Hidup Sandy bisa dibilang gagal. Kehilangan pekerjaan yang berujung dengan rumah tangga yang hancur. Kini Ia sendiri meratapi nasib. Namun saat Ia terbangun dari mabuknya, Ia mendapati dirinya kembali ke tahun 2000, tahun milenium. Mampukah Ia memperbaiki masa depannya dan kembali ke masa depan lagi? Ataukah Ia akan mengulangi kesalahan yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Sandy menatap Shanum dengan lekat. Wajah bingung bercampur takut milik Shanum membuat Sandy ingin menjadi orang yang melindunginya, seperti biasanya.
"Buang aja atau gimana nih?" tanya Shanum untuk yang kesekian kalinya.
"Terserah lo aja." jawab Sandy tak peduli.
"Ih lo mah gitu! Gue takut nih! Kalau malam-malam nih kalung keluar setannya gimana? Takut gue!" wajah Shanum semakin terlihat panik saja.
"Yaudah gue temenin tidurnya, eh... Mau enggak?" goda Sandy.
"Enak aja! Itu mah mau lo! Playboy cap tauco!" omel Shanum.
"Tauco? Asem dong? Ha...ha...ha..."
"Yeh bukannya jawab malah ngeledekkin orang terus!" gerutu Shanum.
"Mau jawab apa Neng? Udah dibilangin kalo takut sini tidur di cafe gue. Ntar gue kelonin. Mau enggak?" goda Sandy lagi.
"Timpuk nih!" Shanum mengambil box tissue dan mengancam hendak menimpuk Sandy.
Bukannya takut, Sandy malah menertawai kegusaran Shanum. "Dih emosian banget jadi orang! Nanti kalau emosian terus lo punya suami lagi banyak masalah malah lo tinggalin lagi!"
"Yeh gue mah enggak bakalan ninggalin suami gue tanpa alasan! Justru kalau suami gue ada masalah bakalan gue dampingin!" ujar Shanum.
Sandy jadi tertarik dengan perkataan Shanum. "Masa sih? Alasan apa yang bikin lo bakalan ninggalin suami lo? Alasan paling kuat!"
"Hmm... Pertama perselingkuhan. Gue enggak bisa maafin suami gue yang tukang selingkuh." Sandy mengingat-ingat selama berumah tangga dengan Shanum sepertinya Ia tak pernah selingkuh. Yang naksir Sandy sih banyak. Tapi kayaknya alasan selingkuh enggak mungkin deh.
"Yang kedua?"
"Apa ya? Kalau suami gue udah enggak peduli sama gue dan anak gue. Udah enggak cinta lagi yaudah tinggalin aja."
Sandy kini tertegun mendengarnya. Ia memang sibuk sendiri namun kesibukannya karena ingin memberikan kehidupan yang lebih layak lagi bagi keluarganya. So, wajar bukan?
"Yang ketiga, kalau kehidupan rumah tangga gue udah kayak di neraka. Berantem setiap saat tanpa ada solusi. Gue akan mempertahankan rumah tangga gue apapun yang terjadi. Jika gue nyerah, pasti gue udah mengibarkan bendera putih tanda menyerah. Pasrah gitu." kata Shanum menambahkan lagi perkataannya.
Sandy terdiam. Ia merasa kecuali alasan pertama, dua alasan yang lain Ia memang mengakui kesalahannya. Sikapnya yang selalu sibuk sendiri dan suka marah-marah membuat rumah tangga mereka semakin hancur saja.
"Kenapa lo diem gitu?" tanya Shanum menyadarkan Sandy dari pikirannya sendiri.
"Enggak apa-apa. Jadinya lo bakalan buang enggak tuh kalung? Tadi tulisannya apa sih?!"
Shanum melihat lagi kalungnya. "Rope. Kalau bahasa Inggris sih artinya tali. Kalung ini sebagai tali atau pengikat gitu? Jangan-jangan pengikat pelanggan biar dateng ke cafe lo lagi? Ayo ngaku! Lo nyuruh Black buat bikin barang keramat buat datengin pelanggan kan?"
"Kalau buat datengin pelanggan, kenapa gue megangnya panas? Itu bukan punya gue. Kalau punya gue pasti bisa gue pegang. Itu buat lo kali!"
"Buat gue? Kenal sama Black aja enggak! Baik banget Black sampai ngasih begituan sama gue!" Shanum sama sekali tak percaya perkataan Sandy.
"Nanti gue tanyain deh sama Black kalo ketemu lagi! Ayo katanya mau pulang!" Sandy menutup laptop miliknya dan memasukkannya ke dalam tas.
