Kenzo dibesarkan oleh Ibunya. Dia mempunyai teman yang bernama Nada. Nada dan Kenzo pada akhirnya menikah, bagai mana kisahnya? Dan sesungguhnya, ke mana Ayahnya Kenzo? Silakan ikutin alur ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dareen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 27 ( Misteri Pahlevy )
“Intan itu ... Anak dari Ibu kostnya Mba Rere. Dia masih SMA. Dia bilang suka sama Gue. Tapi suer! Nad. Gue gak suka apalagi cinta sama tu anak,” aku mengangkat dua jariku sambil memejamkan mata.
Hening.
Aku membuka mata.
Terlihat lengkungan indah di bibir Nada.
Nada mengusap lembut pipiku “Udah meremnya?” ucap Nada.
Aku tersenyum.
“Ken, apa yang Kamu rasakan itu sama persis denganku. Aku juga terlalu takut kalau Kamu cemburu sama Anton, walaupun Aku memang tak punya rasa sama Anton. Sepertinya perasaan itu sama seperti Kamu ke Intan. Aku percaya sama Kamu, Ken.”
Ucap Nada panjang lebar.
Netra kami lekat berpandangan, seolah telah menjawab semua kesalah pahaman akan hal yang telah terjadi pada kami.
“Jadi Kamu gak marah, Nad?” tanyaku memastikan.
Nada menggelengkan kepalanya.
“Makasih, Nad. Gue akan selalu jaga kepercayaan yang Lu kasih,” aku menggenggam kedua tangannya.
Kami melanjutkan perjalanan pulang. Setelah sampai depan rumah Nada, akhirnya ia turun dari jok motorku.
“Nanti malam nginep di rumah gak, Nad?” tanyaku.
“Enggak, Ken. Nanti sore juga Babe udah balik.”
“Oh ... Oke! Ya udah Gue balik ya, Nad? Tidurnya jangan larut malam, ya?”
“Iya sayang,” ucap Nada mengakhiri.
Aku memundurkan motor dan ku masukan motor ke teras rumah. Pintu terbuka. Terlihat, ibu masih bergulat dengan mesin jahitnya. Order ibu semakin banyak, Allhamdulillah.
Aku menyalimi ibu seperti biasa, ibu menyuruhku makan.
“Memang Ibu udah makan?” tanyaku.
“Barusan Ibu habis makan,” ucap ibu sembari melanjutkan pekerjaannya.
“Bu.”
Ibu menoleh.
“Jangan terlalu capek, ya? Untuk biaya kuliah, Ken udah punya tabungan kok sampai nanti wisuda,” ucapku sambil melingkarkan tangan di pundak ibu.
“Iya ... Ken, enggak usah khawatir. Ibu menerima order kalau Ibu mampu aja kok. Lagian, sekarang kerjaan Ibu makin enteng dengan mesin jahit otomatis yang Kamu belikan, Nak. Makasih sayang,” ibu mengusap lenganku yang masih melingkar di pundaknya.
***
Setelah aku sampai di tempat kerja. Ternyata si Intan sudah standby berada di meja paling depan.
‘Hadeuh ... alamat gak enak Gue,’ pekik dalam hati.
“Abangggg ....” ucapnya sambil menghampiriku yang masih di bawah panggung.
“Ngapain Lu di sini?” aku mengernyitkan dahi.
“Mau liat Abang performlah,” ucapnya polos.
“Sama siapa Lu ke mari?”
“Sendirilah! Masa sama Ibu?”
“Dicariin Lu nanti!”
“Enggaklah. Kan Aku bilang belajar kelompok,” Intan terkekeh, menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Aku hanya bisa menepuk jidat. Serah Lu dah Ntan! Pekik dalam hati.
“Ken, sini!” pak Hari memanggil.
Aku menghampirinya “Ada apa, Pak?”
