Lima bulan sebelum pernikahan Rara dan Devan terlaksana, Rara memergoki tunangannya itu tengah berada di rumah saki bersama seorang perempua hamil, awalnya ia mengira itu saudara nya, namun kenyataan pahit harus terpaksa ia telan mengetahui bahwa wanita yabg bersamanya adalah istrinya, wanita yang dinikahi devan satu tahun yang lalu. Dunia Rara seakan berhenti detik itu juga, sakit tentu saja iya rasakan, kecewa apa lagi, Rara tidak tahu harus bagaimana lagi hidupnya tak lagi sma, Rara yang dulu periang kini berubah menjadi pendiam dan berkali kli masuk rumah sakit karena terlalu lelah karena pikirannya. Angga yang kebetulan menjadi dokter yang menangani Rara dan juga seorang sahabat dari Riri, kakak Rara berniat menjodohkan keduanya Angga tentu saja bahagia karena bagaimana pun ia memang sudah diam-diam menyimpan hati pada perempuan cantik pemilik cafe tempat dirinya makan siang di jam istirahatnya. Angga tidak ingin menyerah meskipun gadis itu tidak juga memberikan kepastian meski berkali-kali dirinya mengungkapkan perasaannya. Rara hnya tidak ingin menerima laki-laki itu di saat hatinya masih bersemayam laki-laki masa lalu yang telah menggoreskan luka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leni septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27
“Kak Angga, ini- ini maksudnya apa, kenapa Kak Rara ngebatalin pernikahan kalian gitu aja? Jawab Alya kak?” Tanya Alya menuntut jawaban pada sang Kakak yang kini masih saja menatap kosong kedepan dengan air mata yang terus mengalir sedangkan sang Mama sudah pingsan di pangkuan suaminya.
“Kakak jawab Alya, Kak. kenapa pernikahan kalian batal?” Tanya Alya lagi dengan diiringi air mata yang sudah mengalir membasahi pipinya sedangkan yang lain masih bungkam masih tidak percaya dengan apa yang didengar.
“Gak, pernikahan ini gak akan batal, pernikahan ini akan tetap terjadi. Aku akan tetap menikah dengan Rara, ini cuma salah paham,” ucap Angga sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Jelaskan sama kita semua Ga, apa yang terjadi?” Tanya Dirga menuntut.
“Ini cuma salah paham Pa, tadi Rara mergokin aku yang lagi nemenin Rayna tes kehamilan dirumah sakit, dan waktu aku keluar dari ruangan Dokter kandungan itu bareng Rayna, Rara ada didepan lagi nangis dan lari gitu aja.” Jelas Angga membuat sang Mama yang baru sadar kembali menangis.
“Astagfirullahaladzim, Angga kamu tahu kan Rara punya pengalaman buruk tentang hal seperti ini, kenapa kamu gak langsung jelasin sama Rara, Ga! Dia pasti sekarang lagi sedih banget dan teringat kejadian dua tahun lalu yang mengakibatkan batalnya pernikahan dia. Pokoknya Mama gak mau tahu, kamu harus jelasin sama dia malam hari ini juga.
Mama gak mau dia kenapa-napa Ga, Mama gak mau dia sampai..” Marah Desti sambil menangis menghentikan ucapannya lalu menggeleng-gelengkan kepalanya membuang jauhcjauh apa yang ada dipikirkannya.
Tanpa menunggu lebih lama lagi Angga langsung berlari keluar rumah, ia takut apa yang ada dalam pikiran sang Mama benar-benar terjadi. Angga tahu seberapa frustasi dan kecewanya Rara saat pernikahannya dulu dengan Devan batal. Dan Angga tidak mau sampai terjadi hal buruk kepada Rara atas kesalahannya, meski itu hanya kesalah pahaman, tapi hal ini berdampak sangat buruk pada Rara yang mempunyai trauma.
Dengan kecepatan diatas rata-rata Angga mengendarai mobilnya menuju tempat tinggal Rara, untung saja jalanan malam ini lenggang sehingga tidak perlu waktu lama untuk Angga sampai di kediaman orang tua Rara.
Saat Angga masuk kedalam rumah itu Riri, sang calon kakak ipar menatap Angga dengan wajah bingung. Tanpa tunggu lama Angga langsung menanyakan keberadaan Rara, namun pertanyaannya itu malah membuat Riri dan beberapa saudaranya semakin bingung, pasalnya Rara sedari pagi pergi dan sampai saat ini belum juga pulang kerumah, membuat Angga semakin frustasi.
Risa sang calon mertuanya, mencoba menenangkan Angga dan setelah dilihatnya Angga sudah agak tenang barulah Risa bertanya apa masalahnya, awalnya Risa kaget, namun setelah mendengar penjelasan dari Angga barulah ia mengerti akar dari permasalahannya, ternyata ini adalah hanya kesalah pahaman tidak ada yang mesti disalahkan, namun juga tidak ada yang harus dibenarkan.
Risa memberikan gelas berisi air putih kepada Angga yang kini sudah duduk di sofa ruang tamu, masih dengan wajah kusut, kemeja yang berantakan dan juga rambut acak-acakan.
Setelah memberikan segelas air kepada calon mantunya itu Risa beralih mengambil ponselnya yang berada di meja, dan segera menghubungi Tania, sahabat baik satu-satunya Rara. Namun sayang sekali Tania tidak mengetahui keberadaan sahabatnya itu, bahkan ia sudah beberapa hari tidak bertemu dengan Rara, membuat Risa menghela napasnya.
