Alina harus menerima kenyataan kalau dirinya kini sudah bercerai dengan suaminya di usia yang masih sama-sama muda, Revan. Selama menikah pria itu tidak pernah bersikap hangat ataupun mencintai Alina, karena di hatinya hanya ada Devi, sang kekasih.
Revan sangat muak dengan perjodohan yang dijalaninya sampai akhirnya memutuskan untuk menceraikan Alina.
Ternyata tak lama setelah bercerai. Alina hamil, saat dia dan ibunya ingin memberitahu Revan, Alina melihat pemandangan yang menyakitkan yang akhirnya memutuskan dia untuk pergi sejauh-jauhnya dari hidup pria itu.
Dan mereka akan bertemu nanti di perusahaan tempat Alina bekerja yang ternyata adalah direktur barunya itu mantan suaminya.
Alina bertemu dengan mantan suaminya dengan mereka yang sudah menjalin hubungan dengan pasangan mereka.
Tapi apakah Alina akan kembali dengan Revan demi putra tercinta? atau mereka tetap akan berpisah sampai akhir cerita?
Ikuti Kisahnya!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ara Nandini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Rencana jahat
Terimakasih yang sudah membaca, maaf jika saya tidak membalas komentar satu persatu. Jangan lupa like dan berikan dukungan ❤️🙏
•
•
"Ini, Pak. Makasih," ucap Alina seraya menyerahkan uang kepada sopir taksi.
Setelah menjemput dan mengantar Aeris pulang, Alina akhirnya kembali ke kantor. Ia melirik jam tangannya—sudah lewat pukul satu dini hari.
Saat memasuki gedung tinggi itu, ia berpapasan dengan Revan dan Devi yang kebetulan juga hendak pergi. Langkah mereka bertiga seketika terhenti.
Alina hanya mendengus, lalu melangkah mendahului mereka. Namun, dengan sengaja ia menabrakkan bahunya cukup keras ke punggung Devi, hingga gadis itu hampir terhuyung.
"Alina!" bentak Revan. Untung saja ia dengan sigap menahan lengan kekasihnya itu.
"Udah, nggak apa-apa," sahut Devi cepat.
"Berani banget dia sama kamu," ujar Revan menahan amarah. "Kamu nggak apa-apa, kan?"
"Santai aja, Van," jawab Devi sambil menghela napas pelan.
Ia menoleh ke arah Revan dan berkata lirih, "Sepertinya Alina masih menaruh dendam kesumat sama aku. Apa hubungan kita ini salah ya, Van?"
"Ck, nggak usah mulai lagi, Sayang," jawab Revan sembari meremas lembut tangan Devi.
Mereka pun berjalan beriringan keluar gedung.
Sementara itu, di ruangannya, Alina merebahkan diri sejenak di sofa. Ia memijat pelipisnya perlahan, berusaha menenangkan pikirannya yang semakin ruwet.
"Boleh nggak sih... ceburin Devi ke laut?" gerutunya pelan.
"Nggak profesional banget, bermesraan di kantor. Kalau kerja tuh ya kerja, bukan nempelin orang sana-sini!" omelnya sendiri.
DRRTT!
Ponselnya bergetar di saku. Ia segera mengangkatnya begitu melihat nama “Mama” terpampang di layar.
"Halo, kenapa, Ma?" tanya Alina.
"Tadi... Felix sama Jesika ke sini," terdengar suara dari seberang sana.
"Apa?!" Kini ia langsung duduk tegak.
"Mama terpaksa kasih tahu alamat rumah kamu," lanjut Kamelia, pelan.
"Ma... aku udah bilang jangan kasih tahu siapa-siapa!" Alina menggeleng meski tahu ibunya tak bisa melihat.
"Aku nggak mau mereka tahu Aeris itu anakku sama Revan. Gimana nanti kalau Tante Jesika malah memaksaku buat rujuk sama Revan? Pernikahan Revan dengan Devi bisa jadi terhambat cuma gara-gara aku dan Aeris!"
