Spin Off dari novel Pernikahan Paksa Sang Pewaris. Visual berada di part 14.
Angel dihantui oleh rasa penasaran saat menerima surat dan paket dari seseorang yang misterius. Namun dia tak bisa menemukan petunjuk apapun tentang orang tersebut. Dan akhirnya mau tidak mau Angel mengabaikannya saja.
Hingga suatu malam dia ditolong oleh seorang pria yang dia yakini adalah sosok misterius itu. Benarkah itu adalah pria yang selama ini Angel sebut sebagai peneror dirinya?
Temukan semua jawaban atas pertanyaan dalam benak kalian di sini.
Diusahakan update setiap hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desi Manik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch 26 - Alat yang Berguna
Setiap orang memiliki kelebihan dalam diri masing-masing. Jangan fokus pada apa yang menjadi kekurangan tetapi fokuslah untuk mencari tahu apa kelebihan yang kau miliki.
🌷Happy Reading🌷
Jeremy meregangkan ototnya yang sedikit kaku sambil matanya melirik jam yang tergantung di dinding. Pukul 14:30. Lumayan juga dia tidur satu setengah jam untuk memulihkan energi tubuhnya. Jeremy bangkit dari ranjang dan langsung berjalan menuju dapur.
"Good afternoon, Bos. Apakah tidur Bos cukup nyenyak?" tanya Ben dengan mulutnya yang sibuk mengunyah keripik kentang.
Jeremy melirik malas lalu mendengus. "Kalau makan ya makan saja Ben. Jangan makan sambil bicara. Tidak baik," nasihat Jeremy dengan nada bicara yang datar.
"Upss. Sorry Bos." Ben menutup mulutnya dengan tangan kiri.
Jeremy melengos. Dia melanjutkan langkah menuju kulkas. Perutnya perlu diisi karena dia hanya makan roti tadi pagi. Karena itulah dia putuskan untuk memasak dengan menggunakan bahan makanan yang tersedia di dalam kulkas.
"Bos mau masak? Mau masak apa?" tanya Ben saat matanya menangkap gerakan Jeremy yang tengah mengotak-atik isi kulkas.
Jeremy mengedikkan bahu. "Entahlah. Hanya ada sedikit daging ayam yang tersisa dan beberapa jenis sayuran. Aku pun bingung harus masak apa dengan bahan-bahan ini." Jeremy mengeluarkan wortel, brokoli, dan kol. Benar-benar bahan makanan yang minim karena kedua pria lajang itu belum sempat belanja.
"Bagaimana kalau masak capcai kuah pakai ayam saja, Bos?" saran Ben.
Jeremy mangut-mangut. "Tumben sekali otakmu lancar. Bisa tuh. Lagi pula masaknya simple. Baiklah kalau begitu aku masak capcai saja." Jeremy langsung menyambar apron hitam miliknya yang tergantung di sebelah kulkas.
"Kalau seperti itu Bos sudah terlihat seperti koki saja," puji Ben pada Jeremy yang sudah tampak siap dalam balutan apron hitamnya. Tangan Jeremy bahkan terlihat lincah saat memindahkan sayur-sayuran ke dalam baskom dan mulai mencuci mereka di wastafel.
"Aku tidak butuh pujianmu. Jangan harap aku mau memasakkan untukmu juga walau sudah kau puji."
Ben memberengut kesal. "Tega sekali kau Bos," lirihnya. Yang tentu saja tidak ditanggapi oleh Jeremy lagi karena dia pura-pura tidak dengar.
Kurang lebih dua puluh menit Jeremy habiskan berkutat dengan peralatan dapur. Ben hanya bisa memandangi dari meja makan karena dia tahu Jeremy paling tidak suka diganggu saat sedang masak. Dan dia juga tidak mau dibantu apa lagi oleh Ben karena menurutnya dibantu oleh Ben membuat ruang geraknya terbatas dan malah memperlambat aktivitas memasak saja.
