NovelToon NovelToon
Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Identitas Tersembunyi / Kelahiran kembali menjadi kuat / Bepergian untuk menjadi kaya / Mengubah Takdir
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: inda

Yun Ma, seorang gadis modern yang sedang menikmati cuti dari pekerjaannya yang melelahkan, tak pernah menyangka kematiannya di dasar sebuah sumur tua justru membawanya ke dunia lain. Saat membuka mata, ia terbangun sebagai Yun Mailan, putri sah Menteri Pendidikan Kekaisaran tokoh utama wanita dalam sebuah novel tragis yang pernah ia baca dan benci.

Dalam cerita asli, Yun Mailan dibenci ayahnya, dimanfaatkan kakaknya, dikhianati tunangannya, difitnah tanpa pembelaan, lalu mati sendirian dalam kehinaan. Mengetahui seluruh alur nasib tersebut, Yun Ma menolak menerima takdir.

Pada malam kebangkitannya, ia melarikan diri dari kediaman keluarga Yun dan membakar masa lalu yang penuh kepalsuan. Bersama pelayan setia bernama Ayin, Yun Mailan memulai hidup baru dari nol.

Berbekal pengetahuan masa depan, tekad kuat untuk bertahan hidup, dan sebuah liontin peninggalan ibunya yang menyimpan kekuatan tersembunyi, Yun Mailan bersumpah untuk bangkit. Suatu hari, ia akan kembali bukan sebagai korban

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Udara di Qinghe berubah.

Bukan karena cuaca.

Bukan karena senja.

Tapi karena tekanan yang tiba-tiba turun begitu saja, seperti langit yang mendadak lebih dekat ke tanah.

Para penyerang yang sebelumnya terus menekan lingkaran perlindungan Ayin mendadak berhenti bergerak.

Salah satu dari mereka terhuyung.

“Apa… ini?” gumamnya, suaranya bergetar.

Bayangan yang paling dekat dengan Ayin menoleh cepat ke arah gerbang kota.

“Ada yang datang.”

“Pasukan?” tanya yang lain cepat.

“Bukan.”

Jawaban itu membuat mereka semakin gelisah.

Karena tekanan ini tidak terasa seperti pasukan.

Ini lebih mirip… keberadaan.

Ayin berlutut, satu tangannya menopang tanah, yang lain menekan luka di sisi tubuhnya. Napasnya pendek-pendek, keringat bercampur darah mengalir di pelipis.

Namun ia tersenyum.

Lelah. Tapi lega.

“Akhirnya…” gumamnya pelan.

Salah satu bayangan menyadari ekspresi itu dan membentak, “Apa yang kau senyumi?!”

Ayin mengangkat kepala perlahan. Matanya tajam meski tubuhnya hampir runtuh.

“Karena sekarang,” katanya serak, “kalian terlambat.”

Di luar Qinghe, empat sosok melangkah masuk ke wilayah kota.

Tidak terburu-buru.

Tidak sembunyi-sembunyi.

Namun setiap langkah mereka membuat tanah terasa lebih berat.

Yun Ma berjalan di depan.

Wajahnya tenang. Terlalu tenang.

Rambutnya tergerai sederhana, pakaian masih berdebu, tapi matanya… matanya tidak membawa kelelahan. Ia membawa keputusan.

Di sisi kirinya, Shen Yu memegang gulungan tipis, wajahnya serius, aura tajam mengunci sekeliling.

Di sisi kanan, Ye melangkah santai, tapi matanya dingin seperti pisau.

Dan di belakang mereka, Hui dengan langkahnya berat, bukan karena tubuhnya besar, tapi karena tekanan yang ia lepaskan tidak lagi ia tahan.

“Aku mencium mereka,” gumam Hui. “Dan mereka mencium kita.”

Yun Ma tidak mempercepat langkahnya.

Ia berhenti tepat di batas lingkaran kota.

Dan dunia seperti berhenti bersamanya.

Para penyerang merasakan sesuatu yang salah.

Bukan serangan.

Bukan sihir yang menghantam.

Tapi sesuatu yang menekan dari dalam dada.

Seorang dari mereka mencoba melangkah mundur.