"Kenapa kamu begitu memikirkan mereka, Rin? Harusnya kita pikirkan Aeris. Dia berhak dapat kasih sayang dari kakek dan neneknya. Dan kamu tahu..." suara Kamelia merendah. "Yang paling miris adalah... waktu Mama dengar Tante Jesika cerita soal anak angkat yang mereka temukan di tempat sampah."
"Mereka rawat anak itu sepenuh hati, Rin... Tapi cucu kandungnya sendiri, mereka nggak tahu apa-apa. Mama sadar... kita yang salah karena terus menyembunyikan semuanya. Kita yang membuat semua ini jadi rumit, Rin. Jadi Mama pikir kita harus menyelesaikan ini sebelum semuanya melebar ke mana-mana," sambung Kamelia.
“Dia setengah yakin, setengah nggak yakin kalau Aeris itu cucunya... soalnya waktu itu Revan pernah bilang kalau Aeris anak Leon,” ucap Kamelia pelan, nadanya berat. “Dan juga... karena Mama diam aja waktu dia tanya soal Aeris.”
“Pikirkan baik-baik, Rin,” lanjutnya.
Alina terdiam. Kepalanya kian pening.
“Oke...” Hanya itu jawaban yang keluar dari mulutnya. Lalu tanpa menunggu balasan, ia memutus sambungan telepon secara sepihak.
Dari awal, memang dia sendiri yang membuat semuanya jadi rumit. Dan sekarang... Alina tahu, dia harus menyelesaikannya. Satu per satu.
••••••
"Ini... di sini, Lio..."
"Bukan, kamu salah. Harusnya yang ini," sahut Rio sambil menunjuk kepingan puzzle.
"Wah benar, Lio... pinter juga, ya," puji Rania dengan kagum.
"Emang," jawab Rio bangga.
Mereka tampak sibuk menyusun puzzle di ruang tengah. Meskipun baru beberapa kali bertemu, Rio dan Raina sudah terlihat akrab.
Fitri tersenyum, lalu meletakkan camilan dan susu di atas meja.
“Heran deh, Kak... kenapa orang kayak mereka tuh mau-maunya ngurusin anak dari tempat sampah,” celetuk Widya, begitu Fitri duduk di sampingnya.
“Heh, kamu ngomong apa sih,” tegur Fitri.
“Kalau aku yang ada di posisi mereka, udah aku tinggalin tuh bayi. Ngapain juga ngurusin anak orang,” sahut Widya enteng.
“Mungkin itu emang jalannya,” balas Fitri tenang. “Lagian, yang ngurusin juga mereka, bukan kamu. Kenapa kamu repot-repot ngomentarin?”
Widya mengangkat bahu, lalu mengalihkan topik. “Kenapa sih Devi sama Revan nggak nikah aja? Udah dari dulu pacaran, nggak juga diseriusin. Bunting duluan, baru heboh!”
Fitri menghela napas. “Kamu tahu sendiri, kan, mamanya Revan masih nggak suka sama Devi.”
“Loh, Devi itu cantik banget, baik juga. Apa sih yang bikin mamanya Revan nggak suka?”
“Mungkin... karena mamanya pengin Revan nikah sama orang yang dia pilih sendiri.”
“Cih, ibu macam apa tuh,” dengus Widya.
“Tapi... katanya, mamanya bakal ngasih restu asal Revan menyelesaikan masa lalunya dulu.”
“Masa lalu? Emang kenapa?”
“Revan dulu pernah dijodohin. Mereka nikah, tapi Revan nggak pernah cinta sama istrinya. Akhirnya cerai. Tapi katanya... dia pernah tidur sama istrinya. Istrinya hamil. Tapi... status anaknya masih abu-abu. Nggak jelas, itu anak Revan atau bukan.”
“Ha? Kok aku baru tahu? Berarti... Revan duda?”
“Hmm,” gumam Fitri.