"Selesai," ujar Jeremy pelan dengan membawa sebuah wadah berukuran sedang berisi capcai ke atas meja makan.
"Mari makan!" teriak Ben antusias sambil menepuk-nepuk tangan girang. Dia juga sebenarnya sudah makan. Tapi tidak ada makanan berat yang bisa dia kunyah, makanya keripik yang jadi sasaran mulutnya.
"Makan saja keripikmu sana!" Jeremy menarik wadah dengan capcai yang masih mengepul untuk menjauh dari hadapan Ben.
"Ya ampun Bos. Come on. Don't be stingy," (ayolah. Jangan pelit) rengek Ben bak seorang anak kecil.
"Cih. Kalau kau pikir kalau kau ini imut, kau perlu memeriksa otakmu." Jeremy mengambil dua buah baskom berukuran kecil lalu menyendokkan capcai.
Ben tidak menanggapi sindiran Jeremy. Dia lebih tertarik pada hal lainnya. "Terima kasih, Bos. Kau memang yang terbaik Bos." Ben sudah mengira bahwa tak mungkin Jeremy tega membiarkan dia tidak ikut makan. Buktinya saja, Jeremy mengambil dua buah baskom.
"Hmm... Aku kasihan saja padamu. Makanlah sayuran yang banyak biar otakmu sedikit lebih encer."
Ben hanya menyengir. Dia tidak lagi mempedulikan apa pun yang dikatakan oleh Jeremy. Yang lebih menarik perhatiannya adalah capcai yang sudah berada di depan mata. Perpaduan warna sayur-sayuran dan potongan ayam membuat perut Ben semakin meronta untuk segera diisi.
Pukul 15:45, Jeremy dan Ben sudah siap untuk berangkat ke bandara. Jeremy memilih untuk berpakaian serba hitam mulai dari celana jeans hitam, kaos hitam, topi hitam dan dilengkapi kaca mata hitam. Kalau dilihat sekilas, penampilannya terlihat santai, seperti orang yang akan berangkat untuk liburan pada umumnya. Sementara Ben memilih celana jeans navy dipadukan dengan kaos berwarna senada dan kaca mata hitam.
"Kita berangkat sekarang."
"Siap Bos!" jawab Ben sigap dengan posisi sempurna disertai gerakan hormat tangan kanan. Hal yang tentu saja membuat Jeremy langsung memutar mata dengan malas.
Di sepanjang perjalanan menuju bandara, Jeremy hanya fokus dengan kemudi sedangkan Ben sesekali ikut bernyanyi saat lagu yang dia tahu terputar. Tak jarang dia berceloteh tentang lirik lagu dan apa yang dia lihat di luar mobil. Jeremy hanya menanggapi dengan deheman tanda dia dengar atau malah tanda dia tak peduli dengan hal-hal tak penting yang terus saja Ben utarakan.
"Dengar Ben," ujar Jeremy serius saat mereka sudah berada di parkiran bandara.
"Ya Bos?"
"Seperti biasa, tugasmu adalah untuk mengontrol dari sini." Jeremy menekan sebuah remote yang langsung membuka sekat pembatas bagian depan dan belakang mobil. Sengaja mereka gunakan mobil van andalan mereka kali ini. Mobil yang sudah didesain sedemikian rupa dengan beberapa layar monitor dan kelengkapan teknologi cukup canggih.
Ben mengangguk mengerti. "Siap Bos."
"Apa kau bisa tersambung dengan CCTV bandara atau perlu aku melakukan sesuatu di dalam sana?"
Ben mengambil tempat di depan komputer. Dia mengotak-atik benda tersebut lalu tersenyum puas. "Kurasa tidak perlu Bos. Aku sudah mengatasi hal ini," ujar Ben sedikit bangga lalu menunjukkan salah satu layar monitor yang menampilkan area bandara.