Kakinya tidak bergerak.

“Apa yang terjadi?” teriaknya panik.

Yang lain mencoba berlari.

Tubuhnya gemetar, lalu jatuh berlutut.

“Kenapa… kenapa aku tidak bisa bergerak?!”

Bayangan pemimpin mereka akhirnya berbalik sepenuhnya.

Dan untuk pertama kalinya…

Ia melihat Yun Ma.

Wajahnya memucat.

“Itu dia,” bisiknya tanpa sadar.

“Siapa?” tanya salah satu bawahannya, suara hampir menangis.

“Orang yang seharusnya tidak kita hadapi langsung.”

Yun Ma melangkah maju satu langkah.

Hanya satu.

Namun tekanan melonjak.

Udara seperti mengeras, membuat napas terasa berat.

Para penyerang menunduk tanpa sadar, seolah tubuh mereka menolak berdiri di hadapannya.

Yun Ma berhenti beberapa langkah dari lingkaran simbol yang retak.

Matanya langsung menemukan Ayin.

Tubuh Ayin gemetar, tapi ia masih sadar.

Yun Ma menghela napas pelan.

“Kau bertahan,” katanya.

Ayin tersenyum lemah. “Katanya… aku keras kepala.”

Yun Ma berlutut di hadapannya tanpa peduli sekeliling.

“Dan kau benar.”

Ia menyentuhkan jarinya ke simbol yang retak.

Cahaya yang sebelumnya kacau perlahan stabil.

Ayin menghela napas panjang, tubuhnya akhirnya bisa rileks sedikit.

“Maaf,” gumam Ayin. “Aku hampir—”

“Tidak,” potong Yun Ma lembut tapi tegas. “Kau cukup.”

Ye melangkah ke depan, menoleh ke arah para penyerang yang masih terjebak tekanan.

“Sekarang,” katanya santai, “kita bicara.”

Tidak ada yang menjawab.

Karena beberapa dari mereka sudah gemetar hebat.

Hui menyeringai, memperlihatkan taringnya.

“Oh? Tadi kalian berani sekali. Sekarang kenapa diam?”

Salah satu penyerang mencoba berbicara, suaranya patah-patah. “Ini… ini tidak adil.”

Hui mencondongkan tubuhnya sedikit.

“Adil?” ulangnya. “Kalian menyerang kota tanpa lambang, menekan penjaga sendirian, dan sekarang bicara soal adil?”

Shen Yu mengangkat tangan.

“Jangan bunuh dulu,” katanya dingin. “Kita butuh jawaban.”

Pemimpin bayangan itu memaksakan diri untuk berbicara.

“Kau… Yun Ma,” katanya dengan susah payah. “Kalau kau membunuh kami, Dewan Bayangan akan—”

Yun Ma akhirnya menoleh padanya.

Tatapannya datar.

“Siapa bilang aku akan membunuhmu?”

Tekanan sedikit mengendur.

Beberapa dari mereka terengah-engah.

“Pergilah,” lanjut Yun Ma.

Mata pemimpin itu melebar. “Apa?”

“Pergi,” ulang Yun Ma. “Dan sampaikan pada Dewan Bayangan.”

Ia berdiri.

Aura di sekelilingnya berubah.

Bukan lebih keras.

Tapi lebih dalam.

“Katakan pada mereka,” ucap Yun Ma pelan tapi jelas, “kalau mereka menyentuh Qinghe lagi, aku tidak akan datang sendiri.”

Para penyerang menelan ludah.

“Apa maksudmu?” tanya salah satu dengan suara gemetar.

Yun Ma menatap ke arah kota, lalu kembali ke mereka.

“Artinya,” katanya, “hari ini kalian hanya merasakan rasa takut.”

“Lain kali,” ia melanjutkan, “kalian akan merasakan penyesalan.”

Tekanan dilepaskan.

Tiba-tiba.

Beberapa penyerang langsung roboh ke tanah, terengah-engah seperti baru lolos dari tenggelam.

Yang lain bangkit terburu-buru.

Tidak ada yang berani menoleh lagi.

Mereka lari.

Bukan teratur.

Bukan taktis.

