"Siapa bilang Mutiara selalu indah berkilau?
Tidak, aku menggeleng. Mutiara yang kumiliki menyakitkan. Bahkan dalam keadaan tak tersentuh sekalipun. Apalagi seandainya bila aku menyentuhnya? Pasti kilauannya membuat kedua mataku buta." Jimmy~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu milikku, hanya milikku
Jarak yang seharusnya ditempuh selama tiga puluh menitan itu mulur hingga menjadi empat puluh lima menitan akibat terhalang kemacetan ibukota. Selama di perjalanan itu pula detik demi detik sangatlah berharga. Mungkinkah bom kemarahannya akan meledak? Hati baiknya berkata, lebih baik pulang saja daripada mati menanggung sakit.
Mungkinkah istrinya sendiri yang belum pernah disentuh batinnya telah didahului oleh orang lain? Oh tidak, buruk sekali pikiran Jimmy.
Sudah berada di pelataran hotel, Jimmy melihat Emon yang sedang berlari menuju dirinya.
Mutia sedang berbicara dengan Frans dan keluarganya, sesekali senyuman perempuan itu mengembang, wajahnya terlihat sangat bahagia.
Ya, kakak perempuan Frans-lah yang membooking jasa 'Jims flowers' untuk acara ulang tahun anaknya. Pantas saja Frans ada di hotel ini bersama keluarganya. Dan saat ini acara memang sudah selesai, mereka berhambur ke lobby untuk menaiki mobil masing-masing yang mungkin bertujuan untuk pulang.
Tuk tuk tuk tuk tuk!!
"Cepeeet Jim! Cepeeet!!" seru Emon.
Emon mengetuk-ngetuk pintu kaca Jimmy dan menyeru agar Jimmy segera menindak lanjuti apa yang sedang dia lihat.
Jimmy membuka pintunya.
"Kamu itu kelamaan deh, sudah mau keburu balik tuh si laki!!" Dumel Emon. "Lagian kenapa sih bini kamu kayak gitu, aku benci perselingkuhan!"
"Macet tadi dijalan," jawab Jimmy.
"Itu dia, mobilnya udah mau jalan. Sudah nggak usah mikir apa-apa, sudah jelas dia salah. Pukul aja laki-nya Aku bantuin!!" greget Emon.
"Mutia yang salah." ucap jimmy dia sudah tak bertenaga, lemas melihat adegan itu. Apalagi saat membayangkan apa yang telah dilakukan istrinya dan Frans di dalam hotel ini.
"Dua-duanya salah! Kalau keduanya nggak menyambut atau buka pintu juga nggak bakalan kejadian tuh perselingkuhan!" Sungut Emon kesal. "Yaelah Jim, baru juga kawin sebulan, heran deh ihh!"
"Mutia nggak ngasih tahu laki-laki itu bahwa dia sudah menikah." sahut Jimmy.
"Hiihhh jijong! Itulah kenapa aku mending milih jadi banci, aku itu pernah disakiti betina kayak gitu tuh, males deh!"
"Nggak semua, Emon!"
Seperti biasa, Frans pergi meninggalkan Mutia di suatu tempat tanpa mengantarkannya pulang. Tinggallah Mutia sendiri yang sedang memainkan ponselnya, sudah bisa ditebak, Mutia memesan taksi untuk dirinya sendiri pulang.
Jimmy segera mendekat dan menarik tangan Mutia. Perempuan itu sempat memekik karena tak menyadari kedatangan Jimmy yang sangat tiba-tiba. "Aahhhh!!"
"Ikut aku!!" teriak Jimmy.
"Sakit tanganku Jim.."
"Diam! Ikut aku!"
Mutia memberontak sekuat tenaga. "Nggak mau, kamu kasar, apa maksud kamu kayak gini?"
"Jelaskan semuanya nanti dirumah!"
Jimmy segera mendorong Mutia masuk ke dalam mobilnya. "Tahan Mon!"
