⚠️ sebelum baca cerita ini wajib baca Pengantin Brutal ok⚠️
Setelah kematian Kayla dan Revan, Aluna tumbuh dalam kasih sayang Romi dan Anya - pasangan yang menjaga dirinya seperti anak sendiri.
Namun di balik kehidupan mewah dan kasih berlimpah, Aluna Kayara Pradana dikenal dingin, judes, dan nyaris tak punya empati.
Wajahnya selalu datar. Senyumnya langka. Tak ada yang tahu apa yang sesungguhnya disimpannya di hati.
Setiap tahun, di hari ulang tahunnya, Aluna selalu menerima tiga surat dari mendiang ibunya, Kayla.
Surat-surat itu berisi kenangan, pengakuan, dan cinta seorang ibu kepada anak yang tak sempat ia lihat tumbuh dewasa.
Aluna selalu tertawa setiap membacanya... sampai tiba di surat ke-100.
Senyum itu hilang.
Dan sejak hari itu - hidup Aluna tak lagi sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim elly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 35
“Papa jangan marah-marah, nanti sakit. Aluna nggak mau papa sakit,” ucap Aluna dengan mata berkaca-kaca, suaranya gemetar.
Axel menghela napas panjang, menatap anaknya dengan lembut. “Nggak kok, Papa udah tenang. Kamu masuk kamar, ya. Ganti baju, terus tidur.”
“Iya, Pah,” jawab Aluna pelan. Ia pun berbalik naik ke atas, langkahnya pelan tapi masih terguncang oleh kejadian tadi.
Axel menatap punggung putrinya yang menjauh, lalu beralih ke arah Laura. Tatapan matanya berubah—dingin, tajam, penuh kemarahan yang ditahan. Tanpa bicara, ia berjalan menuju kamar dan berganti pakaian.
“Mas… maafkan aku, Mas,” ucap Laura lirih, mendekat dengan wajah penuh penyesalan.
Axel berdiri membelakanginya. Napasnya berat. “Aku pikir… dengan menikahimu, hidupku akan bahagia. Ternyata aku salah besar,” ujarnya datar tapi menekan.
Laura menatapnya pilu. “Lalu apa yang Mas inginkan dariku? Aku sudah menuruti semua yang Mas mau… tapi sikap Mas selalu dingin. Mas bahkan jarang bicara sama aku.”
Axel diam sejenak, menunduk, menahan gejolak dalam dada. “Aku nggak mencintaimu, Laura. Kita menikah cuma karena Ibu.”
Laura menahan tangis. “Aku tahu itu… tapi bisakah Mas bersikap biasa aja sama aku? Jangan kayak musuh.”
“Awalnya aku berusaha begitu,” jawab Axel pelan tapi penuh amarah. “Tapi setelah tahu kamu mantannya Reno… dan Baskara itu anakmu—aku nggak bisa lagi.”
“Sebenci itu, Mas, sama Baskara?” suara Laura bergetar.
Axel menatapnya tajam. Dalam sekejap, tangannya mencengkeram leher Laura.
“Kamu tau rasanya gimana liat anak yang paling disayang hampir mati dicekik orang?!” desis Axel dengan nada rendah tapi menakutkan.
“Mas…” Laura tercekik, meronta, tangannya berusaha melepas cekikan Axel.
“Permintaan maaf aja nggak cukup!” ucap Axel, lalu melepaskannya dengan kasar.
Laura terjatuh ke lantai, terbatuk keras, matanya berkaca-kaca. “Maafkan aku, Mas… maafkan aku…” katanya memohon, air matanya jatuh deras.
Axel memejamkan mata, wajahnya letih. “Aku capek…” ucapnya singkat, lalu berbaring di tempat tidur tanpa menoleh lagi.
Laura masih duduk di lantai, menangis sejadi-jadinya. Tapi Axel tidak peduli. Ia membatu—dingin seperti dinding yang tak bisa ditembus.
Axel pernah mengatakan ingin berpisah, tapi Laura selalu menolak. Alasannya sama: cinta dan wasiat dari ibu Axel.
