Zeline, Anakku! kalian tidak berhak mengambil nya! Jangan ambil Zeline ku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sangrainily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendapatkan Pujian
Stella dan Laras pergi ke pasar untuk membeli segala keperluan di cafe, Stella memberi bahan-bahan yang paling segar. Harga di pasar, jauh lebih murah daripada di supermarket.
"Sebaiknya, Ibu menghubungi pak Zidan dahulu. Saya takut, jika pak Zidan tidak menyukai semua ini." ujar Laras dengan lembut, biasanya dia dan Zidan yang selalu berbelanja di pasar. Stella pun menyetujui ucapan Laras, ia mengambil ponsel untuk menghubungi Zidan, namun Stella lupa meminta nomer Zidan.
"Laras, tolong kamu hubungi pak Zidan dan katakan kita akan berbelanja di pasar mulai sekarang. Saya tidak memiliki nomer pak Zidan." Laras pun terkejut mendengar penjelasan Stella, mereka terlihat sangat dekat bagaimana bisa Stella tidak memiliki nomer ponsel Zidan. Tak ingin membuat atasan nya marah, Laras langsung mengambil ponsel nya dan segera menghubungi Zidan.
Panggilan tersambung.
Laras memberikan ponsel nya kepada Stella. Stella awal nya menolak namun Laras menjelaskan akan lebih baik Stella yang menjelaskan nya secara langsung. Melalui perantara itu tidak akan baik, Stella pun mengerti. Ia mengambil ponsel genggam milik Laras dan berbicara kepada teman nya Zidan.
*Hallo? Ada apa? Apakah ada masalah di sana? ~ Zidan
Tidak, Zidan! Ini aku Stella. ~ Stella
Stella? Ada apa? Mengapa kau memakai ponsel Laras? Di mana ponsel mu? ~ Zidan
Ada, aku tidak memiliki nomer mu karena aku lupa meminta nya tadi. Aku ingin memberitahu jika aku dan Laras berbelanja di pasar agar kami lebih puas memilih bahan-bahan yang segar. Lagipula, harga pasar jauh lebih terjangkau. Apa kau keberatan? ~ Stella.
Tidak, itu ide yang sangat bagus. Aku sangat berterimakasih kepada mu, lakukan apa saja yang menurut mu bagus untuk kemajuan cafe. ~Zidan
Baik lah, aku tutup dulu telepon nya ~ Stella
Berikan saja ponsel nya kepada Laras, ada yang ingin aku sampai kan ~ Zidan*
Stella pun memberikan ponsel Laras kepada pemilik nya, Laras berbicara kepada Zidan. Entah apa yang mereka bicarakan, Stella juga tidak ingin mendengar. Stella memutuskan kembali untuk mengecek sayur-sayuran yang masih sangat segar.
Zidan memerintahkan kepada Laras untuk memberikan nomer nya kepada Stella. Bukan hanya nomer khusus pekerjaan, namun juga nomer pribadi Zidan. Laras pun mengerti ucapan bos nya itu, walau hati nya sedikit sakit namun apa yang bisa ia lakukan. Ia hanya sadar diri dengan posisi nya. Namun, satu hal yang Laras bingung. Ke dua atasan nya itu terlihat sangat dekat, namun mengapa kedua nya tidak menyimpan nomer satu sama lain.
Laras pun tak mau mengambil pusing dengan itu semua, ia juga percaya jika jodoh tidak akan kemana.
Laras memutuskan pembicaraan nya dengan Zidan, ia memasukan ponsel milik nya ke dalam tas lalu mengikuti Stella. Walau Stella lebih muda dari nya, namun Stella begitu sangat telaten dalam urusan seperti ini. Pantas saja jika Zidan mengangumi Stella. Laras juga berfikir, jika diri nya yang berada di posisi Stella sebagai manager mungkin ia tidak akan bisa mengatur segala nya dengan sebaik ini. Laras mulai mengagumi kebaikan dan ketulusan Stella. Dia sangat lembut dan sopan walau jabatan nya lebih tinggi.
"Ayo, kita udah selesai." ujar Stella. Stella pun membawa barang belanjaan yang begitu banyak.
