"Jangan menodai mata, Anda!"
Gak usah banyak bicara, pijit aja, untung Kakak suruh pijit bagian atas, emangnya mau pijit bagian bawah juga?" tanya Fallen.
"Kalau boleh sih, Aku lebih milih pijit bagian bawah, soalnya di atas tanganku pegel karena bahu Kakak kan lebar dan tinggi," jawab Fio.
"Di bawah juga lebar dan tinggi," balas Fallen nakal.
Cover from pinterest. disimpan dari m.photoviewer.naver.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mhammadtaufiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28 EKSTRA PART
3 tahun berlalu, kini Fio fokus dengan kuliahnya di kampus Fallen, tidak banyak dari mereka yang tahu bahwa Fio adalah Istri Fallen, kecuali Dertox dan Rejav.
Hubungan Fahrul dan dengan Fallen semakin baik, begitupun dengan Fio, cuman Fahrul harus tau batasan untuk berdekatan dengan Fio.
"Fio, kerjain nih," ucap Saka teman Fio.
"Astaga, Saka. Kan dosen udah bagi-bagi loh tugasnya, kok nyuruh Aku sih?" tanya Fio.
Saka terkekeh pelan sambil menyodorkan kertasnya, "Gue gak tau, kan lo pinter Fio," balas Saka dan Fio menatapnya kesal.
"Dasar pemalas, gak mau berusaha, dikit-dikit kasih ke Aku," dumel Fio.
Fio mengambil kertas tersebut dan mengerjakan tugas yang diberikan, sungguh tangan Fio jadi pegal karena menulis banyak laporan, apalagi ia harus berkelompok dengan Saka yang sangat pemalas.
Drt...
Ponsel Fio bergetar, Fio segera mengecek ponselnya dan ternyata ada pesan masuk yang dikirim oleh Fallen.
Jangan ganjen jadi Istri, ingat! Aku selalu mengawasimu.
Begitulah isi pesan tersebut dan Fio menengok ke arah jendela, ternyata Fallen tidak main-main dengan ucapannya.
Fio membalas pesan Fallen.
Iyah, Aku tau kok.
Kemudian Fio kembali fokus dengan pekerjaannya. Saka yang dari tadi melihat Fio terus menengok membuatnya penasaran dan melihat ke arah jendela.
Saka membulatkan matanya ketika Fallen menatapnya dengan tatapan membunuh, siapa yang tidak kenal dengan Fallen? Senior super galak di kampus mereka.
Rumornya Fallen hampir membunuh Pria yang berani mendekati Fio, tapi, yang membuat Saka heran adalah, apa hubungan mereka berdua?
"Hei!" teriak Fio dan Saka terkejut.
"Astagfirullah," ucap Saka sambil mengusap dadanya.
"Ngelamun sih, nanti kesambet setan gimana?"
"Lo kagetin gue njir," balas Saka dengan kesal.
"Siapa suruh ngelamun, lagi mikirin apa sih?" tanya Fio.
"Eh, gak mikir apa-apa kok," jawab Saka.
Fio mengangguk dan memberikan laporan yang telah ia kerjakan tadi.
"Btw, terikamasih," ucap Saka.
"Sama-sama."
Akhirnya kuliah telah selesai, dan tepat tiga tahun ini Nana akan kembali ke Indonesia, dan permintaan Nana yang meminta keponakan kepada Fio kini terkabulkan, buktinya Fio tengah mengandung Anak Fallen yang masih berjalan 2 bulan.
"Kak Fallen, cepetan dong. Nanti Nana nunggunya lama," desak Fio.
Dari bulan yang lalu Fallen sudah terbiasa akan sifat menjengkelkan dari Fio karena bawaan dari kehamilannya.
"Sabar sayang, lagipula Nana belum tiba di bandara. Dan kita harus menyetir pelan agar bayi yang ada di dalam kandungan-mu tidak terguncang saat melewati jalan yang rusak," balas Fallen lembut.
"Ish, selalu aja seperti itu, balap aja apa susahnya sih? Mulai dari sekarang kita harus membalap, agar, ketika Anak Kamu udah besar dia bisa jadi pembalap terkenal di dunia," ucap Fio.
Fallen bergidik ngeri, jika anaknya laki-laki yang boleh saja, tapi, kalau perempuan? Tentu Fallen tidak mau, karena ia ingin memanjakan putri kecilnya nanti.
"Kak Dertox, cepet dong, Aku tau kok kalau Kakak lagi ngerinduin Nana," rengek Fio.
Dertox menatap Fallen dari kaca depan dan Fallen menatapnya tajam sebagai jawaban tidak!
