Satria Wira Pratama adalah Seorang pimpinan perusahaan besar yang terkenal dingin dan juga sangat kejam. Tiba-tiba menjadi tak berdaya menghadapi seorang OG yang super ceroboh. Melinda Permata Sari, seorang gadis yang berasal dari keluarga menengah kebawah memiliki tiga adik laki-laki yang super protektif terhadap kakak perempuan mereka.
Jarak usia keempatnya tidak terlalu jauh sehingga sering Linda (Panggilan Melinda ) dicap sebagai seorang play girl karena gonta ganti pasangan.
Kehidupan Linda yang biasa-biasa saja mulai berubah semenjak dia pindah bekerja di sebuah Perusahaan Adi Kuasa di Kota Metropilitan ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Tujuh
H-1 Di kediaman Satria
Keadaan rumah yang tidak seperti biasanya, membuat Satria benar-benar terganggu. Ketenangan yang ia dapatkan selama ini, hilang saat kabar pernikahannya menyebar di kalangan saudaranya.
Mama Satria yang sebenarnya enggan untuk memeriahkan acara pernikahan anaknya, dengan terpaksa harus datang. Demi nama baik keluarga.
Kakek dan nenek dari pihak papanya juga hadir. Paman, bibi, tante dan semua keponakannya berkumpul di rumahnya yang biasa sepi.
Karena Papa Satria masih sibuk jadi nanti malam baru tiba dari luar negri.
Satria tidak peduli dengan keramaian di rumahnya. Yang dia pikirkan hanyalah besok.
Sedangkan kedua sahabatnya Jonathan Atada dan Lee Hyeon Jeong sudah tiba di rumahnya dari kemarin.
Ketiga pria itu tengah menikmati kopi di halaman belakang sambil berbincang.
"Akhirnya jadi juga kamu nikah..." ucap Jonathan sambil menepuk pundak Satria dengan bangga.
Hanya senyum yang dipamerkan oleh Satria, dan tanpa kata-kata.
"Bagaimana caramu menggaet princess itu?" tanya Jeong penasaran.
Mereka tau bahwa yang mereka bicarakan adalah wanita cuek yang mereka temui di kafe.
"Haruskah aku berbagi trik untung menggaet wanita yang kalian cintai?" Gurau Satria sambil mengambil beberapa kacang dari toples lalu memakannya.
"Memiliki istri lebih dari satu dalam agamamu boleh kan Sat," tanya Jeong kepada Satria.
"Boleh, asal istri pertama mengijinkan dan kita mampu. Tapi kebanyakan tidak dapat ijin." Jelas Satria secara perlahan.
Hahahahaha
Tawa Satria meledak melihat ekspresi Jeong yang keheranan, disambung umpatan khas orang korea. Entah apa yang diucapkannya. Aku tidak paham 😊
Perbincangan mereka berlangsung hingga sore hari. Hingga Satria mendapat laporan, bahwa kelompok Bayu tengah menyusun rencana untuk menggagalkan acara besok.
Perubahan wajah Satria dengan mudah ditangkap kedua sahabatnya.
"Ada apa?" Tanya keduanya secara kompak.
"Ada tikus sawah yang mau minta jatah" Ucapnya serius.
"What?" Jeong memasang wajah terkejut. Apakah di kota besar ini masih ada tikus sawah? Betapa kumuhnya lingkungan itu. Pikirnya.
Namun Atada yang paham dengan ucapan Satria hanya mengangguk tanda paham.
"Lalu mau kamu apakan tikus itu?" Tanya Jonathan serius.
Mengetahui pembicaraan semakin serius, Jeong ikut menyimak. Akhirnya dia paham setelah mendengar Jonathan berkomentar.
"Apakah besok kita akan main sebentar?" Usul Satria dengan tatapan liciknya.
Mendengar ide yang bagus itu, kedua sahabatnya langsung menyetujui dengan penuh semangat. Akan sangat menyenangkan jika bermain-main dengan kelompok tikus jalanan itu.
Usai menyusun strategi, Satria segera menghubungi anak buahnya yang tengah mengawasi pergerakan Bayu dan juga antek-anteknya.
Rencana apa yang mereka buat, tunggu saja besok. Pasti Bayu akan sangat menyesal karena telah memancing harimau tidur.
☘☘☘
Malam hari di rumah Linda
Para gadis diminta untuk menemani pengantin wanita untuk bercanda agar tidak stress besoknya.
Acara dengan adat jawa yang sangat lengkap dan melelahkan bagi keluarga. Namun membawa kebahagiaan karena acara seperti ini tidak setiap tahun digelar.
*Ya iyalah, siapa coba yang mau nikah tiap tahun. Gila apa???*
Para orangtua tengah sibuk menyiapkan masakan dan juga jajanan khas daerah mereka. Keluarga Linda memilih memasak sendiri dibantu tetangga dan juga kerabat.
Karena dengan begitu akan menambah kekompakan antara keluarga juga tetangga. Bahkan guyonan khas ibu-ibu yang sedikit intim pun sering terlontar menambah ramai suasana dapur.
Sedangkan para lelaki tengah berbincang di halaman sambil menikmati kopi dan menemani dekorator yang tengah merangkai bunga, janur dan juga buah-buahan. Serta mereka menyiapkan penjor untuk diletakkan di pinggir jalan.
