NovelToon NovelToon
Sang Musafir

Sang Musafir

Status: tamat
Genre:Petualangan / Contest / Kultivasi / Pendekar / Hamil di luar nikah / Fantasi Timur / Tamat
Popularitas:2.8M
Nilai: 5
Nama Author: WestReversed

Jayamantingan adalah seorang pengembara muda miskin yang tetap melanjutkan pengembaraannya meski tidak memiliki tujuan sama sekali. Dirinya terasing akibat penampilannya yang sangat buruk. Ia lebih mirip pengemis tanpa kasta ketimbang pengembara.

Namun, segalanya berubah setelah perjumpaannya dengan seorang wanita aneh yang membuat dirinya harus menemukan sebuah bunga ajaib bernama Kembangmas. Kendati bunga tersebut hanya ada di kisah dongeng semata, Jayamantingan tetap menerimanya mengingat dirinya tidak lagi memiliki tujuan hidup.

Pengembaraan mencari kemustahilan itu lambat-laun menuntunnya menemui takdir menjadi salah satu Pemangku Langit, pendekar terkuat di atas segala pendekar yang menguasai dunia persilatan.

Mampukah Jayamantingan membawakan Kembangmas kepada Kenanga? Ataukah justru kematian menjemputnya terlebih dahulu di belantara persilatan, yang jumlah kematiannya bagaikan guguran daun diterpa angin badai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WestReversed, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kanoman; Penginapan Tanah

Sebelum mereka memasuki gapura Kanoman, keduanya diperiksa terlebih dahulu oleh seorang penjaga. Sembari memeriksa, penjaga itu juga menjelaskan bahwa keadaan kota saat ini tidaklah terlalu aman, perampok dan kelompok-kelompok golongan hitam membuat satu pergerakan serentak yang memusingkan kerajaan, maka dari itu diadakan pemeriksaan di setiap pintu masuk kota untuk menghindari adanya perampok yang masuk.

Penjaga itu ramah karena tidak menemukan tanda-tanda yang membahayakan dari Mantingan dan Rara, terlebih setelah mereka diperiksa. Bahkan dirinya sampai memberi saran tempat penginapan yang bagus dan cocok untuk pengembara seperti mereka.

Mantingan mengucapkan rasa terima kasih yang sangat dalam, sebelum mengajak Rara masuk ke dalam kota.

“Mantingan, aku berharap kita tidak menginap di penginapan yang tadi disebutkan prajurit itu, aku yakin harganya mahal.”

Mantingan mengangguk, ia bersyukur karena Rara bisa mengerti keadaannya. Maka hal pertama yang harus mereka lakukan di sini adalah menemukan penginapan yang harganya lebih murah, sehingga bisa menghemat uang untuk perjalanan ke depannya.

Mereka pergi kesana-kemari di tengah hiruk-pikuk kota, bertanya-tanya penginapan apa yang tersedia di kota tersebut, tetapi semua orang menunjuk penginapan yang sama dengan yang ditunjuk oleh penjaga gapura tadi. Kecuali satu orang tua yang berkata bahwa ada penginapan kecil-kecilan di ujung kota, orang tua inilah yang membuat Mantingan tersenyum lebar setelah lelah bertanya pada banyak orang.

Orang tua itu rinci memberi arahan, bahkan dia menambahkan bahwa untuk masuk ke dalam penginapan itu haruslah mengucap sebuah sandi. “Di sana kalian harus menyebut ‘jangkrik masuk tanah’ agar diperbolehkan masuk dan menyewa kamar. Kamar di sana sangat murah, tapi daku sarankan untuk tidak menyewa pelayanan di sana sebab harganya jauh lebih tinggi ketimbang harga kamar itu sendiri.”

Mantingan terang saja menjadi heran, tetapi ia menahan pertanyaan yang ingin ia kemukakan sebab orang tua itu sudah berlalu menggoda nenek tua yang baru saja lewat, itu semakin menambah keheranan Mantingan.

Kamar seperti apa yang harganya jauh lebih murah daripada pelayanannya? Dan pelayanan apa yang diberikan hingga harganya jauh lebih mahal ketimbang harga kamarnya? Penginapan yang benar-benar aneh.