Hati kecilnya sangat mengkhawatirkan putri bungsunya itu, namun sebisa mungkin ia bersikap tenang, Risa tidak mau membuat keadaan semakin runyam karena kekhawatirannya.
“Ma, coba hubungin Bang Reno, kali aja dia tahu dimana Rara sekarang?” Usul Riri yang dengan cepat langsung meraih ponselnya lagi dan segera menghubungi keponakannya itu, pada deringan ketiga telpon diangkat, membuat Risa menarik napas lega.
“Hallo, Assalamualaikum Bang,” salam Risa langsung saat panggilan telponnya diterima.
“Waalaikum salam Tante.” jawab salam Reno dari sebrang telpon.
“Abang lagi dimana?” Tanya Risa.
“Masih di café Tan, baru mau pulang.” jawab Reno seadanya.
“Bang, maaf Tante mau nanya, Abang tahu gak Rara dimana?” Tanya Risa langsung.
“Abang gak tahu Tan, udah beberapa hari gak ketemu sama Adek, mungkin dia pergi sama Angga, Tan.”Jawab Reno lagi.
“Justru itu Bang, Tante nanya sama kamu, soalnya Angga juga disini nyariin Rara, tapi kita semua gak ada yang tahu dimana Adek, dia marah sama Angga gara-gara salah paham, makanya kita disini lagi panik Bang,” ucap Risa menjelaskan.
“Marah? Salah paham kenapa emangnya Tan?” Tanya Reno bingung.
“Ceritanya panjang Bang, nanti saja tante ceritain, sekarang kita mau cari Rara dulu, takut kenapa-kenapa.”
“Kayaknya Abang tahu deh, Tan Rara dimana, nanti Abang kirim lewat pesan ya alamatnya, kemungkinan Adek ada disana,” ucap Reno sebelum akhirnya mengakhiri panggilan.
Setelah mendapatkan pesan yang berisi alamat sebuah apartement, dengan cepat Angga bangkit dari duduknya dan berlari menuju mobil, lalu dengan cepat langsung melajukan mobilnya menuju alamat yang telah dikirimkan Reno.
Hanya butuh waktu tiga puluh menit akhirnya Angga sampai didepan sebuah apartement no. 212 dilantai 3. Dengan perasaan takut dan gugup Angga menekan bell berulang-ulang kali dengan tidak sabar namun tidak juga ada tanda-tanda seseorang akan membukanya, tidak mau menyerah Angga kembali menekan bell, hingga suara ‘clekk’ tanda pintu terbuka menarik sudut bibirnya keatas, senyumnya semakin lebar saat seseorang yang di carinya kini berada tepat di depannya, dengan wajah khas bangun tidur.
Rara membelalakan matanya saat menyadari siapa orang yang telah mengganggu tidurnya. Kini dihadapannya berdiri sosok laki-laki yang sangat tidak ingin dilihatnya. Segera Rara menutup pintu apartement namun kalah cepat dengan kaki Angga yang berhasil menahan pintu tersebut. Rara mendengus kesal, lalu mendorong Angga dengan sisa-sisa tenaganya agar keluar, namun sayang, tenaga Rara tak cukup kuat untuk mendorong tubuh laki-laki tinggi bertubuh Atletis itu.
“Kamu ngapain sih kesini, tahu dari mana juga kalau aku ada disini?” Tanya Rara kesal.
“Kamu gak mau nyuruh aku masuk gitu, Yang?” balik Tanya Angga, tanpa menghiraukan pertanyaan dari calon istrinya yang sedang marah itu. Rara mendengus lalu menatap Angga tajam.
“Ngapain aku nyuruh penghianat masuk?”
“Sayang, kamu gak kasian sama aku, dari tadi aku hampir gila nyariin kamu, bahkan aku belum makan dari tadi siang, aku pegel loh, Yang berdiri terus,” ucap Angga memelas.
Rara mendengus lalu berjalan masuk kedalam apartemen dengan kaki dihentak-hentakan. Angga menutup pintu apartemen terlebih dahulu lalu ikut masuk mengikuti Rara dari belakang.
“Sayang?” panggil Angga saat sudah duduk di sofa samping Rara.
“Stop call me, Sayang,” ucap Rara galak.
“Sayang,” panggil Angga, lagi.
“Angga, stop it call me, Sayang!” Marah Rara, membuat Angga terkekeh.
“Cie, udah berani manggil Angga, tanpa embel-embel, Kak.” goda Angga.
“Apa sih, pulang sana! Kasian istri lagi hamil nunggu dirumah,” ucap Rara ketus, menutupi salah tingkahnya.
“Pulang kemana? Istri aku kan lagi ada disamping aku,” ucap Angga sambil mencolek dagu Rara, membuat pipi Rara bersemu merah, namun dengan segera Rara memalingkan wajahnya agar Angga tak dapat melihat semburat merah itu.
“Sayang, pernikahan kita tinggal tiga hari lagi loh, masa pengantin perempuannya ngambek gini,” ucap Angga lembut.
“Kan aku udah bilang, kalau pernikahannya batal,” ucap Rara agak ragu, jujur hatinya sakit saat mengucapkan itu, tapi mau gimana lagi Rara tidak mau jadi istri kedua.
“Jaga ucapan kamu Aera!” Ucap Angga Marah.
paling suka liat matahari terbenam
eeeeeaaaa 😁
tuh ortu Devan gk setuju sm Rara atau gmn sich, kok bisa"nya baru seminggu tunangan mlh di jodohkan sm orang lain, dan Devan jg harusnya tuh bicara sm keluarga Rara dr awal gk jadi cowok pengecut kayak gitu, masak dh nikah setahun msh ada rencana nikah sm Rara 😤