Hito diperlakukan secara tidak adil oleh keluarga istrinya. Segala hal buruk ia dapatkan, tetapi pria itu tetap setia demi cintanya.
Namun, seiring berjalannya waktu. Hito semakin tidak dianggap. Secara terang-terangan sang istri berselingkuh dengan pria lain.
Hito direndahkan, dan dianggap pria sampah yang hanya menumpang. Namun, mereka semua tidak menyadari jika Hito, adalah seorang penguasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miracle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbongkarnya Identitas
"Lihat, itu Tuan Hito bersama dengan asisten setianya," ucap salah satu karyawan wanita.
Mata Xava memandang pria yang memakai topeng tengah berjalan menuju lift bersama dengan James. Dahinya berkerut karena pria itu sangat mirip dengan suaminya sendiri.
"Jadi dia bos dari Hito. Benar-benar mirip perawakannya, tetapi penampilan mereka jelas berbeda. Kalau suamiku didandani begitu, pasti mereka berdua sangatlah mirip," gumam Xava.
Tiba-tiba Hito berhenti saat matanya memandang tidak sengaja Xavera. Segera pria itu melajukan langkah masuk ke dalam lift. James menghampiri Xava yang memandang Hito tanpa berkedip.
"Nona," tegur James.
"Oh, selamat pagi, Tuan," ucap Xava dengan membungkukkan sedikit tubuhnya. "Tadi itu bos Anda yang waktu itu menolong kami?"
"Iya, benar."
"Bisakah aku menemui beliau untuk mengucapkan terima kasih?" tanya Xava.
James jadi salah tingkah. "Nanti akan saya sampaikan. Kalau begitu, saya permisi dulu."
James bergegas menuju lift sebelahnya. Xava menjadi heran akan tingkah dari pria itu. Terlebih lagi pada Hito sang pemilik perusahaan.
"Apa dia Hito suamiku?" Xava mengeleng. "Rasanya tidak mungkin. Apa mereka kembar? Perawakan mereka sangatlah mirip," gumam Xava sembari masuk ke dalam lift karyawan menuju ruangannya berada.
...****************...
"Aku rasa Xava mulai curiga," kata Hito.
"Beritahu saja, Tuan," usul James.
Hito membuka jasnya, melonggarkan dasi kemudian membuka tiga kancing kemeja yang ia kenakan. Pupil James melebar melihat tanda merah di leher atasannya.
"Seperti Tuan selesai bulan madu," kata James.
Hito tersentak, dan bergegas mengancingkan kembali kemejanya. "Kami baru semalam melakukannya."
"Kemajuan yang sangat bagus, Tuan. Saya rasa nyonya Xava mencintai Tuan muda," kata James.
"Apa aku perlu membuka identitasku sekarang? Dia bekerja di perusahaan, dan aku tidak mau bermain petak umpet, tetapi ... bagaimana dengan Ye Chen?"
"Saat ini tidak ada pergerakan dari pria itu, tetapi bisa saja dia mencari tahu tentang Anda, dan mengikuti kita secara diam-diam," tutur James.
Hito mengangguk, "Kamu benar! Sepertinya aku harus membuka identitasku."
Nada dering ponsel milik Hito berbunyi. Panggilan dari Cody asisten sekaligus kepala pelayan di rumah Hutomo. Segera Hito mengangkat panggilan itu.
"Ada apa paman?" tanya Hito.
"Gawat, tuan muda. Tuan besar pergi ke kediaman rumah kecil Anda." ~ Cody.
"Apa?! Papa ke rumah kecil?"
...****************...
"Maaf, Tuan siapa?" tanya Wito.
"Anak saya membawa Anda diam ke rumah kecil ini? Keterlaluan anak itu," kata Hutomo.
Wito tidak mengerti akan perkataan dari pria yang memakai setelan jas mahal itu. Tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu, lalu Hutomo langsung saja masuk tanpa dipersilakan.
"Kenalkan, saya Hutomo. Besan Anda, ayah dari Hito Wiliam Hutomo."
Wito tercengang, "Besan saya?"
"Apa saya boleh duduk?" tanya Hutomo.
"Silakan duduk." Wito memanggil Zaya untuk menyiapkan minuman.
"Anak itu keterlaluan. Dia menyembunyikan pernikahannya, dan membawa mertuanya tinggal di tempat sempit begini."
"Maaf, Tuan. Anda orang tua dari Hito? Menantu saya?" Wito tidak percaya dengan apa yang didengar dan ia lihat. Hutomo jelas terlihat seperti orang kaya, tetapi Hito mengaku jika ia anak orang miskin. "Apa Anda salah orang?"
"Hanya ada satu nama di negeri yang punya nama itu," kata Hutomo.
"Pemilik perusahaan anak saya bekerja juga namanya Hito Wiliam Hutomo."
