Dewi ingat janji-janji manis Arif saat menikah: melindungi dan membuatnya bahagia. Tapi kekeras kepala dan kecanduan judi membuat janji itu hilang – Arif selalu sibuk di meja taruhan, tak mau mendengar nasihat.
Arif punya kakak laki-laki dan adik perempuan, tapi ia dan adik perempuannya paling dicintai ibunya, Bu Siti. Setiap masalah akibat judi, Bu Siti selalu menyalahkan Dewi.
Dewi merasa harapannya hancur oleh kekeras kepala Arif dan sikap mertuanya. Akhirnya, ia harus memutuskan: tetap menunggu atau melarikan diri dari perlakuan tidak adil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsih Niluh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
uang yang di sembunyikan, lapar yang terasa
Dewi masih berdiri di teras, mata tetap menatap jalan yang kosong. Hari telah gelap, dan bulan mulai muncul dengan cahaya yang lemah. Ia masih menunggu Arif—seperti yang dijanjikan, dia akan kembali besok. Tapi "besok" itu sudah tiba semalam, dan sekarang hari sudah terlewati setengahnya, tapi tidak ada tanda-tandanya.
Malam itu, ia tidur dengan susah payah, pikiran selalu terganggu oleh surat Arif dan harapan yang semakin tipis. Ia membayangkan Arif yang sedang dalam perjalanan pulang, atau malah sudah lupa dengan janjinya. Ia tidak tahu, tapi hati itu masih memegang sedikit harapan—harapan yang ia coba jaga meskipun semuanya terasa mustahil.
Hari berikutnya, Dewi bangun lebih awal dari biasanya. Ia membersihkan rumah, memasak nasi untuk sarapan, dan kembali menunggu di teras. Jam demi jam berlalu—jam delapan, jam sembilan, jam sepuluh—tapi Arif belum datang. Ia mulai merasa putus asa, tapi tiba-tiba, ia melihat bayangan motor yang mendekat. Itu adalah Arif.
Hatinya sedikit berdebar, tapi segera digantikan oleh rasa dingin. Semua kesedihan dan kekecewaan yang ia rasakan selama ini tiba-tiba membanjiri hati. Arif turun dari motor, tersenyum lebar seolah-olah tidak ada yang salah. "Hai, sayang. Aku sudah pulang," ujarnya sambil mendekat untuk memeluknya.
Tapi Dewi menghindar. Ia berdiri diam, mata tidak mau melihat wajah Arif. "Aku capek. Mau istirahat," katanya dengan suara yang dingin, lalu masuk ke kamar dan menutup pintu. Arif terkejut, berdiri di depan pintu kamar tanpa tahu apa yang harus dilakukan. "Dewi, sayang, maaf ya aku terlambat. Ada urusan penting," panggilnya dari luar, tapi tidak ada jawaban.
Selama satu hari penuh, Dewi tak mau bicara dengan Arif. Ia keluar hanya untuk minum air atau pergi ke kamar mandi, dan selalu menghindari bertemu matanya. Arif mencoba berbicara berkali-kali, tapi ia hanya diam atau pergi ke kamar. Ia tidak mau mendengar alasan lagi—alasan yang selalu sama, yang hanya membuatnya semakin sakit hati.
Hari esoknya, Dewi merasa terpaksa. Rasa lapar sudah mulai menyakitkan, dan dia tidak punya uang sama sekali untuk membeli makanan. Ia harus meminta uang pada Arif, meskipun hatinya sangat tidak mau. Ia keluar dari kamar, melihat Arif yang sedang duduk di sofa menonton televisi.
"Arif," panggilnya dengan suara yang lemah. Arif segera mematikan televisi, melihatnya dengan harapan. "Ya, sayang? Mau apa?"
"Aku butuh uang untuk kebutuhan hari ini. Makanan, minuman," katanya, mata menatap lantai. Arif menghela nafas, seolah-olah itu adalah beban yang besar. Ia mengambil dompetnya, mengeluarkan selembar uang 20 ribu, dan memberikannya kepada Dewi. "Ini aja ya, sayang. Aku tak punya uang lagi. Berhematlah ya."
Dewi mengambil uang itu dengan tangan yang gemetar. 20 ribu rupiah—cukup hanya untuk membeli nasi dan sayuran sederhana selama sehari. Tapi ia tidak mengeluh. Ia sudah biasa dengan sedikitnya uang yang diberikan Arif dan kata-kata "berhemat" yang selalu keluar dari mulutnya. "Terima kasih," katanya dengan suara yang hampir tidak terdengar, lalu keluar rumah untuk membeli makanan.
