Keira Azzalea datang ke Jakarta hanya demi satu hal: melunasi utang keluarga.
Menjadi pengasuh Mika di kediaman mewah keluarga Mahardika terasa bagai angin segar selain gajinya besar, tempatnya juga nyaman.
Masalahnya, rumah itu juga dihuni oleh Ian Xavier Mahardika.
Ian, putra sulung Nathaniel yang dingin dan skeptis, terang-terangan membenci Keira.
Bagi Ian, Keira hanyalah wanita parasit pemburu harta yang memanfaatkan kebaikan ayahnya. Hinaan pedas dan tatapan sinis jadi makanan Keira sehari-hari.
Namun, tinggal di bawah satu atap membuat benturan tak terelakkan.
Seiring berjalannya waktu, benci yang membakar perlahan berubah menjadi perhatian yang membingungkan.
Akankah permusuhan mereka luluh, atau justru tumbuh menjadi obsesi yang berbahaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 : Salah Paham Si Direktur
Kalau ada yang bilang menjadi Direktur Utama di usia dua puluh tujuh tahun itu sulit, Ian Xavier Mahardika mungkin bakal membantah.
Mengurus ratusan karyawan, menghadapi laporan keuangan bernilai triliunan, sampai berurusan dengan komisaris yang cerewetnya minta ampun adalah hal biasa baginya. Semua punya rumus dan logika.
Tapi duduk di meja makan rumah sendiri, berhadapan dengan perempuan yang punya senyum jahil?
Itu musibah.
Logika Ian tidak berfungsi.
Pria itu masih duduk tegak sambil menggenggam garpu. Di seberangnya, Keira baru saja selesai tersedak teh dan masih sibuk mengusap bibir dengan tisu.
Namun, bukan batuk Keira yang membuat jantung Ian berantakan.
Melainkan ucapan gadis itu beberapa detik lalu, sebelum membahas rencana ke Puncak.
"Mbak Keira... burung Mas Ian jelek, ya, Mbak?"
Itu pertanyaan polos Mika tentang origami kuning yang tergeletak di samping piringnya.
Lalu Keira menjawab dengan senyum tulus.
"Enggak kok, Mika. Burung Mas Ian bagus banget. Soalnya dibikin pakai rasa sayang."
JEDAG!
Ada sesuatu yang meledak di kepala Ian.
Burung Ian? Bagus banget? Dibikin pakai rasa sayang?!
Pikirannya langsung melenceng ke mana-mana. Padahal jelas-jelas Keira sedang membicarakan origami buatannya, tetapi entah kenapa otak Ian justru menangkap kalimat itu dengan makna lain.
Astaga! Maksudnya origami, kan?! Murni kertas lipat! Kenapa gua malah mikir yang aneh-aneh?!
Ian buru-buru memalingkan wajah ke arah pot tanaman di sudut ruangan. Matanya menatap kosong, sementara napasnya mulai tidak teratur.
Gila. Gua beneran udah gila.
"Ian?"
Suara Pak Nathaniel membuyarkan lamunannya.
Pria paruh baya itu menatap putra sulungnya yang tiba-tiba mematung dengan wajah merah sampai ke leher.
"Kamu kenapa? Kok mukanya merah begitu? Tipes kamu kumat lagi?"
"N-nggak, Pi!"
Jawaban Ian terlalu keras sampai membuat Pak Nathaniel mengernyit.
Keira yang duduk di seberang meja ikut menoleh. Tatapan polosnya justru membuat Ian semakin salah tingkah.
Ia buru-buru berdeham.
"Ekhem! Ekhem!"
Kemudian, Ian meraih gelas berisi air es dan meneguknya sampai habis. Bahkan, es batunya ikut masuk ke mulut dan langsung dikunyah.
Klek. Klek.
"Mas Ian..." Keira mulai khawatir. "Beneran gak apa-apa? Kok mukanya merah banget? Terus es batunya dikunyah begitu. Gigi Mas gak linu?"
"Gua gak apa-apa!"
Ian langsung menunjuk burung kertas di dekat piring Mika menggunakan ujung garpunya.
"Itu burung origami!" katanya dengan penekanan berlebihan. "Kertas! Terbuat dari kertas lipat warna kuning ukuran lima belas kali lima belas sentimeter! Dibeli di fotokopi depan komplek!"
Keira mengedipkan mata.
"Iya... saya tahu itu kertas origami, Mas. Memangnya saya kira terbuat dari daun pisang?"
"Ya... ya takutnya kamu mikir yang enggak-enggak!"
Pak Nathaniel mengembuskan napas panjang sambil merapikan piringnya.
"Ian, Papi rasa kamu butuh istirahat. Dari tadi ngomongnya gak nyambung."
"Papi, Ian cuma mau memperjelas!"
Wajah Ian semakin merah. Rasanya ingin sekali ia menghilang dari meja makan saat itu juga.
Sementara itu, Keira mulai memperhatikan tingkahnya. Ia melirik wajah Ian, lalu melihat burung kertas di samping piring Mika.
Beberapa detik kemudian, sebuah pemikiran muncul di kepalanya.
Ya ampun... jangan-jangan nih cowok salah paham gara-gara kata burung?!