Perlahan, Laura berdiri. Ia naik ke tempat tidur, berbaring di sisi Axel. Matanya menatap wajah suaminya yang terpejam, penuh harap. Andai saja Mas Axel bisa mencintaiku seperti dulu dia mencintai Kayla… pikirnya lirih. Tapi tampaknya mustahil. Dinding di hati Axel terlalu tinggi dan terlalu dingin.
Aluna pun tak pernah benar-benar menerima Laura. Seberapa baik pun Laura berusaha, tetap saja Aluna menolak kehadirannya.
Keesokan harinya Aluna duduk di meja makan, sarapan dengan tenang. Aroma roti panggang dan kopi hitam memenuhi ruang makan.
“Papa antar?” tanya Axel sambil merapikan jas kerjanya.
“Dijemput Ray, Pah,” jawab Aluna sambil tersenyum.
“Semalam ada apa?” tanya Herman, kakeknya, sambil menatap curiga.
“Ah, nggak ada apa-apa, Kek,” jawab Aluna cepat, lalu tersenyum manis. “Kakek udah cek kesehatan, belum?”
“Hari ini, Sayang,” jawab Herman lembut.
“Pergi sama siapa? Sama Bibi?” tanya Aluna lagi.
“Sama Tante aja,” sela Laura.
Suasana langsung hening. Tak ada yang menanggapi.
Aluna menghela napas pelan, lalu berdiri. “Kalo gitu, hati-hati ya, Kek. Sehat-sehat.” Ia mencium tangan Herman.
Lalu memeluk Axel. “Papa jangan banyak pikiran, ya. Semangat kerja!”
Axel tersenyum kecil, menepuk punggung anaknya. “Iya, Sayang.”
Aluna pun berangkat. Di luar, mobil sport milik Ray sudah menunggu.
Di Sekolah
Baskara berdiri di parkiran motor dengan wajah tegang. Ia gelisah, matanya menatap ke tanah.
“Lo kenapa sih?” tanya Robi, temannya.
“Mati gue hari ini. Si Aluna ngadu ke bokapnya,” gumam Baskara kesal.
“Lah, lo juga ngapain coba-coba nyium dia?” Robi tertawa kecil, mencolek bahunya.
“Dia tuh gemesin, Bi,” sahut Baskara setengah membela diri.
“Ya nggak gitu juga, anjir,” Robi tergelak.
Belum sempat mereka lanjut, suara deru mesin mobil menarik perhatian. Mobil sport berhenti di depan gerbang sekolah.
Ray keluar lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Aluna.
“Tuh, liat. Saingan lo datang. Mobilnya aja kayak gitu, lo sanggup?” ejek Robi.
Baskara hanya diam. Tatapannya terpaku pada Aluna yang berjalan anggun melewati halaman.
Mata mereka bertemu. Sekilas saja, tapi cukup membuat darah Baskara dingin. Aluna menatapnya tajam—mata penuh amarah dan ejekan. Bibirnya berbisik pelan, “Mampus lo.”
Jantung Baskara berdegup kencang.
Pelajaran pertama dimulai. Kelas tenang, hanya suara Pak Andrew, guru Bahasa Inggris, yang terdengar.
Baskara duduk gelisah di pojok.
Tiba-tiba Aluna mengangkat tangan. “Sorry, Sir. The students at the back are noisy. I don’t like it.”(“Maaf, Pak. Murid-murid di bagian belakang berisik. Saya tidak menyukainya.”)
Seketika seluruh kelas menoleh. Semua tatapan tertuju ke Baskara.
“Baskara! Kamu kenapa nggak diam?” tegur Pak Andrew tegas.
“Maaf, Pak…” jawab Baskara pelan, menunduk.
Belum sempat suasana tenang, suara pengeras sekolah berbunyi.
“Panggilan kepada Baskara Pratama, kelas 2 Gelombang A. Harap segera ke ruang BK. Terima kasih.”
Seluruh kelas bersorak pelan.
“Itu kamu, kan?” tanya Pak Andrew datar.
