NovelToon NovelToon
Pendekar Sang Penakluk

Pendekar Sang Penakluk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Bima Samudra, pemuda tampan dan jenius yang hidup terisolasi di puncak Gunung Lawu bersama seorang guru cantik dan tujuh kakak seperguruan yang luar biasa cantik. Di era modern yang penuh kebisingan, Bima justru ditempa dalam kesunyian, menguasai bela diri kuno dan ilmu pengobatan warisan leluhur. Mereka semua menyayanginya lebih dari nyawa mereka sendiri. Hingga sebuah takdir memanggil ketujuh kakaknya untuk turun gunung kembali ke hiruk-pikuk kota. Dan dari sinilah, rahasia besar tentang jati diri Bima yang sesungguhnya mulai terkuak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: HADIAH DARI DUNIA KUNO DAN RAHASIA DI BALIK LEDAKAN NUKLIR

Ketika para wanita cantik itu masih larut dalam kegembiraan dan kekaguman mereka memainkan cincin ajaib pemberian Bima Samudra,

"Wuuussssst..."

Bima kembali dengan santai mengeluarkan setumpuk benda-benda kuno yang memancarkan cahaya dari dalam Alam Jiwanya. Di antara tumpukan cahaya itu, terlihat tujuh buah pedang pusaka yang sangat indah, dengan warna-warni yang berbeda dan berkilauan seperti pelangi, melayang dengan anggun di udara.

"Kakak-kakak ku, pedang yang melayang ini adalah senjata pusaka tingkat tinggi, pedang ini adalah Senjata Ajaib yang aku pilih sendiri untuk kalian,"

"Pedang ini bisa membuat kekuatan serangan penggunanya menjadi berlipat-lipat kali lebih kuat, dan juga bisa melindungi pemiliknya secara otomatis saat dalam bahaya,"

"Coba Kakak teteskan setetes darah Kakak kepada pedang yang Kakak suka itu, dan rasakan pedang itu akan menyatu dengan jiwa Kakak selamanya, menjadi bagian dari Kakak," jelas Bima dengan lembut.

Para wanita cantik itu pun segera melakukan sesuai dengan instruksi dari Bima, dengan wajah yang penuh penasaran. Mereka menggigit ujung jari mereka dan meneteskan darah mereka ke bilah pedang pilihan mereka.

Setelah selesai melakukan kontrak darah, seketika mereka merasakan sebuah kekuatan yang hangat dan dahsyat mengalir dari pedang itu dan menyatu dengan tubuh mereka, seolah pedang itu telah menjadi perpanjangan dari tangan mereka sendiri.

"Meski ini bukan Senjata Roh seperti milik ku yang bernama Ayu Lestari, tapi ini adalah senjata yang sangat bagus, senjata tingkat langit yang sangat cocok untuk kakak-kakak sekalian. Kemarin sebelum pulang dari Dunia Kuno, aku sengaja berkeliling seharian di ibu kota Kerajaan Langit, di Kota Gede Solo Kuno, hanya untuk mencari hadiah yang benar-benar berguna dan pantas untuk kalian,"

"Dan ini masih banyak harta lainnya yang aku bawa, seperti Artefak Pelindung Jiwa, Gelang Giok Penenang, dan Pil Pemurni Wajah agar Kakak selalu cantik," kata Bima sambil mengeluarkan lagi beberapa kotak giok yang indah.

Melihat semua itu, mata Ratih Maheswari mulai berkaca-kaca.

"Adik ku... Bima... Aku tidak menyangka, meskipun kamu berada jauh di dunia lain dan dihadapkan dengan banyak bahaya yang mengancam nyawa mu setiap hari, kamu selalu ingat dan memikirkan kami yang ada di sini..."

Bima tersenyum dengan tulus, dia menatap ketujuh kakaknya satu persatu dengan tatapan yang sangat dalam.