"Buka!! Buka!! Aku dah pesan taksi!" teriak Mutia.
"Iya-iya aku tahan nih!" Emon membantu menahan pintu dari luar agar Mutia tidak kabur dari mobil itu. Terlihat Mutia berusaha membuka paksa pintu mobil Jimmy.
Blam!!
Jimmy telah mengunci pintu mobil dan Mutia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Jimmy mengendarai Mobil dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah.
Tidak ada percakapan selama perjalanan. Kecuali isak tangis yang terdengar dari Mutia.
Sesampainya di rumah~
"Masuk ke rumah!!"
"Nggak!! Aku mau pulang ke rumah Papa!"
"Mau sampai kapan kamu tinggal disana ha?! Kamu ingin membuktikan bahwa kita memang sedang tidak baik-baik saja dan berhasil membuat Papa berpikiran buruk tentangku sehingga kita bisa cepat-cepat bercerai, begitu maumu?! Akan aku kabulkan Mutia?!"
Jimmy menarik paksa Mutia ke dalam kamar. "Ahh, lepasin, sakit tangan aku! Sakit!!" teriak Mutia keras.
"Ini yang kamu bilang akan mencoba? Kamu ingat kata-kata kamu kemarin di rumah sakit? Kamu nggak ingat itu Mutia?"
"Aku sempat terbuai harapan setelah kamu berucap seperti itu. Tapi hari ini kamu jatuhkan aku lagi!"
"Aku masih butuh waktu, masih butuh waktu, nggak secepat itu..." jawab Mutia lirih.
"Terus kenapa kamu mesti ketemuan di dalam hotel? Apa yang kamu lakukan di dalam sana?!"
Mutia menggelengkan kepalanya. "Aku nggak seperti yang kamu pikirkan! Kamu pikir aku berzina? Enggak Mas, enggak!"
Jimmy menarik kasar scarf yang sedang Mutia kenakan.
"Jangaaaan! Hiks..." rintih Mutia.
Deg!
Semakin teriris dalam hati ketika Jimmy melihat tanda-tanda kemerahan disana. Jimmy langsung membeku selama beberapa saat. Dia berkaca pada dinding-dinding yang berkabut, kemudian memejamkan matanya. Seketika itu juga tetes-tetes bening mengalir begitu saja.
"Sebagai suami yang sah secara hukum dan agama, tak pernah sekalipun kamu izinkan aku menyentuhmu Mutia..." Jimmy menghela nafasnya kasar. "Tapi kamu malah biarkan laki-laki lain menyentuhmu, kamu lebih dari murahan! Kamu murahan!"
"Enggak! Jangan katakan itu Mas, cukup!!"
"Apa selalu begitu kelakuan kamu diluar sana? Kamu istriku Mut, kamu masih istriku sahku!!" Tukas Jimmy meninggi. "Sudah sampai mana dia menyentuhmu ha? Sudah sampai mana?!"
Jimmy menarik Mutia ke dalam pelukannya dan membuka paksa resleting dress yang Mutia kenakan.
"Jangan....jangan.... plis jangan..." ucap Mutia memohon.
Jimmy tak mendengarkan kata-kata Mutia. Dia melepas satu persatu pakaian-pakaiannya, lalu mencium bibir Mutia, melumattnya dengan lembut dan berkata dengan lirih penuh pengharapan, "kamu milikku, milikku..." Jimmy menindih Mutia tepat berada diatasnya.
***
To be continued.
Sabar ya. Jangan suruh cepet-cepet 'thor bikin ini begini dong, bikin ini begitu dong atau bla, bla, bla...
Ana sudah jelaskan semuanya di bab awal.
thank author novelnya kereeeeen 👍👍👍
sukses terus yaa😊
tp sdh ada yg nyesek didada🙁
sayangya aku baru Nemu novel ini..Sukses terus Kaka othor 😍
tidak mau membahas masa lalu.
nyesek berada diposisi Jimmy😭