masih bicara dengan nada ketus.
"Apa yang harus kubantah?"
"Kesaksian Bik Ela!"
Erwin akhirnya menoleh ke arah Davina. Tatapannya dingin, jauh dari sikap membela seperti biasanya. "Memangnya bagian mana dari ucapan Bik Ela yang bohong? Dia melihat sendiri saat kamu menampar Laura. Dia juga menyaksikan Lionel menangis setelah kamu mendorongnya. Jadi, apa yang masih ingin kamu bantah?"
Davina menggigit bibir. “Aku sudah minta maaf."
Erwin kembali menatap lurus ke depan. "Ucapan maaf, tidak selalu menghapus luka."
Ucapan itu membuat Davina semakin gelisah.
...*****...
Sore harinya, mansion keluarga Ardynata kembali dipenuhi suara tawa.
Di dapur, Naura sedang menghias sebuah kue kecil bersama Laura dan Lionel.
"Mama, krimnya miring."
"Memang sengaja."
"Bohong."
Naura terkekeh. "Baiklah, Mama memang belum berbakat jadi pembuat kue."
Lionel tiba-tiba mencolek sedikit krim menggunakan jarinya.
"Hmm... enak."
"Lionel!"
"Aku sedang quality control."
Laura langsung ikut-ikutan mencicipi.
"Kalau Kakak?"
"Quality control juga."
Naura menggeleng pasrah. "Belum lima menit sudah berkurang setengah."
Suara tawa mereka memenuhi dapur.
Tak jauh dari sana, Alaska bersandar di ambang pintu sambil memperhatikan pemandangan itu. Tawa Laura dan Lionel terdengar bersahutan dengan suara Naura yang sesekali menggoda kedua anaknya.
Kakek Guntur yang kebetulan lewat menghentikan langkah. "Senang melihat mereka?"
"Suasananya hangat sekali," sudut bibir Alaska terangkat tipis.
"Atau... karena ada seseorang yang membuatmu betah berlama-lama datang ke sini?"
Alaska tersenyum samar. "Kakek terlalu pandai menebak."
"Usiaku sudah tua," sahut Kakek Guntur sambil terkekeh. "Kalau soal membaca isi hati orang, pengalamanku tidak sedikit."
Alaska tidak membantah. Pandangannya kembali tertuju pada Naura yang sedang tertawa bersama Laura dan Lionel.
"Dulu... aku selalu berpikir seseorang bisa pulih hanya dengan pengobatan yang tepat. Sekarang aku sadar, kadang yang paling menyembuhkan justru rasa aman dan orang-orang yang membuatnya merasa dihargai."
Kakek Guntur mengangguk pelan. "Berarti perasaanmu sudah semakin jelas."
Alaska terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk tipis.
"Aku hanya tidak ingin terburu-buru."
"Karena cucuku baru melewati perceraian?"
"Iya." Alaska mengembuskan napas pelan. "Kalau suatu hari nanti dia membuka hatinya lagi, aku ingin itu karena dia benar-benar siap, bukan karena sedang mencari tempat untuk menyembuhkan luka."
Senyum Kakek Guntur semakin lebar. Ia tidak lagi meragukan keseriusan pria yang berdiri di sampingnya itu.
Sementara Naura sama sekali tidak menyadari bahwa ada seseorang yang dengan sabar memilih menunggu waktu yang tepat, daripada memaksakan perasaannya terlalu cepat.
____
Dan di tempat lain, Erwin baru saja membuka album foto lama di ponselnya. Foto-foto ketika Laura masih balita, Lionel baru belajar berjalan, dan Naura yang selalu tersenyum di samping mereka satu per satu memenuhi layar.
Kini ia mulai bertanya pada dirinya sendiri. Selama delapan tahun... benarkah dia sudah menjadi ayah yang baik?
Lalu ingatan Erwin kembali pada setiap interaksi yang dilihatnya antara Naura dan Alaska. Cara mereka saling berbicara, hingga tatapan yang sesekali tanpa sadar saling bertemu. Semuanya membuat dadanya terasa sesak.
Sebenarnya... apa hubungan mereka?
Erwin mulai dihantui sebuah ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Bagaimana jika Naura benar-benar membuka hati untuk pria lain?
Ia menundukkan kepala, lalu berbisik lirih kepada dirinya sendiri. "Kalau aku ingin memperbaiki semuanya... kalau aku ingin memintanya kembali menjadi istriku, apa semuanya sudah terlambat?"
😂😂😂😂😂😂😂😂😂
jgn sampe syok yx klo udh inget ,,
seharusnya kamu nyadar diri sudahlah hidup numpang
mencuri perhatian orang Tua naura
sekarang mau apalagi
sinting emang🤭
toh kamu cuman mau naura saat langsing
orang sirik tanda nak mampus ,,
🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
😁😁😁😁😁😁😁
tu bukan cahaya ilahi naura ,,
tu cahaya harapan km ,,
cuma ketutup ma dokter yg km sebut iblis🤭🤭🤭🤭😂😂😂😂