"Kalian adalah hal yang paling berharga yang aku miliki di dunia ini. Sedari kecil, hanya kalianlah satu-satunya keluarga ku. Jadi kemanapun kaki ini melangkah, sejauh apa pun aku pergi, tempat untuk ku kembali, rumah ku yang sebenarnya, tetaplah di sisi kalian,"

"Saat aku jauh dari kakak-kakak sekalian di dunia kuno itu, yang aku pikirkan setiap malam hanya satu hal, yaitu pulang, pulang, dan pulang ke pelukan kalian. Sebagai seorang laki-laki, sebagai adik kalian, akulah yang seharusnya menjadi pelindung kalian sekarang, bukan sebaliknya," ucap Bima dengan suara yang berat dan penuh janji.

Para wanita cantik itu dengan tatapan yang berkaca-kaca dan penuh haru, mereka tidak menyangka sama sekali bahwa bocah nakal yang dulu selalu mereka mandikan di sungai itu, sekarang telah tumbuh menjadi seorang pria yang sangat menyayangi dan melindungi mereka dengan begitu tulus.

"Sudahlah Kak, tidak perlu bersedih seperti ini, kita kan sudah berkumpul lagi sekarang," kata Bima sambil menghapus air mata di pipi Sekar dengan lembut.

"Sebaiknya sekarang giliran kalian yang bercerita kepada ku, apa saja yang kalian lalui selama aku pergi, apa yang terjadi di Solo selama ini...?"

Seketika, ekspresi Ratih Maheswari yang tadinya haru langsung berubah menjadi serius dan sedikit bingung.

Dia langsung teringat dengan keanehan yang sangat janggal saat dia memimpin pertempuran melawan Komplotan Kelelawar Hitam di markas mereka di kawasan Industri Semarang minggu lalu.

"Ngomong-ngomong soal itu, Bima, ada kejadian yang sangat aneh yang sampai sekarang tidak bisa Kakak jelaskan dengan logika,"

"Saat itu kami sebenarnya tidak mungkin bisa menang melawan Komplotan Kelelawar Hitam, jumlah mereka terlalu banyak dan mereka membawa senjata api lengkap. Tapi terjadi banyak kejadian aneh yang di luar nalar, yang mana tiba-tiba satu per satu pasukan Komplotan Kelelawar Hitam itu tumbang tanpa sebab, pingsan dan mimisan, padahal aku sama sekali tidak menyerang atau menyentuh mereka,"

"Dan yang paling membuat Kakak sangat bingung adalah ketika Kakak mengeluarkan pukulan pamungkas, Jurus Telapak Bidadari, tiba-tiba saja ada sebuah kekuatan yang tidak terlihat yang membantu dan memperkuat serangan Kakak dari belakang. Serangan itu seketika menjadi sangat mengerikan, auranya berubah menjadi keemasan, seluruh markas besar Kelelawar Hitam seluas dua hektar itu musnah seketika, rata dengan tanah, seperti terkena bom nuklir taktis. Sampai sekarang polisi masih menyelidiki itu sebagai ledakan gas," jelas Ratih Maheswari dengan sangat serius, sementara Dewi, Bulan, dan yang lainnya mendengarkan dengan kaget, mereka baru mendengar cerita detailnya sekarang.

Sementara semua kakaknya kaget dan merinding mendengar cerita itu, Bima Samudra di sudut taman hanya bisa cengar-cengir sendiri sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia pura-pura tidak tahu.

Melihat Bima yang cengar-cengir mencurigakan itu, Ratih Maheswari yang cerdas langsung menatapnya dengan tatapan tajam seorang kakak tertua yang menginterogasi adiknya.

"Hai, bocah nakal... Apa ini semua adalah ulah mu...?" tanya Ratih Maheswari dengan tatapan yang sangat tajam dan menyelidik, dia berjalan mendekati Bima.

Merasakan kecurigaan Ratih yang sangat tajam itu, Bima segera memasang wajah yang paling polos dan memelas yang dia punya, jurus andalannya sejak kecil.

