NovelToon NovelToon
Unseen Friend

Unseen Friend

Status: sedang berlangsung
Genre:Thriller / Horor / Misteri
Popularitas:53
Nilai: 5
Nama Author: CRZ CREW

Sejak kecil, Josh memiliki teman yang tak bisa dilihat siapa pun. Tiga belas tahun kemudian, teman itu kembali. Bersama Veron, Brandon, dan Gibran, ia mengungkap misteri yang telah terkubur selama puluhan tahun. Namun semakin dekat pada kebenaran, semakin dekat pula mereka pada kematian. Karena... tidak semua teman yang tak terlihat datang dengan niat baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CRZ CREW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 — Tidak Ada yang Percaya

Keesokan harinya, dengan mata sembab akibat kurang tidur dan pikiran yang dipenuhi bayangan sosok berjas hitam, Josh akhirnya memutuskan untuk bercerita kepada Gibran. Ia memilih sahabatnya itu karena, meski ceroboh dan sering bertindak tanpa berpikir panjang, Gibran selalu berusaha mendengarkan lebih dulu sebelum menilai.

Mereka duduk di kantin saat jam istirahat, suasana riuh di sekeliling mereka terasa jauh berbeda dengan ketegangan yang Josh rasakan saat menceritakan semuanya suara bisikan, sosok berjas hitam yang muncul berulang kali, jam yang selalu berhenti di angka yang sama, hingga jejak sepatu basah yang ia temukan pagi itu.

Namun reaksi Gibran tidak seperti yang Josh harapkan.

"Lo yakin itu bukan gara-gara begadang mulu?"

tanya Gibran sambil tertawa kecil, meski matanya menunjukkan sedikit kekhawatiran yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.

"Gue pernah baca, orang yang kurang tidur bisa lihat bayangan-bayangan gitu. Namanya sleep paralysis, kan? Temen gue pernah ngalamin, katanya kayak beneran ada yang duduk di dada dia."

"Gue udah coba mikirin itu juga,"

Josh menjawab, berusaha menahan nada frustrasi yang mulai muncul di suaranya.

"Tapi ini udah lebih dari sekali, Bran. Dan jam di rumah gue juga ikut aneh, nggak cuma di kepala gue doang."

"Mungkin emang jamnya rusak,"

Gibran menepuk bahu Josh, mencoba menenangkan dengan caranya sendiri yang khas setengah serius, setengah bercanda.

"Lo jangan terlalu mikirin hal-hal kayak gitu deh. Nanti malah beneran ganggu pikiran lo, terus nilai lo makin anjlok."

Josh tidak melanjutkan perdebatan itu lebih jauh. Ia tahu, tanpa bukti nyata yang bisa disentuh atau dilihat orang lain, ceritanya memang akan selalu terdengar seperti delusi belaka, tidak peduli seberapa yakin dirinya sendiri.

Sepulang sekolah, ia mencoba peruntungan lain dengan bercerita kepada Veron, berharap sudut pandangnya yang logis dan cenderung analitis bisa memberikan penjelasan yang berbeda. Veron mendengarkan dengan saksama sambil sesekali mencatat sesuatu di ponselnya, tidak langsung menyangkal seperti Gibran, namun tetap mempertahankan sikap skeptisnya.

"Kalau memang ada pola waktu yang berulang, seharusnya bisa dijelaskan secara ilmiah,"

katanya sambil membuka aplikasi catatan.

"Coba deh lo perhatiin, apa ada hal lain yang terjadi bersamaan setiap kali jam itu muncul. Suhu ruangan, suara tertentu, bau, apa pun yang bisa jadi pola."

Josh mengangguk, merasa sedikit lega karena akhirnya ada yang mau mendekati masalahnya dengan lebih serius, meski tetap dengan kacamata skeptis yang membuatnya agak kecewa dalam hati.

Sore itu, sebelum pulang, ia memutuskan untuk bertanya langsung kepada Pak Ian yang dikenal berpikiran ilmiah dan jarang percaya pada hal-hal berbau supranatural.

"Pak, kalau misalnya seseorang terus terbangun di jam yang sama setiap malam tanpa alasan jelas, itu kira-kira kenapa ya, Pak?"

tanya Josh di ruang guru, berusaha terdengar sekadar penasaran biasa, bukan ketakutan yang sesungguhnya sedang menggerogotinya.

Pak Ian menatapnya sejenak, menyimpan bolpoinnya sebelum menjawab dengan nada yang tenang seperti biasa.

"Itu namanya sleep interruption pattern. Biasanya berhubungan dengan stres atau gangguan ritme sirkadian. Otak manusia punya jam biologis internal, dan kadang jam itu bisa 'terkunci' di waktu tertentu kalau ada trauma atau tekanan psikologis yang cukup besar."

Jawaban itu masuk akal secara ilmiah, cukup meyakinkan bahkan, namun sama sekali tidak menjelaskan sosok berjas hitam yang berulang kali ia lihat dengan mata kepalanya sendiri, atau suara yang jelas-jelas memanggil namanya di tengah kesunyian malam.

"Kalau boleh saya kasih saran,"

lanjut Pak Ian sambil mengambil tumpukan kertas di mejanya,

"coba biasakan tidur di jam yang sama, hindari layar ponsel sebelum tidur, dan kalau memang masih berlanjut, mungkin sebaiknya kamu ceritakan ke orang tua. Terkadang tubuh remaja memang sensitif terhadap tekanan yang bahkan tidak kita sadari sumbernya."

Nasihat itu terdengar begitu wajar, begitu masuk akal untuk seorang guru fisika yang rasional, sehingga Josh nyaris tidak menyadari betapa gurunya itu sedikit menghindari kontak mata dengannya selama mengucapkan kalimat terakhir.

Malam itu, Josh kembali duduk di kamarnya, mencatat semua penjelasan yang ia dapatkan sepanjang hari itu logis, ilmiah, penuh istilah medis yang terdengar meyakinkan, tapi tidak satu pun benar-benar terasa pas dengan apa yang sesungguhnya ia rasakan dan alami.

Ia membaringkan diri di atas ranjang sambil menatap langit-langit, mencoba merangkai kembali semua kejadian yang telah ia alami dalam beberapa hari terakhir menjadi sebuah pola yang masuk akal, namun setiap kali ia merasa hampir menemukan benang merahnya, potongan-potongan itu justru semakin membingungkan, seperti puzzle yang potongannya berasal dari kotak yang berbeda-beda.

Ia menatap keluar jendela sebelum tidur, memastikan tidak ada sosok aneh berdiri di gang seperti malam-malam sebelumnya. Gang itu tampak kosong, hanya diterangi lampu jalan yang berkedip pelan.

Merasa sedikit lega, ia menutup gorden dan berbaring, mencoba memejamkan mata dengan lebih tenang malam itu. Namun begitu kesadarannya mulai melayang menuju alam mimpi, suara bisikan itu kembali terdengar kali ini jauh lebih jelas dari sebelumnya, seolah sumbernya sudah tidak lagi berjarak, melainkan tepat di sampingnya.

"Josh... bangun..."

Ia membuka mata lebar-lebar, tubuhnya membeku seketika. Suara itu tidak datang dari luar jendela seperti biasanya. Suara itu datang dari dalam kamarnya sendiri dan terdengar begitu dekat, seolah seseorang tengah membungkuk tepat di sisi ranjangnya, bernapas pelan di udara yang tiba-tiba terasa jauh lebih dingin dari seharusnya.

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!