“Kau yakin mau ke tempat itu, Mantingan?” Rara bertanya dengan hati-hati.

“Kemungkinan terbesarnya begitu, Rara. Hanya itu penginapan yang paling murah di kota ini, bukan? Terlebih ada kemungkinannya aku hanya singgah satu hari di sini.”

“Ah, mungkin kau hanya mau melepas penat dengan mereka.” Rara mengembuskan napas perlahan dan tersenyum pahit.

Mantingan mengerutkan dahi. “Siapa yang kau maksud dengan ‘mereka’ itu?”

Rara menggeleng, sebaliknya ia malah bertanya. “Aku lebih heran dengan kata-katamu tadi, saat kau mengucapkan ‘terlebih aku hanya singgah satu hari di sini’. Hanya kamu saja?”

“Ya ....” Mantingan menjadi serba salah. “Bukankah sesuai perjanjian kita saat itu adalah kau akan mengikutiku sampai Kanoman saja?”

Senyum Rara semakin pahit. “Aku terlalu merepotkanmu, ya?”

“Bukan. Bukan seperti itu, aku melihat ....”

Ucapan Mantingan keburu terpotong oleh Rara yang menggelengkan kepala. “Tidak apa, Mantingan, aku lebih suka jika kita membahas ini di penginapan nanti.”

Saat itu seakan kepedulian Rara kepada Mantingan menguap tak bersisa. Saat gadis itu berjalan pergi, matanya sama sekali tidak melirik Mantingan. Apa yang membuat Rara menjadi tampak begitu muak dengannya? Apa salahnya? Mantingan tak habis pikir, tetapi memilih untuk tidak memikirkannya. Sebisa mungkin Mantingan akan meminta Rara menjelaskannya secara baik-baik jika ada yang salah dengan dirinya. Ataukah mungkin sebenarnya tidak ada yang salah, hanya saja Rara hanya ingin marah? Bukankah wanita memang seperti itu?

***

Mantingan berhasil menemukan letak penginapan itu berdasarkan arah yang ditunjukkan oleh orang tua di tengah kota tadi. Tetapi yang ia lihat sekarang ini bukanlah penginapan sederhana ataupun penginapan yang mewah. Sulit menjelaskan rupa penginapan itu.

Penginapan tersebut bernama Penginapan Tanah. Hanya ada satu bangunan saja, yang cukup luas dan menyatu dengan rumah-rumah warga lainnya, seakan menyamar. Tetapi sesuai nama penginapan ini, bangunan yang sesungguhnya tertanam di dalam tanah hingga lima lantai panjangnya.

Keheranan Mantingan semakin besar. Penginapan ini pastilah bukan penginapan biasa. Kalau begitu, apa salahnya mencoba?

Saat Mantingan dan Rara ingin masuk, seorang penjaga yang tampangnya seperti orang biasa bangkit dari dipan dan menghadang mereka.

“Dikau tahu apa yang harus dikau katakan?”

Walau terlihat seperti orang pada umumnya, tetapi penjaga ini memiliki aura yang menegaskan bahwa dirinya adalah pendekar. Mantingan sedikit mengetahui bahwa banyak pendekar yang menyamar sebagai orang biasa untuk menjalankan tugas rahasia mereka

Tetapi orang di depannya ini pastilah bukan pembunuh bayaran. Dia hanya penjaga penginapan, tidak lebih, maka Mantingan tak memiliki alasan untuk takut kepadanya.

“Jangkrik masuk tanah!” serunya.

“Masuklah ke tanah dan jadilah jangkrik yang tidak berisik.” Penjaga itu membuka pintu dan menyuruh mereka untuk lekas masuk.

Saat Mantingan dan Rara masuk ke dalam bangunan, udara di luar yang panas segera berganti dengan udara ruangan yang sejuk. Penginapan ini mengambil nuansa merah. Banyak perhiasan antik yang dipajang. Namun, tidak banyak orang yang ada di lantai pertama ini, hanya ada beberapa yang mengobrol sambil minum tuak di pojok ruangan.