"Maaf, Fio. Tidak bisa," balas Dertox datar.
"Jawabnya datar amat yah," kesal Fio.
Dertox memaklumi sifat Fio yang selalu berubah-ubah, kadang sifat Fio sangat manja dan selalu menangis ketika tidak dituruti, tapi, sekali sifatnya berubah menjadi sensitif, maka Fallen pun tidak dapat berkutik.
Serangan Fio adalah.
Tidur di luar!
Gak dapat jatah!
Gak boleh pegang-pegang!
Tapi satu lagi, senjata ini merupakan senjata pamungkas dari Fio, yaitu mendiami Fallen selama berhari-hari atau dia mogok makan.
Tak terasa, mereka telah sampai di bandara. Nana yang tengah memainkan ponselnya menengok ke arah mobil yang ber-klakson.
Tittt
Waktu SMA, Nana tidak peduli dengan penampilan nya, tapi sekarang, semua itu berubah, kini Nana terlihat lebih feminim.
Saat mobil berhenti, Fio segera membuka pintu dan memeluk Nana erat, "Astaga Nana, Kamu berubah banget, tambah cantik lagi," puji Fio.
Nana tertawa pelan, "Lo juga beda, malahan tambah cantik, terus pipi lo makin gembul," balas Nana kemudian mencubit pipi Fio.
Mereka tak sadar jika Fallen dan Dertox berada di belakang mereka, "Oh iya Na, Aku lagi hamil loh, sesuai permintaan Kamu," ucap Fio senang.
Senyum Nana mengembang, kemudian Nana menatap perut Fio yang masih rata, "Gue bakalan punya ponakan," balas Nana terkikik pelan.
"Janji Kamu gimana Na? Mana bulenya?" tanya Fio lantang.
Nana tertawa pelan, Nana baru saja berbalik untuk menunjuk temannya, yang ia dapat malah tatapan tajam dari Dertox.
Nana terdiam di tempat, ia terhanyut dalam mata coklat pria tersebut, perlahan Nana tersenyum pelan, "Apa kabar?" tanya Nana sedikit canggung.
"Aku baik-baik saja," jawab Dertox datar.
Mendengar jawaban Dertox membuat Nana mendengus sebal, ternyata sifat Dertox sama saja, bahkan lebih datar waktu terakhir kali mereka bertemu.
"Sifatmu semakin menyebalkan, minggir, Aku menunggu temanku," ucap Nana kemudian melewati Dertox.
Tak lama kemudian, seorang Pria bule datang sambil membawa koper tengah tersenyum gembira.
"Huft, maaf, tadi ada halangan."
"Tidak apa-apa, Boutter," balas Nana kemudian menarik tangan Boutter untuk mengenalkannya ke Fio.
"Dia adalah sahabatku, yang sering Aku ceritakan," ucap Nana mengenalkan Fio kepada Boutter.
"Wah, Kau memang benar, dia sangat manis," puji Boutter.
"Hhhh, terimakasih, bahasa Indonesiamu terdengar fasih," ucap Fio.
"Sama-sama, Nana lah yang mengajarkanku, dan kenalkan namaku Boutter Oureta," balas Boutter.
Mereka tidak saling jabat tangan, karena Boutter tahu jika Fio sudah bersuami.
"Ekhem," Deheman Fallen dan Dertox bersamaan.
"Akan kubunuh dia," ucapan Dertox terdengar mengerikan.
"Tidak! Dia adalah temanku, jangan macam-macam Kak," ucap Nana.
Dertox mendengus kesal, ia cemburu.
Fio tertawa pelan, ekspresi Dertox sangat lucu ketika ia cemburu, apalagi melihat Boutter yang nampak biasa-biasa saja. Kemudian tatapan Fio beralih ke Fallen dan ternyata sepasang mata hitam legam itu menatapnya tajam.
"Aku terlalu larut dalam suasana sehingga melupakan singa," gumam Fio.
Pandangan Fio dan Nana bertemu, seolah mengerti satu sama lain, Nana segera berbisik ke Boutter kemudian menarik tangan Fio segera masuk ke dalam mobil.
"Fio, Nana, buka pintunya!" kesal Fallen yang menggedor kaca mobil.
"Gak mau, kalian kan jahat, pasti mau ngapa-ngapain kami," balas Fio.
Fallen menggeram kesal, sifat kekanak-kanakan Fio muncul kembali, kini ia ekstra sabar untuk menghadapinya.
Dertox mengeluarkan kunci dan membuka pintu mobil dari samping kiri, tapi Nana tidak kehabisan akal, ia menarik kerah baju Dertox berniat untuk menggigit jari pria tersebut malah kejadian yang merugikan Nana malah terjadi.