“Kenalin, kerabat Saya yang baru pindahan dari Surabaya,” ucap Pak Hari.
Aku menunggu.
“Anton!” pak Hari memanggil.
‘WEW! Kek nya Gue kenal ni orang.’ Pekik dalam hati.
Anton pun keluar dari ruangan kerja pak Hari.
“Ken, ini Anton. Ton, ini Kenzo vokalis di sini,” ucap pak Hari mengenalkan.
“Udah tau Om!” tandas Anton yang berlalu pergi.
Pak Hari menggelengkan kepala. Mungkin melihat kelakuan kerabatnya yang ia telah anggap sebagai ponakannya.
Aku tersenyum.
“Maaf, ya Ken. Anaknya emang kayak gitu kalau belum kenal,” pak Hari berusaha membela.
Aku tersenyum dan kembali mempersiapkan diri untuk perform di atas panggung.
Suara tamu yang sekaligus menjadi penonton ketika aku perform pun bersorak menantikan lagu-lagu yang ku bawakan.
Lagi demi lagu ku nyanyikan dengan nada akustik dari gitar. Ku petik senar gitar hingga tercipta alunan yang menenangkan hati dengan lagu-lagu yang soft enak didengarkan ketika sedang bersantai.
Ketika aku break ternyata Anton naik ke atas panggung. Ia menyanyikan jenis lagu rock. Memang, musikalitasnya best banget, tapi sepertinya ia salah tempat. Ia menyanyikan lagu rock di mana orang membutuhkan ketenangan.
“Hhhuuuuuu ... Turunnnn!”
Teriak para tamu yang menghadiri Southbox.
“Ada apa ini?” pak Hari keluar dari ruang kerjanya.
“Itu Pak, ponakan Bapak nyanyi lagu rock di atas panggung,” ucap rekan kerjaku.
Lagi-lagi Pak Hari hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan Anton.
“Maaf Pak, sebenarnya Anton ini siapa?” tanyaku.
“Ia anak dari rekan kerja Saya, Ken. Papa nya mempunyai perusahaan rekaman. Mereka pindah dari Surabaya membangun bisnis mereka di sini. Kalau enggak salah namanya Pahlevy record. Saya berencana memasukan Kamu ke situ Ken, kalik aja Kamu tembus jadi penyanyi,” ucap Pak Hari panjang lebar.
Aku tersenyum. Namun, aku masih terbayang dengan nama Pahlevy. Kenapa nanya bisa sama denganku? Apakah ini hanya sebuah kebetulan semata? Lagi-lagi aku terpikir pada nama Pahlevy.
“Ya udah Ken. Tolong Kamu segera bernyanyi. Biar tamu di sini bisa tenang,” ungkap Pak Hari.
“Baik, Pak,” aku beranjak pergi dan kembali naik ke atas panggung setelah aku minum segelas air putih.
.
Aku bergegas pulang karena pekerjaanku telah selesai. Namun Anton sudah tak terlihat ketika ia turun dari atas panggung tadi.
“Abanggg!” suara teriak Intan.
Aku menoleh dengan ekspresi yang datar “Ada apa lagi Ntan?”
“Mau ya jadi cowok Intan?” ucapnya nyeplos seperti rem blong.
“Kagak!” aku pergi menuju parkiran.
Intan masih belum menyerah. Ia masih membuntutiku ke parkiran. Menarik ujung jaketku seperti yang suka Nada lakukan. Mungkin karena postur tubuhku di atas rata-rata untuk cowok Indonesia.
“Plisssss ....” intan memohon.
“Tan, denger Gue. Dari awal Gue udah bilang. Gue gak bisa cinta sama Lu. Lu itu cantik, carilah pria seusia Lu. Kan banyak cowok yang satu kelas sama Lu. Kenapa mesti Gue yang Lu pilih sih?”
“Aku maunya Bang Kenzo. Dari awal Intan udah bilang. Intan selalu terbayang wajah Abang mungkin Abang cinta sejatinya Intan.”