“Ck... berarti Devi pernah pacaran sama suami orang dong?” kata Widya, mulutnya setengah terbuka karena syok.
“Ya... gimana lagi? Devi sama Revan saling cinta. Lagian, Revan nggak pernah mau lepasin Devi.”
“Siapa sih mantan istrinya? Penasaran aku, Kak.”
“Alina.”
Mata Widya langsung membelalak. “Apa!? A... Alina!? Alina siapa, Kak!?” katanya langsung berdiri.
“Alina Natalia,” jawab Fitri. “Kamu kenal?”
Ia membuka ponselnya dan menunjukkan foto Alina dari akun Instagram-nya yang sudah tidak aktif.
Napas Widya langsung memburu. Genggaman tangannya mengepal.
“Alina Natalina... dia yang bikin aku bertengkar sama Mas Yuda...”
Fitri mengernyit. “Apa maksudmu, Widya?”
“Kakak tahu... anaknya yang ngelempar Rio pake batu sampai jidat anakku merah! Tapi Mas Yuda malah ngebelain anak itu... dan ibunya!”
"Lalu aku maki dia, Kak... aku bilang dia jalang! Dan anaknya—anak haram!" seru Widya dengan amarah. "Tapi Kakak tahu nggak? Mas Yuda malah marah ke aku! Dia bela mereka! Dia... dia malah balik ngatain aku!”
Fitri terdiam, tak tahu harus berkata apa.
"Dan Alina... dia juga sempat mencekik aku, Kak! Dia tarik rambutku, waktu itu!"
"Te... tenang dulu..." ujar Fitri perlahan, mencoba menuntun Widya untuk duduk kembali. Pasalnya orang-orang di sekitar mulai melihat ke arah Widya dengan bingung.
“Kakak percaya... anak itu anaknya Revan!?”
Fitri tak menjawab. Hanya diam.
“Ka... dengar aku ya. Kakak pengin Devi bahagia, kan?”
Perlahan, Fitri mengangguk.
“Kalau anak itu terbukti sah anak Revan... berarti kalau Revan nikah sama Devi, Devi otomatis bakal jadi ibu tiri anak itu. Harus ngurusin anak yang bukan darah dagingnya sendiri, Ka... Coba pikir...”
Widya mencondongkan tubuhnya ke arah Fitri.
“Nanti nggak bakal ada waktu buat Devi dan Revan buat mesra-mesraan. Karena anak itu udah ada di tengah-tengah mereka.”
Fitri masih tak berkata apa-apa. Dadanya berdegup tak karuan. Semua yang dikatakan Widya memang terdengar masuk akal... apalagi dia pikir Jesika takkan tinggal diam saat tahu jika seandainya Aeris cucunya.
“Anak itu... kalau sampai masuk ke keluarga Revan... dia akan menghancurkan segalanya. Aku yakin banget. Dan Kakak tahu sendiri kan, mamanya Revan. Dia nggak akan tinggal diam.
Bisa-bisa... Revan dipaksa ninggalin Devi... cuma karena tanggung jawab ke Alina dan anaknya!”
Fitri menelan ludah. Jangan sampai... pikirnya dalam hati. Jangan sampai kebahagiaan Devi dirusak, putrinya tidak boleh berkorban lagi demi orang lain, sekarang waktunya dia bahagia.
“Lalu... Kakak harus bagaimana?” bisiknya pelan.
Widya tersenyum. Senyum miring. Matanya menatap lurus ke depan, namun pikirannya telah melayang jauh.
Dalam benaknya, rencana mulai terbentuk. Ia akan pastikan perempuan itu dan anaknya tidak akan pernah bisa menginjakkan kaki di hidup Revan.
Dia akan pastikan, kebahagiaan itu hanya milik Devi.
Dan Alina... tidak akan pernah mendapatkannya.
buat alina n leon bahagia thor
sdah tua jg msh ky abg
atau memang sedari awal karakter nya udah diciptain plin plan yaa🙏