Jika kalian orang jawa pasti tau betapa riuhnya acara malam ini. Usai pengajian sore tadi, semua orang berbagi suka cita sambil menceritakan masa lalu saat mereka menikah.
Ferry pun tak luput dari sindiran para orang tua yang menanyakan sudah kah dia punya kekasih. Kapan nikah? Pacarnya orang mana? Besok dateng apa nggak?
Mendapat pertanyaan seperti itu, otomatis Ferry mati kutu. Tidak dapat menjawab pertanyaan itu, karena memang dia belum punya kekasih.
Baginya jodoh urusan nanti. Sekarang lebih fokus kuliah dulu sebelum terjun ke dunia kerja. Baru setelah itu menikah. Kalau perlu tanpa pacaran seperti kakaknya.
Tengah asik dengan lamunannya, para saudara sepupunya telah datang dari luar kota. Semua saudaranya memang tengah sibuk kerja dan hanya dapat cuti beberapa hari. Jadi baru bisa hadir malam ini dengan transportasi cepat. Baik itu kereta maupun pesawat.
Akhirnya yang sebaya dateng, nggak harus meladeni orang tua yang sudah berpengalaman.
"Haii... Gimana kabarnya?" Sapa salah satu saudaranya.
"Alhamdulillah baik. Gimana kabar mu?" Kembali Satria bertanya setelah bersalaman dengan mereka.
Tentunya mereka tengah memberi salam kepada yang lebih tua dahulu sebelum menghampiri Ferry.
"Alhamdulilah lancar. Mana nih si kembar?"
"Mereka mah biasaa... lagi di dapur ikut nimbrung emak-emak," jawab Ferry sambil tertawa.
Akhirnya mereka larut dalam obrolan yang panjang setelah lama tidak berkumpul.
Kembali ke dapur.
Kedua pria kembar ini tengah serius memperhatikan para ibu-ibu membuat makanan khas jawa. Keduanya memang tertarik di dunia kuliner dari dulu.
Jadi setiap ada acara besar keluarga maupun pas lebaran pasti mereka ada di dapur.
Berbeda dengan Linda, meski seorang perempuan jarang berada di dapur. Dia lebih tertarik dengan tehnik mesin.
Tengah asik memperhatikan pergerakan para ibu-ibu yang sedang mengaduk jenang, dengan senang hati Ikhsan menawarkan bantuan untuk mengaduknya.
"Budhe, biar Ikhsan yang ngaduk. Kasihan budhe udah tua malah ngaduk beginian." Sambil meminta kayu pengaduk dari tangan budhe.
*"Yakin kowe le? Abot lho iki!*" Sergah budhe dengan gaya medhoknya.
*Yakin kamu nak? Berat loh ini!
Kira-kira begitu artinya.
Meski dilarang, Ikhsan tetap ingin membantu karena melihat sang budhe nampak kecapaian.
Akhirnya budhe pun menyerahkan kayu itu kepada Ikhsan dengan senyum mengejek.
*"Jajalen nek ra ngandhel!" Ucap budhe setelah menyerahkan kayu pengaduk kepada Ikhsan.
*Coba aja kalau nggak percaya!
Setelah memegang kayu pengaduk, dengan percaya diri Ikhsan mulai mengaduk.
Namun wajahnya langsung pucat karena memang sangat berat. Karena tak ingin malu, akhirnya Ikhsan memaksakan mengaduknya hingga..
Klak!
Lengan Ikhsan seperti patah.
Aaaaa
Mendengar Ikhsan berteriak, Indra pun mendekat.
"Kenapa?" Tanyanya panik.
" Tangan ku patah" Ikhsan meringis kesakitan memegang lengan kanannya.
*"Cah ngeyel! Rene, " Budhe pun mengambil kayu dari tangan Ikhsan untuk melanjutkan pekerjaannya.
*Anak bandel! Sini,
"Lebay lu mah, kesleo doang bilang patah." Ucap Indra kesal sambil memukul pelan tangan Ikhsan yang sakit.
Indra pun membawa Ikhsan kepada ayahnya agar segera ditangani.
Sampai di depan ayahnya, Indra pun menyuruh ikhsan duduk.
"Kenapa?" Tanya ayahnya.
"Tuh, sok gaya gayaan ngaduk jenang pake satu tangan. bengkok dah jadinya..." Indra menerangkan kondisi saudara kembarnya kepada sang Ayah.
Paham yang diucapkan putranya. Segera Ayah memegang lengan Ikhsan yang sakit
Klak klak
Ngilu mendengarnya saja, Ikhsan pun meringis kesakitan menahan ngilu di tangannya.
"Dah." Ayah melepas tangannya dan menyuruh Ikhsan menggerakkan tangannya.
Dengan wajah ceria Ikhsan memutar mutar tangan nya yang sakit tadi. Sudah pulih meski nyeri sedikit.
"Dah, sana ngaduk lagi pake tangan kiri. Biar sekalian yang kiri kesleo." Ledek salah seorang pria tua di sana. Disahut tawa dari para sesepuh.
Aaaaaaaa
Terdengar teriakan dari kamar Linda, semuanya pun berhamburan menuju kamar Linda dengan panik.