Mengisahkan tentang perjuangan hidup seorang gadis bernama Anindyta Kailila .
Dalam menggapai cita-citanya dengan
keadaan hidup yang sederhana.
Bekerja sebagai asisten seorang model papan atas, merupakan batu loncatan baginya untuk mengais rupiah dengan tetap harus pintar membagi waktu mengurus ayahnya yang sakit.
Jangan tanyakan tentang kisah cintanya.
Sebab semenit saja, otak dan hatinya tak pernah kosong, karena perintah dari sang model yang selalu datang bertubi-tubi.
Namun, apalah dayanya jika ternyata kegigihannya bekerja justru mempertemukannya dengan seorang CEO yang ternyata kekasih sang model.
Bahkan perasaan mereka tidak dapat di bendung untuk saling jatuh cinta.
Mungkinkah seorang asisten mendapatkan cinta seorang presdir bahkan kekasih bosnya sendiri...?
Ikuti ceritaku " Di Balik Layar"
Semoga di sukai pembaca.
Salam santun
salam sehat untuk semua
🙏🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmeLBy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 : PERKENALAN DENGAN WINDA
Dan mereka berdua pun berjalan beriringan menuju mobil Darel. Diperjalanan pulang Darel dan Felysia bagai dua orang asing yang baru saling mengenal.
Tidak banyak yang bisa mereka bicarakan. Mereka sepertinya tenggelam dalam pikiran masing masing. Darel juga tampak enggan untuk banyak bicara. Hanya meminta maaf, karena saat Felysia mencarinya tadi, dia tertidur. Sehingga tidak mendengar panggilan telepon juga ketukan pintu kamarnya.
Felysia nampak enggan membahas hal itu. Karena pikirannya sudah di penuhi dengan pertemuannya bersama Dennis di Jakarta, malam Ini.
Mobil pun melesat cepat mengantarkan mereka ke apartemen Felysia. Tidak ada tawaran dari Felysia untuk Darel masuk. Karena waktu sudah menunjukan pukul 6 sore. Felysia juga takut, kalau kalau yang di katakan Dennis benar, tentang mata mata yang dia sebar untuk mengawasi Felysia. Dan Darel juga tampak enggan untuk sekedar basa basi meminta masuk. Darel bingung, mengapa saat bersama Felysia.
Tetapi yang ia pikirkan adalah Anin sang asisten itu. "Ada apa denganku." Ujar Darel menirukan lirik lagu Paterpan itu.
Di rumah Anin.
Anin memarkirkan dengan rapi mobil milik Felysia yang di bawanya kerumah. Atas ijin Felysia tentunya. Nampak Anin berpelukan dengan Jovandra untuk melepas rindunya. Terakhir saat Anin masuk kuliah saja mereka bertemu. Artinya sudah hampir 6 tahun mereka tidak bertemu.
"Ini calon kakak ipar ku. Cantik sekali pilihan kakakku." Ucap Anin sambil mengulurkan tangan kemudian mencium punggung tangan wanita yang bernama Winda itu.
"Kamu juga cantik dan manis Anin." Ujar Winda.
"Jadi kapan rencana pernikahan kakak berdua...?" tanya Anin.
"Mungkin Desember ya Mas, soalnya tunggu kakak libur semester." Ujar Winda
"Oh iya, kata kak Jovandra mbak Winda seorang Guru SD ya."
"Iya.. lumayan kan kakak ga perlu ijin untuk mempersiapkan semuanya."
"Iya... cukup kak Jovan yang sibuk dan susah ijin. Jadi syukurlah jika mbak yang mengalah untuk nya." Ujar Anin.
"Tapi maaf Nin, acara kami di adakan di desa mbak ya. Kira kira Anin bisa datang gak ya sama ayah...?"
"Insyaalloh Mbak. 3 bulan lagi ada panggilan terapi di Jakarta. Untuk menembak saluran sumbatan aliran darah di tubuh ayah. Semoga ayah makin sehat. Jadi kami tidak repot, jika harus datang ke kota Mbak. Tapi.. sekarang ayah sudah jauh lebih sehat mbak dari awal dia terserang pertama." Jelas Anin yang langsung akrab dengan Mbak Winda.
"Iya ... Mas Jovan sering menceritakan tentang mu Nin. Dia sangat bersyukur memiliki adik seperti mu. Kamu begitu banyak berkorban demi menjaga kesehatan ayah. Kamu juga mandiri. Kata Mas Jovan, kadang ia malu. Karena hanya bisa sedikit membagi uang untuk membantu pengobatan ayah."
"Sudah sampai masanya mbak. Untuk orang tua tidak ada kata berkorban. Ini semua bakti mbak. Kita semua berhutang budi dengan orang tua kita kan, mbak."
"Boleh mbak peluk kamu Anin? Mas Jovan gak salah, selalu memuji mu. Kamu benar benar dewasa dan berhati mulia." Ujar Winda terharu dan memeluk Anin merasa beruntung memiliki adik ipar sebaik Anin.