"Bagus. Sekarang coba lihat apakah Gate G4 untuk penerbangan internasional SQ 246 juga bisa tersambung ke monitor?"
Ben kembali sibuk dengan key board di hadapannya, begitu serius. Mungkin di saat seperti inilah Jeremy harus mengakui kemampuan otak Ben. Dia cukup lihai dalam hal ini.
Dahi Ben berkerut dalam tanda otaknya semakin dia paksa bekerja. Jari-jarinya masih sibuk. Lima menit berkutat dengan komputer, Ben mendesah kecewa. "Untuk gate G4 tidak bisa tersambung, Bos. Sepertinya pihak bandara baru memperbaharui CCTV di area tersebut. Maaf Bos," sesal Ben. Pria itu tampaknya juga merasa kesal sendiri kenapa area yang difokuskan malah tidak bisa dia jebol.
Jeremy menepuk pelan bahu Ben. Dia tahu Ben sudah berusaha keras, namun kalau memang tidak bisa ya mau bagaimana lagi. "Ya sudah kalau begitu. Berikan saja alat yang harus aku pasangkan di sana. Aku akan masuk sekarang."
Ben membuka lemari besi yang lebih terlihat seperti brankas setelah memasukkan kode sandi. Dia mengeluarkan sebuah benda berwarna hitam berukuran kecil dari dalam sana.
"Tolong Bos letakkan ini di dinding pembatas atau di mana saja yang kira-kira bisa menyorot area G4," ujar Ben sembari menyerahkan benda tersebut.
Jeremy menerima dengan tangan kanan dan langsung saja mengamati benda tersebut. "Benda ini berukuran lebih kecil dari yang biasanya. Apa aku harus meletakkan dengan ketinggian tertentu?"
Ben menggeleng. "Tak perlu Bos. Benda ini mempunyai kaki-kaki kecil yang cukup ajaib. Aku tinggal gerakkan saja dengan ini." Ben menggoyangkan remote yang ukurannya juga kecil.
"Jadi maksudmu dia bisa kau gerakkan, begitu?" Jeremy memastikan.
"Ya Bos."
"Apa orang tidak akan curiga saat dia merangkak di dinding?"
"Bos tahu bunglon?"
Jeremy langsung mengangguk. Dia tampak begitu tertarik untuk tahu lebih jauh lagi tentang benda ini.
"Benda ini sama seperti bunglon. Dia akan beradaptasi di mana dia di tempatkan."
Sontak Jeremy mengalihkan pandangan mata dari wajah Jeremy yang menjelaskan dengan serius kembali pada benda tersebut. "Wow... Dia benar-benar bisa berubah warna," ucap Jeremy takjub. Benda itu sudah berubah warna mengikuti kulit telapak tangannya.
"Chameleon cam yang artinya kamera bunglon. Itulah namanya Bos," terang Ben.
Jeremy menepuk-nepuk bahu Ben dengan tangan kirinya. "Tidak sia-sia kita memiliki anggaran untuk peralatan. Aku senang kau membelinya untuk benda-benda bermanfaat seperti ini. Baiklah kalau begitu mari kita bekerja Cham. We can do it, Ben!"
Setelah mengatakan hal itu, Jeremy keluar dari dalam mobil. Meninggalkan Ben yang tampak terpukau dengan sikap bosnya. "Wow. Bos sepertinya sangat menyukai benda itu. Haha baguslah."
--- TBC ---
Maaf kalau updatenya bolong-bolong. Author agak sibuk dengan real life plus lagi sedikit melow karena pembaca turun lagi. Bagi yang suka novel ini, bantu author promosiin ke teman-teman kalian ya. Di sosmed juga boleh pakai banget biar pembaca naik dan author semangat nulisnya.
Novel ini belum kontrak dan tidak dapat penghasilan satu rupiah pun. Jadi sangat berharap pembaca yang naik biar ada motivasi. Semoga kalian mengerti ya. Terima kasih🤗
udah tah kek?
salken from me..