'PRETTT!' pekik dalam hati.
“Maaf Tan. Tapi Gue gak bisa. Udah, Lu pulang gih! Nanti nyokap Lu nyariin lagi. Udah malam juga,” ucapku menyuruh ia pulang.
Mungkin Intan kesal dengan ucapanku. Tolakan dan tolakan yang sering ia dengar dari mulutku.
Tanpa basa-basi, Intan melesat pergi dengan kecepatan tinggi di malam hari. Ada rasa khawatir melihat ia mengendarai sepeda motor seperti itu. Akhirnya, aku membuntuti Intan sampai rumah. Setelah motor memasuki pintu gerbang, baru ku putar sepeda motorku kembali menuju arah kontrakanku.
Waktu telah menunjukan pukul setengah dua belas malam. Aku langsung memasukan motor dan mengambil air wudu karena aku belum melaksanakan Shalat isya.
Aku kunci pintu depan rumah dan bergegas menaiki anak tangga. Ku dorong handle pintu dan langsung melaksanakan Shalat isya.
Drett ... Drett ....
Aku meraih gawai yang ku letakan di atas meja belajar.
Ternyata Nada video call. Aku menggeser layar hand phone dan mengangkat VC Nada.
“Hai .... Malam sayang,” Terlihat Nada tersenyum.
“Hai, Nad,” jawabku yang masih mengenakan peci berwarna hitam.
“Baru selesai shalat, yank?” tanya Nada.
“Iya. Kok tahu?” sambil ku lepas peci yang masih ada di kepala.
“Itu. Tadi masih pakai peci.”
“Mana?” aku menggodanya.
“Hem ... Udah diambil barusan!”
Aku tersenyum. Begitupun dengan Nada.
“Ya udah kita bobo bareng yuk?” ucap Nada.
“Ayok, Kamu sinilah biar Abang peluk.”
“Idih! Belum halal. Sekarang bobo di kamar masing-masing!” ucap Nada galak.
“Hahahaha” aku tertawa geli mendengar ucapan Nada yang galak namun ngegemesin.
Layar gawai pun menghitam. Pertanda Nada telah mematikan video call-nya.
Aku melipat sajadahku aku menaruhnya di kursi belajarku. Aku naik ke atas ranjang.
Namun, tiba-tiba perutku mules.
Aku beranjak dari tempat tidur dan buru-buru menuruni anak tangga. Terdengar tangisan dari kamar ibu. Namun hanya terdengar sayup. Mungkin karena aku terfokus kepada perutku yang mules.
Dengan langkah gontai, aku kembali melangkahkan kaki ke atas tangga. Suara tangisan itu sudah tak terdengar.
Sebenarnya Ibu berdo’a apa sih? Kok sudah berapa kali aku mendengar Ibu menangis di malam hari? Entah.
Aku tidak pernah memaksa orang, kalau ia tidak ingin berbagi masalahnya. Walau itu ibuku sendiri. Aku menghargainya, karena mungkin ini privasinya.
Aku menaiki ranjang yang seperti melambai-lambai dan berbisik ayo tidurlah terlelap di sini bersamaku hingga pagi yang akan membangunkan mu hehe rada lebay angan-angan orang yang mau tidur.
Aku memejamkan mata.
Drett ... Drett ....
“Inalillahi ... Saha deui eta? (Siapa lagi itu?)”
Aku mengambil gawai dan ternyata WA dari Intan.
Sengaja aku enggak membuka pesan dari Intan karena sudah larut malam.
Beberapa kali gawaiku bergetar namun aku tak menghiraukan. Aku menutup kepalaku memakai bantal, berharap aku bisa terlelap sampai esok hari.
***
“Ken, Kenzo ....”
Suara lembut yang membangunkanku pagi hari.
“Hemm ....” Aku menjawab dengan mata yang masih terpejam.