Senjata makan tuan bahwa bibir mereka tengah bersentuhan.
"Astaga, bibir Nana dinodai!" teriak Fio.
Nana mendorong tubuh Dertox sehingga kepala Dertox terbentur di pintu mobil, "Argh!" teriak Dertox kesakitan.
"Maafkan Aku, ini semua kesalahan-mu," ucap Nana dan Dertox membulatkan matanya.
Ia merasa tidak adil, dirinya yang didorong dirinya pula yang bersalah.
"Sudahlah, Aku jengah melihat pertengkaran kalian, lebih baik kita pulang!" putus Fallen.
Saat sampai di rumah, Nana dan Fio langsung bergegas ke dalam kamar, kamar tamu lebih tepatnya, kini Nana harus tinggal bersama Fio sementara waktu.
Urusan kabar kepulangannya nanti saja.
Benar-benar anak durhaka Nana ini.
"Nana, kapan sih nikahnya?" tanya Fio.
"Kalau udah ada yang lamar Fio," jawab Nana.
Fio langsung ke luar dari kamar dan berteriak, "Kak Dertox, Nana udah siap nikah tapi belum ada yang lamar!"
Nana menatap kesal Fio yang mulutnya benar-benar ember, sahabatnya tidak pernah berubah sama sekali.
Dertox yang mendengar itu hanya tersenyum tipis kemudian menuju kamar tamu.
Saat sampai di depan kamar, Dertox masuk dan menghampiri Nana.
Nana tentunya terkejut, apalagi tangannya langsung digenggam oleh Dertox, ketika Dertox mengeluarkan sebuah kotak yang berisi cincin, mata Nana fokus menatap cincin indah tersebut.
Dertox mengambil cincin itu kemudian dengan pelan mengaitkannya di jari manis Nana.
"Besok kita akan menikah," ucap Dertox.
Yang tadinya Nana terharu bahagia kini menjadi kesal, ia baru saja pulang dan besok adalah hari pernikahan mereka? Apalagi Dertox belum melamarnya di depan orang tuanya.
"Dertox apa-apaan ini? Ini terlalu cepat, Kamu harus minta restu di depan orang tuaku," ucap Nana.
Dertox tersenyum miring, "Sudah kulakukan dan sudah kupersiapkan dijauh hari," balas Dertox.
Nana mengerjapkan matanya, "Benarkah?" tanya Nana dan Dertox mengangguk.
Buktinya, orang tua Nana masuk ke dalam kamar yang telah dipersilahkan oleh Fallen. Sebenarnya ini adalah rencana Dertox seperti yang ia katakan tadi bahwa mereka Dertox telah memersiapkan semuanya, tentu dibantu oleh Fallen.
"Kapan kalian merencanakan ini semua?" tanya Fio terharu.
Fallen tersenyum dan mengecup pipi istrinya, "Jangan banyak bertanya, yang terpenting mereka akan menikah," jawab Fallen.
Sedangkan Nana tengah memeluk orang tuanya erat dan berterimakasih kepada mereka berdua yang telah merawatnya dari kecil hingga menjadi sukses seperti sekarang.
"Terimakasih, Ibu, Ayah," ucap Nana.
"Sama-sama, Nak, semoga Kamu selalu bahagia," balas Ayah Nana.
"Besok Kamu nikah loh Nak, Ibu sangat senang akhirnya punya menantu," ucap Ibu Nana.
"Ih, kok mendadak sih?" tanya Nana.
"Lebih cepat lebih baik!" kata Fio.
Dan mereka semua tertawa.
~~
Ke esokan harinya adalah hari pernikahan Nana, begitu banyak ucapan selamat dari berbagai sahabat, teman, dan rekan bisnis lainnya.
Fahrul menatap mereka bahagia, diantara keluarga yang tersisa saat ini adalah tinggal ia seorang yang belum mendapatkan kekasih hatinya tapi suatu saat ia pasti menemukannya.
Nana tersenyum bahagia kemudian memegang sebuket bunga untuk ia lemparkan, saat ia melempar bunga tersebut, tak sengaja bunga itu jatuh tepat di tangan Fahrul.
Fahrul yang menerimanya terkejut, ia langsung menyunggingkan senyumannya, ia tidak menyangka, apakah ini pertanda dan doanya diterima barusan? Jika benar Fahrul sangat bersyukur.
"Hahaha, Kau akan menyusul Adik ipar," ucap Fio.
"Tentu Kakak Ipar," balas Fahrul dan mereka langsung berkumpul dan berbagi kebahagiaan bersama.
kalau pribadi yimak .membawa like