"Tentu saja bukan, Kak Ratih...! Tanya saja sama Kak Sinta dan yang lainnya, aku kan selalu bersama mereka terus di Mall Paragon dari pagi sampai sore, aku tidak pernah pergi kemana-mana. Lagipula aku kan baru saja tiba di Solo, mana mungkin aku tahu tempat markas Kelelawar Hitam itu di mana...? Aku bahkan tidak tahu Semarang itu di mana, Kak...!" jelas Bima dengan wajah memelas seolah-olah dia telah difitnah dengan kejam.

"Benar kok, Kak Ratih, bocah nakal ini selalu bersama kami terus dan belum kemana-mana sama sekali hari ini. Dia ke toilet saja kami awasi. Lagipula jika itu benar-benar dia yang membantu mu, pasti dia akan membutuhkan waktu berjam-jam untuk bisa tiba ke tempat mu di Semarang dari Solo," jelas Sinta Maharani yang ikut membela Bima dengan polos, dia tidak tahu bahwa Bima bisa berteleportasi.

"Hemmm, benar juga apa kata Sinta," jawab Ratih Maheswari, dia mulai sedikit ragu, logika Sinta memang masuk akal.

"Lalu kenapa tadi kamu cengar-cengir sendiri dengan wajah mencurigakan seperti itu saat Kakak menceritakan kejadian itu...? Pasti ada yang kamu sembunyikan...!" desak Ratih, dia tidak akan menyerah semudah itu.

"Itu... itu karena aku hanya berpikir... Karena aku sangat merindukan mu dan sangat khawatir pada mu, Kak Ratih, jadi mungkin saja langit mendengarkan doa ku dan menolong mu agar aku bisa lekas bertemu dengan mu lagi malam ini. Langit pasti tahu aku tidak bisa hidup tanpa Kakak,"

Jawaban gombal, konyol, dan sangat tidak masuk akal dari Bima itu malah membuat Ratih Maheswari yang tadinya sangat galak dan curiga jadi salah tingkah seketika, wajahnya yang cantik dan berwibawa itu langsung memerah merona seperti kepiting rebus.

"Apa mungkin itu Guru, Ratu Ayu Kirana, yang menolong mu secara diam-diam dari jauh, Kak...? Bukankah Guru sering melakukan hal seperti itu dulu...?" tanya Laras dengan polos yang mengejutkan Ratih dari lamunannya yang sedang berbunga-bunga.

"Sepertinya tidak mungkin Laras, karena orang yang menolong ku ini auranya sangat hebat dan sangat asing, aku tidak bisa merasakan aura maupun kehadiran nya sedikit pun di sekitar ku saat itu, seperti hantu,"

"Dan yang lebih mengherankan lagi, aku sama sekali tidak menyadari kalau dia sedang memperkuat seranganku dari belakang. Aku baru menyadari nya setelah aku melihat dampak ledakan serangan yang sangat dahsyat itu, yang jelas-jelas bukan kekuatan milik ku sama sekali. Itu sangat di luar kemampuan ku, di luar batas kultivasi ku," jelas Ratih dengan jujur.

"Sungguh mengerikan tapi juga ajaib. Tapi siapa pun dia, aku sangat berterima kasih dengan tulus. Bagaimana pun juga dia adalah penyelamat ku dan penyelamat Organisasi kita. Tanpa dia, mungkin Kakak sudah tidak bisa bertemu kalian lagi," kata Ratih Maheswari dengan penuh rasa syukur sambil menatap langit.

"Andai saja orang misterius yang sangat kuat itu mau bergabung dengan Organisasi Tujuh Bidadari kita, pasti kita bisa dengan mudah mengatasi semua tekanan-tekanan dan ancaman dari kekuatan-kekuatan besar lain di Jakarta dan Surabaya yang selama ini selalu menekan kita. Tapi sayang sekali, kita bahkan tidak tahu siapa orangnya dan di mana keberadaannya," kata Sinta Maheswari yang berharap dengan tulus.