“Bangun, kita ngampus yuk,” ucapnya lembut.
Aku membuka mata. Baru menyadari bahwa yang bersuara lembut memanggil namaku itu Nada.
“Nad,” Aku mengucek mata.
“Mandi gih! Nanti sarapan bareng. Aku udah masak tongseng tadi pagi. Sarapan bareng Ibu juga,” ucap Nada.
“Iya,” Aku bangkit dari tidurku dan duduk di tempat tidur.
Mataku kembali terpejam. Merasakan kantuk yang amat mendera. Sentuhan lembut tangan Nada malah mengagetkanku. Aku sadar ada orang yang sedang menungguku sarapan.
Aku bangkit dari tempat tidur dan mengambil handuk di balik pintu. Menuruni anak tangga.
BYURRR ....
Satu siraman air membuatku terkejut. Akhirnya ku tuntaskan mandi dan kembali ke dalam kamar untuk mengganti baju.
Aku menuruni anak tangga dan melihat Nada sedang berada di dapur.
“Ayok, makan,” ajak Nada.
Aku mengekor dari belakang.
“Mari makan, Bu,” ajak Nada pada ibu.
Kami makan bersama.
“Babe mana, Nad?” tanyaku.
“Tadi Babe udah sarapan. Entah, sepertinya Babe kecapean kemarin dari rumah Encang,” ucap Nada sambil menyuapkan nasi dalam mulutnya.
Ya Allah ... Apakah Babe baik-baik saja? Pekik dalam hati.
Setelah sarapan selesai. Kami bergegas kembali beraktivitas menuntut ilmu ke kampus. Kami melesat dengan si matic yang setia mengantarkan kami ke kampus.
Di sepanjang jalan aku teringat akan kondisi babe Rano. Aku memacu si matic dengan kecepatan sedang. Seperti biasa kami selalu terjebak macet.
“Ken, nanti Aku pulang belakangan ya? Masih ada keperluan sama Mawar,” tandas Nada.
“Beneran Gue pulang duluan?” tanyaku memastikan.
“Iya.”
“Gak mau Gue temenin gitu?”
“Gak perlu. Ini urusan cewek, ntar Kamu rempong lagi,” ucap Nada tersenyum.
“Oke!”
.
Jam kampus berakhir dan benar saja, Nada jalan bareng Mawar. Entah mereka hendak ke mana?
Aku melaju bersama si matic. Aku memacu kecepatan tinggi supaya bisa bertemu babe Rano untuk memastikan keadaannya. Karena hanya aku yang mengetahui hal yang sesungguhnya. Penyakit yang babe rahasiakan dari semua orang.
Tepat di rumah Nada. Aku membuka gerbang dan memasukkan motor ke dalam halaman rumah Nada.
Tok ... Tok ... Tok ....
Pintu rumah babe Rano aku ketuk. Terdengar handle pintu yang di tarik dari dalam. Terlihat raut pucat dari babe Rano. Aku menghampiri.
“Be, Babe kenape?” tanyaku.
“Kagak ngape-ngape, Ken. cuma butuh istirahat aje,” ungkap babe Rano.
“Jangan bohong, Be,” tanyaku memastikan.
“Yang ade juge si Nada ke mane? Kok Lu balik kagak bareng Die? Kalian marahan?”
“Kagak Be. Nada ada urusan sama temannya. Entah mau ke mane. Ken, suruh pulang duluan.”
“Be,” aku masih penasaran.
“Ape?” jawab babe.
“Jujur sama, Ken. Plisss ....”
Babe terdiam dan tertunduk.
Hening.
Hingga akhirnya babe angkat bicara.
“Mulai minggu besok, Babe harus dikemo satu minggu sekali, Ken.”
Dugaanku benar. Kanker babe Rano sepertinya semakin memburuk. Ya Allah ... Apa maksud dari semua ini? Pekik dalam hati.