Namun hari-hari berikutnya, keadaan semakin parah. Arif tak lagi memberi uang sama sekali, dan bahkan jarang pulang. Kadang ia pulang larut malam, hanya untuk tidur dan pergi lagi pagi hari tanpa berkata apa-apa. Kadang ia tidak pulang sama sekali selama beberapa hari. Dewi tidak tahu kemana dia pergi atau apa yang dia lakukan, tapi dia tidak punya kekuatan lagi untuk bertanya.
Selama dua minggu penuh, Dewi bertahan dengan apa yang dia punya. Uang 20 ribu rupiah sudah habis pada hari pertama, dan sejak itu, dia tidak punya uang lagi untuk membeli makanan. Ia hanya makan nasi yang dia masak dari beras yang tersisa di lemari, ditambah sedikit garam untuk menambah rasa. Kadang ia merasa pusing dan lemah, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa. Tubuhnya yang sudah lemah akibat tumor semakin melemah, dan rasa sakit di perutnya semakin sering muncul.
Kesedihan Dewi pun memuncak pada suatu pagi. Ia merasa tertekan melihat rumah yang kacau, dan memutuskan untuk merapikan rumah termasuk lemari baju Arif. Ia membuka lemari itu dengan lemah, mulai menyusun baju-baju yang acak-acakan. Tiba-tiba, tangannya menyentuh sesuatu yang kaku di balik tumpukan baju. Ia menariknya keluar—itu adalah segenggam uang seratus ribu rupiah, dibungkus dengan kertas tua.
Hatinya terasa seperti terhantam oleh petir. Semua rasa marah, kecewa, dan sedih tiba-tiba keluar bersama-sama. Arif bilang dia tidak punya uang lagi, tapi dia menyembunyikan uang yang lumayan banyak di lemari bajunya. Dewi hanya berdiri di situ, memegang uang itu dengan tangan yang gemetar. Ia tidak tahu harus marah, sedih, atau bahkan menangis—semua perasaan itu bercampur aduk dan membuatnya pusing.
Namun, meskipun hatinya penuh dengan kemarahan, ia tidak mengambil uang itu. Ia tahu tempramen Arif yang tidak lemah—jika dia tahu Dewi mengambil uang itu, ia akan marah dan mungkin memukulnya. Ia menyembunyikan uang itu kembali ke tempat semula, menutup lemari dengan hati yang berat.
Ia mencoba berpikir positif. Mungkin uang itu untuk membayar hutang Bu Siti? Tapi dia segera menyadari—untuk bulan ini, dia sudah membayar bagian hutang Arif dengan uang yang dia tabung dari kerja lembur yang dulu. Mungkin untuk keperluan sawahnya? Tapi dia juga ingat—sawah mereka sekarang hanya tinggal menunggu panen, tidak ada kebutuhan uang yang mendesak. Jadi untuk apa uang itu? Mengapa Arif menyembunyikannya dan tidak memberi sedikit pun kepada Dewi untuk kebutuhan makan saja?
Dewi duduk di lantai, menangis lagi. Tangis yang penuh keputusasaan dan kesedihan yang tak terucapkan. Ia hanya makan nasi dan garam saja selama dua minggu, tubuhnya semakin lemah, tapi Arif tidak peduli. Dia menyembunyikan uang dan berkata dia tidak punya apa-apa. Mengapa dia harus mengalami hal ini? Mengapa orang yang dia cintai dan andalkan selalu menyakitkannya?
Ia memandang jendela, melihat matahari yang mulai terbit. Hari baru telah tiba, tapi ia tidak merasa ada harapan. Ia masih sendirian, tanpa uang, tanpa makanan, dan tanpa orang yang benar-benar peduli padanya. Rio sudah beberapa hari tidak datang, karena dia sibuk dengan pekerjaannya. Orang tuanya masih di kampung, dan dia tidak mau menghubungi mereka karena tak mau membuat mereka khawatir.
Dewi berdiri dengan lemah, pergi ke dapur. Dia mengambil sejumput beras dari lemari, memasaknya di kompor yang sisa minyak tanahnya sudah hampir habis. Setelah matang, dia menuangkannya ke piring, menambahkan sedikit garam, dan memakannya perlahan. Rasanya pahit dan tidak enak, tapi dia tidak punya pilihan. Ia harus makan untuk bertahan hidup, meskipun hidupnya terasa begitu tidak berarti.
Saat memakan nasi garam itu, ia memikirkan uang yang disembunyikan Arif. Mungkin dia akan menggunakan uang itu untuk berjudi lagi? Atau untuk keluar bersama teman-temannya? Ia tidak tahu, dan dia tidak mau tahu. Hatinya sudah terlalu lelah untuk memikirkan hal-hal yang menyakitkan. Ia hanya ingin bertahan, meskipun itu berarti hidup dengan rasa lapar dan kesedihan yang terus-menerus.