"Tenang saja, Kak, aku sudah ada di sini bersama kalian sekarang, jadi semua masalah dan beban kalian akan terasa mudah. Bukankah aku juga sudah kuat setelah berlatih bertahun-tahun di gunung bersama Guru...? Aku bisa membantu kalian," kata Bima dengan percaya diri sambil memamerkan otot lengannya yang kekar.

Para wanita cantik itu berpikir, memang Bima terlihat kuat dan kekar, tapi yang akan dia hadapi ke depan adalah ribuan orang bersenjata api modern, selain itu juga ada para kultivator jahat dari keluarga besar yang licik.

Mereka sebagai kakak tidak mungkin akan melakukan sesuatu yang akan membahayakan nyawa Bima, adik kesayangan mereka.

Melihat kekhawatiran yang tulus di wajah kakak-kakak seperguruannya itu, Bima bergumam di dalam hatinya,

"Aku tidak selemah itu, Kak. Hanya senjata-senjata sampah buatan manusia mana mungkin bisa menyakiti tubuh Nirvana ku yang sudah ditempa oleh darah Naga Langit dan Phoenix..."

Tapi Bima hanya diam dan tidak membantah, dia justru sangat menikmati dan merasakan kasih sayang yang tulus dari kakak-kakak seperguruannya yang sangat tidak ingin dia sampai terluka sedikit pun. Namun di dalam hati kecilnya, Bima berjanji pada dirinya sendiri, dia akan melindungi ketujuh kakak seperguruannya ini dengan caranya sendiri, secara diam-diam dari dalam bayangan.

Setelah cukup lama bersantai sambil mengobrol dengan penuh tawa di bawah pohon beringin itu, akhirnya Bima dan ketujuh kakaknya memutuskan untuk kembali masuk ke dalam pendopo utama markas Organisasi Tujuh Bidadari, karena hari sudah mulai gelap.

Sesampainya di dalam, mereka pun sibuk dengan urusan masing-masing sebentar, begitu juga dengan Bima yang langsung masuk ke dalam kamarnya sendiri yang sudah disiapkan.

Setelah berbaring sejenak di atas ranjang empuknya, Bima masuk ke dalam kamar mandi pribadinya yang mewah untuk membersihkan diri dan berendam air hangat. Setelah selesai mandi dan merasa segar, hari sudah mulai malam, Bima bergegas berganti pakaian dengan kemeja batik modern yang sudah disiapkan Laras dan keluar dari kamar untuk menemui kakak-kakaknya yang lain di lantai bawah.

Setibanya di lantai bawah, rupanya Bima sudah ditunggu oleh para kakak seperguruannya yang sudah duduk manis mengelilingi meja makan yang sangat besar.

"Ayo, Bima sayang, kita makan malam bersama. Sambil makan malam, ada beberapa hal yang sangat penting yang ingin kami bicarakan pada mu," ucap Ratih Maheswari dengan lembut dan penuh wibawa sebagai kakak tertua.

"Baik, Kak Ratih," jawab Bima, dia hanya menurut saja dan duduk di kursi yang sudah disiapkan di antara Ratih dan Dewi.

Setelah tiba di meja makan, Bima terkejut bukan main melihat hidangan makanan yang begitu banyak, mewah, dan tertata indah di atas meja, seperti sedang ada pesta pernikahan.

"Kak, ini makanan sebanyak ini untuk siapa...? Apa ada tamu penting lain yang akan datang malam ini...?" tanya Bima yang penasaran sambil melihat puluhan piring yang ada.

"Tentu saja ini semua untuk kita, untuk kita berdelapan, untuk merayakan kepulangan mu, Bima," jawab Laras dengan singkat sambil tersenyum manis.

"Apa mungkin kita yang hanya delapan orang bisa menghabiskan makanan sebanyak ini...? Ini bisa untuk 50 orang, Kak...!" tanya Bima dengan mata melotot.