Tidak terasa menetes juga air mata Anin, tiba - tiba ia rindu akan sosok ibunya yang telah lama ia rindukan.
Jovan dan ayah tampak senang melihat komunikasi antara Anin dan Winda yang langsung akrab.
"Anin, apa besok kamu repot?" tanya Jovandra saat melihat Anin keluar dari kamar mandi, dan mendusel dusel rambut basahnya setelah keramas
"Insyaalloh, tidak kak. Ada apa?" tanya Anin.
"Besok kita jiarah ke makam ibu ya, terus ajak mbak mu jalan jalan cari sovenir." Ujar Jovan pada Anin.
"Oke... siap komandan."
"Juga .. ajak dia cari gaun untuk dipakai saat kami akad nikah, ya."
"Oh, maaf Kak. Kalau tidak keberatan. Bagaimana kalau kakak berdua menggunakan pakaian rancangan ku saja. Anggap saja itu hadiah dari ku."
"Wah... dengan senang hati. Ya kan mas."
Ujar Winda dengan antusias. Tampak Anin melangkah ke kamar untuk mengambil buku koleksi desain miliknya. Lalu menyodorkan pada Winda.
"Ini, silahkan mbak liat liat dulu koleksi karyaku."
"Wah.... bagus semua. Ini hasil karyamu Anin?" tanya Winda seolah terpana melihat koleksi gambar itu.
"Mbak pilih saja yang mana yang mba mau pakai untuk acara akad. Nanti aku buatkan secepatnya."
"Jadi kamu tidak hanya bisa menggambarnya? Tapi juga membuatnya Nin?"
"Insyaalloh mbak." Aku bisa buatkan sesuai harapan Sang calon pengantin."
"Gini aja deh, aku beli bahannya. Anin yang desain dan jahitnya. Jadi kita sama sama tidak saling memberatkan satu sama lain." Ujar Winda memberi penawaran
"Jadi aku cuma nyumbang tenaga dan ide saja? Oke laah Deal..!!"
"Sekalian aku latihan mbak. Soalnya aku mau ikut kompetisi merancang gaun pengantin. Hadiahnya lumayan, bisa di sekolahkan di Paris. Itu impian Anin banget lo mbak."
"Wah... semoga kamu pemenangnya ya Anin."
"Amiiin."
"Anin, mobil mewah siapa yang parkir di depan?" tanya Jovan yang baru menyadari ada mobil di depan rumah mereka.
"Itu punya Felysia Kak. Bosku, tadi dia telpon aku. Suruh aku pake dulu. Soalnya dia lagi mau ke Jakarta ada urusan pribadi."
"Oh... Felysia model itu."
"Kakak kenal?"
"Iya, adik kelas waktu SMA. Orangnya sombong waktu sekolah. Entah sekarang."
"Ya emang gitu sifatnya kali Kak."
"Kamu jadi asistennya?"
"Iya."
"Hmm... Anin, itu mobil boleh di pakai untuk urusan pribadi ga?" tanya Jovandra.
"Maksudnya..?"
"Ya kita makan malam di luar lah, sekali - kali ajak ayah."
"Oh, Bolehlah. Nanti aku ijin sama Felysia."
"Ayo.. kita siap siap." Ajak Jovan.
"Oke... ku ganti baju dulu."
Dret ... dret
Ponsel Anin bergetar di atas nakas sebelah ranjangnya
Tertulis sebuah nama di sana GePri artinya Gerald Pribadi. Anin sengaja memberi nama itu, karena yang ia tau itu adalah nomor pribadi milik Gerald.
"Hai, Anin sedang apa?" Isi Chat itu.
"Lagi siap siap. Mau makan malam dengan keluarga Ge."
"Yakin sama keluarga. Ga sama pacar Nin?"
"🙄"
"Kok 🙄"
"Anin ga punya pacar Ge"
"Oh... jomblo ya?"
"Iih ngeledek niih..., Bang...udah dulu ya. Anin sudah di tunggu di depan." Ujar Anin mengakhiri chat itu.
"Bang...?"
"Iya... biar lebih akrab. Udah ya.. bye." Entah kenapa ada ruang yang terasa hangat pada hati Darel, saat membaca kata Bang di chat Anin.
Tapi Darel juga menyadari, itu berlaku untuk Gerald, bukan untuknya. Lalu ia mengetik lagi pada ponselnya.
"Anin, panggil abangnya cuma di chat ini aja ya. Kalo ketemu langsung panggil nama aja. Soalnya ga enak kalo di dengar si Bos." Bohong Darel, padahal dia tidak rela kalau panggilan itu jatuh pada Gerald.
Lama chat itu tidak mendapat balasan dari Anin. Sampai akhirnya. Darel juga memutuskan untuk keluar juga mencari udara segar di sekitar Apartemennya.
Bersambung
...Mohon dukungannya 🙏...
...Komen kalian sangat autor harapkan lho...
...Kasih 👍💌✍️🌹...
...seikhlasnya yaa...
...Biar makin semangat...
...Terima kasih...
selamat membaca yaaak