Mereka lari seperti orang yang baru menyadari bahwa hidup mereka hampir berakhir.

Hui mendengus puas. “Nah, begitu lebih masuk akal.”

Ye melirik Yun Ma. “Kau sengaja.”

Yun Ma mengangguk tipis. “Kalau mereka mati di sini, Dewan Bayangan akan bersembunyi lebih dalam.”

Shen Yu menambahkan, “Tapi kalau mereka pulang dengan ketakutan…”

“Mereka akan membuat kesalahan,” lanjut Ye.

Ayin akhirnya benar-benar kehilangan tenaga.

Tubuhnya ambruk ke depan, untung Yun Ma cepat menangkapnya.

“Ayin!” Hui berseru.

“Aku baik,” gumam Ayin lemah. “Cuma… dunia muter.”

Yun Ma mengangkatnya dengan hati-hati.

“Kau sudah melampaui batasmu,” katanya pelan.

Ayin tersenyum kecil. “Tapi… aku menang, kan?”

Yun Ma menatapnya serius. “Ya.”

Itu cukup.

Ayin akhirnya pingsan, napasnya stabil.

Penduduk Qinghe mulai keluar dari rumah mereka.

Wajah-wajah cemas.

Takut.

Namun saat mereka melihat para penyerang sudah tidak ada, dan Yun Ma berdiri di tengah kota, bisikan mulai terdengar.

“Itu dia…”

“Nona Yun Ma…”

“Dia datang…”

Seorang anak kecil berlari mendekat, lalu berhenti ragu-ragu.

Yun Ma menoleh dan berlutut agar sejajar.

“Sudah aman,” katanya lembut.

Anak itu menatapnya, lalu berlari kembali sambil berteriak, “Ibu! Mereka pergi!”

Tangis lega pecah di beberapa sudut.

Malam itu, Qinghe tidak tidur.

Bukan karena takut.

Tapi karena kelegaan yang terlalu besar untuk langsung terlelap.

Yun Ma duduk di dalam toko obat, menemani Ayin yang terbaring.

Shen Yu memeriksa simbol-simbol. “Perlindungan rusak tiga titik. Tapi masih bisa diperbaiki.”

“Aku akan bantu besok,” kata Yun Ma.

Ye bersandar di pintu. “Dewan Bayangan sekarang tahu satu hal.”

“Apa?” tanya Hui.

“Kalau Yun Ma tidak hanya simbol,” jawab Ye. “Dia batas.”

Hui tersenyum lebar. “Aku suka batas seperti itu.”

Yun Ma menatap Ayin yang tertidur.

Matanya mengeras.

“Permainan sudah berubah,” katanya pelan.

“Dan sekarang,” Shen Yu menambahkan, “mereka yang akan bereaksi.”

Di kejauhan, angin malam Qinghe berembus pelan.

Untuk pertama kalinya sejak lama, kota itu bernapas bebas.

Dan jauh di dalam bayangan…

Dewan Bayangan tahu satu hal pasti.

Rasa takut yang selama ini mereka tanam—

akhirnya berbalik pada mereka sendiri.

Bersambung.

1
Shai'er
💪💪💪💪💪💪💪
Shai'er
👍👍👍👍👍
Shai'er
🙄🙄🙄🙄🙄
Shai'er
💪💪💪💪💪
Cindy
lanjut kak
Shai'er
👍👍👍👍👍👍
Shai'er
😱😱😱😱
Shai'er
💪💪💪💪💪
Shai'er
🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️
Shai'er
🤧🤧🤧🤧🤧
sahabat pena
bener ternyata mantan ya? mantan yg menyesal dan mengejar masa depan
sahabat pena
siapa itu? apa mantan tunangan nya ya
Naviah
lanjut thor
Shai'er
puyeng 😵‍💫😵‍💫😵‍💫😵‍💫
Shai'er
lha...... kenapa baru sekarang lu ngomong tentang keadilan 😏😏😏
Shai'er
hayoo loh😏😏😏
Shai'er
Ayin💪💪💪
Cindy
lanjut kak
Naviah
ini perang narasi kah 🤔 dan siapa itu Dewan bayangan
Naviah
semangat Ayin bertahan lah🙌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!