Keira buru-buru menutup mulutnya. Matanya berkilat menahan tawa.
Senyum jahil mulai muncul di bibirnya. Ia menyandarkan punggung ke kursi, lalu memiringkan kepala sambil menatap Ian.
"Ooh..."
Ian yang sedang mengambil nasi goreng langsung meliriknya.
"Jadi Mas Ian takut saya salah paham soal... 'burung' Mas Ian?"
Garpunya terlepas dari tangan Ian dan jatuh ke atas piring.
"K-Keira! Kamu—"
"Padahal saya murni ngomongin burung kertasnya, lho, Mas," lanjut Keira dengan wajah polos yang jelas-jelas dibuat-buat. "Tapi kalau Mas Ian merasa burung yang lain perlu dipuji juga, ya gak apa-apa. Nanti kalau ada waktu, bisa saya kasih nilai dari angka satu sampai sepuluh."
BAM!
Ian merasa ingin menenggelamkan diri ke dalam gelas air esnya.
Pak Nathaniel yang baru hendak menyeruput kopi sampai tersedak.
"UHUK! UHUK!"
Ia buru-buru mengambil tisu, lalu menatap Keira dengan mata membelalak.
Buset! Ini cewek berani banget meladeni anak gua sampai skakmat begini!
Sementara itu, Ian sudah tidak sanggup duduk diam. Ia bangkit dari kursinya dengan wajah merah padam.
"Kamu... kamu cewek kurang ajar, ya!" semburnya. "Mulut kamu tuh bener-bener gak ada filternya! Jangan sok-sokan sama aku! Aku ini Direktur Utama!"
Keira justru tersenyum manis.
"Lho? Saya kan cuma jawab omongan Mas Ian tadi. Kok Pak Direktur Utama tiba-tiba ngamuk? Apa ada kata-kata saya yang salah?"
"Terserah kamu!"
Ian memutar badan, menyambar kunci mobil di atas meja konsol.
"Aku tunggu di mobil sekarang juga! Kalau lima menit kamu belum turun bawa tas, kamu aku tinggal!"
Ia berjalan cepat meninggalkan ruang makan. Namun, karena terlalu sibuk menghindari tatapan Keira, Ian tidak memperhatikan jalan di depannya.
GUBRAK!
"Aww!"
Lututnya menabrak sudut pilar ruang tengah.
Ian langsung berhenti dan memegangi lututnya yang terasa ngilu. Wajahnya meringis, tetapi gengsinya terlalu tinggi untuk mengakui bahwa ia baru saja menabrak pilar.
Akhirnya, ia kembali berdiri tegak dan melanjutkan langkah dengan sedikit pincang menuju teras.
Pfttt!
Tawa Keira dan Pak Nathaniel langsung pecah. Mika bahkan ikut menepuk-nepuk meja sambil tertawa melihat kakaknya.
"Aduh... Ya ampun!" Keira sampai memegangi perut. "Sakit perut saya, Pak! Anak Bapak kok konyol banget kalau lagi salah tingkah?!"
Pak Nathaniel mengusap sudut matanya dengan tisu sambil menggeleng.
"Papi juga baru tahu, Keira. Ternyata kalau Ian lagi jatuh cinta, IQ-nya itu bisa anjlok jadi nol."
Keira tiba-tiba terdiam.
Kata jatuh cinta yang keluar dari mulut Pak Nathaniel membuat pipinya ikut memerah.
Sepuluh menit kemudian, SUV hitam milik Ian sudah menyala di depan teras.
Ian duduk di kursi kemudi dengan kacamata hitam terpasang. Ia sengaja memakainya lebih awal untuk menutupi wajahnya yang mungkin masih menyisakan kemerahan akibat kejadian di meja makan.
Pintu belakang terbuka.
Keira masuk membawa ransel, disusul Mika yang langsung duduk sambil memeluk boneka kelincinya.
Setelah memasang sabuk pengaman, Keira melirik Ian dari sudut mata.
Pria itu tampak sibuk menatap lurus ke depan dengan wajah sok tenang. Namun, jemarinya yang menggenggam kemudi masih mengetuk-ngetuk pelan.
Keira tersenyum kecil.
Ia merogoh saku, mengeluarkan permen rasa mint, lalu meletakkannya di konsol tengah dekat tangan Ian.
"Pereda tegang, Pak Direktur," bisiknya. "Biar lututnya yang habis nabrak pilar gak terlalu ngilu."
Ian melirik permen hijau itu dari balik kacamata hitamnya. Rahangnya yang sejak tadi kaku perlahan mengendur.
Ia mengambil permen tersebut dan memasukkannya ke saku kemeja.
"Gua gak tegang," gumamnya. "Dan lutut gua gak sakit."
"Iya, iya... Mas Ian."
Keira terkekeh pelan.
Ian akhirnya menginjak pedal gas. SUV hitam itu bergerak meninggalkan gerbang tinggi kediaman Mahardika, lalu bergabung dengan kendaraan lain yang memenuhi jalanan Jakarta.
Tujuan mereka hari ini adalah Puncak.
Dan bagi Ian, perjalanan itu sepertinya bakal jauh lebih melelahkan daripada menghadapi rapat direksi.
semangat Kak 💪💪