NovelToon NovelToon
Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Ibu Tiri
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ririne Rose

"Diceraikan tanpa mendapatkan apa pun. Dikhianati oleh suami yang berselingkuh. Dihancurkan oleh mertua hingga depresi."

Di saat hidupnya nyaris runtuh, Viona mengambil keputusan paling nekat: menjadi ibu tiri bayaran bagi putri seorang CEO terkaya yang dijuluki sang tiran berhati es.

Akankah Viona kembali kehilangan segalanya? Ataukah kali ini, pria yang dikenal paling kejam itu justru rela menjadi pelindung bagi wanita yang telah menghidupkan kembali keluarganya?

Saat hati yang terluka bertemu jiwa yang membeku, mampukah cinta menyembuhkan keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 16: Manisnya Permen Penghilang Rasa Sakit

Makan malam yang tenang dan kepulangan Oliver yang tepat waktu sore itu melengkapi hari Viona dengan sempurna.

Resep terbaik dari dr. Januar—kehadiran figur pelindung dan lingkungan yang aman—benar-benar bekerja dengan luar biasa.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Viona tertidur lelap tanpa perlu menelan sebutir pun tablet putih dari botol jingga barunya.

Keesokan paginya, rutinitas manis kembali berulang.

 Setelah mengantarkan Oliver pergi bekerja dengan tatapan hangat yang kini mulai terbiasa, Viona menghabiskan siang hari bersama Yoyo.

 Mereka berdua, ditemani Goldie yang setia, memutuskan untuk mencoba resep baru di dapur: membuat cookies cokelat chip rumahan.

Suasana dapur utama yang dulunya kaku dan dingin kini dipenuhi gelak tawa, tepung yang beterbangan, dan aroma panggangan mentega yang manis.

Namun, sore harinya, sebuah reaksi fisik yang tak terduga muncul.

Meskipun kesehatan mental Viona sedang berada dalam grafik terbaiknya, tubuhnya tidak bisa berbohong dari efek samping adaptasi resep obat baru yang ia tebus kemarin.

Menjelang pukul lima sore, saat ia sedang membersihkan sisa tepung di meja dapur, kepalanya mendadak berdenyut hebat.

Rasa pening yang tajam datang bergelombang, disertai rasa mual dan mulut yang terasa sangat pahit—efek samping klasik dari penyesuaian dosis obat penenang yang sempat ia minum beberapa hari lalu.

Viona mengerang pelan, menyentuh pelipisnya yang berdenyut kencang.

Wajahnya perlahan memucat, dan tubuhnya lemas hingga ia harus bertumpu pada pinggiran meja dapur.

"Bibi Viona? Bibi sakit?" suara kecil Yoyo terdengar dari arah pintu dapur.

Gadis kecil itu memeluk boneka kelincinya, menatap Viona dengan mata bulat yang dipenuhi rasa khawatir.

Goldie ikut mendekat, mengendus pelan jemari Viona seolah merasakan perubahan suhu tubuh wanita itu.

Viona memaksakan sebuah senyuman, meski kepalanya terasa seperti berputar.

"Tidak apa-apa, Sayang. Bibi hanya... sedikit pusing. Mulut Bibi juga rasanya pahit sekali. Yoyo bermain di ruang tengah dulu dengan Goldie, ya? Bibi mau minum air hangat sebentar."

Tepat pada saat itu, langkah kaki yang tegap dan berat terdengar memasuki area dapur.

Oliver baru saja melangkah masuk ke dalam rumah.

Pria itu sengaja pulang lebih awal lagi hari ini—sebuah kebiasaan baru yang mulai disadari oleh seluruh penghuni mansion.

Ia masih mengenakan setelan jas formalnya, namun dasinya sudah sedikit dilonggarkan.

Mata elang Oliver langsung menangkap sosok Viona yang sedang bersandar lemas pada meja dapur dengan wajah seputih kertas. Ketenangan di wajah tampan sang CEO runtuh seketika.

"Viona!"

Oliver melangkah lebar, memotong jarak di antara mereka dalam beberapa detik.

Ia langsung mencengkeram lembut kedua bahu Viona, menahan tubuh wanita itu agar tidak limbung.

Sorot matanya memancarkan kepanikan dan kepedulian yang begitu pekat.

"Ada apa? Apakah serangan itu datang lagi?"

Viona menggelengkan kepalanya perlahan, menatap Oliver dengan mata yang sedikit sayu.

"Bukan, Oliver... bukan serangan panik. Ini hanya efek samping fisik dari obat kemarin. Kepalaku sangat pusing, dan mulutku... rasanya sangat pahit dan tidak nyaman."

Oliver menarik napas panjang, mendengarkan penjelasan itu dengan rahang yang mengeras karena menahan rasa khawatir.

Ia menoleh ke arah Pak Pelayan yang baru saja muncul di koridor dapur.

"Pak Pelayan, ambil alih tugas dapur. Dan bawa Yoyo bermain ke atas dulu."

"Baik, Tuan Besar," jawab Pak Pelayan cekatan.