Mantingan segera melangkahkan kaki ke meja penerimaan tamu. Di sana ia menemukan seorang wanita dengan dandanan yang amat sangat berlebihan. Pupur tebal menempel di wajahnya hingga mukanya itu terlihat sangat putih, gincu merah juga tebal melapisi bibir lebarnya. Matanya menatap Mantingan dengan tatapan yang bermaksud menggoda. Tetapi bukannya tergoda, Mantingan malah jijik dan seolah bisa muntah sekarang juga.

“Selamat datang di Penginapan Tanah, Tuan Jangkrik Tampan. Apa yang ingin Tuan pesan di sini?”

“Dua kamar,” balas Mantingan singkat meski ia tak mengetahui arti dari sebutan itu.

“Oh, sayang sekali, Tuan! Hanya tersisa satu kamar untuk kalian berdua.” Wanita itu tersenyum menggoda, lalu berbisik, “bukankah itu akan mengasyikkan?”

Mantingan menggeleng. “Kami tidak jadi pesan.”

“Tidak bisa! Tidak bisa!” Si wanita menahan. “Ada satu peraturan di sini, Tuan Jangkrik Tampan. Tamu yang datang ke sini tidak boleh keluar sebelum menginap paling tidak satu malam. Percayalah, penjaga di luar sana akan langsung membunuh kalian jika kalian keluar tanpa izin.”

“Bagaimana jika yang kau katakan itu adalah kebohongan?” Mantingan menatap penuh selidik.

“Oh, jadi kau tak percaya?” Si wanita memberi tatapan menantang, tangannya menggapai sesuatu di bawah mejanya lalu mengangkatnya ke atas. “Bagaimana jika kau lihat ini?”

Mata Mantingan membeliak dan Rara berteriak ketakutan. Bagaimana tidak? Yang diambil wanita itu adalah kepala manusia yang telah terpisah dari lehernya! Terlihat mata di kepala itu sedikit terbuka, dan masih ada kulit yang bergelantungan di leher akibat potongannya yang tidak rapi.

Tamu-tamu yang sedang minum di pojok ruangan seolah telah terbiasa dengan hal seperti ini hingga mereka tampak sama sekali tidak peduli.

“Katakan padaku, penginapan macam apa ini?” Mantingan berkata sedikit pelan.

“Jangan banyak bertanya, pesan saja satu kamar yang harganya tak kurang dari satu perak lalu Tuan dan Puan selamat!” Wanita itu berkata tegas. Mantingan lekas merogoh pundi-pundi di pinggangnya dan melempar satu perak ke atas meja.

Wanita itu mengambil keping perak itu dan juga kepala di atas meja, lalu ia berbisik dengan sangat pelan dan lirih. “Namaku Arkawidya, akan jadi hal yang sangat penting jika dikau memesan diriku nanti malam.”

Mantingan mengangguk, wanita yang bernama Arkawidya itu tersenyum dan tidak lagi berbisik saat memberi kunci kamar serta menyebut di lantai berapa kamar yang mereka pesan itu berada.

“Lantai ke dua di bawah, nikmati malammu, Tuan Jangkrik Tampan!”

1
PuMa
sayang sekali harus berakhir sampai di sini...salah satu karya terbaik yang ku baca..di manapun author berkarya semoga sukses dengan semua karya" nya
setyo
yah akhirnya setelah dua tahun tidur tidak lupa bangun siang musafir
Doni Gunawan
lanjut lagi
Doni Gunawan
lanjutkan
Doni Gunawan
selanjutnya
Doni Gunawan
lanjutkan
Doni Gunawan
lanjutkan lagi
Doni Gunawan
lanjut
Doni Gunawan
selanjutnya
Doni Gunawan
lanjutkan lagi aja
Doni Gunawan
lanjutkan lagi
Doni Gunawan
lanjut
Doni Gunawan
lanjutkan
Doni Gunawan
lanjut aja
Doni Gunawan
lanjutkan
Doni Gunawan
lanjut lagi
Doni Gunawan
lanjut
Doni Gunawan
lanjutkan lagi
Doni Gunawan
lanjutkan
Doni Gunawan
ngopi Thor ngopi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!