Tio Alberto Widodo seorang remaja 13 tahun, yang selamat dari tragedi pembunuhan keluarganya yang dilakukan genk pembunuh bayaran.
Sejak saat itu Tio harus disembunyikan oleh pihak kepolisian dari kejaran genk pembunuh bayaran.
Adalah Inspektur Dua Luna Ginaya Budianto seorang polisi wanita berparas cantik berusia 22 tahun yang ditugaskan untuk menjaga selama masa persembunyian Tio.
Dua tokoh ini akan mencoba untuk bertahan hidup dari kejaran genk pembunuh bayaran yang kejam. Banyak nyawa tak berdosa ikut menjadi sasaran kekejam genk tersebut selama mengejar Tio.
Lama bertemu dalam penderitaan perjuangan hidup menumbuhkan rasa cinta dihati kedua insan beda usia ini.
Selamat menikmati ketegangan dan romantisme dalam novel "KISAH TIO DAN BIBI LUNA"
HF. RAJAK
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HF. Rajak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 27
“Tuan muda, anda harus melihat ini.” Kata Xi Jiang.
Tio mengikuti Xi Jiang yang menunjuk pada layar utama CCTV.
“Lihat itu, seorang lelaki sedang jogging. Berhenti tepat depan gerbang mansion. Jongkok. Lalu jogging lagi.” Xi Jiang menjelaskan sambil tangannya menunjuk pada layar monitor.
Tio hanya mengernyit.
“TIdak ada yang aneh kok.” Tukas Tio kemudian.
“Nah ini lagi tuan muda. Sama persis. Bahkan jam nya sama. Apa yang dilakukan pun sama.” Xi Jiang menjelaskan lagi, kali ini diambil dari kamera cctv yang sama tapi pada tanggal yang berbeda.
“Ini kamera posisi diatas gerbang kan?” Tanya Tio
“Benar tuan muda.”
“Kalo dari kamera pagar depan juga ada. Dan sudah kami kerjakan agar bisa jelas wajah orang itu. Tapi orang itu ternyata memakai masker. Jadi kita tidak bisa mengenali wajahnya.” Jawab Xi Jiang panjang lebar.
“Apakah kamu bisa meretas CCTV lalulintas?”
“Siap tuan muda, saya mengerti.” Tukas Xi Jiang. Hacker jenius ini langsung tahu kalo dia disuruh tuannya untuk mencari detail lelaki jogging itu. Xi Jiang paham kalau lelaki misterius itu pasti naik kendaraan disuatu tempat. Atau paling tidak dia akan tahu dimana lelaki itu menghilang dan muncul. Sehingga memperkecil area pencarian orang itu.
Siang itu Tio sedang bercakap dengan Marco dan Bella. Xi Jiang datang dan melaporkan hasil penyelidikannya.
“Saya sudah menemukannya tuan, lelaki misterius itu menghentikan mobilnya dua kilometer dari mansion. Dia parkir dari lokasi yang sama setiap harinya. Setelah jogging dia kembali kehotel D, dan tak keluar lagi.” Lapor Xi Jiang. “Untuk foto wajah, saya tak bisa mendapatkan yang lebih baik dari ini tuan muda.” Jelasnya lagi seraya memberikan foto lelaki bermasker dan berkacamata hitam.
“Marco, kamu awasi orang itu. Cari tahu siapa dia, apa tujuannya memata matai mansion ini.” Titah Tio pada Marco.
“Baik Tuan muda.” Jawab Marco
“Dan kak Bella, tolong kewaspadaan pengawal di mansion dilipat gandakan. Karena disini banyak orang selain aku. Terutama juga Rara, jangan sampai traumanya bertambah lagi, karena kita kecolongan.”
“Siap, tuan Tio.” Jawab Ipda Bella.
Kemudian mereka semua pamit untuk melanjutkan pekerjaannya.
Sementara itu pihak kepolisian sudah mendapatkan hasil sadapan dari kediaman Maxi Widodo. Mereka juga sudah tahu pembunuh bayaran itu telah bersiap melakukan aksinya.
Kapten haris memerintahkan Luna untuk membentuk sebuah tim dan berkoordinasi dengan Bella.
Luna bergerak cepat. Dia membentuk tim penyelidikan. Sebagian besar melakukan pencarian pada pembunuh bayaran yang telah datang karena disewa Maxi Widodo. Sebagian lagi berusaha mencari celah agar rekaman hasil sadapan bisa digunakan sebagai barang bukti dipengadilan.
Luna pun telah berkoordinasi dengan Bella. Dan telah mendapatkan informasi tentang kegiatan seorang lelaki mencurigakan yang menginap di hotel D, dan telah dilakukan pengintaian oleh Marco.
“Bibi dimana sekarang?” Tanya Tio dalam percakapan telepon dengan Luna.
“Lagi otw pulang, memang kenapa?”
“Kemansion dong bi, aku kangen.”
“Cih, lulus sma aja belum udah bilang kangen ma wanita.”
“Hehehe… emang ga boleh ya bi? Ya udah deh aku ama Rara aja deh semaleman ini. See you bi…”
Tut. Tio menutup teleponnya. Bibirnya tersenyum puas. Dia sedang menguji perasaan Luna sebenarnya.