"Masih sore! Lo mau gue traktir enggak?" Shanum masih ingin menghabiskan waktunya dengan Sandy. Entah mengapa bersama Sandy terasa lebih seru dibanding dengan Kemal.
"Enggak usah. Gue anterin lo pulang aja! Gue mau pulang juga. Kangen sama nyokap!" ucapan Sandy membuat level kagum Shanum terhadapnya meningkat. Jarang loh ada mahasiswa cowok bilang kangen sama Ibunya. Biasanya suka gengsi takut dibilang anak mami. Namun Sandy tak menyembunyikan semua hal itu. Ia malah terlihat bangga saat mengatakan kangen Ibunya.
"Yaudah ayo. Besok aja gimana, gue traktirnya?" Shanum masih usaha agar bisa jalan sama Sandy lagi.
"Agresif banget lo sama gue!"
"Gue tuh punya janji sama lo! Enggak boleh diingkarin kalau punya janji! Harus ditepatin. Kan enggak lucu kalau gue udah ke surga harus cancel gara-gara belum bayar utang sama lo!" alasan Shanum membuat Sandy percaya.
"Iya. Utang tuh harus dibayar. Jangan besok deh. Lusa aja. Gue kuliah pagi doang. Linda juga enggak ngajak gue jalan jadi bisa lah gue pergi sama lo."
"Lo... Enggak masalah gitu pergi sama gue? Kalau Linda cemburu gimana?" tanya Shanum ragu.
"Enggak bakalan. Udah tenang aja!" jawab Sandy yakin.
"Segitu percayanya sama lo. Kalau gue sih enggak bisa kayak gitu!" sindir Shanum.
"Iya. Kalo lo tuh suami pulang telat dikit aja bakalan lo teleponin kan?" sindir balik Sandy.
"Loh kok lo bisa tau? Itu emang udah niat gue. Kalau punya suami bakalan gue pantau. Banyak cewek nekat jaman sekarang. Udah tau suami orang eh nekat dideketin! Makanya gue harus ekstra protect!"
Sandy jadi teringat kalau Shanum akan meneleponnya jika jam 11 malam belum pulang. Awalnya tiap jam 8 malam. Lalu seiring kesibukan Sandy, Shanum akan menghubunginya jam 11 malam jika belum sampai rumah.
Sudah lama sekali rasanya tidak di telepon Shanum. Apa Shanum memang sudah tidak peduli dengannya makanya tak ragu menggugat cerai?
"Bengong lagi! Ayo pulang!" Shanum mengambil tasnya dan berjalan menuju motor Sandy. Memakai helm sebelum Sandy melemparkan padanya dengan tidak sopan.
Sandy membereskan dulu buku pembukuannya lalu menyusul Shanum yang sudah stand by di dekat motornya. "Ayo!"
****
"Kamu udah pulang, Le?" Ibu menyambut Sandy dengan senyum hangatnya seperti biasa.
"Iya, Bu." Sandy pun salim tangan Ibunya tersayang.
"Ada Bule Cucu Saodah tuh didalam! Kamu Salim sana!" Sandy melongok ke dalam rumah. Pantas saja di luar ada sandal yang tidak Ia kenal pemiliknya. Ternyata ada tamu.
"Sehat Bule?" sapa Sandy sambil mencium punggung tangan saudara sepupu ibunya tersebut.
"Sehat. Kamu gimana? Makin sukses aja nih usahanya? Bule salut loh sama kamu!" puji Bule Cucu.
"Yah... Lumayanlah, Bule. Merintis sejak dini." Sandy memperhatikan perhiasan emas yang dipakai Bule Cucu.
"Bule juga mau nih usaha kontrakkan buat investasi masa depan. Takut habis uang gusurannya." Bule Cucu tertawa malu-malu.
"Enak ya yang habis dapat gusuran!" Ibu makin membesarkan kepala Bule Cucu.
"Ah, cuma dapet uang 1 Milyar doang mah dikit." Bule Cucu makin pamer saja.
Sandy ikut tersenyum dengan perkataan Bule Cucu sebelum Sandy ingat masa depan Bule Cucu. Bule Cucu walau agak pamer tapi hatinya baik. Suka menolong keluarga Sandy saat susah.
Masa depan Bule Cucu tidak bagus. Haruskah Sandy turun tangan dan membantu merubah takdir Bule Cucu? Akanlah ada masalah di kemudian hari jika Ia melakukannya?
****
Sandy yg milenium kemana. Terus kalo dia mantap gamau balik lagi ke milenium misalkan, mau di 2021 aja terus yg di milenium gimana? Ngilang dong? Dan nggak akan ada di masa depan tiba tiba aja kan?