"Karena memang menantumu pemiliknya. Kalian tenang saja. Hari ini juga kalian harus pindah dari rumah ini. Anakku punya banyak rumah, tetapi malah membiarkan kalian tinggal di rumah kecil ini." Hutomo memanggil pengawalnya yang berada di luar. "Kalian bantu besanku ini untuk membereskan barang-barang mereka. Hari ini juga bawa dia pindah ke rumah yang lebih besar di daerah utara."
"Baik, Tuan," ucap tiga pengawal yang datang menghadap.
"Tuan!" seru Cody.
Hutomo menoleh pada sumber suara yang ia kenal. "Cody! Kamu di sini."
"Iya, saya di sini."
"Kenalkan ... ini asisten saya Cody, "kata Hutomo kepada Wito.
"Saya Wito, dan saya masih tidak mengerti akan apa yang terjadi."
"Akan saya jelaskan, Tuan," ucap Cody. Kacau semua. Tuan Hutomo sudah membongkar identitas dari tuan muda. Semoga anak dan ayah ini tidak akan bertengkar nantinya.
...****************...
"Panggil Xavera kemari. Sebelum dia kaget dengan apa yang terjadi di rumah, lebih baik aku memberitahunya terlebih dulu," kata Hito.
"Akan saya panggil sekarang," kata James.
Xavera fokus menatap layar komputer. Jari-jarinya menekan tuts-tuts keyboard. Pekerjaannya hari ini cukup banyak, dan harus diselesaikan dengan sesegera mungkin.
"Nona Xavera," tegur James.
Xavera tersentak karena tidak sadar akan kedatangan James. Wanita itu lekas berdiri, dan membungkukkan sedikit tubuhnya. "Iya, Tuan."
"Mari ikut saya. Tuan Hito ingin bertemu."
"Apa?! Tuan Hito pemilik perusahaan ini?" tanya Xavera.
"Tentu saja. Siapa lagi pemilik dari perusahaan ini," kata James.
"Kenapa saya dipanggil? Apa saya ada berbuat kesalahan?"
"Anda akan tahu setelah menemui beliau," ucap James.
Xavera mengikuti langkah James menuju ruangan Hito berada. Pikiran buruk menghantui. Hatinya bertanya-tanya gerangan perihal pemilik perusahaan memanggil dirinya.
Apa karena aku memperhatikan dia saat masuk ke dalam lift? Masa seperti itu saja, aku dipanggil?"
"Silakan, Nona," ucap James mempersilakan.
Xavera masuk ke dalam ruangan Hito. Pintu ditutup oleh James, dan kini hanya ada mereka berdua. Xavera menunduk takut, dan Hito malah tersenyum.
"Perlihatkan wajahmu!"
Xavera terkesiap dan spontan mengangkat wajahnya. Lebih mengejutkan lagi suara pria bertopeng itu mirip dengan suara suaminya.
"Ada apa Tuan memanggil saya?" tanya Xava.
Hito beranjak dari duduknya di kursi. Ia melangkah mendekat pada Xava. Tangan Hito terulur menyentuh pipi Xava, dan secara refleks wanita itu menepisnya.
"Maaf, Tuan! Anda sungguh tidak sopan!" kata Xava.
"Apa kamu sudah ada yang punya?" tanya Hito.
"Saya sudah bersuami, Tuan."
Hito tertawa, "Aku pemuda kaya. Jadilah simpananku."
Mata Xava terbelalak. "Kurang ajar! Anda melecehkan saya. Sekarang juga saya akan mengundurkan diri."
"Kamu tidak takut suami akan menderita di luar sana?"
"Suamiku menyanjungmu, tetapi kamu malah menginginkan istri dari anak buahmu sendiri!' kata Xava geram.
Hito kembali tertawa, "Sayang, ini aku ... suamimu." Hito membuka topeng yang menutupi wajahnya. Pupil Xava melotot melihat suaminya sendiri.
"Apa kalian kembar?" tanya Xava tidak percaya.
"Hei, aku Hito suamimu."
"Bagaimana bisa?" Xava tidak percaya.
"Kamu tidak percaya padaku? Lihat ini, "Hito membuka kancing kemejanya, "ini bekas kecupan bibirmu semalam."
Xava mengeleng, "Jelaskan padaku."
Hito meraih wajah Xava. "Lihat dengan benar. Aku ini suamimu. Hito Wiliam Hutomo. Ayo duduk ... aku akan jelaskan semuanya."
Hito membawa Xava duduk, lalu bercerita mengenai identitas dirinya. Semuanya Hito jelaskan kepada Xava mengapa ia berbuat seperti itu.
"Aku tidak sangka kamu berpikir kalau aku wanita seperti itu. Aku sudah bilang, aku bukanlah mantan istrimu yang memandang harta dari segalanya," tutur Xava.
Hito mengangguk, "Maafkan aku. Lebih baik kita lakukan kegiatan seperti semalam. Kebetulan aku sangat menginginkanmu."
Bersambung.