“Aish… anak kurang ajar. Telepon belum selesai main tutup aja.” Luna menggerutu sendiri. Hapenya dilempar ke bangku sebelahnya. Lalu langsung memacu mobilnya.
Setengah jam kemudian, Alfredo berlari menghampiri Tio yang sedang berenang.
“Tuan muda, nona Luna datang.”
“Suruh kesini aja paman.”
Belum sempat Alfredo balik badan, Luna sudah muncul dibelakangnya. Alfredo lalu beralalu meninggalkan mereka
berdua.
Luna terpesona melihat Tio yang baru keluar dari kolam renang. Perut sixpack dan dada bidangnya tercetak jelas. Celana renang model vintage warna hitam bergaris merah begitu kontras membungkus paha putihnya.
Tio yang tahu Luna sedang berdiri terdiam melihat kearahnya, melempar senyum manis lalu mengambil handuk yang tergeletak dikursi.
Luna semakin terpana melihat aura sensualitas yang dihadirkan dari seorang remaja tujuh belas tahun depannya ini. Bibirnya tanpa sadar terbuka walau tak lebar, tapi cukup memberitahukan kalau dia sedang terpana.
“Eh hem..” Sebuah deheman menyadarkan Luna.
Luna blushing menyadari Tio telah berdiri hanya beberapa jengkal didepannya.
“Aww…” Luna terpekik kaget. Tubuhnya terasa melayang, dan benar Tio telah membopongnya.
“Turunkan Tio. Sekarang juga!”
“As you wish my queen.” Dan Tio melepaskan Luna dari gendongannya.
Byur…
Tio terbahak bahak, setelah berhasil menceburkan Luna kekolam renang. Luna dengan gelagapan keluar dari air. Dia sungguh tidak menyangka kejahilan Tio.
“TIOOOOO….” Teriaknya lalu segera keluar dari kolam.
Luna keluar dari kolam. Baju seragam kepolisiannya basah kuyup melekat ditubuhnya. Membuat bentuk tubuhnya tercetak jelas disana. Luna mengibaskan rambutnya dengan satu tangan.
Sekarang Tio yang terpana melihat aura sensualitas dari polisi wanita yang cantik itu. Apalagi gerakan Luna yang mengibaskan rambut, mulut Tio ternganga lebar. Tio menelan ludahnya.
Luna melepas bajunya. Tio semakin gemetar dan terus berusaha menelan ludahnya. Jakunnya naik turun, napasnya tersengal, mulutnya makin terbuka lebar. Setelah melepas pakaian seragamnya, Luna melemparkan pakaian basah itu kemuka Tio.
Tio tersadar dari hayalan. Diraihnya pakaian basah itu, disingkirkan dari mukanya. sekarang terlihat Luna dengan sepatu, celana dan sabuk khas seragam polisi dalam keadaan basah. Diarahkan pandangannya keatas lagi.
Luna memakai kaos warna coklat gelap lengan pendek dengan logo kepolisian didada kiri.
‘AWW! Sakit bi…” Teriak Tio. Satu jeweran keras di telinga kirinya membuat dia harus ikut berdiri, karena Luna menariknya mendekati kolam. Setelah berada didekat kolam Luna langsung menendang bokong Tio hingga pemuda itu kembali masuk kedalam air.
Luna menepuk nepuk tangannya seolah membersihkan tangannya yang kotor dan tersenyum puas.
Tio muncul dari air, sambil meringis.
“Hehehe… maaf bi.” Katanya cengengesan.
Luna yang sudah duduk dikursi malas, melihat Tio yang cengengesan hanya menggerutu.
“My queen, my queen… pala loe.” Dan bibirnya terlihat manyun.
Tio makin gemas melihat bibinya sedang manyun itu.
“Habis… katanya bibi ga mau kesini.” Tio pura pura cemberut.
“Emang ga. Cuman tadi paman Haris menyuruhku kesini. Membantu Bella.” Kata Luna berbohong.
“Owh?” Tio kaget dengan alasan Luna. Benar apa tidak ya? Batin Tio.
Tio lalu menghubungi Alfredo untuk membawakan handuk bagi Luna. Tak lama kemudian Alfredo sudah datang membawa handuk dan minuman hangat.
Xi Liang datang menghampiri Tio dan Luna.
“Maaf tuan muda, mengganggu anda.”
“Hmm ada apa?” Tanya Tio dengan muka menunjukkan ketidak senangannya.
“Itu tuan muda.” Kata Xi Liang sambil menunjuk kalung yang dipakai Tio.
“Kenapa?”
“Sepertinya itu bukan kalung perhiasan biasa. Kalau tidak salah itu adalah perhiasan canggih. Kalau boleh tahu apakah tuan muda membeli atau diberi oleh seseorang?”
Tio meraba kalung pemberian papanya disaat terakhir sebelum terbunuh.
“Ini?” Tio melihat Xi Liang mengangguk. “Ini pemberian papa. Diberikan sesaat sebelum beliau meninggal.”
Bersambung…
=================
Tolong Readers yang budiman tinggal komentar kritikan apa saja
tekan jempol dan syukur syukur mau kasih VOTE
Terima kashi sebelum readers