"Haaaa, apa kamu sudah lupa, Bima...? Tadi siang saja kamu menghabiskan makanan yang begitu banyak sendirian di restoran Paragon, sampai tiga porsi rawon, dua porsi sate, dan lima piring nasi. Jika kami tidak masak lebih banyak malam ini, mungkin kami semua tidak akan kebagian makan sama sekali karena ulah mu," ucap Laras sambil tertawa geli.

Karena memang benar, tadi siang Bima makan sangat banyak, tapi sebenarnya sebagian besar makanan itu diam-diam dia berikan kepada para pelayan di Alam Jiwanya, yaitu Sari, Kencana, dan yang lainnya yang sedang kelaparan.

Dengan wajah yang sedikit malu karena ketahuan, Bima beralasan dengan polos,

"Tadi aku makan banyak sekali karena sudah sangat lama tidak makan masakan Indonesia, Kak, aku kangen. Aku kan lama di dunia kuno makan daging monster terus,"

"Bukan berarti setiap kali makan aku akan selalu makan sebanyak itu terus. Yang ada nanti aku malah jadi gendut dan tidak ganteng lagi, Kak..."

Jelas Bima dengan ekspresi memelas yang dibuat-buat.

Mendengar alasan polos itu, sontak para wanita cantik itu langsung tertawa terbahak-bahak dengan sangat kompak, suara tawa mereka memenuhi ruang makan.

"Apa yang lucu sih, Kak...? Kenapa tertawa...?" tanya Bima dengan penasaran dan pura-pura bingung.

"Tentu saja lucu, Bima sayang. Biasanya yang takut gendut dan menjaga penampilan itu adalah perempuan. Ini malah kamu yang berbadan kekar dan berotot seperti atlet binaraga yang takut gendut, sungguh mustahil. Lagipula kamu kan sangat rajin berolahraga dan berkultivasi setiap pagi, jadi mana mungkin kamu akan bisa gendut," jelas Laras sambil menahan tawanya sampai perutnya sakit.

Bima berpikir di dalam hati, dengan kultivasinya yang sekarang sudah di tingkat Nirvana, mana mungkin dia akan bisa gendut, tubuhnya akan selalu sempurna. Tapi Bima tetap bertingkah polos dan ikut tertawa bersama mereka.

"Sudah, sudah, jangan bercanda terus, ayo kita mulai serius," sela Ratih Maheswari dengan lembut, dia mengetuk gelasnya.

"Bima, ada hal yang sangat penting yang ingin kami beri tahukan pada mu malam ini," kata Ratih Maheswari dengan nada yang tiba-tiba menjadi sangat serius dan formal, semua kakaknya ikut diam.

"Apa itu, Kak...? Katakan saja, aku mendengarkan," jawab Bima, dia juga ikut menjadi serius.

"Kami bertujuh sudah berdiskusi dan memutuskan dengan suara bulat, kami ingin menyerahkan Organisasi Tujuh Bidadari ini sepenuhnya untuk dipimpin oleh mu, Bima,"

"Dan kami bertujuh akan mengikuti semua keputusan mu mulai sekarang, kami akan menjadi pendukung mu yang paling setia,"

"Haaaa...! Masa bisa begitu, Kak...! Organisasi yang sudah susah payah kalian bangun dari nol dengan darah dan air mata selama bertahun-tahun, mana bisa diserahkan begitu saja kepada orang lain...? Apalagi orang seperti ku yang sama sekali tidak memiliki kemampuan dan pengalaman di bidang bisnis dan manajemen seperti ini...! Aku tidak bisa...!" tolak Bima dengan kaget, dia benar-benar tidak menyangka akan mendapat tawaran sebesar ini.