Oliver kembali memfokuskan atensinya pada Viona.

Tanpa banyak bicara, ia menyusupkan satu lengan kokohnya di bawah lekukan lutut Viona dan lengan lainnya di punggung wanita itu, lalu mengangkat tubuh rapuh Viona ke dalam gendongannya dengan sangat mudah.

Viona terkejut dan refleks melingkarkan kedua lengannya di leher Oliver, membiarkan wajahnya bersandar di dada bidang pria itu yang beraroma kayu cendana yang menenangkan.

Oliver membawa Viona naik ke lantai dua, melangkah masuk ke kamar wanita itu, dan merebahkannya di atas ranjang dengan sangat hati-hati.

Ia membantu melepaskan celemek masak yang masih melekat di tubuh Viona, lalu menyelimutinya hingga ke batas dada.

Pria itu kemudian duduk di tepi ranjang, menatap Viona yang sedang memejamkan mata menahan denyutan di kepalanya.

Tangan Oliver terulur secara alami, memijat lembut pelipis Viona dengan gerakan yang sangat konstan dan penuh kelembutan.

"Masih sangat pahit?"

tanya Oliver pelan, suaranya rendah dan berat.

"Iya... rasanya sangat tidak enak di tenggorokan,"

bisik Viona tanpa membuka mata.

Oliver terdiam sejenak.

Ia kemudian merogoh kantong jas kerjanya, mengeluarkan sesuatu dari sana. Terdengar suara gesekan bungkus plastik kecil yang dibuka.

"Buka matamu, Viona," perintah Oliver lembut.

Viona membuka matanya perlahan.

Di depan wajahnya, Oliver sedang menyodorkan sebuah permen lolipop kecil berwarna merah muda dengan aroma stroberi yang sangat manis dan segar.

Viona tertegun, menatap permen itu lalu beralih menatap wajah tegap Oliver yang tampak sedikit canggung namun tetap terlihat tampan.

"Ini... permen?" tanya Viona heran.

Pria tirani berdarah dingin seperti Oliver membawa permen stroberi di kantong jas mewahnya adalah pemandangan yang sangat tidak biasa.

"Kemarin setelah dari rumah sakit, aku bertanya pada dr. Januar melalui sekretarisku tentang efek samping obatmu,"

ucap Oliver, wajahnya berpaling sedikit seolah mencoba menyembunyikan rasa bersalah atau rasa canggungnya karena terlalu perhatian.

"Dokter bilang mulutmu akan terasa sangat pahit. Dia menyarankan untuk selalu menyediakan permen manis beraroma buah untuk menetralkan rasanya. Aku membelinya saat menuju kantor tadi pagi."

Mendengar penjelasan itu, hati Viona seketika dipenuhi oleh kehangatan yang luar biasa.

Rasa sakit di kepalanya seolah berkurang setengahnya hanya karena mengetahui betapa detailnya Oliver memikirkan kenyamanannya.

Pria ini tidak hanya mengantarnya ke rumah sakit, tetapi ia juga memikirkan hal-hal kecil seperti rasa pahit di lidah Viona.

Viona menerima permen itu, memasukkannya ke dalam mulut.

Rasa manis yang pekat dan aroma stroberi segar langsung menyebar, mengusir rasa pahit yang sejak tadi menyiksanya.

Sebuah senyuman manis dan tulus perlahan terukir di bibir Viona yang mulai kembali merona.

"Bagaimana? Apakah rasa pahitnya hilang?"

tanya Oliver, sepasang mata elangnya menatap lurus ke arah bibir Viona yang kini mengulum permen pemberiannya.

"Iya... rasanya sangat manis. Rasa pahitnya langsung hilang,"

bisik Viona, matanya berbinar menatap Oliver.

"Terima kasih, Oliver. Kamu benar-benar memikirkan segalanya."

Oliver tidak menjawab.

Ia kembali meletakkan tangannya di pelipis Viona, melanjutkan pijatan lembutnya yang menenangkan.

Tatapannya mengunci manik mata jernih Viona dengan intensitas yang membuat jantung wanita itu berdegup kencang dengan cara yang sangat manis.

"Aku sudah mengatakannya di rumah sakit, Viona," ujar Oliver dengan suara yang sangat dalam dan personal.

 "Tugas seorang ksatria adalah memastikan wanitanya tidak merasakan sakit. Jika obat itu memberikan rasa pahit padamu, maka aku yang akan memastikan selalu ada rasa manis yang menggantikannya di rumah ini."

Di bawah temaram lampu kamar sore itu, diiringi kehangatan pijatan tangan Oliver dan manisnya rasa permen stroberi di mulutnya, Viona menyadari satu hal yang pasti:

kontrak satu tahun mereka mungkin masih berjalan di atas kertas, tetapi di dalam realita kehidupan mereka, Oliver telah melangkah jauh melampaui batas kontrak tersebut.

 Pria tirani dingin itu kini telah menjelma menjadi sumber rasa manis yang perlahan tapi pasti menyembuhkan seluruh sisa rasa sakit di dalam jiwa dan hidup Viona.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!