“Iya, Pak…” jawab Baskara pasrah. Ia berdiri dan keluar dengan langkah berat.
Di depan pintu ruang BK, Baskara menarik napas dalam-dalam. Tangannya gemetar. Ia mengetuk perlahan.
“Permisi, Pak…”
Begitu pintu terbuka, matanya langsung bertemu dengan tatapan tajam Romi.
Astaga… itu bukan Papa-nya Aluna… pikirnya panik.
Tanpa banyak kata, Romi langsung melangkah maju.
BUG!
Satu pukulan mendarat di pipi Baskara.
BUG!
Satu lagi di perut. Baskara meringkuk kesakitan.
“Pak! Udah, Pak! Tenang dulu!” teriak Pak Arya, guru BK, berusaha menahan Romi.
“Berani-beraninya kamu lecehkan anak saya!” bentak Romi dengan suara berat dan gemetar oleh emosi.
“Maafkan saya, Om…” ucap Baskara sambil menahan sakit, suaranya nyaris tak terdengar.
“Panggil ayah kamu ke sini!”
“Ayah saya kerja, Om.” ucap Baskara pelan.
“Pak, tolong panggil ayahnya besok,” ucap Romi kepada Pak Arya.
“Siap, Pak,” jawab Pak Arya.
Pak Arya menatap Baskara. “Kamu sudah melakukan pelanggaran berat. Kamu diskors seminggu.”
“Pak, jangan! Saya mau ujian! Tolong jangan skors saya!” pinta Baskara memohon, matanya berkaca-kaca.
“Harusnya kamu pikir itu sebelum berbuat,” ucap Romi keras.
“Maafkan saya, Om…”
“Minta maaf sama Aluna,” ujar Romi dingin.
“Iya, saya akan minta maaf.”
“Di depan seluruh siswa,” tambah Romi tajam.
“Apa?!” Baskara kaget.
“Lakukan.”
Baskara menelan ludah. “Baik, Om.”
“Jangan dicabut skors-nya dulu. Saya mau lihat dia minta maaf di depan anak saya,” ucap Romi.
“Baik, Pak,” jawab Pak Arya.
Jam olahraga dimulai. Dua kelas berkumpul di lapangan basket. Suasana panas, semua murid bersorak dan tertawa—kecuali Baskara yang tampak lesu.
Romi berdiri di pinggir lapangan, menyaksikan dari jauh. Tatapannya tajam mengawasi anak laki-laki itu.
Baskara melangkah pelan mendekati Aluna yang sedang berdiri dengan Ray.
“Aluna… gue minta maaf,” ucapnya pelan.
Aluna menoleh dingin. “Kurang keras.”
Baskara menarik napas panjang. “Aluna, gue minta maaf!” ucapnya masih datar.
“Sekali lagi,” ucap Aluna tanpa ekspresi.
Baskara akhirnya berteriak keras,
“ALUNA, GUE MINTA MAAF!”
Suara itu menggema ke seluruh kelas dan lapangan. Semua siswa berhenti dan menatap.
Aluna tersenyum tipis. “Oke.”
Ia berbalik, dan matanya langsung menangkap sosok Romi di pinggir lapangan.
“Papa belum pulang?” tanya Aluna sambil berjalan menghampiri.
“Papa mau lihat dia minta maaf sama kamu,” jawab Romi lembut tapi tegas.
“Makasih, Pah,” ucap Aluna sambil tersenyum lega.
“Papa pulang dulu, ya. Harus ke toko,” ucap Romi.
“Oke, Pah. Hati-hati.”
Aluna menatap ayahnya pergi, sementara angin lapangan membawa rasa lega yang baru—tapi jauh di dalam hati, ia tahu, ini belum selesai.
Bersambung...
Tapi aluna takut perhatian bapaknya ke bagi. nanti dia jd di nomor sekian kan. gitu,,
Aluna ih, cegil parah. Ray iih malah ambil kesempatan dalam ketidaktahuan. Gue timpuk ya kalian😌✊
takut bgt, kualat ama rasa benci, jadi bucin lho😌