"Bima, kau bukan orang lain, kau adalah adik kami satu-satunya, kau adalah darah daging kami dan orang yang paling kami percayai di dunia ini. Kami sangat percaya pada mu dan pada kebijaksanaan mu,"

"Dan kami semua akan selalu ada di samping mu untuk membantu mu mengelola semuanya. Kau tidak akan sendirian. Kau hanya perlu mengambil alih kepemimpinan dan menjadi Ketua dari Organisasi Tujuh Bidadari ini saja, sisanya biar kami yang urus," bujuk Ratih Maheswari dengan tatapan yang penuh harap.

Melihat harapan yang begitu besar dan tulus di wajah ketujuh kakak seperguruannya yang sangat dia cintai itu, Bima tidak sampai hati untuk menolak dengan kasar, sehingga dia pun terdiam, menunduk, dan berpikir keras mencari solusi yang terbaik untuk semua orang.

Di luar jendela, bulan purnama bersinar terang di atas langit Kota Solo, seolah menjadi saksi bisu dari takdir baru yang akan segera diemban oleh Bima Samudra.

BERSAMBUNG

1
Night Watcher
bosen....
kelamaan, berapa bab yg ada cuma rencana mulu. banyakan drama gak jadi² ke padepokan.🤦
Night Watcher
berarti, kemanapun bima pergi, mereka selalu ikut dong?🤭🤭🤭
Night Watcher
bima masa ikut disebut?🤭🤭
Night Watcher
ternyata masih terjebak di jaman kerajaan. 😇😇🤭🤦
Night Watcher
padahal yg cerita tadi intan & amel, berarti penjaga gerbangnya intan & amel ya? 🤭🤭
Night Watcher
padahal dr sejak awal bertemu bima, intan bercerita "adiknya sedang sakit parah".
sekarang setelah sembuh berubah jadi kakaknya..
priwe mbok thor?
fareva: Halo kak Night Watcher, terima kasih banyak sudah sangat jeli, ini mata pembaca Lv20 memang beda 🙏

Untuk ini saya luruskan biar tidak bingung ke depannya ya:

1. Nama yang benar adalah "Amelia Sri Anggrek" itu adalah nama draft lama sebelum revisi besar. Jadi sekarang semua sudah saya ganti konsisten menjadi Amelia.

2. Statusnya Amelia adalah "Adik" dari Intania. Intania itu Kakak Tertua sekaligus Ketua Perguruan Anggrek Putih di Ngargoyoso, dan Amelia adalah adik kandung kesayangannya yang sakit racun dingin itu.

Terima kasih sudah diingatkan, Sehat selalu kak!
total 1 replies
Night Watcher
yg benar namanya "amelia" atau "sari anggrek"?
terus setatusnya "adik" atau "kakaknya" intan?
fareva: Wah terima kasih koreksinya kak, jeli banget.

Yang benar Amelia ya kak. Sari Anggrek itu nama lama sebelum revisi, jadi ada beberapa bab awal yang kelewat belum keganti.

Dan Amelia itu statusnya adiknya Intania, bukan kakaknya.

Sudah saya catat, akan saya bereskan biar konsisten ke depan. Thanks kak!
total 1 replies
Night Watcher
ternyata yg bisa hidup di alam ini hanya satu pria, sisanya wanita semua... 😂😂😂😂🤭
Night Watcher
gak s4 pamit / ketemu sama bu guru ya pas mau turun gunung? atau aku yg kelewat bacanya?
fareva: Kakak tidak kelewat baca kok, memang sengaja tidak saya tulis pamitnya.

Perpisahan Bima Samudra dengan Gurunya, Ratu Ayu Kirana, di puncak Gunung Lawu itu bukan perpisahan biasa. Itu akan jadi salah satu misteri besar dan kunci utama di Babak IV nanti, kenapa Guru meninggalkan pesan "Jika berjodoh pasti bertemu lagi".

Jadi bukan dilupakan, tapi memang sengaja saya simpan untuk plot twist besarnya. Tungguin ya, nanti akan dijelaskan kenapa Guru harus pergi diam-diam.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!