"Tidak usah! Kita akan menyuruh supir saja." ujar Laras, namun Stella menolak. Karena ia kasihan jika supir harus menemui mereka, parkir juga tidak terlalu dekat.
"Tidak usah, saya bisa kok. Kasihan bapak itu jika harus ke sini dulu."
"Baik lah, sini saya bantu Bu."
"Jika di luar cafe, sebaiknya panggil saja Stella. Jangan ibu, lagipula Stella masih muda." canda Stella, Laras tersenyum, ia mengatakan jika ini masih jam kerja. Jadi Laras akan memanggil nya dengan sebutan ibu.
"Terserah kamu saja." mereka pun berjalan ke luar pasar menuju mobil, supir yang melihat mereka dari kejauhan Langsung berlari mendekati Laras dan Stella.
"Non kenapa tidak menghubungi saya, saya bisa menjemput barang-barang ini ke dalam,"
"Tadi nya saya mau mengubungi bapak, tapi ibu Stella tidak mau. Katanya, kasihan bapak jika harus berjalan terlalu jauh dan membawa barang terlalu banyak ini. Makanya, kita yang membawa barang ini."
"Oh begitu, lain kali tidak apa-apa, Non."
"Pak, boleh kah saya meminta tolong?" ujar Stella dengan lembut, supir itu pun bertanya apa yang bisa ia bantu.
"Tolong jangan panggil saya non, panggil saja Stella atau nak. Bagaimana?"
"Baik lah nak Stella, kamu memang wanita yang baik hati." Stella dan Laras pun tersenyum, Laras menoleh ke arah Stella. Ia semakin mengagumi sifat Stella. Yang bukan hanya baik padanya saja, namun juga kepada supir kantor.
"Baik lah, Pak. Ayo kita kembali ke cafe." Supir itu membantu Laras dan Stella memasukan belanjaan ke bagasi mobil. Setelah selesai memasukan barang belanjaan. Stella, Laras dan supir masuk kedalam mobil. Supir itu melajukan mobil menuju cafe.
Sesampai di cafe, mereka memberikan belanjaan kepada para karyawan. Mereka bingung, mengapa Stella belanja sangat sedikit.
"Pasti kalian bertanya, kenapa saya belanja sangat sedikit. Iya, saya membeli stok untuk dua hari sekali saja, bukan sebulan sekali seperti biasa nya. Agar bahan-bahan kita tetap enak dan fresh." para karyawan pun mengangguk mengerti, Setelah memberikan penjelasan kepada karyawan. Stella berpamitan untuk menuju ruangan nya.
Ia ingin menuju dapur, membuat teh untuk diri nya. Namun, Laras dan beberapa karyawan mencegah.
"Maaf, Bu. Untuk apa ibu ke belakang?"
"Saya ingin membuat teh, apakah tidak boleh?"
"Bukan tidak boleh Bu, tapi sebaik nya ibu menunggu saja di ruangan. Jika memerlukan sesuatu, ibu bisa meminta nya kepada kami." ujar salah satu waiters tersebut yang tak enak jika atasan mereka membuat teh sendiri. Apa yang akan Zidan katakan nanti, Pemilik cafe ini pasti akan marah atau bahkan memecat mereka. Stella memahami ketakutan para karyawan nya, ia pun mengalah. Meminta tolong kepada karyawan untuk membuatkan teh hangat untuk nya. Ia segera berlalu meninggalkan mereka menuju ruangan.
Para karyawan yang melihat kepergian manager mereka pun langsung memuji nya.
"Bos kita ini sangat baik hati ya, pak Zidan memang baik. Tapi, ibu Stella begitu rendah hati. Bahkan, mau ke ruangan saja ia meminta izin dulu pada kita. Semoga dengan adanya Bu Stella. Cafe ini akan semakin maju, dan para karyawan akan semakin terjamin kehidupan nya." ujar salah satu waiters tersebut. Semua pun menyetujui nya termaksud Laras, namun ada satu karyawan yang seakan tidak senang dengan itu semua. Ia sudah lama bekerja di sini, bahkan begitu dekat dengan Zidan. Namun, mengapa Stella yang mendapatkan jabatan itu bukan diri nya.
kasihan Stella